• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG #101: Mang Bokir, Pedagang Makanan di SDN Astanaanyar

CERITA ORANG BANDUNG #101: Mang Bokir, Pedagang Makanan di SDN Astanaanyar

Mang Bokir bertahan hidup di tengah tekanan Kota Bandung yang sibuk. Menjajakan mie untuk anak-anak sekolah.

Burhan atau Mang Bokir di SDN 249 Astananyar, Bandung, Desember 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Prima Mulia23 Januari 2026


BandungBergerak - Dua orang murid SDN 249 Astananyar memperhatikan tangan pedagang mie goreng yang membolak balik mie di atas penggorengan datar, suaranya berdesis saat mie dihangatkan. “Mang Bokir, jangan lupa pakai sausnya ya,” cetus si bocah tadi.

Lengan keriput pedagang mie berusia 70 tahun tersebut segera menyodorkan mie hangat di atas piring kertas pada dua orang murid tersebut. Tak lama murid-murid lain berdatangan memesan makanan yang sama, suasananya riuh, mereka semua minta dilayani duluan. Lengan-lengan kecil anak-anak SD itu memegang uang kertas pecahan 2.000 rupiah.

Mang Bokir adalah sapaan akrab dari H Burhan, pria asal Limbangan, Garut yang sudah merantau ke Bandung sejak tahun 1972.

“Anak-anak sekolah itu yang manggil mang Bokir, jadinya keterusan, warga lebih kenal dengan nama mang Bokir,” kata Burhan, saat berjualan di hari terakhir sekolah sebelum libur semester di penghujung tahun 2025.

Pertama tiba di Bandung Burhan tinggal di sekitar Tegallega, di Gang Buah, tak jauh dari Liogenteng. Ia bercerita di kawasan sekitar Tegallega masih banyak kebun dan kolam-kolam ikan milik warga. Di Liogenteng sudah ada permukiman di antara kebun dan permakaman umum.

Ia ingat dulu pernah ada pabrik pupuk di daerah Inhoftank. Nama Inhoftank ini berasal dari instalasi pengolahan limbah rumah tangga zaman Belanda diperkirakan tahun 1930-an yang mengadopsi teknologi tangki pengendapan berlapis buatan Karl Imhoff yang disebut Imhofftank. Lidah warga lokal menyebutnya Inhoftank. Instalasi pengolah limbah ini berkembang jadi pabrik pupuk organik dan gas metana. Kini area instalasi pabrik sudah berubah jadi permukiman padat penduduk.

“Dulu masih lowong (kosong), gedung-gedung besar peninggalan Belanda di sekitar Tegallega banyak, tapi waktu itu belum ada gedung-gedung tinggi di daerah alun-alun dan sekitarnya, pokona mah masih banyak kebun, sawah, dan kolam-kolam ikan,” cerita Bokir.

Di kampung Bokir, Gang Buah, dulu dikenal dengan sebutan Perikanan. Nama itu muncul karena pada masanya hampir seluruh sudut kampung dipenuhi kolam pembibitan dan pembesaran ikan air tawar. Air mengalir tenang, dan kehidupan warga bertumpu pada kolam-kolam tersebut.

Kini, jejak Perikanan itu nyaris tak tersisa. Kolam-kolam telah ditimbun, berganti menjadi perkampungan padat, deretan toko, dan gedung-gedung yang terus tumbuh. Nama boleh bertahan di ingatan sebagian orang, tetapi wajah kampung telah sepenuhnya berubah.

Burhan sendiri kala itu masih bertani dan mengurus kolam-kolam ikan. Setelah lahan pertanian dan perikanan hilang berganti permukiman, ia mencoba peruntungannya dengan berjualan makanan dan mainan di sekitar Alun-Alun Bandung.

Alun-Alun Bandung dikenal sebagai surganya para perantau yang datang untuk berdagang. Seiring bertambahnya usia dan persaingan usaha yang ketat, Burhan akhirnya banting stir jadi pedagang makanan di sekolahan.

“Usaha yang ringan saja, tenaga sudah tidak seperti dulu lagi,” kata pria yang memiliki 7 orang anak dan 12 orang cucu ini.

Burhan atau Mang Bokir setiap pagi mengolah mie instan goreng lalu menyimpannya dalam kontainer plastik tertutup. Dari sebungkus mie instan bisa dijadikan tiga porsi mie untuk para pembelinya.

“Jadi tinggal dibawa ke tempat jualan saja, nanti tinggal digoreng ulang sebentar saat ada yang beli,” katanya.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #100: Sepi di Lorong Kebun Binatang, Penyegelan di Mata Seorang Pawang
CERITA ORANG BANDUNG #99: Utang di Jalan Panjang Angkot Margahayu-Ledeng

Burhan atau Mang Bokir di SDN 249 Astananyar, Bandung, Desember 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Burhan atau Mang Bokir di SDN 249 Astananyar, Bandung, Desember 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Burhan adalah salah satu warga Kota Bandung yang melihat perkembangan kota semula masih didominasi sawah, ladang, dan kolam budidaya air tawar, berubah jadi kota metropolitan modern yang menggusur ruang-ruang terbuka hijau dan perkampungan jadi hunian modern atau property. Bahkan pepohonan peneduh di pinggir jalan saja sekarang tumbuh di atas semen.

Badan Pusat Statistik Kota Bandung tahun 2024 yang diperbarui 11 Juni 2025, mencatat jumlah penduduk Kota Bandung sebesar 2.591.763 jiwa. Di masa Hindia Belanda, kota yang disiapkan untuk jadi ibu kota negara ini dirancang hanya untuk menampung sekitar 300.000 jiwa. Sekarang, lebih dari 1 juta kendaraan lalu lalang di seluruh penjuru kota setiap hari di wilayah seluas 167,31 km per segi.

Wilayah kota seluas 16.731 hektare ini dihuni lebih dari 2,5 juta jiwa, terbagi di 30 kecamatan dan 151 kelurahan, jumlah penduduk ini belum termasuk warga komuter dan penduduk dari wilayah lain yang menetap di Bandung namun tidak terdata.

Tingginya jumlah penduduk membuat Kota Bandung terus berada dalam tekanan ekonomi. Lowongan kerja tidak bertambah signifikan, sementara pencari kerja terus meningkat. Sebagian besar memilih berwiraswasta, di antaranya menjadi pedagang kaki lima (PKL).

Merujuk situs Sistem Informasi Pedagang Kaki Lima (SIPKL), tercatat ada sebanyak 22.003 orang pedagang kaki lima (PKL) yang terdaftar di bawah Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kota Bandung.  

Fesyen dan kuliner merupakan dua jenis usaha yang paling banyak dilakoni oleh PKL, masing-masing terdiri dari 11.783 orang dan 9.712 orang. Jenis-jenis produk lainnya yang dijual PKL antara lain mencakup peralatan rumah tangga, peralatan elektorik, dan kerajinan tangan.

Dari sisi penyebarannya, jumlah PKL terbanyak ditemukan di Kecamatan Regol, mencapai 3.336 orang.

Keriuhan mereda. Hampir semua anak-anak sudah pulang meninggalkan sekolah. Burhan segera membenahi dagangan dan segala perkakasnya yang terdiri dari kotak kontainer makanan dan meja mini berisi kompor portabel dan wajan penggorengan. Sepeda motor Burhan melaju tenang di jalanan padat kendaraan sekitar Tegallega.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//