• Opini
  • Menakar Bahaya Potensi Pergerakan Tanah dan Penurunan Muka Tanah di Kawasan Lembang

Menakar Bahaya Potensi Pergerakan Tanah dan Penurunan Muka Tanah di Kawasan Lembang

Pergerakan tanah dan penurunan muka tanah dapat berdampak pada kerusakan infrastruktur hingga krisis air bersih.

Anna Joestiana

Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang

Situasi pascalongsor di Desa Cikahuripan, Lembang, Senin, 26 Mei 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

18 Januari 2026


BandungBergerak.id – Selain bencana banjir, ancaman bencana alam lain yang sering terjadi di wilayah Lembang adalah pergerakan tanah atau longsor dan penurunan muka tanah. Selama tahun 2025 di wilayah Lembang terjadi beberapa peristiwa pergerakan tanah/longsoran, yaitu kejadian longsor di Kp. Areng, Desa Wangunsari, tanggal 16 Mei 2025, serta di Kp. Pojok Girang, Desa Cikahuripan, tanggal 23 Mei 2025. Dalam waktu bersamaan terjadi pada tanggal 25 Mei 2025 di Kp Babakan Laksana, Desa Gudangkahuripan, Kp Babakan Ampera, Desa Jayagiri, serta di Kp. Pencut dan Kp Situ PPI, Desa Lembang. Selanjutnya terjadi juga di Kp Cisalahsih, Desa Cikidang, tanggal 5 Juli 2025, dan Kp Cibedug, Desa Cikole, tanggal 2 November 2025.

Kemudian longsor yang mengakibatkan akses jalan terputus terjadi di Desa Cibodas dan Desa Suntenjaya  pada 7 Maret 2024 serta di Kp Barunagri, Desa Sukajaya tanggal 10 September 2025. Terakhir sebuah kejadian yang membuat kaget masyarakat yaitu adanya sejumlah batu berukuran besar yang tiba-tiba berjatuhan dari atas Gunung Batu tanpa adanya hujan lebat atau gempa di sekitar lokasi pada 8 November 2025.

Sedangkan kejadian penurunan muka tanah terdapat di Kp Situ PPI, Desa Lembang. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan yang retak, bangunan yang turun/amblas, bahkan bangunan yang miring

Kecamatan Lembang terletak di kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko tinggi terjadinya pergerakan tanah. Berdasarkan hasil kajian Husein Nashrullah dkk. (2022), diketahui desa-desa yang memiliki potensi longsor tinggi, yaitu Suntenjaya (1.577,31 Ha), Jayagiri (906,54 Ha), Cikidang (809,85 Ha), Cikole (799,66 Ha), Wangunhardja (793,25 Ha), Cikahuripan (733,22 Ha), Sukajaya (602,46 Ha), Cibodas (595,16 Ha), Pagerwangi (466,22 Ha), Mekarwangi (423,86 Ha), Langensari (375,87 Ha), Wangunsari (363,70 Ha), Cibogo (314,81 Ha), Gudangkahuripan (353,81 Ha), Kayu Ambon (226,75 Ha), dan Lembang (197,36 Ha).

Kecamatan Lembang sendiri termasuk ke dalam salah satu dari tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang kerentanannya tinggi. Ahmad Idhan Rifaldi (2018), membagi zona kerentanan longsor di Kabupaten Bandung Barat menjadi tiga zona. Pertama, Zona Rendah dengan luas 30.752,00 ha atau 23,61% terdapat pada bagian tengah, memiliki karakteristik curah hujan antara 2000-2500 mm/tahun dan kemiringan lereng datar hingga landai. Kedua, Zona Menengah dengan luas 94.670,00 ha atau 72,69 persen tersebar hampir pada seluruh wilayah, memiliki karakteristik curah hujan antara 2.000-3.000 mm/tahun dan kemiringan lereng landai hingga curam. Ketiga, Zona Tinggi dengan luas 4.819,90 ha atau 3,70 persen tersebar di bagian utara dan selatan, memiliki karakteristik curah hujan antara 3.000 sampai >3.500 mm/tahun dan kemiringan lereng agak curam hingga sangat curam.

Kementrian ESDM menjelaskan bahwa penyebab pergerakan tanah dan penurunan muka tanah yaitu struktur geologi, patahan (sesar), pelapukan tanah, lereng curam, dan jenis tanah.  Dengan demikian pergerakan tanah  dan penurunan muka tanah di wilayah Lembang banyak dipengaruhi oleh pergeseran Sesar Lembang, kemiringan lereng, dan aktivitas manusia seperti eksploitasi air tanah dan perubahan tata guna lahan. 

Baca Juga: Pengabaian Risiko Bencana di Surga Wisata Lembang
Menimbang SGDs Desa Nomor 13 sebagai Paradigma Baru Mitigasi Bencana Banjir Lembang
Lagu Goong Renteng Embah Bandong dan Sejarah Sesar Lembang

Pergeseran Batuan Sesar Lembang

Pergerakan tanah di wilayah Lembang sangat di dominasi oleh pergerakan Sesar Lembang. Mudrik R. Daryono (2025) mengatakan bahwa Sesar Lembang pada dasarnya adalah patahan besar yang menjadi jalur pergeseran batuan. Pergeseran yang terjadi lebih banyak mendatar ke arah kiri, sehingga bagian utara dan selatan bergerak saling berlawanan. Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter.

Selain itu, ada juga pergeseran naik-turun permukaan tanah. Di bagian barat, mulai dari Km 0 sampai Km 6, permukaannya masih datar. Lalu, muncul perbedaan tinggi hingga sekitar 90 meter sebelum kembali mengecil ke arah timur. Secara keseluruhan, pergeseran Sesar Lembang didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80 persen sampai 100 persen. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20 persen.

