RESENSI BUKU: Selama ini Kita Salah Paham Mengenai Anarkisme
Buku Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan (2007) karya Sean M. Sheehan bisa menjadi pengantar untuk memahami lebih jauh tentang anarkisme.
Penulis Farhan M Adyatma16 Januari 2026
BandungBergerak.id – Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata "anarkis"? Kerusuhan? Tindakan vandalisme? Atau mungkin penjarahan massal? Secara umum, publik mengenal anarkis sebagai suatu tindakan kekacauan dalam skala besar. Sekarang pertanyaannya, apakah yang selama ini kita ketahui tentang "anarkis" benar demikian–identik dengan kekacauan?
Melalui buku Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan (2007) karya Sean M. Sheehan ini, pembaca bisa mengetahui bahwa anarkisme tidaklah seperti yang kebanyakan orang saat ini pikirkan. Buku Anarkisme ini bisa menjadi pengantar bagi pembaca untuk memahami lebih jauh tentang apa sebenarnya anarkisme itu.
Citra buruk anarkisme yang kita ketahui hari ini sejatinya berakar dari akhir abad ke-19. Pada saat itu, terdapat aksi-aksi pembunuhan yang diilhami oleh anarkisme yang korbannya adalah Tsar Alexander II, Presiden Prancis Marie François Sadi Carnot, dan Presiden Amerika Serikat William McKinley. Dari situ, tidak heran bila citra seorang anarkis sebagai pembunuh akhirnya tertanam kuat dan pers juga memperkuat citra buruk anarkis itu (hlm. 10).
Tidak hanya pers, Sheehan juga menunjukkan beberapa film dan novel populer yang menampilkan stereotipe anarkisme sebagai dorongan destruktif yang irasional. Novel The Secret Agent (1907) karya Joseph Conrad bercerita tentang komunitas fiktif kaum anarkis London. Dalam novel tersebut, terdapat tokoh Profesor yang membawa-bawa bom dalam sakunya dan bersemboyan “Tanpa Tuhan! Tanpa Penguasa!”. Bom Sang Profesor akan meledak 20 detik setelah diaktifkan (hlm. 11).
Dalam film The Siege of Sidney Street (1960) karya Robert Baker, adegan tembak menembak yang terjadi tahun 1911 di East End London antara polisi dengan perampok bank yang digambarkan sebagai anarkis (hlm. 11). Para perampok di film itu punya motivasi politik. Namun, perampok di film itu tidak menyatakan diri sebagai anarkis, mereka hanya biasa kongkow di klub yang disebut sebagai klub orang-orang “anarkis, ateis, dan vegetarian" (hlm. 12).
Baca Juga: RESENSI BUKU: Kita Semua (Pernah) Tolol dan Hidup ini Harus Dinikmati
RESENSI BUKU: Kelinci Percobaan Vaksin Bernama Romusa
RESENSI BUKU: Polisi yang Baik Hati Menurut Hikayat Kadiroen
Mendefiniskan Anarkisme
Lalu, apa sebenarnya "anarkisme" itu? Kata "anarki" berasal dari bahasa Yunani Kuno yakni anarkhia yang memiliki arti "tanpa pemimpin/penguasa". Artinya, anarkisme merupakan penolakan terhadap kebutuhan akan otoritas tersentral atau negara tunggal yang merupakan penguasa (hlm. 23).
Kaum anarkis cenderung menggunakan kata “pemerintah” sebagai persamaan “negara”. Anarkisme menolak otoritas tersentral yang disakralkan dan diwujudkan dalam bentuk Negara (hlm. 24). Kaum anarkis menghayati betul pepatah “kekuasaan itu korup, dan kekuasaan absolut sepenuhnya korup". Hal itu karena anarkisme dibangun atas premis bahwa sistem pemerintahan apa pun akan cacat apabila kekuasaannya terpusat dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban (hlm. 27-28).
Kaum anarkis menentang kapitalisme dengan alasan-alasan yang sama seperti kaum sosialis. Sistem ekonomi kapitalis dipandang tidak adil, mengistimewakan kekuasaan di tangan kelas berpunya dengan mengorbankan rakyat pekerja biasa (hlm. 48). Namun, anarkisme tidak sejalan lagi dengan sosialisme ketika sudah mencapai sosialisme negara.
Dalam negara komunis atau sosialis, terlepas dari komitmennya terhadap keadilan dan kesetaraan, kekuasaan tetap berada dalam negara. Bagi kaum anarkis, hal itu tetap saja menumbuhkan kekuasaan otoriter. Masyarakat komunis semestinya tidak memiliki pemerintahan tersentral (hlm. 49).
