MAHASISWA BERSUARA: Auguste Comte dan Mimpi Sejarah Ilmiah
Pemikiran Auguste Comte tentang positivisme mewakili mimpi sejarah ilmiah: umat manusia akan mencapai peradaban yang lebih tinggi melalui pengetahuan saintifik.

Jaja Jaenudin dan Hilal Ramadhan
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
13 Januari 2026
BandungBergerak.id – Auguste Comte (1798–1857) dikenal sebagai pendiri positivisme dan “bapak sosiologi” modern. Ia berpendapat bahwa pengetahuan umat manusia harus bertumpu pada pengalaman empiris dan metode ilmiah (Comte, 2009). Dalam pandangan Comte, perkembangan pemikiran manusia telah melalui urutan logis dari yang mistis menuju yang ilmiah: masyarakat bermula dengan tahap teologis (percaya pada kekuatan supranatural), beralih ke tahap metafisik (konsep abstrak seperti “hakikat alam”), dan akhirnya mencapai tahap positif di mana ilmu pengetahuan dan eksperimen menjadi dasar memahami realitas (Hadi, 2023). Comte bahkan mengawali ilmu sosiologi dengan istilah “sociology” sebagai upaya merangkum ilmu sosial atas dasar yang sama seperti ilmu alam. Dalam cita-citanya yang luas, Comte merencanakan sebuah republica positiva, di mana ilmu pengetahuan menggantikan agama lama sebagai sumber wibawa moral dan sosial, di bawah slogan “Cinta, Ketertiban, Kemajuan” (Love, Order, Progress).
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Salah Menafsir Kodrat Perempuan
MAHASISWA BERSUARA: Nasionalisme dan Perlawanan Petani Banten dalam Geger Cilegon 1888
MAHASISWA BERSUARA: Menulis Jurnal, Refleksi, dan Kejujuran Personal
Konsep Dasar Positivisme Comte
Positivisme menurut Comte menolak spekulasi metafisik dan menempatkan ilmu empiris sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang sah. Seperti dijelaskan dalam literatur, positivisme adalah aliran yang memandang ilmu alam (empiris) sebagai satu-satunya sumber pengetahuan benar, serta menolak filsafat spekulatif yang tidak berdasarkan bukti inderawi (Verissa Annagris Prassadi, 2024). Comte menekankan bahwa dalam perkembangan budaya manusia, hanya pada tahap positif dimana kenyataan diamati secara objektif manusia dapat meraih kemajuan sejati. Tahap positif ini “sesuatu yang nyata, jelas, pasti dan bermanfaat”. Dengan kata lain, bagi Comte pengertian positif berarti segala gejala yang tampak apa adanya dan dapat diuji oleh indera. Positivisme Comte juga membawa implikasi metodologis: setiap pengetahuan harus berdasar pada data empiris dan pengamatan yang sistematis, tanpa mengandalkan intuisi atau doktrin metafisik (Yaskur Agil Muzaki, 2023).
Inti teori Comte adalah hukum tiga tahap (law of three stages) yang menjadi kerangka utama pemikirannya (Hadi, 2023). Ia menyatakan bahwa sejarah umat manusia (baik individu maupun kolektif) berkembang secara linier melalui tiga tahap yang tak terputus. Tiga tahap itu adalah:
- Tahap Teologis (Mistis) Tahap awal pemikiran manusia yang dominan oleh kepercayaan pada kekuatan-kekuatan gaib. Dalam tahap ini muncul kepercayaan animisme dan politeisme, kemudian monoteisme; manusia memandang realitas seolah dikendalikan oleh roh dan dewa.
- Tahap Metafisik Tahap transisi, di mana penjelasan gaib digantikan oleh konsep abstrak seperti “hukum alam” atau “hakikat essensi”. Pada fase ini pemikiran masih spekulatif dan idealis, namun sudah tidak mengandalkan figur dewa.
