Ketika Kolam Pekarangan Urang Sunda Kian Menyusut
Praktik budaya mengelola kolam pekarangan menjadi cara penduduk perdesaan Tatar Sunda merawat anekaragam sumber pangan dan sistem hidrologi lingkungan lokalnya.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
22 Januari 2026
BandungBergerak.id – Berdasarkan sejarah ekologi, sejatinya penduduk perdesaan di Tatar Sunda memiliki hubungan yang sangat erat dengan lingkungannya. Mereka menganggap bahwa di dalam kehidupan dirinya di muka bumi bukanlah sebagai suatu agen bebas, tetapi mereka dapat dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungannya. Oleh karena itu, masyarakat perdesaan di Tatar Sunda, khususnya di masa lalu, sangat hati-hati dalam memperlakukan lingkungannya. Mereka memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungannya berlandaskan pada pengetahuan lokal (Local Knowledge) atau pengetahuan ekologi tradsional (Traditional Ecological Knowledge) yang berkelindan dengan tradisi, seperti kepercayaan. Pengetahuan lokal tersebut diperoleh dari hasil warisan secara turun-temurun dari satu generasi pada generasi lainnya, dengan ditransmisikan menggunakan bahasa ibu, bahasa Sunda.
Suatu hal yang unik, Urang Sunda perdesaan memiliki pengetahuan dan praktik budaya (praksis) dalam mengelola kolam (empang, balong) pekarangan untuk memelihara anekaragam jenis ikan tawar yang diintegrasikan dengan jenis-jenis tanaman. Secara sistem agroforestri, praktik tersebut dapat dikategorikan sebagai indigenous systems of forest gardening-aquaculture. Usaha tani yang memadukan penanaman jenis-jenis tanaman semusim dan tahunan, dengan menciptakan struktur vegetasinya sangat rimbun, mirip dengan hutan alami, serta dipadukan dengan membudidayakan ikan di kolam, sehingga membangun suatu sistem pertanian dengan berbagai asupan dari luar sangan minimal yang bersifat prolingkungan dan berkelanjutan (Low-external inputs and Sustainble Development-LEISA) (Reijentjes et.al., 1992).
Hingga era 1970-an, kolam-kolam pekarangan di berbagai wilayah Tatar Sunda masih cukup banyak ditemukan. Misalnya, berdasarkan studi Ekologi Pekarangan di Kampung Cibakung, Desa Selajambe, Cianjur, dari 41 rumah tangga cuplikan, 40 rumah tangga memiliki kolam, yakni 29 kolam pekarangan (70,7 persen) 10 kolam sawah (24,3 persen), dan 1 kolam lembur (2,4 persen) (Lembaga Ekologi Unpad, 1978).
Praktik budaya penduduk dalam mengelola kolam pekarangan, menunjukkan bahwa penduduk perdesaan di Tatar Sunda memiliki adaptasi budaya yang baik terhadap lingkungan lokalnya. Lingkungannya memiliki banyak gunung-gunung dan bukit, serta memiliki banyak air (cur-cor cai), sehingga sesuai untuk membudidayakan ikan di kolam pekarangan, serta sekaligus juga untuk menjaga sistem hidrologi di perdesaan, serta untuk mitigasi bencana banjir.
Baca Juga: Terkikisnya Keanekaragaman Hayati yang Mengancam Ketahanan Pangan di Perdesaan
Cara Masyarakat Jepang Senantiasa Siaga Menghadapi Bencana
Mengapa Pohon Kawung Menjadi Kunci Budaya Penduduk Perdesaan di Tatar Sunda?
Budidaya Ikan di Kolam Pekarangan
Secara tradisi, anekaragam jenis ikan biasa dipelihara di kolam pekarangan. Misalnya, ikan mas (Cyprinus carpio), tawés (Barbonymus gonionotus), nilem (Osteocilus hasselti), mujair (Oreochromis mossambicus), nila (Oreochromis nilotica), sepat siem (Trichopadus pectoralis), bogo (Ophiocephalus gachua), gabus (Channa striata), gurame (Osphronemus goramy), lele (Clarias batrachus), dan lain-lain.
Berbagai pertimbangan penduduk dalam memelihara jenis ikan di kolam. Misalnya, ikan nila dan mujair banyak dibudidayakan oleh penduduk karena ikan tersebut dapat dipijahkan sendiri dan berkembang biak dengan cepat. Selain itu, ikan nila ataupun mujair secara umum juga adaptif terhadap kualitas air yang kurang baik. Tidak hanya itu, memelihara ikan nila juga tidak memerlukan perlakuan khusus. Ikan tersebut mudah berkembang biak. Ikan nila atau mujair memiliki kebiasaan mengulum (nglomoh) telur-telur yang telah dibuahi dalam rongga mulutnya sehingga tidak perlu ada kolam khusus untuk pemijahan.
