• Berita
  • Dua Puluh Tahun Intan Paramaditha Menuliskan Cerita Perempuan Monster

Dua Puluh Tahun Intan Paramaditha Menuliskan Cerita Perempuan Monster

Intan Paramaditha mengisi diskusi buku di Bandung. Mendapatkan pertanyaan apakah ia pernah mengalami pengalaman horor?

Diskusi 20 Tahun Menuliskan Perempuan Monster, Dari Cegil Sampai Penyihir bersama Intan Paramaditha, Jumat sore, 16 Januari 2026, di Gramedia Merdeka Bandung. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Salma Nur Fauziyah22 Januari 2026


BandungBergerak - “Apakah ada pengalaman horor saat menulis selama 20 tahun ini?” Satu pertanyaan terlontar dari Rizki, peserta diskusi “20 Tahun Menuliskan Perempuan Monster, Dari Cegil Sampai Penyihir” bersama Intan Paramaditha, Jumat sore, 16 Januari 2026, di Gramedia Merdeka Bandung.

Pertanyaan singkat dan padat itu sontak mengundang gelak tawa dari peserta lain. Hadirin maklum, selama 20 tahun ini Intan Paramaditha dikenal sebagai penulis cerita horor yang kental dengan perspektif feminisme.

Merespons hal itu, Intan hanya menjawab, “Aduh, belum ada ya. Ini terlalu banyak imajinasi aja, tapi belum mengalami.”

Di sesi pemaparan diskusinya, Intan mengungkapkan bahwa ia tidak melihat karya-karyanya masuk dalam kategori cerita horor. Ia hanya berpandangan kalau ceritanya lebih kental dengan unsur-unsur gelap.

Menurut Intan, horor itu datang ketika seseorang bertumpu pada realitas tertentu. Saat realitas tersebut bergeser, hal itulah yang dianggap orang menakutkan atau horor!

Lewat cerita-ceritanya, Intan mencoba mengajak pembaca untuk mempertanyakan lagi hal-hal yang dianggap ‘wajar’ dan dipercaya oleh masyarakat. Terlebih dengan apa yang melekat pada sosok perempuan selama ini.

Ketertarikannya membuat tokoh monster perempuan atau cegil (cewek gila) berawal dari keluarganya. Intan menuangkan pengalamannya dalam memoarnya yang berjudul “Mama Monster” yang juga dimuat pada buku Sihir Perempuan spesial dua puluh tahun (Hard Cover).

Penelusurannya mengenai apa itu ‘monster’ juga dibantu dengan latar belakangnya sebagai seorang mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Indonesia (UI). Saat itulah ia berkenalan dengan karya Marry Shelley yang fenomenal, Frankenstein (1818), yang menjadi objek penelitian skripsinya.

Beragam pertanyaan muncul. Sebenarnya apa itu monster? Apakah semata-mata dia ‘ada’ atau dia muncul karena diciptakan? Dalam cerita klasik ini, Intan menemukan hal menarik bagaimana ‘sang monster’ yang diciptakan oleh Dr. Frankenstein malah tidak diakui dan dianggap menakutkan.

“Sebagai manusia yang bermasyarakat mungkin kita juga sudah menciptakan monster-monster. Tapi kita enggak mau mengakui bahwa monster itu ciptaan kita,” ujar Intan Paramaditha.

Baca Juga: Film Horor Indonesia Dilihat dari Budaya dan Ekonomi Kreatif
Di Balik Jerit Hantu Perempuan Indonesia

Sepak Terjang Menulis Buku Selama 20 Tahun

Selama dua puluh tahun, Intan Paramaditha sudah menyumbang beberapa karya pada dunia sastra Indonesia. Tiap karya yang dilahirkan tidak terlepas dari perjalanan hidup sang penulis.

Sihir Perempuan pertama kali diterbitkan pada tahun 2005. Karya ini terbit saat usianya masih belia. Cerita-cerita pendek yang ditulisnya ini bersumber pada kegelisahannya terhadap orang-orang terdekat.

“Kenapa kok mereka cegil-cegil banget gitu,” ujarnya, menjelaskan mayoritas ceritanya berangkat lewat mempertanyakan realitas dari dongeng dan lainnya.

Sihir Perempuan sendiri sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Apple and Knife (2018). Buku ini juga pernah masuk nominasi lima besar Kusala.

Berbeda dengan buku Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (2017), buku ini ditulis saat Intan melanjutkan studi S2 dan S3 di luar negeri. Pengalamannya sebagai mahasiswa perantauan merasa seperti gentayanngan di negeri orang membuahkan format baru dalam caranya menulis.

Cerita berfragmen lahir, seperti konsep yang tertuang dalam bukunya yang bisa “pilih sendiri petualanganmu”. Pembaca yang memutuskan alur mana yang akan dibaca dan menanggung konsekuensi atas pilihannya.

“Dan memang ketika kita berjalan sebagai manusia kan memang gitu ya. Kadang-kadang kita tuh ngelihat ke belakang dan ‘Ya nyesel deh enggak jalan yang itu. Kenapa saya ambil jalan yang ini,’ gitu,” kata Intan.

Selain perasaan gentayangan, buku yang ditulis selama sembilan tahun ini lebih berangkat dari isu-isu mobilitas manusia di dunia global. Pada tahun 2020, novel ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Wandering: A Red Shoes Adventure.

Malam Seribu Jahanam (2023) bersumber pada hal yang berbeda. Dalam novel teranyar ini, Intan lebih banyak mempertanyakan apa itu sisterhood, feminisme, dan kelas menengah. Jauh lebih kompleks dan sangat interseksional.

Intan menulis buku Malam Seribu Jahanam dari titik berangkat berbeda-beda. Namun, pada intinya ia ingin menulis tentang nenek dan satu kalimat yang selalu bertengger di pikirannya: Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa.

Perjalanan hidup dan pengetahuan yang bertambah membentuk cara penceritaan Intan Paramaditha. Namun, satu benang merah dari semuanya adalah rasa kegelisahan untuk terus menguji segala sesuatu yang dianggap normal dan mendobrak rasa kenyamanan diri terhadap framework yang sebelumnya diyakini.

“Dalam perjalanan itu kita harus mengajukan kritik terhadap praktik-praktik kita sendiri. Dan juga mungkin berusaha menelusuri apa yang radikal dari teman-teman yang suaranya ini mungkin enggak kedengaran,” ujarnya.

Tentang Intan Paramaditha

Intan Paramaditha merupakan seorang pengarang dan akdemisi. Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Stephen J. Epstein dan diterbitkan oleh Harvill Secker dan Penguin Random House.

Ia juga banyak terlibat kerja kolaboratif, seperti Kumpulan Budak Setan (2010) yang ditulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad hingga karya pertunjukan bersama Teater Garasi dan Naomi Srikandi.

Selain berkiprah di dunia sastra dan seni, ia juga terlibat dalam kerja-kerja penyuntingan untuk seri penerjemahan feminisme yang digagas oleh Tilted Axis Press. Intan juga merupakan penggagas dari Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP) yang merupakan kolektif feminis dekolonial lintas nusantara. Kini, ia merupakan seorang dosen kajian media di Universitas Macquarie, Sydney, Australia.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//