Antara Bakunin dan Marx
Pada kongres Asosiasi Pekerja Internasional (International Workingmen's Association/IWA) atau yang biasa disebut juga sebagai Internasionale Pertama pada tahun 1872 di Den Haag, Bakunin (tokoh anarkis) dan Marx berdebat sengit dan tidak satu pun di antara keduanya yang layak dipuji (hlm. 62). Bagi Sheehan, kongres di Den Haag ini biasa digambarkan sebagai ego antar tokoh besar dan berujung pada Bakunin yang dikeluarkan dari IWA.
Kritik Bakunin terhadap Marxisme adalah Bakunin menolak sentralisasi apa pun atas gerakan Internasionale. Bakunin mengingatkan adanya bahaya otoritarianisme dan birokrasi merah (red bureaucracy) yang akan mengekang semangat gerakan kelas buruh. Marx menampik kritik tersebut dengan menganggap bahwa "sekte" sosialis ini bisa memukul mundur gerakan secara keseluruhan, dan Marx pun gagal melihat sisi penting dari kritik yang dilontarkan oleh Bakunin (hlm. 63).
Dari situ, Sheehan juga menyatakan bahwa kata "anarkis" menjadi ejekan di kalangan Marxis bagi siapa saja yang tidak siap menerima garis disiplin Partai. Sementara nantinya, peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah panji Marxisme ala Soviet juga telah membenarkan kritik Bakunin (hlm. 64). Hal ini nantinya akan tergambar dalam Pemberontakan Kronstadt (1921).
Pemberontakan Kronstadt
Pulau benteng Kronstadt, 30 kilometer di sebelah barat Saint Petersburg dengan populasi sekitar 50.000 jiwa, bukan hanya pangkalan angkatan laut yang vital, tetapi juga pusat kelompok komunis anarkis. Pasca Revolusi Oktober 1917, Kronstadt merasa sudah tidak sejalan dengan pemerintahan Bolshevik yang dipimpin oleh kediktatoran Lenin (hlm. 97). Akhirnya pasukan pemberontak Kronstadt yang dipimpin oleh Stepan Petrichenko pun memberontak pada 1921.
Pemberontakan ini berhasil digagalkan. Namun, alasan yang digunakan untuk menjustifikasi tindakan menggagalkan Pemberontakan Kronstadt ini adalah Bolshevisme sedang dalam kondisi genting dan berada di bawah ancaman konstan dari kekuatan antirevolusi yang mencoba memulihkan kapitalisme. Sheehan melihat bahwa alasan tersebut akan terus-menerus diulang oleh partai-partai beraliran Marxis-Leninis (hlm. 97).
Namun, Sheehan juga menunjukkan bahwa bahwa Kronstadt bukanlah basis kekuatan reaksioner, justru malah menyerukan agar tujuan-tujuan revolusi didorong kian ke depan. Sheehan mendasari ini dengan pernyataan dan laporan yang terbit dalam koran Izvestia keluaran Komite Revolusioner Provinsi Kronstadt (hlm. 97). Mereka menyerukan “revolusi ketiga yang benar-benar proletariat”, sembari mengecam absolutisme dan kediktatoran Lenin dengan Bolshevik-nya.
Sekali Lagi, Anarkisme Bukanlah Kekacauan!
Bagi Sheehan, anarkisme menawarkan kritik serta visi yang sama-sama radikal, sambil berusaha membuktikan bahwa kaum anarkis memang bisa menawarkan program yang kredibel untuk menjalankan transisi dari keadaan sekarang yang dikritik menuju keadaan yang dicita-citakan dalam visinya (hlm. 177). Salah besar untuk mengatakan bahwa anarkisme tidak percaya pada pemerintahan. Sejatinya, yang dipersoalkan adalah sifat pemerintahan itu sendiri (hlm. 178).
Melalui buku Anarkisme karya Sean M. Sheehan ini, pembaca bisa memahami kompleksitas perkembangan anarkisme dari abad ke-19 hingga akhir abad ke-20. Sedikit kekurangan untuk buku ini, pembahasan di dalam buku ini cenderung loncat-loncat dan tidak dibahas satu per satu secara tuntas dalam satu bab. Konsekuensinya, terdapat banyak pembahasan yang berulang-ulang dalam setiap bab yang berbeda-beda. Namun, pada akhirnya, buku ini bagi saya tetap layak dibaca sebagai kontra argumen terhadap anggapan publik bahwa anarkisme identik dengan kekacauan.
Informasi Buku
Judul: Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan
Penulis: Sean M. Sheehan
Penerjemah: Robby Kurniawan
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: 2007
Jumlah halaman: xxxvi + 183 halaman
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

