• Opini
  • Misteri Orang Utan

Misteri Orang Utan

Penyelidikan tentang temuan-temuan fosil orang utan di berbagai tempat, termasuk di Indonesia, terus berlanjut untuk menemukan jawaban dari misteri ini.

Johan Arif

Peneliti Geoarkeologi & Lingkungan di ITB, Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Perawat satwa meggendong bayi orang utan berusia 71 hari di klinik satwa Bandung Zoo di Bandung, 21 Februari 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

12 Januari 2026


BandungBergerak - Pada awal abad ke-17 orang utan (Pongo) mulai dipelajari oleh dua orang ilmuwan dari Belanda yaitu Jacob de Bondt dan Nicholaas Tulp. Kemudian, pada abad ke-18 Carl von Linné dari Swedia mengusulkan nama ilmiah dari orang utan sebagai Simia satyrus. Tahun 1927 namanya dirubah menjadi Pongo pygmaeus oleh International Commission on Zoological Nomenclature.

Orang utan, simpanse, dan gorila digolongkan sebagai kera berukuran tubuh besar (great ape atau large-bodied hominoid. Tetapi, dari ketiganya, orangutan lah yang mempunyai ukuran badan dan gigi yang paling besar dibandingkan simpanse dan gorila. Sekarang orang utan hanya terdapat di wilayah Sumatra bagian utara dan di Kalimantan bagian utara, barat, dan selatan. Mereka terdiri dari dua spesies yaitu Pongo pygmaeus abelii yang hidup di Sumatra dan Pongo pygmaeus pygmaeus yang hidup di Kalimantan. Menurut pendapat para ilmuwan, orang utan Sumatera dan Kalimantan adalah spesies yang sama dan diyakini bahwa mereka tidak dapat dipisahkan bahkan secara subspesifik.

BirutÄ— Marija Filomena Galdikas dari Jerman adalah salah seorang ahli primata yang paling berpengaruh dalam dunia primatologi. Dia mempelajari kehidupan orang utan di Tanjung Puting Kalimantan Selatan. Dua orang lagi adalah Dame Jane Morris Goodall dari Inggris, ahli zoologi dan etologi yang mempelajari keluarga gorila selama bertahun-tahun di Rwanda. Selama 55 tahun dia mempelajari kehidupan simpanse yang hidup di taman nasional Gombe Stream di Tanzania dan Dian Fossey dari Amerika yang wafat dalam usia 53 tahun.

Ada dua versi mengenai taksonomi dari kera berukuran tubuh besar ini yaitu (A): simpanse, gorila dan orang utan berada dalam satu famili yaitu Pongidae sedangkan pada versi (B): Pongo (yaitu Ponginae) terpisah dari simpanse dan gorila.

Pada zaman Kuarter (Plestosen & Holosen) jejak keberadaan orangutan yang berupa fosil tulang dan giginya tersebar luas di beberapa tempat antara lain di Cina Selatan, India Utara, Vietnam, Laos, Sarawak, Sumatra, dan Jawa. Sebaliknya, jejak fosil simpanse dan gorila sangat jarang ditemukan baik di Afrika sendiri maupun di Asia.

Dua hipotesa taksonomi kera besar. (Sumber: Dok Penulis)
Dua hipotesa taksonomi kera besar. (Sumber: Dok Penulis)

Siapa Nenek Moyang Orang Utan?

Walaupun tentang hal ini masih diperdebatkan orang, ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai siapa nenek moyang orang utan tersebut, antara lain:

Dubois memperkirakan bahwa nenek moyang orang utan berasal dari Asia yang hidup pada zaman Plestosen Awal di Siwalik (Pakistan). Hal ini diperkuat lagi setelah Dubois tahun 1927 menemukan dua buah gigi geraham (molar) di Trinil.

Kahlke (1972) berpendapat bahwa nenek moyang orang utan mungkin Palaeosimia yang berasal dari Siwalik, Chinji, Pakistan. Fosil Palaeosimia itu yang berupa gigi geraham kanan atas ketiga, fosilnya disimpan di Indian Museum, Calcuta.

