MAHASISWA BERSUARA: Menulis Jurnal, Refleksi, dan Kejujuran Personal
Dengan mencatat emosi, kita sebenarnya sedang mengelolanya. Journaling menjadi media untuk melepaskan dan menghubungkan emosi.

Razwalia Ryandini Lesmana
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
12 Januari 2026
BandungBergerak.id – Setiap orang pasti memiliki cara tersendiri dalam mengelola emosinya. Setiap orang memiliki cara untuk menghadapi stres, kecemasan, atau pun kebingungan. Ada juga yang memilih untuk berolahraga, ada pula yang suka mengalihkan perhatiannya dengan berbagai bentuk hiburan. Manusia akan mencari cara mereka untuk mengendalikan emosinya. Salah satunya adalah menulis jurnal, menuliskan perasaan terdalam atau hal-hal yang sebelum nya sudah pernah terjadi atau yang sedang terjadi, dengan menulis jurnal itulah salah satu cara untuk bertahan setiap hari. Hukum Kidlin menyatakan bahwa: “Jika Anda mencatat masalah dengan jelas, maka Anda telah menyelesaikan setengah dari masalah.” Hukum ini menunjukkan bahwa ketika mencoba untuk mencatat masalah, beberapa hal menjadi lebih jelas. Itu menjadi alasan terkuat seseorang untuk memulai perjalanan journaling, sebagai bentuk ekspresi diri dan pemahaman diri. Menulis juga tidak hanya membantu kita untuk berpikir dengan jelas, tetapi juga membantu memahami diri sendiri dan mengapa kita berpikiran seperti itu. Dengan mengekspresikan perasaan dalam lembaran maka akan mulai terasa lebih nyata dan tidak ada awan yang menutupi pikiran.
Kebanyakan orang menganggap jurnal itu sama seperti buku sketsa untuk seorang seniman yang di mana dalam sebuah sketsa tidak dibatasi oleh banyak aturan yang ketat. Tidak ada tuntutan untuk menghasilkan karya yang bagus karena elemen yang paling penting bukanlah kesempurnaan, melainkan prosesnya. Sama hal layaknya seperti menulis jurnal, seseorang diberikan ruang untuk menumpahkan isi pikirannya, menata perasaannya dan bagaimana cara agar individu bisa mengenal dirinya sendiri. Mungkin terdengar sepele, tapi percayalah bahwa dalam suatu halaman jurnal itu bisa berubah menjadi suatu gudang kecil yang dapat menyimpan perubahan, konflik internal, dan juga pemahaman yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Hidup di antara Banyak Ekspektasi, Mengurai Letih yang Tak Terucap
MAHASISWA BERSUARA: Menyiasati Manajemen Waktu yang Efektif
MAHASISWA BERSUARA: Banjir Bukan Datang dari Hujan, tapi dari Kebijakan yang Rapuh
Ditulis untuk Diri Sendiri, Bukan Konsumsi Media Sosial
Interaksi personal dengan jurnal jarang sekali untuk tumbuh dengan sendirinya. Budaya menulis jurnal secara online semakin populer belakangan ini karena media sosial dirancang untuk memicu dopamin melalui like, komentar, dan share sehingga menciptakan validasi dari eksternal. Beberapa orang mulai merasa bahwa ruang pribadi ini akan berubah menjadi sesuatu yang harus dipertontonkan di sosial media. Karena adanya dorongan untuk menggunakan peralatan tulis menulis yang mewah, membuat tata letak halaman yang estetis, dan mengikuti standar visual yang diunggah oleh beberapa influencer di media sosial. Sebagian besar orang beranggapan bahwa menulis jurnal harus selalu rapi dan terstruktur, seakan-akan ada parameter khusus untuk dapat dikatakan bahwa sebuah tulisan tersebut layak untuk dibaca dan kehilangan tujuan awalnya: menjadi cerminan diri, bukan cerminan ekspektasi publik.
Ketika seseorang akan memulai perjalanannya untuk menulis jurnal, sering kali mereka mencoba untuk menulis dengan konsisten, lalu dipenuhi dengan kalimat formal dan pemilihan kata yang sengaja dibuat agar terlihat sempurna. Alih-alih membuat dengan penuh kejujuran, jurnal berubah menjadi naskah yang terdengar seperti orang lain yang sangat jauh dengan individu. Lalu perubahan perspektif baru muncul ketika seseorang menjelaskan konsep paling dasar dalam kegiatan journaling: cukup pena, kertas, dan kehadiran. Sering kali timbul kesalahpahaman karena orang mengira menghasilkan tulisan yang terbaik itu harus menggunakan merek jurnal yang terbaru atau pena yang paling mahal dan apabila jurnal ini tidak terlihat seperti yang dikerjakan milik orang lain, seolah-olah kita tidak melakukannya dengan benar. Konsep ini mengingatkan kembali bahwa inti dari menulis itu bukan terletak pada peralatannya, tetapi pada kejujuran dan perhatian yang dibawa ke dalam proses menulis. Kesederhanaan ini dapat membantu seseorang kembali melihat jurnal sebagai ruang yang aman, bukan ruang performatif. Ketika tekanan visualnya dilepaskan, halaman-halaman jurnal akan terbentuk secara natural apa adanya.
