• Buku
  • RESENSI BUKU: Polisi yang Baik Hati Menurut Hikayat Kadiroen

RESENSI BUKU: Polisi yang Baik Hati Menurut Hikayat Kadiroen

Buku Hikayat Kadiroen karya Semaoen berkisah tentang seorang polisi dengan karier gemilang yang menjumpai persimpangan jalan.

Sampul buku Hikayat Kadiroen karya Semaoen. (Foto: Pratama Wasisto Aji)

Penulis Pratama Wasisto Aji11 Januari 2026


BandungBergerak.id – Novel ini ditulis Semaoen, pemuda progresif yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan rakyat. Akibat aktivitasnya yang bertentangan dengan pemerintahan Hindia Belanda, beberapa kali dia harus mendekam sebagai pesakitan. Salah satunya pada tahun 1919, saat beliau mendekam di penjara selama empat bulan karena persdelict (hukum untuk tindak pidana atau kejahatan yang dilakukan melalui media pers/penerbitan). Selama dalam penjara itulah beliau menulis novel ini.

Berkisah tentang seorang polisi dengan karier gemilang yang menjumpai persimpangan jalan. Apakah dia akan mempertahankan kariernya–yang mengekang–atau mengikuti idealismenya. Pembacaan tentang dilema moral seorang polisi ini membuat saya teringat pada kelakar Gus Dur yang terkenal itu. Beliau berkata bahwa hanya ada tiga polisi baik di Indonesia: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Setelah membaca novel ini, bolehlah kita menambah satu daftar polisi baik, yaitu Kadiroen. Lantas mengapa dia digolongkan sebagai polisi baik? 

Memang benar, baik buruk merupakan aspek moral dan multi interpretatif; apa yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu baik bagi orang lain. Untuk itu, novel ini mencitrakan polisi baik adalah mereka yang melakukan investigasi secara objektif, bijaksana, dan tulus akan pengabdiannya kepada rakyat. Dia mau mendengarkan keluh kesah rakyat, mampu memilah mana yang benar dan salah, tidak asal tangkap,  tidak memanipulasi perkara, apa lagi membuat laporan palsu untuk mencari kambing hitam demi menutupi perkara yang lebih besar.

Kadiroen masih tergolong polisi muda. Dia pun baru mentas dari Opleiding School voor Inlandesche Abtenarer (OSVIA). Namun sayang, cita-cita ingin memuliakan Rakyat terhalang feodalisme yang kuat mengakar. Di alam yang feodal, anak muda sering disisihkan sebab dianggap kurang pengalaman. Selain itu, feodalisme juga membuat polisi melihat siapa yang melaporkan perkara. Jika pelapor memiliki jabatan dan kuasa, cepatlah polisi bertindak. Lain hal jika yang melapor rakyat jelata, sudah pasti tidak akan didengar, apa lagi diselidiki. 

Budaya feodal ini dicerminkan dalam novel oleh seorang Asisten Wedono (camat) yang lebih memperhatikan seorang Administratur (pejabat) yang kehilangan ayam ketimbang seorang petani yang kehilangan kerbau. Bukan masalah besar kecilnya hewan, tapi bagaimana si Asisten Wedono itu memperlakukan dua pelapor dengan sikap berbeda. Sembah simpuh di depan Administratur tetapi petantang-petenteng dan berlagak galak di depan petani. Sikap Kadiroen tentulah bertentangan dengan Asisten Wedono. Dia melakukan investigasi mendalam dan mau mendengarkan keluh kesah petani. Hasilnya sesuai dugaan bahwa ayam yang hilang disebabkan dimangsa gangrangan, sedangkan kerbau petani murni pencurian yang dilakukan komplotan penjudi.

Berkat kejujuran dan ketulusannya, dia cepat naik pangkat dan dipercayai mengelola satu wilayah sebagai Asisten Wedono. Kemiskinan adalah penyakit akut yang mendera wilayah yang dia pimpin. Awalnya, banyak spekulasi musabab kemiskinan tersebut. Salah satu di antaranya karena rakyat tak pandai menabung. Namun, hal itu adalah akibat dari musabab sesungguhnya. Seperti pabrik-pabrik yang meminjamkan voorschot (uang muka) bagi petani untuk menyewakan tanahnya dan mindring yang meminjamkan uang dengan bunga 250 persen-300 persen per tahun. Oleh karena itu, Rakyat terjebak dalam lingkaran setan yang membuat mereka bekerja keras sepanjang hidup, tetapi tetap tidak pernah lepas dari jerat kemiskinan.

Di tengah kegalauan itu, Kadiroen menerima pencerahan dari organisasi pergerakan yang baru berkembang di Hindia. Organisasi itu disingkat PK, yang akan melakukan rapat akbar guna menerangkan gagasannya. Tjitro, orator yang berapi-api menjelaskan maksud PK dibentuk. Jika dirangkum, tujuan PK adalah menyejahterakan rakyat dan lepas dari kolonialisme yang menindas. Setelah orasi pungkas, giliran para penanggap mengkritisi pemaparan Tjitro. Kelima tanggapan kritis itu mampu dijawab Tjitro dengan ciamik sehingga membuat penanggap paham dan tidak mendebat lagi.

