RESENSI BUKU: Broken Strings, Manipulasi, Relasi Kuasa, dan Tubuh Perempuan
Broken Strings mengajak masuk ke dalam perjalanan batin Aurelie Moeremans yang memupuk begitu banyak luka.
Penulis Ginaya Keisya Rais17 Januari 2026
BandungBergerak.id – Bagaimana jika ada yang mengatakan padamu, bahwa kamu begitu dewasa dan beda dari perempuan lain? Bagaimana jika seorang laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun memberimu begitu banyak cinta, surprise, dan sejuta hadiah? Bagaimana jika ia menginginkan tubuhmu sebagai pembuktian cinta yang sejati? Bagaimana jika seluruh waktumu habis untuk laki-laki berumur dua puluh sembilan tahun?
Semua terjamah dalam Broken Strings, memoar reflektif kepingan masa muda yang patah oleh Aurelie Moeremans. Seorang aktris dan penyanyi Indonesia yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual di usia remaja. Buku ini disebar secara gratis oleh Aurelie dalam versi Bahasa Inggris kemudian dibuat lagi dalam versi Bahasa Indonesia dalam bentuk digital, dan kabarnya akan diterbitkan menjadi buku fisik.
Broken Strings, bukan hanya sekadar kisah seorang perempuan yang berprofesi sebagai aktris dan penyanyi, bukan juga memoar seorang perempuan yang dipenuhi oleh senyum dan gelak tawa. Tetapi, buku ini adalah bentuk suara dan juga keberanian perempuan yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual oleh laki-laki berusia dua puluh sembilan bernama Bobby. Kisah cinta dalam buku ini pun bukan relasi romantis yang membuat pembaca ingin merasakan hal yang sama, melainkan relasi romantis yang penuh manipulatif, kekerasan, pelecehan, dan bagaimana tubuh perempuan diatur sedemikian rupa. Pembaca benar-benar diajak masuk ke dalam perjalanan batin Aurelie yang memupuk begitu banyak luka.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Kelinci Percobaan Vaksin Bernama Romusa
RESENSI BUKU: Polisi yang Baik Hati Menurut Hikayat Kadiroen
RESENSI BUKU: Selama ini Kita Salah Paham Mengenai Anarkisme
Child Grooming: Manipulasi Psikologis dan Relasi Kuasa
“Aku berusia lima belas tahun saat pertama kali bertemu Bobby. Dan Bobby saat itu sudah mendekati usia dua puluh sembilan tahun.” (Broken Strings, hlm. 15).
Kalimat pembuka di Bab 2 yang menjadi awal dari semuanya, saat itu mereka dipasangkan dalam satu project iklan yang berperan sebagai sepasang kekasih, padahal seharusnya Aurelie tidak menjadi pemeran dalam iklan tersebut, karena casting hanya tertera untuk orang dewasa. Namun manajernya menganggap itu bukan suatu masalah. “Kamu tulis saja dua puluh satu.” (Broken Strings, hlm. 15). Dari situ, kita sudah bisa mengangguk cepat, bahwa awareness terhadap rasa empati, dan child grooming masih sangat minim. Seolah semua harus seputar popularitas dan seonggok uang. Aurelie setuju, meski sebelumnya dihantui pertimbangan yang labil. Kemudian, pada project selanjutnya mereka kembali dipasangkan sebagai pasangan. Hal ini membuat Bobby jatuh hati kepada Aurelie, Bobby mulai mengirimi banyak pesan-pesan lucu dan menggemaskan, sehingga membuat Aurelie tertarik karena selain lucu, ia juga tampak dewasa dan menawan.
Child grooming diselimuti oleh perhatian, rasa aman, dan kasih sayang palsu. Bagaimana Bobby memberikan banyak perhatian, seperti menunggu Aurelie di tempat syuting hingga larut malam, mengantar Aurelie pulang ke rumah, membelikan hadiah-hadiah, plus afirmasi romantis yang sebetulnya seksis. Bobby berhasil memanipulasi Aurelie, merasuki psikologisnya yang masih berumur lima belas tahun. Ia juga berhasil mengambil hati keluarga Aurelie, bersikap seperti laki-laki baik yang kehadirannya harus diterima dan dipersilakan melakukan apa saja.
