Mengamati Keanekaragaman Burung di Perkebunan Teh Sukamanah di Pangalengan
Keberadaan keanekaan jenis-jenis burung di kawasan Perkebunan Teh Kertamanah, Pangelangan, telah jauh berkurang dibandingkan dengan keragamannya di masa lalu.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
10 Januari 2026
BandungBergerak.id – Pada penghujung bulan Desember 2025, penulis mengunjungi kawasan perkebunan Kertamanah di Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penulis memilih menginap beberapa hari di Kampung Pangkalan/Padamukti, Desa Margamukti yang dikelilingi oleh hamparan kebun téh. Lokasinya berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) sehingga udaranya cukup dingin.
Kampung Pangkalan lokasinya berada di pinggiran jalan perkebunan, yang merupakan jalan lintasan menuju Afdeling Cinyiruan. Di sana penulis menikmati pemandangan alam berupa hamparan kawasan Perkebunan Teh Kertamanah yang membentang luas. Hamparan perkebunan teh membentang luas dengan latar belakang gunung di kejauhan. Di gunung tersebut terlihat asap putih membumbung ke angkasa yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu. Sayangnya di sela hamparan kebun teh yang membentang luas tersebut, terlihat suatu kawasan yang terlihat gundul tanpa tutupan pohon-pohon teh. Rupanya kawasan terbuka tersebut merupakan kawasan kebun teh yang beralih fungsi menjadi kebun sayur monokultur komersial. Namun, baru-baru ini kawasan terbuka tersebut mulai dipulihkan kembali dengan ditanami lagi pohon-pohon teh dan tanaman keras lainnya. Program penanam tersebut atas perintah langsung dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi setelah melihat langsung kawasan tersebut. Upaya penanaman tersebut sangat baik dalam upaya mitigasi risiko bencana, mengingat kondisi lahan terbuka tanpa rimbun tutupan vegetasi di bukit curam memiliki risiko terhadap bencana erosi tanah, longsor, dan banjir di bagian lembahnya.
Baca Juga: Berbagi Kisah Mengamati Burung di Habitatnya di Bandung Timur
Ancaman Kepunahan Lokal Jenis-jenis Burung Urban
Perubahan Lingkungan dan Hilangnya Pemondokan Aman untuk Burung
Birdwatching di Kebun Teh
Pada pagi hari yang sedikit mendung, dengan langit agak berkabut, penulis berjalan kaki menyusuri jalan di tengah-tengah kebun teh untuk mengamati jenis-jenis burung di alam bebas (birdwatching). Beberapa peralatan, seperti teropong (binocular), buku lapangan mengenal jenis-jenis burung di alam, dan buku catatan lapangan tak lupa dibawa serta. Dinginnya udara masih terasa walaupun menggunakan jaket tebal.
Dalam perjalanan di tengah-tengah kawasan kebun teh yang sangat luas tersebut, sesekali penulis berhenti untuk menikmati pemandangan alam yang indah sekaligus mengamati aneka ragam jenis burung. Pada saat pengamatan burung, dapat diamati cukup marak burung-burung yang sedang melayang-layang bebas di udara. Mereka terlihat terbang berkelompok dan berputar-putar di atas kawasan kebun teh. Sepintas, jenis-jenis burung yang sangat aktif terbang melayang-layang tersebut, sepertinya semuanya dari jenis burung yang sama. Tetapi, kalau diperhatikan secara seksama dengan menggunakan teropong, paling tidak dapat dikenali ada tiga jenis burung dari dua kelompok utama. Pembeda jenis-jenis burung tersebut, di antaranya dapat diamati dengan melihat ukuran tubuh, bentuk ekor, dan cara terbangnya.
Kelompok pertama, burung dengan ukuran tubuh agak kecil, ekornya yang bercagak dangkal, serta cara terbangnya lemah dan sedikit menggelepar. Kelompokan jenis burung tersebut adalah burung-burung kapinis atau di dalam buku namanya di Indonesiakan menjadi walet linci (Collocalia linci), Famili Apodidae. Jumlahnya lumayan banyak, burung-burung tersebut terlihat berkelompok terbang berputar-putar di udara di atas kawasan kebun teh.