- Tahap Positif (Ilmiah) Tahap akhir di mana manusia melepaskan diri dari spekulasi dan berfokus pada observasi konkret. Diharmonikan dengan metode sains, dunia dipahami berdasarkan hukum-hukum alam yang dapat dibuktikan. Di sinilah semangat empirisme terwujud: setiap fenomena ditangkap melalui indera dan eksperimen, dan kenyataan dianggap “nyata, jelas, pasti, bermanfaat”.
Dengan hukum ini, Comte bermaksud menunjukkan bahwa peradaban modern (era industri) berada pada puncak tahap positif. Tahap positif, menurut Comte, tidak hanya menyangkut aspek kognitif, tetapi akan membawa aturan dan kebaikan sosial karena ilmu memandu tatanan masyarakat (Mayadah, 2020).
Visi Masyarakat Ilmiah dan “Agama” Kemanusiaan
Bagi Comte, positivisme bukan sekadar metode ilmiah, melainkan fondasi untuk membangun “masyarakat ilmiah” baru. Ia membayangkan adanya kekuatan moral baru yang timbul dari fusi ilmu dan kasih sayang (hati nurani) (Melinda Nur Ekawati, 2025). Dalam kuliah dan tulisannya, Comte mengusulkan pembentukan Religion of Humanity (agama kemanusiaan) yang memuja nilai-nilai kemanusiaan sebagai pengganti peran gereja dan raja. Ia berujar bahwa “semangat positif” harus menjadi prinsip penentu dalam “persekutuan intelektual besar” yang menjadi dasar seluruh asosiasi manusia. Dengan kata lain, hanya filsafat positif-lah yang mampu mewujudkan visi persatuan universal (yang pernah diupayakan Gereja Katolik di Abad Pertengahan) secara bertahap. Dalam rancangannya, masyarakat ilmiah ideal Comte bersifat hierarkis dan terorganisasi. Ia membayangkan negara (Republic of the West) yang menggabungkan lima bangsa maju di Eropa, dipimpin oleh entitas spiritual baru tanpa kepercayaan supranatural (Rudiyantoa, 2022). Struktur lama (seperti klerus Katolik) digantikan oleh “imam-imam” peradaban baru yang memimpin “agama kemanusiaan” tanpa teologi atau metaphysika. Paris diletakkan sebagai pusat moral baru menggantikan Roma, dan figur simbolis seperti Clotilde (istri Comte) disakralkan menggantikan posisi Maria. Cinta (kasih sayang terhadap umat manusia) dikedepankan sebagai prinsip etika tertinggi Comte bahkan menulis motto: “Akalku adalah pelayan hati, bukan majikannya” sehingga tatanan sosial diarahkan oleh afeksi universal (altruism) daripada rasionalisme sempit. Dengan visi ini, Comte berharap positivisme mampu menjadi “jalan masa depan” bagi peradaban, membawa tatanan damai dan beradab atas dasar ilmu pengetahuan (Mayadah, 2020).
Positivisme Comte telah mewariskan pengaruh besar pada ilmu sosial dan kebijakan modern. Sebagai pendiri sosiologi, ia menegaskan bahwa masyarakat tunduk pada hukum-hukum alam yang dapat ditemukan melalui pendekatan ilmiah. Pemikiran ini merintis lahirnya sosiologi sebagai disiplin yang mengkaji fenomena sosial dengan pendekatan empiris. Banyak pakar selanjutnya mengadopsi prinsip-prinsip Comte: misalnya, penelitian sosiologi dan psikologi umumnya menekankan analisis data kuantitatif, eksperimen sosial, dan pengamatan sistematis untuk memahami dinamika sosial. Pendekatan semacam ini masih menjadi tulang punggung riset ilmu sosial kontemporer (Nugroho, 2016).
