• Opini
  • Jejak Kuburan-kuburan Tua dalam Peradaban Manusia

Jejak Kuburan-kuburan Tua dalam Peradaban Manusia

Budaya penguburan jenazah telah dikenal sejak akhir Zaman Es Plestosen Atas. Jenazah umumnya diletakkan dalam posisi membujur atau menekuk.

Johan Arif

Peneliti Geoarkeologi & Lingkungan di ITB, Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Mausoleum keluarga Ursone, juragan peternakan sapi perah di Lembang, di TPU Pandu, Kota Bandung, Minggu (6/6/2021). (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)

28 Januari 2026


BandungBergerak - Seperti kita ketahui banyak cara yang dilakukan orang terhadap jenazah orang mati. Dalam masyarakat Bali yang beragama Hindu, mereka mempunyai kebiasaan atau kebudayaan membakar jenazah seseorang anggota keluarganya yang mati. Masyarakat Mesir purba (terutama keluarga raja) mempunyai kebiasaan menyimpan jenazah rajanya atau keluarga raja di dalam suatu bangunan besar yang disebut pyramid. Orang yang beragama Islam selalunya melakukan penguburan jenazah di dalam tanah.

Walaupun banyak cara yang dilakukan orang terhadap jenazah, secara umum kebanyakan orang selalu memperlakukan jenazah dengan cara menguburkan di dalam tanah. Jika kita melihat hal ini sebagai bagian dari suatu budaya, maka sejak kapan manusia mempunyai kebiasaan menguburkan jenazah di dalam tanah? Apakah hal ini berkaitan dengan salah satu ajaran agama ataukah merupakan suatu hal yang bersifat naluri saja?

Dalam Al Maaidah 4:27-31, terdapat kisah bagaimana salah seorang putra nabi Adam as yaitu Qabil menguburkan jenazah saudaranya yaitu Habil. Dikarenakan rasa sakit hati dan marah terhadap saudaranya, lalu Qabil membunuh Habil. Setelah itu Qabil menjadi bingung dengan jenazah saudaranya itu, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya. Tetapi tiba-tiba saja dia mendapat ide setelah dia melihat seekor burung gagak sedang menggali tanah. Maka Qabil pun menggali tanah dan meletakan jenazah Habil di dalamnya dan kemudian ditimbun. Apakah kisah Habil dan Qabil ini mempunyai hubungan dengan munculnya budaya menguburkan orang mati di dalam tanah?

Baca Juga: Misteri Orang Utan
Mewaspadai Bencana Tsunami di Daerah Pesisir Indonesia

Budaya Menguburkan Jenazah

Budaya atau kebiasaan menguburkan jenazah sudah ada sejak akhir dari zaman Es Plestosen Atas, yaitu antara 30-10 ribu tahun yang lalu, khususnya di beberapa kawasan di Eropa (al: Goat’s hole, Cro-Magnon, Grotte des Enfants, Cueva Morin, Moravia, Kostenki & Sungir) dan Asia (Siberia). Pada umumnya jenazah mereka letakan dalam posisi membujur atau menekuk

Biasanya jenazah selalu disertai dengan menguburkan benda-benda seperti perhiasan dan peralatan batu dan tulang. Mengenai kebiasaan yang berkaitan dengan menguburkan benda-benda bersama-sama dengan jenazah pada masyarakat di Eropa dan Asia, apakah ada hubungannya dengan agama? Kita belum mengetahui hal ini dengan pasti hingga sekarang.

Dari segi teknologi peralatan terutama yang terlihat di kawasan Eropa, masa sesudah 40-35 ribu tahun yang lalu ditandai dengan perubahan teknologi yang sangat cepat dibandingkan masa sebelumnya. Masa ini disebut sebagai budaya Paleolitik Atas.

Korelasi waktu budaya prasejarah dengan waktu geologi kuarter di Eropa, berdasarkan Dickson (1990) & DeCorse (2000). (Sumber: Penulis)
Korelasi waktu budaya prasejarah dengan waktu geologi kuarter di Eropa, berdasarkan Dickson (1990) & DeCorse (2000). (Sumber: Penulis)

Dolni Vestonica

Di sekitar kawasan Moravia, Czech (Eropa Timur) terdapat beberapa situs masyarakat Paleolitik Atas yaitu Dolni Vestonica (DV). Dolni Vestonica (DV) adalah kawasan bekas rawa yang terletak di antara pertemuan dua sungai di pegunungan Moravia. Di sini dijumpai paling tidak 3 buah bekas lokasi masyarakat Paleolitik Atas yaitu DV I, II dan III.

DV I merupakan bekas perkampungan masyarakat pemburu-pemungut (hunter-gatherer) khususnya Mammoth. Di sini dijumpai bekas rumah/tenda berbentuk lingkaran sebanyak 5 buah yang mana masing-masing tenda tersebut dikelilingi oleh gading dan tulang-belulang Mammoth. Juga di dalam masing-masing tenda terdapat tungku pemanas. Kemudian dijumpai tenda khusus yang digunakan sebagai tempat pembakaran untuk pembuatan barang seni. Patung “Venus of Dolni Vestinoca” dijumpai di sekitar bekas tenda ini.