Kelompok lainnya, terlihat dari ukuran tubuhnya lebih besar, ekornya cagak dalam, dan cara terbangnya melesat (seserebetan). Kelompok burung kedua tersebut terdiri dari dua jenis, walaupun oleh penduduk semuanya disebut sebagai burung kapinis. Jenis pertama, di buku lapangan diberi nama Indonesia dengan memodifikasi dari nama Inggris/nama luar, disebut sebagai burung layang-layang batu (Hirundo javanica), Famili Hirundinidae. Jenis burung tersebut memiliki cagak ekor dalam, pada dadanya ada tambal kecokelat-cokelatan. Jumlah populasinya lumayan cukup banyak, tetapi tidak sebanyak burung walet linchi. Jenis lainnya, merupakan jenis burung dari famili yang sama. Jenis burung tersebut jumlah populasi tidak teralu banyak dan biasanya terbang hanya melintasi kawasan kebun teh dan terbang jauh lagi ke tempat lainnya. Nama jenis burung tersebut di Indonesiakan sebagai burung layang-layang loreng (Hirundo daurica), Famili Hirundinidae. Tanda khasnya, antara lain tubuhnya agak lebih besar dari burung layang-layang batu, ekor cagak dalam, bagian bawah tubuh memiliki coret-coretan, dan di bagian tunggir memiliki tambal kecokelat-cokelatan.
Berdasarkan statusnya, sesungguhnya burung layang-layang loreng, merupakan burung migrasi. Jenis burung tersebut biasanya berbiak di kawasan bumi utara, kawasan Eurasia. Burung-burunt ersebut biasa menjelajah ke wilayah lain seperti berbagai kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, guna menghindari musim dingin (winter) di tempat asalnya (di sini biasanya berbarengan dengan saat musim hujan). Saat musim dingin berakhir, mereka biasanya kembali ke tempat asalnya di kawasan bumi utara. Di tempat asalnya, burung-burung tersebut akan berbiak, membuat sarang, dan bertelur. Burung-burung tersebut tidak pernah berbiak di tempat penjelajahannya, seperti di kawasan Indonesia.
Selain jenis burung kapinis dan layang-layang, di tempat yang lebih jauh dan lebih tinggi terlihat pula burung elang hitam (Ictinatetus malaiensis), Famili Accipitridae. Burung tersebut teramati sedang terbang sendirian atau soliter, terbang melayang layang bebas di angkasa di atas kawasan kebun teh. Setelah puas terbang melayang-layang di kawasan kebun teh Pangkalan, burung elang tersebut terus terbang menjauh menuju kawasan perbukitan kebun teh Cinyiruan.
Pada saat penulis jalan-jalan santai di kebun teh, dapat pula mengamati berbagai jenis burung lainnya yang biasa terbang berkelompok dan pindah-pindah tempat, seperti burung galéjra/burung gereja Erasia (Passer montanus), Famili Passerinidae. Lainnya yakni manuk piit/pipit atau bondol jawa (Lonchuran leucogastroides) dan manuk peking atau bondol peking (Lonchura punctulata), Famili Estrildiae. Tiga jenis burung ini sangat umum ditemukan di kebun teh, juga biasa ditemukan di permukiman penduduk di Kampung Pangkalan.
Tidak hanya itu, berbagai jenis burung lainnya juga terdengar ramai suara kicauannya. Misalnya burung tékték reyod atau di buku biasa dinamakan sebagai cicak koreng Jawa (Megalurus palustris), Famili Locustellidae. Burung tersebut lebih sering terdengar suaranya daripada terlihat wujudnya. Suaranya sangat khas mirip dengan nama lokalnya, terdengar seperti: tek-tek-tek cuuruuiiet, berulang-ulang dengan suara nyaring. Burung tersebut lebih gemar bersembunyi di antara rimbunan pohon-pohon teh, kadang-kadang terlihat bertengger di puncak-puncak pohon teh. Selain memiliki suara khas, burung tersebut memiliki tanda-tanda khas pula, antara lain memiliki warna bulu coklat dengan coretan-coretan hitam pada punggung, serta bulu ekor yang panjang.