Jenis ikan mas juga banyak dipelihara penduduk. Mengingat ikan mas kalau dimasak rasanya enak dan gurih dan harga jualnya mahal. Namun, untuk memelihara ikan mas, perlu kualitas air yang baik. Selain itu, ikan gurame juga biasa dipelihara di kolam pekarangan karena ikan tersebut harganya jualnya tinggi dan dapat diberi pakan dengan mudah berupa daun-daun tanaman seperti daun-daun singkong, talas, dan suweg yang biasa ditanam di pematang-pematang kolam.
Pada pematang kolam, biasanya ditanami anekaragam tanam ubi-ubian seperti talas, singkong, suweg, ganyong, dan jenis tanaman sayur serta bumbu masak, seperti surawung, saledri, bawang daun, tomat, cabe, cabe rawit, waluh siem, terong, leunca, dan sebagainya. Jenis-jenis tanaman tersebut tumbuh subur karena banyak tersedia air serta biasa dipupuk dengan memanfaatkan lumpur-lumpur kolam. Ketika kolam sedang dikeringkan (dibedahkeun), maka lumpur-lumpurnya biasa dikeruk dan ditimbun di pematang-pematang kolam.
Untuk pakan ikan, selain diberi dedaunan tanaman, biasa pula diberi sekam padi yang lembut (huut), sisa-sisa menumbuk padi di lesung atau penggilingan padi. Pada kolam yang ada pancuran tempat mencuci, seperti mencuci piring, biasa pula sisa-sisa sampah dapur seperti sisa-sisa nasi menjadi sumber pakan di kolam. Bahkan, ada sebagian penduduk yang biasa memelihara ayam di kandang-kandang yang ditempatkan di atas kolam sehingga kotoran ayam masuk ke kolam membuat subur air kolam.
Sejatinya pengelolaan ikan oleh penduduk mencakup 3 kegiatan utama, yakni pemijahan, pendederan, dan pembesaran. Untuk kegiatan-kegiatan tersebut biasanya perlu kolam-kolam khusus yang terpisah. Pemijahan ikan utamanya dilakukan oleh penduduk sendiri, terutama bagi penduduk yang memiliki pengetahuan tentang pemijahan. Kegiatan berikutnya setelah pemijahan adalah pendederan ikan. Kegiatan tersebut berupa merawat anak-anak ikan (burayak) hingga menjadi benih dengan ukuran tertentu yang diinginkan, seperti ukuran satu jari tangan (saramo), dua jari tangan ( dua ramo) dll. Pembesaran ikan di kolam adalah berupa kegiatan membesarkan benih-benih ikan hingga ukuran yang layak dan siap untuk dipanen.
Pada saat ini kegiatan pendederan oleh penduduk sangat jarang dilakukan. Pasalnya, kegiatan pendederan cukup sulit dilakukan penduduk, terutama yang tidak memiliki pengetahuan tentang pendederan. Konsekuensinya, penduduk biasanya lebih umum membeli benih-benih ikan dari tempat lain, seperti dari Majalaya atau dari kota, daripada melakukan pendederan sendiri.
Pada masa lalu, pendederan ikan di kolam sangat penting. Karena sebelum adanya program memodernkan usaha tani sawah lewat Program Revolusi Hijau di awal 1970-an, membudidayakan ikan oleh penduduk, biasa pula dipadukan dengan tanam padi di sawah (sistem mina padi). Oleh karena itu, kolam pekarangan selain penting guna tempat membudidayakan ikan, seperti tempat pemijahan, pendederan, dan pembesaran, biasa pula digunakan untuk pengadaan benih-benih ikan bagi sistem mina padi.
Fungsi Kolam Pekarangan
Sistem pekarangan dan kolam pekarangan secara ekologi, sungguh baik dan sangat efisien dalam memanfaatkan sumber energi dan materi di ekosistem perdesaan. Misalnya, ikan-ikan di kolam mendapat pakan, antara lain dari sisa-sisa menumbuk atau menggiling, sisa-sisa sampah dapur, serta kotoran ternak. Lalu ketika panen, ikan dan air kolam ikan dikeringkan, lumpur-lumpur kolam biasa dikeruk karena ada pendangkalan. Biasanya, lumpur-lumpur tersebut ditimbun di pematang kolam dan menjadi pupuk organik bagi jenis-jenis tanaman yang tumbuh di pematang kolam. Sementara daun dari beberapa jenis tanaman, seperti daun singkong, talas, dan suweg, dapat dijadikan pakan ikan. Maka, terjadi arus energi dan materi yang sangat efisien, dengan sumber energi utama, cahaya matahari. Energi matahari diubah oleh berbagai jenis tanaman melalui fotosintesis menghasilkan anekaragam sumber pangan, seperti buah-buahan, bumbu masak, sayur/lalapan, dan bahan obat-obatan tradisional. Sementara itu, dari proses fotosintesis tersebut menghasilkan oksigen (O2), untuk pernapasan manusia dan makhluk hidup lainnya. Selain itu, dari proses fotosintesis, gas pencemar seperti CO2 dari kendaraan dan pabrik, dapat diserap serta karbonnya dapat disimpan dalam berbagai organ tanaman yang tersebar di pekarangan. Oleh karena itu, kolam pekarangan dan jenis-jenis tanaman di pekarangan dapat berperan penting bagi konservasi anekaragam hayati dan penurunan emisi gas rumah kaca (CO2) penyebab perubahan iklim global.
