• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Menyiasati Manajemen Waktu yang Efektif

MAHASISWA BERSUARA: Menyiasati Manajemen Waktu yang Efektif

Kesibukan tidak selalu mencerminkan produktivitas, terutama ketika mahasiswa tidak menerapkan manajemen waktu secara terstruktur, disiplin, dan berorientasi tujuan.

Gema Ardhana Yanggarjita

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Ilustrasi kuliah. (Ilustrator: Alfonsus Ontrano Irakaswar/BandungBergerak/Mahasiswa di Institut Teknologi Sumatera)

6 Januari 2026


BandungBergerak.id – Mahasiswa terlihat sibuk hampir setiap hari dengan berbagai aktivitas akademik maupun nonakademik, tetapi kenyataannya tidak semua kesibukan tersebut menghasilkan capaian yang benar-benar produktif karena sering kali dijalani tanpa pengelolaan waktu yang terarah, terencana, dan berkesinambungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa aktivitas yang padat memang dapat menciptakan kesan efisiensi dan kerja keras, namun ketika tidak disertai tujuan yang jelas, penentuan prioritas yang tepat, serta batasan waktu yang realistis, efektivitas belajar justru cenderung menurun dan menguras energi secara perlahan.

Data dari Jurnal JPTAM tahun 2025 menunjukkan bahwa 68 persen mahasiswa berada pada tingkat stres akademik sedang dan 30 persen lainnya berada pada tingkat stres tinggi, yang secara tidak langsung mengindikasikan bahwa tekanan akademik yang dialami mahasiswa sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen waktu yang memadai. Kondisi tersebut memperkuat argumen bahwa kesibukan baru dapat memberikan hasil positif apabila disertai pengaturan waktu yang sistematis dan sadar, karena tanpa perencanaan yang matang mahasiswa cenderung mengalami kelelahan mental, kebingungan dalam menentukan prioritas, serta kesulitan mempertahankan konsentrasi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemahaman mengenai manajemen sibuk yang efektif menjadi sangat penting agar mahasiswa tidak hanya aktif secara fisik dan administratif, tetapi juga mampu mencapai produktivitas akademik yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Kesibukan tanpa manajemen waktu yang tepat sering membuat mahasiswa merasa terus bekerja dari pagi hingga malam, tetapi tidak benar-benar mencapai hasil yang signifikan karena energi, perhatian, dan fokus mereka terserap pada aktivitas yang tidak terarah dan kurang relevan dengan tujuan utama. Ketika kegiatan akademik dijalani tanpa prioritas yang jelas dan tanpa perencanaan yang matang, tugas-tugas kecil yang bersifat mendesak namun kurang penting cenderung mendominasi waktu sehingga pekerjaan yang lebih strategis dan berdampak besar justru tertunda. Tanpa kemampuan mengendalikan alur aktivitas harian secara sadar, mahasiswa menjadi mudah kehilangan fokus, mudah terdistraksi, dan akhirnya menyelesaikan tugas secara terburu-buru, yang berdampak langsung pada menurunnya kualitas hasil belajar. Situasi tersebut juga dapat menimbulkan kelelahan berkepanjangan karena kesibukan yang padat tidak diimbangi pembagian waktu yang seimbang antara belajar, istirahat, dan pemenuhan kebutuhan pribadi, sehingga batas antara produktivitas dan kelelahan menjadi kabur. Dengan demikian, kesibukan hanya akan bermakna apabila mahasiswa mampu mengelolanya secara sadar dan strategis, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan benar-benar mendukung pencapaian tujuan akademik dan perkembangan diri secara menyeluruh.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Kampus Mencari Eksistensi, Mahasiswa Kehilangan Kualitas Diri
MAHASISWA BERSUARA: Mengevaluasi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
MAHASISWA BERSUARA: Bagaimana Akses Transportasi Umum yang Terbatas Membebani Mahasiswa Bandung

Manajemen Waktu

Kurangnya pengaturan waktu tidak hanya menghambat penyelesaian tugas akademik, tetapi juga meningkatkan kecenderungan mahasiswa untuk menunda pekerjaan karena mereka tidak memiliki struktur kerja yang jelas dan sistem yang dapat diandalkan. Tanpa jadwal yang terorganisasi dan konsisten, mahasiswa mudah teralihkan oleh aktivitas lain yang terasa lebih ringan, sehingga tugas akademik sering kali ditunda hingga mendekati batas waktu penyelesaian.