Kehadiran jenis-jenis burung lainnya di kebun teh juga dapat dikenali dengan melihat wujudnya dan/atau hanya suaranya yang khas, seperti perkutut/perkutut Jawa (Geopelia striata), tikukur/tikukur biasa (Spilopedia chinensis), cakurileung/cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), jog-jog/merbah cerucuk (Pycnonotus analis), toéd/bentet kelabu (Lanius schach), gasngek/cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), cekahkéh/cekakak sungai (Todiramphus chloris), cinenen pisang (Orthotomus sutorius), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), remetuk laut (Gerygone suphurea), dan manuk uncuing/wikwik kelabu (Cacomantis merulinus). Khusus untuk burung uncuing, burung tersebut memiliki suara yang sangat khas dan kerap terdengar pada pagi hari hingga menjelang malam. Bisanya burung tersebut hidup soliter, atau adakalanya berpasangan, biasanya dapat diamati sedang hinggap di ranting pohon tak berdaun. Suranya terdengar khas seperti: piet-piet-piet berulang-ulang atau diselingi oleh variasi suara lainnya, seperti: piet-twiet -piet-twiet, piet-piet-piet.
Ada juga jenis burung lainnya yang keberadaannya di kebun teh cukup sulit untuk diamati, di antaranya burung puyuh/gemak loreng (Turnix suscitator) Keberadaan burung tersebut dapat diketahui, di antaranya karena burung tersebut biasanya terbang pindah-pindah tempat ketika terganggu oleh orang yang lewat atau terganggu oleh orang yang sedang menyabit rumput di kebun teh.
Hasil birdwatching dengan jalan-jalan dapat dicatat dicatat tak kurang dari 32 jenis burung dari 20 famili di kebun teh sekitar Kampung Pangkalan/Padamukti (Lihat Tabel).
|
Nama ilmiah |
Famili |
Nama lokal |
Nama di Indonesiakan |
|
Acridotheres javanicus* |
Sturnidae |
Kerak munding |
Kerak kerbau |
|
Arborophila javanica |
Phasianidae |
Puyuh gonggong |
Puyuh gonggong jawa |
|
Cacomantis merulinus |
Cuculidae |
Manuk uncuing |
Wikwik kelabu |
|
Collocalia linci |
Apodiadae |
Kapinis |
Walet linchi |
|
Dicaeum trochileum |
Dicaeidae |
Manuk mangandeuh |
Cabai jawa |
|
Geopelia striata |
Columbidae |
Perkutut |
Perkutut Jawa |
|
Gerygone sulphurea |
Pardalotidae |
Remetuk laut |
Remetuk laut |
|
Gracupica jalla* |
Sturnidae |
Jalak suren |
Jalak suren |
|
Halcyon cyanoventris |
Alcedinidae |
Gasngék |
Cekakak jawa |
|
Hemipus hirundinaceus |
Vangidae |
Jingjing teureup |
Jing-jing batu |
|
Hirundo daurica |
Hirundinidae |
Dodono |
Layang layang loreng |
|
Hirundo javanica |
Hirundinidae |
Kapinis |
Layang layang batu |
|
Ictinatetus malaiensis |
Acciptridae |
Heulang hideung |
Elang hitam |
|
Lalage nigra |
Campephagidae |
Manuk muncang |
Kapasan kemiri |
|
Lanius schach |
Laniidae |
Toéd |
Bentet kelabu |
|
Lonchura leucogastroides |
Estildidae |
Piit |
Bondol jawa |
|
Lonchura punctulata |
Estrildidae |
Peking |
Bondol peking |
|
Megalurus palustris |
Locustellidae |
Tékték réyod |
Cica koreng jawa |
|
Oriolus chinensis |
Oriolidae |
Bincarung |
Kepodang kuduk hitam |
|
Orthotomus rificeps |
Cisticolidae |
Cinenen |
Cinenan kelabu |
|
Orthotomus sutorius |
Cisticolidae |
Esel nangka |
Cinenen pisang |
|
Passer montanus |
Passeridae |
Galéra |
Burung gereja Erasia |
|
Prinia familiaris |
Cisticolidae |
Pacikrak |
Perenjak jawa |
|
Prinia superciliaris |
Cisticolidae |
Pacikrak gunung |
Perenjak gunung |
|
Pycnonotus analis |
Pycnonotidae |
Jogojog
|
Merbah cerucuk |
|
Pycnonotus aurigaster |
Pycnonotidae |
Cangkurileung |
Cucak kutilang |
|
Spilopedia chinensis |
Columbidae |
Tikukur |
Tikukur biasa |
|
Turnic suscitator |
Turnicidae |
Puyuh |
Gemak loreng |
|
Todiramphus chloris |
Alcedinidae |
Cekahkéh |
Cekakak sungai |
|
Zosterops plavus |
Zosteropidae |
Manuk kacamata |
Kacamata jawa |
*peliharaan penduduk di sangkar di Kampung Pamgkalan/Padamukti, Pangalengan
Jenis-jenis burung di Perkebunan Teh Kertamanah, Pangalengan, Desember 2025. (Tabel: Johan Iskandar)

Kepunahan Jenis Burung
Berdasarkan informasi penduduk yang tinggal di Kampung Pangkalan/Padamukti, hampir semuanya menyatakan bahwa saat ini keberadaan keanekaan jenis-jenis burung di kawasan perkebunan Kertamanah telah berkurang jauh dibandingkan dengan di masa lalu. Faktor penyebab yang utama adalah maraknya perburuan burung hidup guna bahan perdagangan.
