MAHASISWA BERSUARA: Peternakan Bernama Pendidikan Tinggi
Pasar bebas intelektual menjelma sebagai tren baru di kalangan civitas akademik. Akademisi hari ini dipaksa untuk berubah demi terpenuhinya kebutuhan pasar.

Alfatan Zullyansyah
Mahasiswa UIN Bandung
29 Januari 2026
BandungBergerak.id – Universitas merupakan kasta tertinggi dalam dunia pendidikan, idealnya universitas menjadi tempat percetakan para cendekiawan otentik, perawat api perjuangan, juga pengajar dialektis. Akan tetapi pada hari ini, paradigma tersebut berubah. Universitas dari pusat pengetahuan menjadi entitas komersial yang diperdagangkan dalam dunia global. Pendidikan tinggi kini diukur dengan statistik ekonomi, mereka yang berhak dijual, dan mereka yang bahan reject. Pun demikian dengan pengetahuan, pengetahuan diubah menjadi barang dagangan, dan akademisi menjadi ternak. Proses dalam pendidikan untuk membentuk kepribadian yang bermoral (baca: Humanis)–P. Freire dalam Critical Pedagogy–berubah menjadi ruang dehumanisasi. Melalui fenomena komoditisasi terhadap pendidikan tinggi, yang mengubah ruang kreativitas, dan proses pencarian jati diri–Ivan Illich dalam Deschooling–menjadi sebuah arena kompetisi percetakan lulusan unggul, demi menaikkan nilai ekonomi dalam stratifikasi rangking universitas. Dan semua kejadian tersebut didukung dengan logika pasar bebas yang telah merasuki jiwa civitas akademik sehingga mereduksi esensi pendidikan sebagai proses pembentukan, pengabdian, dan kemapanan intelektual.
Logika pasar bebas atau kerap disebut Neoliberalisme merupakan penekanan logika pasar bebas dengan deregulasi, privatisasi, dan kompetisi pasar, yang telah merombak sistem pendidikan tinggi sejak akhir abad 20. Melalui logika fundamental pasar bebas, universitas berubah menjadi institusi yang harus bersaing seperti perusahaan, di mana pendidikan menjadi komoditas untuk pertumbuhan ekonomi secara signifikan, dengan mencetak tenaga ahli untuk memenuhi kebutuhan pasar dikutip dalam Neoliberalism and the Crisis of Higher Education oleh Beth Minz. Dengan term sederhana tersebut, terciptalah cara memahami fundamentalisme pasar. Melalui buku Sesat Neoliberalisme, Herry Priyono menjelaskan bahwa cara sederhana untuk mengetahui ciri-ciri fundamentalisme pasar bukan terletak pada apakah paket kebijakan melibatkan pemerintah. Akan tetapi ada dua ciri khusus yang melekat pada paham tersebut; Pertama, mengobservasi bidang kehidupan dalam tata hidup bersama (di luar bidang ekonomi) mengalami komersialisasi, seperti pendidikan salah satunya. Kedua, kegiatan ekonomi semakin dikuasai oleh dagang uang, dan bukan dengan transaksi barang. Secara ringkas, sektor pendidikan cenderung mudah untuk terinfeksi logika pasar bebas.
Dengan paham tersebut, sektor pendidikan menjadi objek untuk menciptakan tenaga ahli yang unggul dan terpakai dalam kompetisi pasar. Secara eksplisit pemahaman Neoliberal terlihat baik, akan tetapi dengan logika pasar bebas tersebut, pendidikan berubah menjadi penghilangan daya kreativitas, kritis, proses humanisasi, dan keberagaman. Lalu, apa bedanya kita dengan robot yang dibuat untuk bekerja–kritik ini dilontarkan oleh Ivan Illich. Di saat pendidikan membuat murid seragam dan menghilangkan keberagaman, juga mematikan daya kreativitas. Menyebabkan murid pasif seperti robot yang dirancang untuk bekerja. Dan yang paling utama, sistem ini merupakan praktik kolonisasi baru melalui instrumen pendidikan. Sehingga terciptalah tenaga kerja yang murah karena keseragaman mereka atau biasa disebut oleh Marx: surplus populasi relatif–seperti kutipan yang diambil dari The Systemic Neoliberal Colonisation of Higher Education: a Critical Analysis of the Obliteration of Academic Practice oleh Christine Morley.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Gagalnya Perlawanan Neoliberalisasi Pendidikan di Indonesia dan Pelajaran Berharga dari Cile
MAHASISWA BERSUARA: Suara Formalitas Mahasiswa di Senayan, Krisis Politik Mahasiswa dalam Bayang-bayang Oligarki
MAHASISWA BERSUARA: Pendidikan yang Tidak Pernah Mencari Anak Paling Rentan
Komoditisasi Pendidikan dan Pengetahuan
Pasar bebas intelektual menjelma sebagai tren baru di kalangan civitas akademik. Mengutip dari Soesilo Toer bahwa “mahasiswa yang tidak mempunyai daya kritis, akan menjadi ternak di zaman ini”–selaras dengan Toto Rahardjo yang menyatakan bahwa “mahasiswa yang tidak kritis akan menjadi sekrup-sekrup pabrik”–menginterpretasi melalui pernyataan tersebut: universitas yang memakai logika pasar bebas memandang akademisi sebagai objek yang dapat di industrialisasikan sehingga terciptanya komoditas yang unggul untuk memenuhi kebutuhan pasar. Pun akademisi yang menjadi korban dari logika pasar bebas, akan berubah menjadi ternak-ternak demi memenuhi kebutuhan pasar, ketika mereka mempunyai nilai jual, mereka menjadi barang berharga untuk pasar, dan ketika mereka tidak lulus kualifikasi penilaian, mereka hanya dianggap sebagai barang reject yang tidak dianggap oleh dunia zaman ini.
