Gelanggangnya Para Wanoja di Rumawat Padjadjaran, Mematahkan Mitos Perempuan tidak Boleh Main Alat Musik Tradisional Sunda
Komunitas Puspa Karima mengusung visi misi bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam kesenian Sunda. Menjadi yang pertama pentas di Rumawat Padjadjaran Unpad.
Penulis Tim Redaksi26 Januari 2026
BandungBergerak - Suara alat musik Sunda mengiringi kawih yang dibawakan perempuan berkebaya hijau. Dikelilingi bermacam instrumen, perempuan itu memetik kecapi dengan suara lantang. Selesai ia pentas, panggung sempat sunyi. Namun benturan pipa bambu kembali memeriahkan ruangan, disusul nyanyian sekelompok perempuan yang muncul dari balik penonton. Para penyanyi, juru kawih, maupun nayaga gamelan dalam pentas ini seluruhnya perempuan.
Pertunjukkan tersebut membuka pagelaran Rumawat Padjadjaran yang berlangsung 23 Januari 2026 di Graha Sanusi Hardjadinata, Kota Bandung. Mengusung tema “Wanoja Sadayana: Gelar Geunjleung Puspa Karima”, pergelaran ini menampilkan lebih dari 10 genre kesenian Sunda yang dimainkan oleh 16 seniman perempuan. Selama pertunjukkan berlangsung, penonton disuguhkan kekayaan karawitan Sunda, dari reak, beluk, penca, tembang Sunda cianjuran, hingga tanji.
Wanoja Sadayana berarti “semuanya perempuan”, Puspa Karima ingin menunjukan bahwa perempuan memiliki kemampuan, ruang, dan kesempatan yang sama untuk bisa bermain berbagai genre dan alat musik seni karawitan sunda yang selama ini didominasi oleh laki-laki.
Pergelaran seni rutin Rumawat Padjadjaran Unpad sudah digelar sejak 2008 atas inisiatif Ganjar Kurnia. Sudah banyak seniman yang tampil dalam acara tersebut, seperti seniman calung fenomenal Darso, dalang kondang Ki Asep Sunandar Sunarya, Ki Dede Amung Sutarya, Ki Cecep Supriadi.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya Rumawat Padjadjaran mengundang komunitas yang konsisten melestarikan seni karawitan Sunda dan pemberdayaan yang semua pemainnya perempuan, yaitu Puspa Karima.
Perempuan dan Karawitan Sunda
Puspa Karima didirikan oleh Bunga Dessri para tahun 2019 dengan tujuan mengembalikan kebudayaan Sunda yang egaliter. Menurut Bunga, perempuan patut dihargai dan diberi kesempatan yang sama dalam dunia seni, tidak ada batasan untuk perempuan dalam berkarya.
“Secara umum pesan dalam pertunjukan ini, ingin menunjukan perempuan punya ruang dan kesempatan yang sama dalam menggapai mimpi-mimpinya,” ucap Bunga.
Perjalanan yang dilalui Bunga dalam membangun Puspa Karima tidak selalu mudah, Bunga mengaku pada awal mempelajari seni karawitan Sunda, banyak hal tabu yang dilarang oleh orang sekitar, termasuk alat musik pertama yang dimainkan oleh Bunga. Misalnya, saat ia memainkan alat musik rebab, ada larangan keras bahwa alat musik gesek tidak boleh dimainkan oleh perempuan.
“Larangan itu bukan berasal dari kebudayaan Sunda yang lama, tapi pengaruh dari patriarki yang menyebabkan adanya larangan perempuan dalam menggunakan alat musik,” katanya.
Maka dari itu, Puspa Karima hadir untuk memberikan kritik terhadap seni Sunda yang masih menempatkan perempuan sebagai pelengkap, bukan pelaku utama. Dalam situasi yang dipengaruhi pandangan patriarki, Puspa Karima bertahan dengan cara saling menguatkan. Para anggotanya saling mendorong dan meyakinkan satu sama lain, sambil mengingat visi utamanya, memajukan kaum perempuan. Hal tersebut dilakukan bersamaan dengan banyaknya anggota yang mulai tergabung ke dalam Puspa Karima.
“Saya awalnya sendirian, tapi kemudian saya mencari orang yang satu visi misi, menyemangati mereka, saling membuat percaya diri dan saling mendorong. Yang awalnya sendiri, sampai sekarang ada 19 orang perempuannya,” ujarnya.
Dari 16 seniman yang tampil, salah satunya adalah Mita Trisnawardhani yang bergabung dengan Puspa Karima sejak 2023. Dalam pertunjukan ini, Mita memainkan terompet dan kendang. Ketertarikannya pada kesenian Sunda sudah tumbuh sejak kecil dengan mempelajari kendang dan pencak silat. Pengalaman tersebut membuat penampilan Penca berkesan baginya.
“Dari kecil udah main kendang terus pencak silat juga,” ungkap Mita.
Bersama Puspa Karima, Mita bahkan sempat berpetualang dari dalam hingga luar negeri untuk memperkenalkan kesenian Sunda. Mita memiliki harapan agar seni Sunda dapat terus dilestarikan, terutama oleh perempuan.
Terkikisnya Keanekaragaman Hayati yang Mengancam Ketahanan Pangan di Perdesaan
Cara Masyarakat Jepang Senantiasa Siaga Menghadapi Bencana
Mengapa Pohon Kawung Menjadi Kunci Budaya Penduduk Perdesaan di Tatar Sunda?
Pentas yang Keren
Tepuk tangan dan sorak penonton memeriahkan pertunjukan, Nala sebagai pengunjung yang hadir, merasa kagum akan pertunjukan Puspa Karima di Rumawat Padjadjaran.
“Kagum ya, karena di zaman sekarang ini jarang banget ada pemain musik atau nayaga disebutnya. Nayaga perempuan, itu langka banget di Sunda maupun di Indonesia ini, apalagi perempuan,” ujar Nala.
Bagi Nala, pertunjukan ini membawa pesan penting. Ia berharap perempuan Sunda dapat melestarikan seni Sunda.
“Buat perempuan Sunda, jangan malu untuk melestarikan seni tradisi, karena kalau bukan kita, siapa lagi gitu yang harus melestarikan budaya Sunda ini,” ujar Nala.
Terkait penampilan paling berkesan, Nala menyebutkan bahwa wayang golek dan ketuk tilu sebagai favoritnya.
Respons pengunjung lainnya datang dari Aqil. Ia mengagumi keterampilan nayaga yang seluruhnya perempuan mampu memainkan alat musik yang dikenal sulit.
“Ini acaranya keren ya, soalnya pemain musiknya perempuan. Soalnya pemainnya ada alat yang susah kan jadi wowlah keren,” ungkap Aqil, yang menyukai penca dan tembang Sunda cianjuran.
Ganjar Kurnia, penggagas Rumawat Padjadjaran Unpad, mengatakan acara ini bukan sekadar tontonan melainkan ada unsur edukasi atau berbagi pengetahuan. Ini sejalan dengan peran universitas.
Mantan rektor Unpad tersebut berpesan kepada para perempuan untuk terus mengembangkan kesenian Sunda. Tidak hanya dari pihak Unpad namun lebih meluas. Ia juga berharap acara Rumawat Padjadjaran Unpad yang menampilkan seniman perempuan ini bukan yang terakhir.
*Liputan ini dikerjakan reporter BandungBergerak Alysha Ramaniya Wardhana dan Riani Alya Supriatna Khairunnisa