Dalam praktik pemerintahan dan hukum, pengaruh positivisme juga terasa. Kebijakan publik dan perundang-undangan modern kini menuntut dasar bukti ilmiah dan rasional: keputusan politik dan hukum harus didukung data empiris. Bahkan di era digital, semangat Comte senantiasa relevan: pengembangan big data, kecerdasan buatan, dan algoritme analitik didasarkan pada asumsi yang sama bahwa pengetahuan terbentuk dari akumulasi fakta nyata (COMTE, 2006). Era informasi kini memperlihatkan bagaimana “agama data” dan analisis objektif menjadi metode utama membangun wawasan, persis seperti yang pernah digembar-gemborkan Comte hampir dua abad lalu. Sebagai contoh, analisis statistik penduduk (sensus), penelitian epidemiologi, hingga pemodelan ekonomi modern, semua mencontoh prinsip positivistik bahwa hipotesis sosial diuji melalui observasi empiris.
Kritik dan Relevansi Kontemporer
Tentu saja, cita-cita besar Comte tidak luput dari kritik. Para sejarawan pemikiran menganggap hukum tiga tahap Comte terlalu deterministik dan teleologis. Karl Popper misalnya mengecam bahwa gagasan “hukum sejarah” semacam itu tidak ilmiah dan tidak bisa terbukti. Pendekatan Comte yang sangat menekankan sains dianggap terlalu sempit karena mengabaikan dimensi subjektif, budaya, dan spiritual manusia. Seperti dicatat oleh para kritikus modern, positivisme dinilai “terlalu sempit dan tidak dapat menjelaskan semua aspek kehidupan sosial” (Bryman, 2012). Selain itu, para pengamat zaman kini khawatir bahwa penekanan Comte pada data objektif telah berkembang menjadi trending data, menimbulkan isu privasi dan potensi penyalahgunaan data dalam masyarakat modern (sebagaimana dibahas oleh Zuboff, 2019) . Di dunia kontemporer, struktur sosiologi Comte yang menempatkan sosiologi di puncak ilmu-ilmu belum terwujud sepenuhnya. Saat ini, ilmu-ilmu alam dan terapan berkembang pesat tanpa perlu “persetujuan” dari sosiologi, dan institusi global pun belum sepenuhnya mengikuti visi politik Comte seperti “Republik Barat” terorganisir yang ia bayangkan. Perubahan hubungan gender pun jauh dari skema segregatif ideal Comte: justru muncul gerakan demokratisasi dan kesetaraan gender yang melampaui pemisahan tugas tradisional yang dicita-citakan Comte. Meski demikian, banyak prinsip dasar Comte masih hidup dalam praktik ilmiah dan kebijakan.
Positivisme telah membentuk landasan bagi pendekatan riset ilmiah di ilmu sosial, dan semangat bahwa perkembangan peradaban bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan tetap menjadi “mimpi masa depan” yang dipertimbangkan kembali (Rudiyantoa, 2022). Ide Comte tentang “komunitas ilmiah” dan etika altruistik misalnya mengilhami gerakan humanisme sekuler dan organisasi global seperti Unesco yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan universal. Di era modern, penerapan metode empiris ala Comte muncul dalam contoh nyata: mulai dari survei sosiologis, statistik pendidikan, hingga kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di pemerintahan. Dengan kata lain, meski bentuk utopia Comte mungkin tak muncul persis di dunia sekarang, jiwa positivisme yaitu kepercayaan pada sains sebagai jalan menuju kemajuan manusia masih mengarahkan banyak pengembangan ilmu sosial dan peradaban kontemporer.
Secara keseluruhan, pemikiran Auguste Comte tentang positivisme mewakili mimpi sejarah ilmiah: keyakinan bahwa umat manusia akan mencapai peradaban yang lebih tinggi melalui pengetahuan saintifik. Konsepnya tentang tiga tahap sejarah, masyarakat ilmiah, dan agama kemanusiaan telah menjadi titik tolak penting dalam perkembangan pemikiran sosial (Rudiyantoa, 2022). Meskipun banyak aspek teorinya telah dikritik atau disesuaikan di era modern, semangat bahwa sains menjadi panglima peradaban masih terus mempengaruhi cara kita membentuk masa depan. Dalam tatanan global kontemporer yang sarat tantangan, pemikiran Comte mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bergantung pada keseimbangan antara intelek dan kemanusiaan, antara Order & Progress yang ia cita-citakan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

