• Berita
  • Horor Tanpa Batas, Suara Setara di Pameran Equal

Horor Tanpa Batas, Suara Setara di Pameran Equal

Karya horor Sabrina Alsa mewarnai pameran Equal, ruang pertemuan seniman lintas generasi yang menolak sekat identitas dan senioritas di Bandung.

Pameran bertajuk Equal di selasar Communal Space Badak Singa 6, Kota Bandung, Jumat, November 2025. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam6 Januari 2026


BandungBergerakSesosok tengkorak duduk di atas singgasana sambil memegang sesuatu: kepala tengkorak. Dengan latar potongan tubuh yang telah membusuk tercecer di lantai berwarna gelap, gambar berjudul Untitled itu tampak tajam dan mengerikan.

Seniman pemilik karya berukuran 29,7 x 42 sentimeter tersebut, Sabrina Alsa, sengaja memilih visual horor alih-alih karya bernuansa lucu. Ia ingin menunjukkan bahwa sebagai perempuan berhijab, tak ada batasan dalam memilih ekspresi seni.

Mahasiswi semester tiga Jurusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk menyelesaikan karyanya. Soal makna, ia tidak menekankan secara khusus. 

“Kalau untuk berkarya sendiri aku jarang banget ngasih suatu kesan atau makna,” ujarnya. “Lebih ke orang-orang ketika lihat karya aku tuh buat ngerasain sendiri.”

Namun memilih visual horor merupakan  pernyataan sikap Sabrina terhadap stigma yang kerap dilekatkan pada perempuan berhijab.

“Aku pengin mengubah pandangan orang terhadap wanita berhijab yang katanya terbatas banget buat berkarya,” tuturnya. 

Ketertarikan Sabrina pada visual-visual bernuansa gelap mulai ia tekuni sejak duduk di bangku perkuliahan. Sebelumnya, ia dikenal sebagai seniman street art yang menggunakan piloks sebagai medium. Kini, ia beralih ke drawing art di atas kertas.

Minat menggambar telah tumbuh sejak kecil dan semakin terasah ketika ia mengeksplorasi visual bergaya dark art. Dari karya-karyanya, Sabrina kerap berkolaborasi dengan band-band metal dan punk, meski masih sebatas lingkar pertemanan kampus dan sekolah. 

Karya Sabrina Alsa menjadi salah satu dari puluhan karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Equal di selasar Communal Space Badak Singa 6, Kota Bandung, Jumat, November 2025.

Pameran Equal merupakan inisiatif tiga komunitas, yakni Forging Visions, Senimom, dan Satu Kata. Selama tiga hari, dari 28 hingga 30 November 2025, pameran ini menghadirkan ruang bersama tanpa sekat senioritas yang diikuti puluhan seniman lintas generasi. 

Beragam latar belakang seniman—pemula hingga yang telah lama berkarya—bertemu dalam satu ruang. Gaya, medium, dan tema karya berpadu, menjadikan ruang pamer sebagai ruang yang plural.

Di segmen karya bergaya horor, tepat di atas karya Sabrina, terpajang karya milik Riko alias Devilreject Art. Karyanya menggunakan media kertas berukuran 29 x 42 sentimeter.

Riko menampilkan sosok perempuan bertelanjang dada dengan kepala domba bertanduk. Di tangannya tergenggam tongkat bermata runcing berbentuk bulan sabit. Karya tersebut diberi judul The Mistress.

“Aku ingin menunjukkan perempuan dengan kekuasaannya,” ujar Riko. 

Karya itu dibuat pada 2016 dan masih terawat dengan baik hingga kini. Ia menyelesaikan karya tersebut dalam waktu sekitar satu pekan.

Riko menggunakan teknik cross hatching, yakni teknik arsiran garis paralel yang saling bertumpuk untuk menciptakan bayangan, kedalaman, dan tekstur. Dalam perjalanannya, Riko telah berkolaborasi dengan sejumlah band metal luar negeri seperti Mastodon, Suicide Silence, dan Bring Me The Horizon. Di dalam negeri, ia pernah bekerja sama dengan Siksa Kubur, Edane, dan Dajjal.