Chaimanee dkk tahun 2003 berpendapat bahwa nenek moyang orang utan mungkin berasal dari tempat yang beriklim tropis atau subtropik yang hidup pada zaman Miosen. Ada tiga kandidat tentang hal ini yaitu: (i) Lufengpithecus dari Cina Selatan dan Thailand yang berumur Miosen Tengah, (ii) Sivapithecus dari Siwalik (Pakistan) yang berumur Miosen, dan (iii) Khoratpithecus piriyai dari Thailand yang berumur Miosen Akhir.

Baca Juga: Mewaspadai Bencana Tsunami di Daerah Pesisir Indonesia
Geowisata ke Fomasi Lidah di Bojonegoro

Lokasi temuan fosil-fosil orangutan di Asia. (Sumber: Penulis)
Lokasi temuan fosil-fosil orangutan di Asia. (Sumber: Penulis)

Fosil Orang Utan dari Indonesia

Suatu penemuan gigi prasejarah dan fosil spesies ini di luar habitatnya telah membuktikan bahwa Pongo pygmaeus adalah bentuk primitif atau kuno. Pada zaman prasejarah, hewan ini tersebar lebih luas di pulau Sumatra, setidaknya di bagian tengah pulau, dan pada zaman Pleistosen species ini berkeliaran di hutan-hutan di Jawa dan Cina selatan.

Fosil-fosil orang utan yang diketemukan di Pulau Sumatra pada umumnya adalah gigi dan diberi nama Pongo pygmaeus palaeosumatrensis dan fosil orang utan dari Cina selatan sebagai Pongo pygmeus weidenreichi oleh Hooijer.

Menurut Hooijer, ukuran gigi P.pygmeus palaeosumatrensis adalah lebih besar dari pada P.pygmaeus abellii dari Sumatra dan P.pygmeus.pygmaeus dari Kalimantan. P.p. palaeosumatrensis dan P.p.weidenreichi dianggap sudah punah.

Fosil orang utan yang ditemukan di Pulau Jawa, diusulkan oleh Kahlke tahun 1972, yang menurut dia nenek moyang orang utan di Jawa berasal dari kawasan Indo-China. Ada dua hipotesa mengenai migrasi mamalia yang terjadi di Asia, yaitu migrasi Siva-Malayan pada zaman Pleistosen Bawah-Tengah dan migrasi Sino-Malayan pada zaman Pleistosen Akhir.

Fauna Siva-Malayan ditemukan di endapan kuarter di Jawa, yaitu Formasi Kaliglagah dan Mengger di Bumiayu, dan Formasi Pucangan dan Kabuh di Sangiran. Sementara itu, Fauna Sino-Malayan ditemukan di beberapa gua yaitu Lida Ayer di Sumatra, Punung di Jawa Timur dan Niah di Kalimantan. Salah satu hewan yang ikut bermigrasi melalui jalur Siva-Malayan adalah badak. Sekarang populasi badak hanya terdapat di Ujung Kulon, tetapi pada zaman Plestosen penyebarannya meluas dari semenanjung, pulau Sumatra hingga Pulau Jawa.

Contoh lainnya adalah gajah. Penyebaran gajah dimulai sejak zaman Eosen sampai Plestosen dari Afrika hingga ke Amerika. Dan salah satu hewan yang diduga menyebar melalui jalur Sino-Malaya adalah orang utan.

Penutup

Bagaimana pun orang utan termasuk cara mereka bermigrasi masih menjadi misteri. Penyelidikan tentang temuan-temuan fosil orang utan di berbagai tempat terus berlanjut untuk menemukan jawaban dari misteri ini.

Orang utan adalah hewan yang hidup di hutan tropis. Mereka adalah makhluk arboreal (lebih banyak hidup di pohon) bukan makhluk darat (terrestrial) seperti simpanse. Kemudian, berdasarkan temuan fosil orang utan tertua di Sangiran, migrasi orang utan melalui jalur Sino-Malaya, dari utara ke selatan, perlu dikaji ulang. Apakah ada kemungkinan penyebaran orang utan di kepulauan Asia Tenggara melalui jalur Siva-Malayan?

*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel Johan Arif, atau tulisan-tulisan lain tentang Situs Geologi

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//