CERITA GURU: Dari Katanya ke Berdasarkan Sumber, Menerapkan Metode Jurnalistik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembuatan suatu karya tulis merupakan proses dialog antara data, pembaca, dan realitas.

Arif Syamsul Ma'arif
Pengajar Bahasa Indonesia di SMP dan SNBT serta eks jurnalis.
7 Januari 2026
BandungBergerak.id – Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah bak pisau bermata dua: dirasa mudah karena menjadi makanan sehari-hari, tetapi dirasa sulit ketika dipraktikkan. Hal itu terjadi saat memasuki pembuatan proyek di setiap materi. Siswa diharuskan untuk membuat suatu karya tulisan yang nantinya diutarakan atau diunggah ke media. Janggalnya, saat dijejal teori-teori, mayoritas siswa mampu menguasainya dengan baik. Namun, saat memasuki masa praktik, siswa acap kali kurang maksimal dan kesulitan untuk menyusun kata demi kata. Sya dan Lestari (2025) mengatakan bahwa faktor yang menyebabkannya adalah perbedaan tingkat pemahaman terhadap kosakata, kurangnya keterampilan dalam menyusun kalimat dengan baik, serta kesulitan dalam memahami dan mengaplikasikan struktur teks yang benar.
Model pembelajaran berbasis proyek (PJBL/Project Based Learning) sudah memberikan arahan lewat sintak-sintaknya untuk menciptakan sebuah karya. Meski begitu, penggunaan model PJBL belum cukup untuk mendongkrak hal yang dituju. Nurazizah, Mubarok, Herawan, dan Putri (2025) mengatakan bahwa penggunaan model PJBL di tingkat SMP mengalami tantangan, seperti karya siswa yang cenderung seragam, kekurangan eksplorasi, dan kekurangan kebaruan pikiran. Oleh karena itu, model tersebut harus diiringi dengan metode-metode yang bisa bersinergi dalam menghasilkan suatu karya tulis.
Sebagai praktisi, penulis perlu mencari cela agar siswa bisa terampil dalam membuat suatu karya, khususnya karya tulis. Hal ini didukung oleh Yuhana dan Aminy (2019) yang mengatakan bahwa seorang guru perlu memikirkan strategi yang tepat untuk memecahkan hambatan yang dialami oleh peserta didik. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah metode jurnalistik. Penulis memilih metode tersebut setelah mengikuti in house training (IHT) yang bertajuk “Transformasi Pendidikan untuk Menjawab Tantangan Abad 21 melalui Implementasi Pembelajaran Mendalam” di SMPN 17 Bandung, 30-31 Oktober 2025 lalu.
Salah satu poin yang menarik bagi penulis adalah pengaplikasian PJBL yang diintegrasikan dengan pendekatan deep learning. PJBL ala deep learning menitikberatkan proses ketimbang hasil. Hal tersebut mengubah pandangan penulis yang semula hanya terus berorientasi pada hasil tanpa melirik proses. Nyatanya, proses yang matang dapat menghasilkan karya yang baik. Oleh karena itu, penulis pun lantas mencoba menerapkan cara tersebut dalam proyek menulis, lalu dipadukan dengan metode jurnalistik.
Baca Juga: CERITA GURU: Educationalization, Catatan Pendidikan Tahun 2025
CERITA GURU: Transformasi Peran Guru di Era Akal Imitasi
CERITA GURU: Anak Bukan Investasi Orang Tua
Metode Jurnalistik
Dalam belantika jurnalistik, menulis bukan titik hulu, melainkan titik hilir dari serangkaian proses yang detail. Sebelum turun ke lapangan, seorang jurnalis harus mengetahui isu yang sedang ramai, menentukan narasumber yang relevan, menyiapkan pertanyaan yang kritis, memverifikasi isu, dan menyusun tulisan dari informasi yang diperoleh. Setelah itu, barulah tercipta informasi yang bisa diserap oleh khalayak ramai.
Jika digiring ke ruang kelas, metode jurnalistik nyatanya bersinggungan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya membuat karya tulis dalam materi berkonteks informasi, seperti laporan hasil observasi, teks berita, teks eksposisi, artikel ilmiah populer, dan lain-lain. Augustin (2019) mengatakan bahwa metode jurnalistik dalam dunia pendidikan memiliki fungsi yang bisa mencapai tujuan pembelajaran, seperti pemacu kreativitas siswa.
Proses Metode Jurnalistik
Setelah mengikuti IHT, penulis mencoba mempraktikkan ilmu yang didapat bersamaan dengan metode jurnalistik. Putri dan Suparman (2025) menjabarkan bahwa proses penulisan berita dimulai dari melakukan riset data valid sebelum liputan, melaksanakan liputan untuk validasi, hingga mengolah hasil liputan. Kegiatan dilakukan pada materi Artikel Ilmiah Populer, materi bab 3 Bahasa Indonesia kelas VIII. Siswa per kelompoknya melakukan “sidang persiapan” sebelum turun ke lapangan. Kegiatannya yang dilakukan mirip-mirip seperti proses penulisan berita, seperti:
- Setiap siswa saling memaparkan isu
- Kelompok menentukan isu yang relevan
- Kelompok menentukan narasumber untuk validasi
- Kelompok menyusun daftar pertanyaan
- Kelompok merancang kueisoner dan menentukan sampel kelas
- Kelompok membuat argumen
- Kelompok menjadwalkan riset untuk turun ke lapangan
Tahapan tersebut merupakan fase pramenulis yang kerap diabaikan dalam pembelajaran konvensional. Dengan adanya kegiatan tersebut, siswa diharapkan mampu mengumpulkan data dengan baik di lapangan secara faktual dan mampu mempertanggungjawabkan gagasan yang dituai.

Impak yang Didapat
Sayangnya, kegiatan yang dilakukan hanya sampai tahap sidang pengumpulan data–belum masuk ke tahap menulis–sebab kegiatannya mepet dengan masa asesmen sumatif akhir semester (ASAS). Meskipun begitu, penggunaan metode jurnalistik menyadarkan siswa bahwa argumen yang baik memerlukan dasar yang kuat. Bahkan, kegiatan tersebut dapat memperkuat siswa dari segi keterampilan membaca sumber ilmiah secara selektif dan kepekaan terhadap validitas informasi dari gosip-gosip murahan di lingkungan sekolah. Selain itu, hasil dari kegiatan tersebut mengubah pandangan siswa–dalam berdiskusi–yang semula berkata “katanya” menjadi “dari sumber yang aku baca/temui”. Hal itu didukung oleh Yani (2025) yang mengatakan bahwa pada era digital, keterampilan tersebut menjadi bekal penting untuk menyaring informasi, menghindari hoaks, hingga menyikapi permasalahan dengan bijak.
Sementara itu, jika dalam kegiatan sidang, siswa dilatih untuk berani berbicara sembari memperkuat argumen dan menerima kritikan. Hal itu menjadi pembelajaran bagi mereka bahwa pembuatan suatu karya tulis merupakan proses dialog antara data, pembaca, dan realitas.
Pembelajaran Bahasa Indonesia nyatanya mempunyai potensi besar dalam pelatihan pengumpulan informasi. Lewat metode jurnalistik, kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi ruang yang autentik dan kontekstual. Ini pun menjadi pembelajaran bagi guru-guru untuk memfasilitasi siswa dalam mengalami proses lahirnya suatu karya tulis. Dengan begitu, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan jurnalistik menjelma sebagai praktik literasi yang saling menguatkan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

