SUDUT LAIN BANDUNG: Pergerakan Bandung dan Etika Sunyi Rahman Tolleng
Mengingat Rahman Tolleng bukanlah nostalgia kosong. Ia pengingat bahwa pernah ada generasi yang menganggap politik sebagai soal martabat, bukan sekadar strategi.

Abah Omtris
Musisi balada Bandung
31 Januari 2026
BandungBergerak.id – Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, mode, atau pariwisata. Dalam lapisan sejarah yang lebih dalam, ia adalah ruang tempat kegelisahan intelektual dirawat, dipertajam, lalu dilepaskan ke medan politik nasional. Dari ruang-ruang kelas teknik, sekretariat pers mahasiswa, hingga diskusi yang berlangsung larut di rumah kontrakan dan warung kopi, Bandung pernah menjadi laboratorium pembangkangan: tempat lahirnya generasi yang percaya bahwa berpikir adalah tindakan politik.
Di antara nama-nama yang tumbuh dari lanskap itu, Abdul Rahman Tolleng atau lebih dikenal dengan Rahman Tolleng (lahir di Sinjai 5 Juli 1937–meninggal di Bandung 29 Januari 2019), menempati posisi yang unik. Ia bukan orator flamboyan, bukan pemimpin partai besar, bukan pula figur yang rajin menulis memoar. Ia justru dikenal melalui keteguhan yang sepi: konsistensi moral yang membuatnya berkali-kali berada di luar lingkar kekuasaan, bahkan ketika pintu itu terbuka lebar.
Esai ini tidak hendak menempatkan Rahman Tolleng sebagai pahlawan dalam arti romantik, melainkan sebagai cermin bagi satu tradisi politik yang kini semakin langka: keberanian untuk tidak menukar prinsip dengan akses, dan kesediaan untuk kalah demi menjaga integritas.
Baca Juga: Sawala, Kekuasaan, dan Moncong Meriam Kebudayaan: Kota Bandung di Persimpangan Nurani
SUDUT LAIN BANDUNG: Relokasi Kebun Binatang, Ruang Terbuka Hijau, dan Logika Ekologis
Bandung sebagai Ruang Pembangkangan
Sejak awal kemerdekaan, Bandung telah memikul beban simbolik sebagai kota intelektual. Konferensi Asia-Afrika 1955 memberi cap kosmopolitan dan anti-kolonial, sementara Institut Teknologi Bandung membentuk generasi teknokrat dan pemikir rasional. Namun, di balik narasi resmi itu, tumbuh juga tradisi lain: budaya diskusi yang keras, skeptisisme terhadap kekuasaan, dan keberanian untuk berseberangan dengan arus utama.
Pada dekade 1960-an, ketika ketegangan politik nasional mencapai puncaknya, kampus-kampus di Bandung menjadi pusat fermentasi ide. Mahasiswa tidak hanya mempelajari rumus dan mesin, tetapi juga membaca teori politik, ekonomi, dan filsafat. Pers mahasiswa berkembang menjadi arena kritik terbuka, sementara diskusi informal melahirkan jaringan aktivis yang tidak terikat pada satu ideologi tunggal, selain keyakinan bahwa kekuasaan harus diawasi.
Pergerakan 1966 yang kemudian menumbangkan Orde Lama, tidak bisa dilepaskan dari dinamika ini. Namun sejarah resmi sering menyederhanakannya sebagai “gerakan mahasiswa” semata, tanpa menyoroti pergulatan etis yang lebih rumit: tentang batas antara koreksi dan kooptasi, antara perubahan dan pengkhianatan.
Di titik inilah Bandung penting dibaca bukan sekadar sebagai lokasi geografis, melainkan sebagai tradisi intelektual: sebuah sikap mental yang memandang negara dengan jarak kritis.
Rahman Tolleng: Aktivis yang Menolak Nyaman
Rahman Tolleng muncul dari rahim tradisi itu. Terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa 1966, ia termasuk generasi yang percaya bahwa Soekarno perlu dikoreksi, bahwa demokrasi harus dipulihkan, dan bahwa militer tidak boleh menjadi penentu tunggal arah negara.
Namun sejarah bergerak dengan cara yang lebih sinis. Orde Baru yang lahir dari janji stabilitas dan pembangunan justru membangun rezim otoritarian yang sistematis. Banyak aktivis 1966 kemudian masuk ke dalam struktur kekuasaan: menjadi pejabat, teknokrat, komisaris, atau politisi mapan. Sebagian menyesuaikan diri, sebagian berdalih bahwa perubahan harus dilakukan dari dalam.
Rahman Tolleng memilih jalan lain.
Ketika ruang kritik menyempit, ia tidak menghaluskan bahasa. Ketika militer menguatkan peran politiknya, ia menolak kompromi. Ketika korupsi menjadi mekanisme sistemik, ia tidak mencari posisi aman. Puncaknya, ia menjadi salah satu penandatangan Petisi 50–sebuah tindakan politik yang secara sadar menempatkan dirinya dalam risiko: dikucilkan, dibatasi ruang geraknya, dan dipinggirkan dari arena publik.