Berbagai teknik biasa digunakan para pemburu burung liar untuk menangkap burung hidup-hidup. Misalnya. memasang jaring nilon, menempatkan ranting-ranting getah perekat, dan memasang aneka ragam alat perangkap seperti jiret dan lainnya. Pengaruh kemajuan teknologi, dan perkembangan sistem ekonomi pasar telah menyebabkan penangkapan jenis-jenis burung makin intensif. Misalnya, kini hampir semua peralatan untuk menangkap berbagai jenis burung dapat dibeli dengan mudah dari kota via toko daring. Konsekuensinya, tata cara menangkap burung liar di alam dapat berubah. Misalnya, pada masa lalu jaring untuk menangkap burung cukup dengan menggunkan jaring tradisional, tapi kini para pemburu burung biasa menangkap jenis-jenis burung dengan mengunakan jaring kabut (mistnet), yang dibeli di kota. Selain itu, pada masa lalu, untuk mengundang burung di alam agar masuk jaring atau hinggap di ranting-ranting pohon yang telah dipasangi getah perekat (leugeut), dengan menggunakan hatong tradisional dan burung pemikat berupa burung jinak di dalam sangkar yang biasa rajin berkicau. Kini rekaman suara burung di HP bisa digunakan untuk mengundang jenis-jenis burung di alam untuk masuk jaring dan perangkap. Akbiatnya, jenis-jenis burung makin gampang untuk ditangkap hidup-hidup dan marak diperdagangkan.
Maraknya perburuan liar telah menyebabkan populasi berbagai jenis burung menjadi kian langka, bahkan telah punah secara lokal. Misalnya, berdasarkan memori kolektif penduduk lokal di Kampung Pangkalan/Padamukti, di masa lalu burung jalak suren (Gracupica jalla), Famili Sturnidae, populasi cukup banyak di kebun teh. Tetapi, jenis burung tersebut kini telah punah secara lokal di kebun-kebun teh Sukamanah, bahkan di seluruh kawasan perdesaan di Jawa Barat. Jenis burung jalak suren hanya bisa ditemukan di kurungan-kurungan/kandang, berupa burung peliharaan penduduk yang diperoleh dari membeli di kota.
Selain itu, faktor penyebab gangguan lainya adalah akibat rusak atau hilangnya habitat. Misalnya, akibat maraknya alih fungsi hutan menjadi kebun sayur komersial monokultur, kawasan yang tadinya rimbun vegetasi menjadi kawasan terbuka sehingga dapat menyebabkan gangguan serius terhadap habitat burung di alam. Bukan hanya itu, maraknya penggunaan racun hama (pestisida) di lahan pertanian atau perkebunan dapat pula menyebabkan gangguan langsung atau tidak langsung terhadap kehidupan jenis-jenis burung di alam.
Oleh karena itu, untuk melindungi burung dari kepunahan di alam, tindakan bijaksana dari manusia sungguh diperlukan. Selama perilaku manusia tidak bijaksana terhadap ekosistem, termasuk pada jenis-jenis burung, maka sulit sekali untuk menjamin berlanjutan kehidupan berbagai jenis burung di alam. Oleh karena itu, kecintaan kita semua terhadap jenis-jenis burung seyogianya bukan hanya diwujudkan dengan hobi memelihara jenis-jenis burung di sangkar-sangkar atau kandang. Tetapi, penting pula untuk mencintai jenis-jenis burung di alam bebas. Di antaranya dengan mengembangkan hobi birdwatching. Hobi tersebut sangat menyenangkan dan menyehatkan, serta sekaligus dapat membantu upaya konservasi burung di alam dengan membantu memantau jenis-jenis burung yang masih ada di alam di berbagai wilayah Tanah Air kita.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