Pendekatan sederhana inilah yang membuat proses menulis akan lebih ringan, karena tidak ada tekanan terhadap seseorang bagaimana mereka harus mulai menulis, beberapa orang hanya menulis dengan satu kalimat saja per harinya. Tulisan yang tidak teratur, banyak coretan yang tak disengaja, penggunaan kalimat yang salah, atau bahkan paragraf yang tidak ada arahnya tidak menjadikan suatu hal itu menjadi kekurangan dalam menulis. Detail kecil ini yang menjadi tanda bahwa seseorang hadir sepenuhnya, tanpa pengecualian. Terdapat penelitian dari Universitas California, Berkeley mengatakan bahwa mahasiswa yang rutin menulis jurnal mengalami peningkatan konsentrasi sebanyak 20 persen pada kegiatan akademiknya dibandingkan dengan kelompok yang tidak menulis jurnal. Dari penemuan ini membuktikan bahwa praktik jurnal bisa memperkuat tingkat fokus melalui pemikiran reflektif dan mengurangi distraksi saat belajar.
Mengelola Emosi Lewat Tulisan
Dengan mencatat emosi, kita sebenarnya sedang mengelolanya, manusia itu sifatnya selalu mengelompokkan hal-hal, jadi dengan menuliskan emosi dan pikiran membantu mengenali pola juga tema yang muncul. Saat kita kecil, kita berpikir dunia itu hanya berpusat pada diri kita sendiri, sebaliknya ketika sudah dewasa kita cenderung menutup rapat pikiran dan perasaan dari orang lain, jurnal sebagai media untuk melepaskannya dan menghubungkan emosi yang terjadi sekarang dengan pengalaman masa lalu.
Jurnal juga dapat membuka ruang untuk kita mengungkapkan emosi yang sulit apabila diucapkan secara langsung, misalnya ketika kesusahan mengerjakan tugas dari dosen killer, daripada kita menyalurkan energi dengan emosi yang meledak-ledak, tulis saja keluhannya atau bisa gambar karikatur dosen yang menyebalkan, dengan cara ini dapat melepaskan beban tanpa risiko, mengatur pikiran agar suatu saat nanti ketika menghadapi masalah yang sama kita bisa menghadapinya dengan tenang dan produktif. Terkadang kita sering kali terputus dari tubuh akibat banjir pikiran seperti Body Scan Mindfulness, peran jurnal sangat penting di sini sebagai pemindaian emosi kita di mana semua peristiwa pada hari itu dan pikiran serta perasaan yang terkait dengannya, dan menuliskannya di atas kertas seperti pelepasan ketegangan yang kita rasakan dalam pemindaian tubuh, ini yang dinamakan pemindaian emosional.
Cara Memulai journaling yang Sederhana
Untuk memulai journaling sebenarnya cukup mudah, pertama, membeli jurnal dan pena yang murah, jurnal tidak perlu mahal kita bisa menggunakan media kertas apa pun yang ada di rumah. Tetapi bagian tersulitnya adalah konsisten untuk melakukannya, mengatur alarm di gawai untuk jurnal minimal 5 menit seharinya dengan berisi keluh kesah apa saja yang sudah dilewati, kondisi diri, dan tulis saja beberapa kalimat pembuka yang menggambarkan hari itu, untuk menulis ini tidak perlu dalam yang penting dilakukan setiap hari selama 5 menit, harapannya adalah dari kebiasaan menulis setiap hari dapat terbentuk dari pengulangan.
Lalu menggunakan prompt yang sederhana, pertanyaan umum “apa saja yang ditulis” jawabannya sangat bervariasi, bisa dimulai dengan antisipasi hari itu, rencana akhir pekan, ringkasan hari, atau pencapaian yang sudah di dapatkan. Agar terkesan spesial, bisa juga menggunakan stiker, amplop, pena berwarna, struk belanja, tiket pesawat, souvenir, potongan kertas dan printilan lainnya sebagai dekorasi, ini juga dapat menambahkan lapisan pada rekapan harian dan salah satu pintu masuk ke dalam ranah Art Journaling.
Epilog
Jurnal adalah sebuah pintu kecil menuju masa lalu, tidak selalu buruk untuk mengenang emosi yang pernah dialami dan bagaimana mengatasinya oleh setiap individu. Tidak ada salahnya untuk mengenang momen-momen indah yang pernah dinikmati di masa lalu, karena di sini jurnal berfungsi sebagai catatan kreatif yang setiap kalinya membaca ulang tidak akan merasa ragu berbeda dengan tekanan estetika media sosial yang mengubah personal space menjadi performa publik.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