Ia membayar harga dari pilihan itu: karier politik yang terhambat, akses ekonomi yang terbatas, dan nama yang perlahan menghilang dari narasi besar negara.
Dalam dunia yang mengukur keberhasilan melalui jabatan dan kekayaan, pilihan semacam itu tampak seperti kegagalan. Namun justru di sanalah nilai etiknya berdiri.
Yang membuat Rahman Tolleng penting bukan hanya posisinya dalam peristiwa sejarah, melainkan cara ia memandang politik.
Baginya, politik bukan sekadar seni memenangkan kekuasaan, tetapi medan pertarungan nilai. Ia menolak gagasan bahwa semua prinsip bisa dinegosiasikan. Ia juga menolak romantisme revolusi yang menghalalkan segala cara.
Dalam beberapa wawancara dan kesaksian rekan-rekannya, tampak bahwa ia memegang beberapa keyakinan dasar. Pertama, militer harus tunduk pada sipil. Negara yang sehat tidak bisa dibangun di atas bayonet. Lalu, ia meyakini bahwa korupsi bukan penyimpangan, melainkan sistem. Karena itu, melawannya tidak cukup dengan moral pribadi, tetapi dengan perubahan struktur. Ia meyakini demokrasi bukan hadiah dari penguasa, melainkan hasil tekanan terus-menerus dari warga. Ia juga meyakini bahwa intelektual harus siap tidak disukai. Kedekatan dengan kekuasaan selalu membawa risiko pembungkaman diri.
Prinsip-prinsip ini membuatnya tidak laku dalam politik elektoral yang pragmatis. Ia terlalu keras untuk menjadi kompromis, terlalu jujur untuk menjadi fleksibel, dan terlalu kritis untuk menjadi dekorasi demokrasi.
Pergerakan Bandung dan Aktivisme Hari ini
Jika pergerakan Bandung pada 1960-an dibentuk oleh diskusi panjang, perdebatan ideologis, dan keberanian menghadapi represi, maka aktivisme hari ini hidup dalam lanskap yang berbeda: media sosial, algoritma, dan ekonomi perhatian.
Dulu, satu pamflet bisa berujung penjara. Kini, satu unggahan bisa berujung popularitas.
Dulu, kegagalan berarti dilarang mengajar, dibatasi bepergian, atau kehilangan pekerjaan. Kini, kegagalan sering berarti kehilangan panggung.
Perubahan ini tidak sepenuhnya buruk. Akses informasi lebih luas, solidaritas lebih cepat terbentuk. Namun ada sesuatu yang hilang: kesediaan untuk berada di posisi tidak menguntungkan dalam jangka panjang.
Rahman Tolleng mewakili tipe aktivis yang tidak menghitung untung-rugi personal sebagai variabel utama. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa kemungkinan kalah selalu lebih besar daripada kemungkinan menang.
Hari ini, ketika aktivisme mudah tergelincir menjadi identitas, merek pribadi, atau komoditas digital, pertanyaan yang diajukan sosok seperti Tolleng menjadi tidak nyaman: Masihkah kita berani memilih jalan yang tidak memberi apa-apa selain ketenangan nurani?
Bandung hari ini telah berubah. Kota ini lebih sibuk mengelola festival, pariwisata, dan citra kreatif. Kampus masih berdiri, tetapi ruang diskusi kerap dikalahkan oleh tuntutan pasar kerja. Gerakan sosial tetap ada, namun sering terfragmentasi, lelah, dan kekurangan figur rujukan moral.
Dalam situasi semacam ini, mengingat Rahman Tolleng bukanlah nostalgia kosong. Ia adalah pengingat bahwa pernah ada generasi yang menganggap politik sebagai soal martabat, bukan sekadar strategi.
Bahwa pernah ada aktivis yang memilih sunyi daripada aman.
Bahwa pernah ada intelektual yang menganggap kekalahan lebih terhormat daripada kemenangan yang dibeli dengan penyangkalan diri.
Penutup: Tentang Warisan yang Tidak Ramai
Rahman Tolleng tidak meninggalkan monumen. Tidak ada gedung yang memakai namanya, tidak ada jalan protokol yang mengabadikannya. Warisannya tidak terletak pada kebijakan, melainkan pada contoh hidup: bahwa integritas bisa dirawat bahkan ketika tidak menguntungkan.
Pergerakan Bandung, dalam makna terdalamnya, bukanlah soal tanggal dan peristiwa, melainkan soal watak: keberanian untuk berpikir merdeka, berbicara jujur, dan menerima konsekuensi.
Di zaman ketika politik semakin bising dan prinsip semakin murah, sosok seperti Rahman Tolleng terasa seperti anomali.
Atau justru, seperti pengingat yang paling jujur tentang betapa jauhnya kita telah bergeser.
*Esai ini ditulis sebagai upaya merawat ingatan tentang tradisi pergerakan, pembangkangan intelektual, dan tentang seorang yang memilih setia pada suara kecil di dalam dirinya, meski dunia menawarkan jalan yang lebih mudah.
**Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