Di sisi lain, pengetahuan juga terinfeksi oleh paham tersebut. Melalui paham tersebut, pengetahuan teregionalisasi menjadi dua kutub: mana yang bermanfaat untuk pasar, dan yang tidak bermanfaat untuk pasar. Dengan konstruksi tersebut, pengetahuan berubah menjadi pasar tak kasat mata. Sehingga, pengetahuan disimbolkan menjadi produk untung-rugi. Masalah yang ditimbulkan paham tersebut meliputi berbagai hal; terjadinya pengabaian aspek kritis, dan dehumanisasi melalui pengetahuan. Logika pasar membentuk istilah objektivikasi, menyebabkan pengetahuan menjadi human capital yang marketable. George Caffentzis dalam esainya A Critique of Commodified Education and Knowledge berkata: pengetahuan yang seharusnya menjadi milik bersama dan mempunyai nilai khusus dalam perkembangan manusia. Berubah menjadi komoditas yang diperjual-belikan dalam era sekarang. Dan yang paling banyak dilakukan adalah jual-beli penelitian, mereka (civitas akademik) yang terpapar logika pasar bebas, menganggap pengetahuan sebagai suatu barang jual yang ditawarkan kepada penawar tertinggi. Sehingga, para akademisi menciptakan sebuah bias antara pengetahuan dan pasar, pada akhirnya mereka tidak dapat lagi membedakan antara barang-jual dan pengetahuan.
Dari Akademisi Menjadi Ternak
Akademisi hari ini, dipaksa untuk berubah demi terpenuhinya kebutuhan pasar, sehingga mereka disimbolkan sebagai “ternak” yang dikebiri secara terus menerus oleh zona lingkaran setan Neoliberal. Akademisi dipaksa untuk terus menerus menghasilkan suatu barang jual yang bernilai di marketplace, di samping itu bila mereka tidak bisa menghasilkan suatu barang dalam waktu tertentu, mereka dianggap sebagai ternak cacat, sehingga akademisi dinilai pekerja fleksibel yang mudah diganti untuk menghasilkan suatu barang jual. Praktik ini sering dilakukan di universitas yang terinfeksi paham Neoliberal, di mana akademisi harus bersaing untuk grant korporat, mengubah riset menjadi produk komersial dari pada hasrat untuk mencari kebenaran dan pengembangan keilmuan, juga menjadikan riset sebagai suatu fungsional demi tercapainya target pasar, dengan hadiah berbentuk kenaikan jabatan–selaras dengan perkataan R. Barthes dalam buku Kersik Bahasa.
Para akademisi yang dinilai sudah mencapai target penjualan, diberi reward melalui pemajangan dalam billboard universitas dan diperlihatkan kepada khalayak umum sebagai prestige yang patut diikuti. Mereka yang pantas dipajang di billboard universitas karena prestige-nya adalah mereka yang sesungguhnya dieksploitasi oleh sistem kekejaman baru yaitu Neoliberal. Kekejaman sistem baru ini tak cukup sampai di situ, para akademisi yang telah mendapatkan prestige akan diperjual-belikan sebagai ternak unggul suatu universitas, sehingga universitas tersebut mendapatkan nilai lebih melalui ternak unggul, dan marketplace ini terjadi dalam bentuk stratifikasi rangking top universitas atau fakultas, kutipan diambil dari The Tyranny of Neoliberalism in the American Academic Profession oleh Evelyn Morales Vazquesz dan John S. Levin.
Kenyataan ini memang menyakitkan untuk diterima, tapi inilah yang terjadi sekarang–terkhusus dalam dunia pendidikan, paham Neoliberal membuat kita merasa dihargai dan dimanusiakan. Tapi, di balik penghargaan yang diberikan, terdapat eksploitasi tak kasat mata yang dilakukan oleh sistem kekejaman baru ini. Penghargaan dimaksudkan untuk meninakbobokan akademisi terhadap bentuk eksploitasi baru. Hal ini, diungkapkan oleh John Smith dalam The Toxic University, ia mengistilahkan kepemimpinan zombi sebagai kritik terhadap ritual dan praktik Neoliberal yang dipertahankan oleh universitas, contohnya perihal komoditisasi riset. Selanjutnya, istilah akademisi rockstar sebagai kritik terhadap pengakalan atau pembuatan hierarkis palsu oleh sistem Neoliberal terhadap akademisi, dicontohkan dalam kasus penghargaan sebagai perwakilan nilai akademis yang sebenarnya, melainkan sebuah bentuk magis untuk menidurkan para akademisi sehingga siklus lingkaran setan tetap terjaga dan peningkatan daya jual semakin meningkat di mata khalayak umum. Pada kesimpulannya paham Neoliberal atau logika pasar bebas telah merusak citra pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi proses pembentukan pemikiran kritis diubah menjadi marketplace dari komoditas pengetahuan yang terinstitusionalkan (penghargaan akademik). Sehingga, universitas menjadikan para akademisi sebagai ternak untuk mencari siapa yang pantas jadi barang bernilai, dan siapa yang jadi barang reject.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