Fungsi ekologi lainnya, kolam-kolam pekarangan dapat membantu keseimbangan sistem hidrologi di perdesaan. Misalnya, ketika terjadi hujan, kolam-kolam pekarangan dapat berfungsi untuk memanen air hujan (rain-harvesting) dan dapat mengurangi risiko banjir. Sebaiknya, pada musim kemarau, kolam-kolam pekarangan bisa berfungsi sebagai penyedia air dan dapat digunakan untuk memberi air pada jenis-jenis tanaman di pekarangan yang tidak tahan kekeringan.
Tidak hanya itu, kolam pekarangan juga berfungsi untuk sosial ekonomi budaya penduduk. Misalnya, berbagai jenis ikan hasil panen di kolam pekarangan dapat dimanfaatkan untuk sumber pangan protein hewani. Pada saat-saat Hari Raya atau hajatan dalam keluarga, ikan-ikan di kolam biasa dipanen untuk keperluan bahan hidangan. Sementara surplus dari produksi ikan-ikan di kolam dapat dijual dan menghasilkan uang tunai tambahan sumber pendapatan untuk membeli berbagai keperluan penduduk. Maka, sistem pekarangan dan kolam pekarangan dapat berperan untuk mendukung ketahanan pangan dan mengurangi angka kemiskinan di pedesaan, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable goals-SDGs), yakni mengurangi kemiskinan (SDGs 1) dan menghilangkan kelaparan (SDGs 2).
Kian Langka
Walaupun kolam pekarangan banyak memberikan berbagai manfaat ekologi dan sosial ekonomi budaya pada masyarakat, kini keberadaan kolam pekarangan di pedesaan Tatar Sunda telah menyusut drastis. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya akibat jumlah penduduk kian padat, maka banyak kolam di perdesaan beralihfungsi menjadi lahan terbangun, seperti rumah-rumah penduduk.
Selain itu, sumber air bagi kolam pekarangan juga telah jauh menyusut. Misalnya, kolam-kolam pekarangan saat musim kemarau justru kering. Penyebabnya, sistem hidrologi di perdesaan, seperti hutan dan agroforestri tradisional banyak yang telah rusak. Talun, kebun campuran, dan kebun bambu banyak yang telah rusak atau beralihfungsi menjadi peruntukan lain. Imbasnya, sumber air di alam, seperti hulu cai, cai nyusu, seke, dan lainnya banyak yang punah. Dampaknya lebih jauh, pada waktu hujan air berlimpah tapi kotor oleh lumpur, bahkan dapat menimbulkan banjir. Tetapi, sebaliknya, ketika musim kemarau terjadi bencana kekeringan dan kelangkaan air.
Dewasa ini air di sungai-sungai juga banyak yang telah tercemar oleh pestisida dan limbah pabrik sehingga untuk membudidayakan ikan di kolam menjadi sulit untuk dilakukan. Akibatnya, secara lebih luas, pengaruh dari punahnya kolam-kolam pekarangan dapat menyebabkan pula kepunahan anekaragam jenis ikan lokal, pengetahuan ekologi tradisional penduduk, dan lingustik lokal yang berkaitan dengan budidaya ikan. Pasalnya, praktik budaya penduduk dalam pengelolaan ikan, terkait erat dengan anekaragam jenis ikan (anekaragam biologi), dan linguistik lokal, serta pengetahuan ekologi tradisional penduduk, yang membentuk biocultural system.
Oleh karena itu, perlu menjaga lingkungan perdesaan untuk mempertahankan praktik budaya penduduk dalam budidaya ikan di kolam pekarangan karena terdapat hubungan yang erat antara hutan, tanah, air, ikan-ikan di kolam pekarangan, dan penduduk perdesaan. Perilaku buruk manusia terhadap lingkungan dapat menyebabkan bencana ekologi yang merugikan manusia.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