DV II kemungkinannya juga merupakan suatu bekas perkampungan. Tetapi jika dibandingan dari segi jumlah populasi, bekas-bekas tempat tinggal dan barang seni seperti patung dan perhiasan, maka DV II lebih miskin dibandingkan dengan DV I. Oleh karena itu DV II diperkirakan sebagai perkampungan yang telah berulang kali di tempati tetapi dalam jangka masa yang singkat (mungkin bergantung kepada musim) dan untuk melakukan kegiatan tertentu saja.

Hasil ekskavasi di kawasan Dolni Vestonica (DV) II bulan Agustus tahun 1986 ditemukan 3 rangka manusia berumur 17-20 tahunan (disebut DV 13, 14 & 15) dengan posisi memanjang (extended). Dari kawasan yang sama, kemudian pada tanggal 28 April 1987 ditemukan lagi rangka seorang lelaki yang diberi label DV 16. Diperkirakan mereka hidup pada masa antara 25-27 ribu tahun yang lalu.

Rangka-rangka yang diketemukan pada bulan Agustus 1986 adalah kepunyaan dari dua orang lelaki dan satu orang perempuan. Posisi rangka perempuan berada di antara rangka lelaki dan diduga pada masa hidupnya perempuan tersebut mengalami kecacatan pada muka dan tulang belakangnya (scoliosis). Ketiga rangka tersebut ditaburi dengan serbuk oker dan pada kedua kepala lelaki terdapat untaian manik-manik dari gigi taring serigala dan gading Mammoth. Pada rangka perempuan serbuk oker terdapat disekitar kepala dan pelvis.

Kawasan Dolni Vestonica selain dikenal sebagai situs perkuburan tua, juga dikenal sebagai situs tertua industri pembakaran keramik. Di sini dijumpai banyak benda-benda seni seperti patung “goddess”. Selain itu dijumpai juga sekitar 700 buah atau lebih patung-patung berbentuk binatang yang juga terbuat dari tanah lempung yang dibakar.

Bahan yang digunakan untuk membuat patung-patung tersebut bukan murni tanah lempung tetapi merupakan campuran dari tanah lempung dengan serbuk hancuran tulang. Dengan demikian dapat dianggap bahwa masyarakat prehistori di Moravia mempunyai kemampuan membuat keramik lebih dulu daripada masyarakat Jomon dari Jepang yang hidup sekitar 10 ribu tahun yang lalu.

Salah satu patung”goodess” yang terkenal dari DV adalah “Venus of Dolni Vestinoca”. Patung ini memiliki tinggi 11 cm dan lebar 4.3cm serta terbuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu yang relatif rendah (500–800 °C).

Mengenai arti simbolik dari patung “Venus of Dolni Vestinoca” hingga saat ini belum diketahui. Apakah melambangkan dewi kesuburan atau merupakan bentuk berhala yang dipuja oleh masyarakat pada waktu itu?

Tetapi kebanyakan ahli Arkeologi berpendapat bahwa manusia yang hidup sekitar 40 ribu tahun yang lalu sudah mempunyai tingkah laku (khususnya daya imaginasi/estetika) seperti manusia yang hidup sekarang. Hal ini didasarkan kepada penemuan sejumlah manik-manik dari telur burung ostrich di sebuah “rock shelter” bernama Enkapune Ya Muto yang terletak di “Rift Valley” Kenya (Afrika Timur). Manik-manik ini adalah manik-manik yang tertua yang pernah dibuat oleh manusia kira-kira pada masa 40 ribu tahun yang lalu. Manik-manik tersebut mungkin berfungsi sebagai alat tukar-menukar antara komunitas pada saat itu, untuk membangkitkan rasa kesetiakawanan atau kekompakan kelompok atau antarkelompok sehingga kelangsungan hidup mereka bisa selamat di tengah-tengah alam yang buas.

Sistem atau kebiasaan seperti ini masih ada di dalam masyarakat “hunter-gatherer” Kung San yang hidup di padang pasir Kalahari, Botswana (Afrika Selatan). Kebiasaan ini mereka sebut HXARO dan barang-barang yang dijadikan alat tukar-menukar adalah untaian manik-manik yang terbuat dari telur burung Ostrich.

Didasarkan kepada interpretasi di atas, maka ada kemungkinan terdapatnya hubungan antara benda kubur yang berupa untaian manik-manik yang dikuburkan bersama-sama dengan jenazah dengan kepercayaan atau kesadaran akan adanya kehidupan setelah mati.

Jika perkiraan ini benar maka masyarakat Paleolitik Atas khususnya yang hidup di Eropa dan Afrika kemungkinan sudah mempunyai kepercayaan akan adanya kehidupan setelah mati.

*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel Johan Arif, atau tulisan-tulisan lain tentang Situs Geologi

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//