Sesar lembang memiliki pergeseran yang berubah-ubah dan diprediksi mengalami pergerakan diantara 2-4 mm hingga 3-5 mm per tahun. Bukti pergeserannya terlihat dari tingginya gawir sesar, terbentuknya endapan sagpond dan adanya kemiringan DAS.

Di wilayah Lembang terdapat beberapa pemukiman yang berada diatas endapan sagpond. Berdasarkan peta gelogi daerah sekitar Zona Sesar Lembang (modifikasi Daryono et. al, 2019) diketahui terdapat endapan danau (sagpond) di sekitar cekungan Ciwaruga (Kp. Panyairan, Kp. Dano), cekungan Cibeureum (Triniti, Legok Seeng), cekungan Cihideung (Graha Puspa), dan cekungan  Situ Umar (termasuk Situ PPI, Situ Lingkeuy dan Floating Market).

Badan Geologi (2019), mengindikasikan bahwa beberapa wilayah endapan danau memiliki lapisan batuan yang dominan mengandung lapisan lempung yang lunak dan mempunyai potensi akan terjadinya penurunan muka tanah.

Apakah diatas tanah endapan sagpond berpotensi terjadinya likuefaksi? Menurut Awang Harun Satyana (2018), likuefaksi bisa saja terjadi tapi sangat kecil terjadi dan tidak semasif seperti di Palu. Likuefaksi hanya lokal saja dan hanya muncul genangan-genangan air seperti kejadian gempa Lombok. Pasalnya gempa-gempa yang terjadi di sekitar sesar Lembang relatif  berada pada kekuatan rata-rata 2,9 sampai 3,3.

Kemiringan Lereng

Dari beberapa lokasi kejadian pergerakan tanah di wilayah Lembang, kebanyakan terjadi di daerah lereng (gawir) yang curam. Salah satu lereng curam yang terbentuk di dalam Zona Sesar Lembang, adalah gawir sesar di Gunung Batu, yang terletak tepat di KM18 jalur Sesar Lembang.

Kemiringan lereng di Kecamatan Lembang dikelompokkan menjadi 3 (tiga) klasifikasi, yaitu 2 persen sampai 15 persen yang merupakan daerah datar menempati 15 persen dari total wilayah, 15 40 persen yang merupakan daerah bergelombang menempati 50 persen dari total wilayah, dan di atas 40 persen yang merupakan daerah terjal menempati 35 persen total wilayah. Dengan melihat kondisi kemiringan seperti di atas, maka dapat disimpulkan bahwa wilayah ini memiliki keterbatasan fisik dalam pengembangan wilayah (PVMBG, 2023).

Tanah Aluvial

Tanah aluvial cenderung memiliki tingkat kepadatan yang rendah sehingga mudah berpengaruh oleh guncangan akibat gempa dan dapat mengancam pergerakan tanah/longsoran. Tanah aluvial di wilayah Lembang berasal dari bekas paparan Gunung Api Tangkuban Perahu sehingga lebih rentan terhadap pergerakan tanah.

Apabila kita melihat peta geologi Bandung, maka tanah aluvial ini berada disegmen Sesar Lembang bagian barat (mulai dari Batu Reok, Panyandaan, Ngamprah, dan Padalarang) atau sepanjang aliran Sungai Cikapundung, Sungai Cibeureum, Sungai Cihideung, dan Sungai Cimahi. Penampakannya dapat dilihat dari adanya bekas-bekas galian pasir yang sudah ditutup karena menimbulkan longsor dan korban jiwa. 

Aktivitas Manusia

Kawasan Lembang merupakan kawasan konservasi (KBU), namun terjadi peningkatan signifikan pada lahan permukiman dan penurunan area hutan atau lahan non-terbangun. Perubahan ini mengurangi kemampuan resapan air, meningkatkan limpasan permukaan, dan berpotensi menyebabkan pergerakan tanah, terutama saat musim hujan.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Adrin Tohari (2024) mengatakan, perubahan tata guna lahan berdampak pada potensi bencana longsor di wilayah perbukitan Bandung Utara. Hilangnya pohon yang menjadi penyerap serta kondisi tanah vulkanik yang belum mengalami pemadatan sehingga dengan mudah air masuk mengisi pori-porinya. Apabila itu menjadi jenuh air, maka yang terjadi longsor. Dengan demikian, perubahan tata guna lahan di daerah perbukitan memicu adanya bencana longsor bahkan amblas.

Pergerakan tanah dan penurunan muka tanah tersebut berdampak pada kerusakan infrastruktur seperti bangunan retak, miring bahkan amblas, jalan bergelombang, dan fasilitas publik terganggu. Kemudian krisis air bersih juga akan dirasakan oleh masyarakat karena sumur dangkal mengering, bahkan di Zona Sesar Lembang warga harus menggali sumur lebih dalam dengan biaya yang tidak sedikit.

Dibutuhkan pendekatan dan pemahaman komprehensif tentang kerentanan pergerakan tanah dan penurunan muka tanah. Sehingga dibutuhkan strategi mitigasi guna mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan, serta pengelolaan sumber daya yang optimal. Beberapa upaya mitigasinya yaitu tidak membangun bangunan di atas lereng, penghijauan di sekitar lereng, tidak mendirikan bangunan di sekitar sungai, normalisasi sungai, membuat terasering, pelajari tanda-tanda terjadinya longsor seperti hujan lebat terus menerus, muncul rembesan, muncul retakan, warna air sungai keruh jika ada potensi banjir bandang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//