Baca Juga: Pameran Seniman Muda di ArtSociates dan Hybridium, Mengekspresikan Keberagaman Imajinasi
Menolak Lupa Pemberangusan Buku di Bandung Melalui Pameran Arsip, Diskusi, dan Musik

Pameran bertajuk Equal di selasar Communal Space Badak Singa 6, Kota Bandung, Jumat, November 2025. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Pameran bertajuk Equal di selasar Communal Space Badak Singa 6, Kota Bandung, Jumat, November 2025. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Suara Setara: Senimom

Selain karya-karya bergaya horor, pameran Equal juga menghadirkan karya-karya dari komunitas Senimom. Komunitas ini didirikan oleh Halima Suswanto, seniman asal Bandung berusia 33 tahun.

“Senimom itu bisa dibilang komunitas, sekumpulan ibu-ibu yang nyeni,” ujar Halima yang akrab disapa Ima. Nama Senimom dipilih agar identitas sebagai seniman tidak pudar meski telah menjadi ibu.

Senimom lahir dari pengamatan Ima terhadap teman-temannya yang kesulitan kembali berkarya setelah berumah tangga. 

“Kalau sudah jadi ibu itu susah untuk terjun lagi jadi seniman atau bahkan datang ke pameran saja kayak enggak ada waktunya,” katanya.

Didirikan pada November tahun lalu, Senimom berkembang dari lima anggota menjadi sekitar 25 orang. Komunitas ini terbuka tidak hanya bagi ibu-ibu, tetapi juga bagi perempuan secara umum.

Dalam pameran ini, Ima memamerkan dua karya yang mengangkat isu sosial. Karya pertama berjudul Anabolic Ticaly Hers, terinspirasi dari Frida Kahlo dan menyoroti stigma terhadap perempuan perokok di Indonesia.

Karya lainnya berjudul Story of Eve. Dalam karya ini, Ima memaknai ulang sosok Hawa yang kerap dipandang sebagai penggoda. Ia melihat Hawa sebagai sosok yang penasaran dan berani mengambil pilihan.

Senimom memamerkan enam karya dengan tema yang beragam. Melalui pameran ini, mereka menegaskan bahwa perempuan tetap dapat berkesenian meski telah berkeluarga dan memiliki anak.

Ratna Dinangrit, seniman berusia 37 tahun, memamerkan karya berjudul Resonansi Lahir dan Luruh menggunakan media campuran di atas kanvas board. Karya tersebut merepresentasikan proses kelahiran, kematian, dan fase kehilangan rasa.

Ratna menyebut karyanya sebagai refleksi pencarian jati diri setelah menjadi ibu. 

“Ketika kamu merasa mati dalam artian tertentu, kreativitas atau kepercayaan diri, akan ada fase kamu bertumbuh lagi,” ujar ibu satu anak.

Sementara itu, Wulan, ibu satu anak berusia 30 tahun, memamerkan karya berjudul Mencari Ruang. Karya ini merepresentasikan perjalanan hidupnya dalam menemukan ruang yang tepat untuk dirinya.

Sebagai ibu dengan anak yang masih berusia lima tahun, Wulan mengaku dapat membagi waktu antara berkarya dan berumah tangga berkat dukungan suaminya. Baginya, tak ada batasan usia dalam berkesenian, dan Senimom menjadi wadah penting untuk melanjutkan praktik seni.

Yudo dari Forging Visions menjelaskan bahwa pameran Equal menyoroti karya-karya non-digital. Seluruh karya diciptakan secara manual, menggunakan pena, kuas, rajut, hingga kertas.

Menurut Yudo, pameran ini digelar secara mandiri tanpa sponsor. Karena itu, tak ada sekat senioritas antara seniman pemula dan yang telah lama berkarya.

“Makanya kita ajak (semua seniman) dan kita bikin acara namanya equal gitu,” tuturnya. 

Equal di sini berarti setara dan mengusung semangat kebersamaan. “Soalnya kita kan ini DIY (do it yourself) semua ya, maksudnya tanpa sponsor.”

Pameran ini membuka ruang obrolan antara pameris dan pengunjung. Diskusi ringan tentang seni pun tercipta di antara semarak karya-karya seni yang dipamerkan.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//