Pertiwi tahun 2020 menegaskan bahwa lemahnya manajemen waktu menjadi faktor utama munculnya prokrastinasi akademik karena mahasiswa kehilangan kontrol terhadap alur pengerjaan tugas dan kesulitan membagi waktu secara proporsional. Akibatnya, perilaku menunda tidak hanya menurunkan produktivitas dan kualitas pekerjaan, tetapi juga memperbesar tekanan psikologis ketika tenggat waktu semakin dekat dan tanggung jawab semakin menumpuk. Hal ini menunjukkan bahwa prokrastinasi bukan semata-mata persoalan kemalasan individu, melainkan konsekuensi langsung dari ketidakmampuan mahasiswa dalam mengatur waktu secara efektif, terencana, dan berorientasi tujuan.

Manajemen waktu yang baik memberikan kerangka kerja yang jelas dan terstruktur untuk membantu mahasiswa menyeimbangkan kesibukan akademik dengan kebutuhan pribadi, sosial, dan kesehatan mental. Berdasarkan teori manajemen waktu, perencanaan yang sistematis melalui penyusunan jadwal, penetapan prioritas, serta pembagian waktu belajar yang realistis berfungsi sebagai proses perencanaan dan pengorganisasian yang mendukung efektivitas kerja. Penerapan prinsip Time Management Matrix membantu mahasiswa membedakan tugas yang penting dan mendesak dengan tugas yang hanya terlihat sibuk, sehingga waktu dan energi dapat dialokasikan secara lebih strategis. Konsistensi dalam pengaturan waktu juga membentuk kebiasaan disiplin yang memungkinkan mahasiswa mengendalikan ritme belajar secara stabil, mengurangi rasa terburu-buru, dan meningkatkan kualitas hasil akademik. Penelitian Dewi dan Marwansyah tahun 2022 menegaskan bahwa pengelolaan waktu yang efektif tidak hanya menurunkan tingkat stres, tetapi juga meningkatkan efisiensi aktivitas akademik dan kemampuan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tuntutan.

Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa kesibukan tidak selalu mencerminkan produktivitas, terutama ketika mahasiswa tidak menerapkan manajemen waktu secara terstruktur, disiplin, dan berorientasi tujuan. Berbagai temuan dan argumen yang telah dibahas memperlihatkan bahwa pengelolaan waktu yang baik berperan penting dalam menekan stres akademik sekaligus mengurangi kecenderungan prokrastinasi yang dapat menghambat pencapaian hasil belajar. 

Penerapan prinsip manajemen seperti perencanaan yang matang, penetapan prioritas yang jelas, serta evaluasi aktivitas harian memungkinkan proses belajar berjalan lebih efektif, efisien, dan terukur. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa menjadi sibuk saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan strategi pengaturan waktu yang tepat dan konsisten dalam pelaksanaannya. Selain itu, pemahaman dan penerapan manajemen waktu yang efektif juga membantu mahasiswa membangun sikap tanggung jawab, kemandirian, dan kesadaran diri terhadap batas kemampuan mereka sendiri, sehingga kesibukan yang dijalani tidak lagi menjadi sumber tekanan semata, melainkan sarana untuk mengembangkan potensi akademik, keterampilan hidup, serta kesiapan menghadapi tuntutan dunia profesional di masa depan dan menjadikan manajemen waktu sebagai kompetensi penting yang perlu terus dilatih sepanjang masa studi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//