Setelah rapat akbar selesai, Kadiroen terpikat oleh PK. Namun, dia masih terikat pada jabatannya. Oleh karena itu, sebagai kontribusi dia hanya mampu menulis di Sinar Rak’jat, koran bikinan PK. Berkat tulisannya yang kritis, dia dipanggil oleh atasan dan tentu saja dibungkam. Pembungkaman tersebut justru tambah menarik Kadiroen untuk bergabung pada PK. Sudah basah kenapa tidak sekalian berenang.

Gejolak muda membuncah, semakin dikekang semakin melawan. dia meninggalkan jabatannya dan bergabung dengan PK. Tugasnya mengurusi penerbitan Sinar Rak’jat. Dia berkorespondensi dengan Sariman yang lebih muda namun dianggapnya sebagai guru di bidang jurnalistik. Namun demikian, bekerja di penerbitan berarti akan berteman dengan penderitaan. Kemiskinan akan menggentayangi hidup.

Untungnya Sariman mampu meyakinkan Kadiroen. Dia bercerita dalam hidupnya pernah berjumpa dengan kesusahan untuk memilih dua hal: antara menyelamatkan orang tuanya yang sakit dan bersetia pada PK. Satu masa dia tak memegang sepser pun, padahal orang tuanya sedang sakit keras. Di sisi lain, dia memegang uang kas PK yang sebenarnya bisa dia ambil untuk pengobatan ibu. Kesetiaannya pada PK telah membentuk ketulusan hatinya. Dia tak tergoda untuk korupsi, ibunya selamat karena ada haji yang juga anggota PK membantu sebab kagum atas ketulusan hatinya. Begitulah Kadiroen menganggap Sariman sebagai guru. Bukan hanya kepandaian akan tetapi ketulusan hatinya kepada rakyat

Baca Juga: RESENSI BUKU: Dari Suku Anak Dalam, Butet Manurung Mengajarkan Kita Arti Sebenarnya Merdeka Belajar
RESENSI BUKU: Kita Semua (Pernah) Tolol dan Hidup ini Harus Dinikmati
RESENSI BUKU: Kelinci Percobaan Vaksin Bernama Romusa

Memahami Ketimpangan dengan Cara yang Sederhana

Karena berlatar seabad yang lalu, saya menaruh rasa penasaran terhadap perspektif ideologis kaum pergerakan pada masa itu. Bagaimana kaum pergerakan memandang penjajahan yang dilakukan Hindia Belanda? Apakah karena mereka kulit putih dan kita kulit berwarna? Apakah karena pribumi dan pendatang? Jika tidak apakah karena ada  relasi yang timpang? atau dalam Bahasa lain, apakah perlawanan yang dilakukan itu karena imperialisme (pengerukan sumber daya yang dilakukan dengan kekerasan) atau justru lebih mendasar yaitu kapitalisme (relasi produksi).

Dalam Hikayat Kadiroen hal itu dijelaskan secara gamblang saat Tjitro berorasi. Dia memaparkan gagasan tanding dari kapitalisme. Semisal, dalam menjelaskan kemiskinan struktural, alih-alih menyalahkan rakyat atas kemiskinan yang mereka dera, Tjitro justru menjelaskan kepemilikan alat produksi yang timpang. Begitu juga pabrik-pabrik yang menyewa tanah rakyat yang perlahan membuat rakyat beralih profesi, yang semula petani penggarap menjadi buruh. Karena tidak memiliki alat produksi secara penuh, maka kehidupan mereka dikontrol oleh pemilik modal.

Alur yang Lurus dan Mudah Ditebak

Sedari awal, konflik yang tercipta dalam cerita ini sangat mudah ditebak. Pertentangan antara Kadiroen dan Wedono, misalnya, sejak mula sudah mengarah pada kemenangan Kadiroen sehingga tegangannya tidak benar-benar berkembang. Begitu pula dengan kisah asmaranya bersama Ardinah yang berjalan tanpa kejutan berarti, seolah mengikuti pola yang sudah umum dalam cerita-cerita sejenis. Alur yang dapat diprediksi ini membuat dinamika cerita terasa datar.

Semisal tanggapan atas orasi Tjitro. Walaupun lima tanggapan bersifat kontra–baik dari segi agama, nasionalisme, dan kepemilikan modal–namun setelah mendapat jawaban dari Tjitro maka perdebatan tidak dilanjutkan. Seolah-olah semuanya selesai. Begitu juga pilihan untuk bergabung dengan PK atau tetap menjadi pejabat. Alurnya amat picisan. dan tentu saja pilihan tersebut walau sulit tapi mudah ditebak. Karena sedari awal diceritakan bahwa Kadiroen sangat peduli pada rakyat dan banyak tidak sepakat pada birokrasi.

Namun demikian, membaca buku ini mengingatkan kita bahwa gagasan atas Indonesia Merdeka itu bukan saja terlepas dari kolonialisme saja. Lebih dari itu, kemerdekaan juga harus diisi dengan kebebasan pers, pemerintahan yang terbuka, pejabat yang tidak anti kritik, polisi yang tidak asal tangkap tanpa bukti, dan negara yang melayani Rakyat bukan justru berbisnis padanya. Dengan kata lain, kemerdekaan menuntut hadirnya tata kelola yang adil, transparan, dan berpihak pada rakyat agar cita-cita Indonesia Merdeka benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Informasi Buku

Judul: Hikayat Kadiroen

Penulis: Semaoen

Penerbit: Narasi

Diterbitkan: Pertama kali tahun 1920, diterbitkan ulang tahun 2018

Tebal: XI + 251

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//