“Kemurnianmu itu langka. Kamu itu langka. Kamu tidak seperti gadis-gadis liar di luar sana.” (Broken Strings, hlm. 18). Ini adalah salah satu contoh ucapan laki-laki manipulatif, berkata bahwa kamu tidak seperti perempuan liar di luar sana, dan berusaha untuk meyakinkan Aurelie bahwa dirinya istimewa. Dengan banyaknya “Pengorbanan” yang diberikan oleh Bobby, maka di situlah relasi kuasa berdiri jauh lebih besar dan sangat besar. Bobby tahu, bahwa usia remaja memang mudah dimanipulasi, ia memperhatikan pola kehidupan Aurelie, ia berusaha menyatu dengan kebiasaan, latar belakang keluarga, dan segala hal yang terjadi di dalam hidup Aurelie. Sehingga, yang terjadi pada ranah psikologis Aurelie adalah kebingungan, ia tidak tahu bagaimana caranya berbalas budi, dan berpikir bahwa segala yang telah Bobby berikan untuknya dan keluarganya adalah utang yang mesti dibayar. Pergolakan batin yang dirasakan Aurelie juga terjadi ketika Bobby menyatakan cinta dan meminta untuk menjadi pacarnya, terlihat bahwa Aurelie merasa bingung dan masih harus memikirkannya. “Lalu, pelan tetapi tegas, ia meraih dan memutar wajahku. Sebelum aku sempat bereaksi, ia menciumku. Dan kemudian, dengan matanya menatapku, ia bertanya lembut, kamu mau jadi pacarku?” (Broken Strings, hlm. 22). Bahkan dalam menentukan keputusan pun perempuan tidak bisa, tidak ada consent ketika Bobby menciumnya, hal tersebut adalah bentuk dari relasi kuasa. Bobby merasa bebas melakukan apa saja hanya karena ia jauh lebih tua, sedangkan Aurelie masih berumur lima belas tahun. Bukan hanya itu, tetapi juga karena manipulasi Bobby yang membuat Aurelie merasa “Harus berbalas budi” karena perlakuannya yang begitu manis, dan memberinya harapan. Jawaban yang diberikan adalah “ya”.
Afirmasi yang diberikan Bobby lambat laun berubah menjadi afirmasi mengerikan. Bobby semakin berani dan merasa dirinya benar-benar bisa menguasai seluruh hidup Aurelie. Dari perkataan manis, berubah menjadi sekumpulan ancaman, dari banyak memberi, berubah menjadi permintaan yang memaksa. Begitu siklusnya–seterusnya.
Tubuh Perempuan: Kita Semua Harus Tahu
Manipulasi dan relasi kuasa membuat perempuan harus tunduk, mau tidak mau segala permintaan harus diberi jawaban, “iya” atau “boleh”. Bobby adalah gambaran laki-laki mesum yang melihat perempuan hanya sebatas objek seksual, bukan hanya itu, ia juga banyak mengomentari tubuh Aurelie, dikatakannya bahwa payudaranya kecil, dan bibir bawahnya jelek. Tubuh perempuan menjelma menjadi panggung aktraksi, bahan pertunjukkan, dan boneka yang bisa dipermainkan. Laki-laki seperti Bobby tidak tahu apa itu consent atau persetujuan, ia tidak tahu menahu bahwa Aurelie adalah perempuan dan manusia, yang ia tahu hanya kemenangan individual, kesenangan, dan bagaimana ia berhasil mengontrol tubuh Aurelie.
Meski di dalam rumah, Aurelie tidak merasa aman. Bahkan, dari rumah ia mendapat banyak trauma. Hal tersebut memperlihatkan kita tentang kejahatan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan kekerasan seksual, dapat terjadi di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman. Kita semua harus tahu, bahwa ini semua terjadi secara nyata. Broken Strings adalah memoar seorang perempuan yang begitu kompleks, bagaimana Aurelie harus berjuang atas dirinya sendiri dan kehidupan yang sukar memberikannya jalan keluar.
Kita semua harus tahu, bahwa pada akhirnya pelaku adalah pelaku. Ia tidak akan pernah menang, ia layak diberi sanksi sosial–seharusnya dilenyapkan saja. Broken Strings adalah suara yang berani, tulisan yang penuh energi. Kita semua harus tahu bahwa ada banyak perempuan di luar sana yang memiliki pengalaman serupa, dan di luar sana masih banyak laki-laki seperti Bobby.
Kita semua harus tahu bahwa, tidak ada perempuan kotor atau perempuan suci. Nilai seorang perempuan tidak bisa diukur hanya sebatas itu, apalagi hanya sebatas keperawanan. Kita semua harus tahu bahwa apa pun tragedi yang terjadi di masa lalu, tidak mengurangi nilai seorang perempuan. Ia tetaplah seorang perempuan dan manusia.
Jika kamu ingin menyelami lebih dalam bagaimana child grooming terjadi secara nyata, bagaimana luka tumbuh sejak perempuan masih berumur lima belas tahun, dan bagaimana tubuh perempuan dikonstruksi sedemikian rupa oleh sistem patriarki, maka Broken Strings sangat layak untuk dibaca.
Informasi Buku
Judul: Broken Strings
Penulis: Aurelie Moeremans
Tahun terbit: 2025 e-book
Ketebalan: 220 halaman
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

