• Opini
  • Membaca Urgensitas Filsafat Pendidikan dalam Kurikulum MBKM di Indonesia

Membaca Urgensitas Filsafat Pendidikan dalam Kurikulum MBKM di Indonesia

Filsafat pendidikan hadir sebagai proses yang mengkritisi dunia pendidikan, termasuk pendidikan teknologi digital itu sendiri.

Atro Sumantro

Alumni Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Ilustrasi. Pendidikan berperan penting bagi kemajuan suatu bangsa. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

1 Februari 2026


BandungBergerak.id – Kehadiran teknologi digital dalam era pembangunan pendidikan kehidupan manusia di Indonesia telah menetapkan sebagian kehidupan manusia pada konsep dan cara pandang dunia yang kompleks sekaligus penuh spesifikasi. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang masih dalam taraf mencari idealisme pendidikan yang baik dihadapkan pada situasi dilematis. Di satu sisi, kehadiran teknologi dalam dunia pendidikan sebagai cabang ilmu baru meningkatkan konektivitas antar manusia dalam berbagai aspek bidang kehidupan. Di sisi lain, hadirnya teknologi sebagai alat bantu manusia dalam ruang berpikir kritis, kreatif dan inovatif di dunia pendidikan mempertanyakan kajian metodologi pendidikan yang membahas hakikat dan mekanisme kerja dalam menyusun sistem pendidikan.

Salah satu implikasi teknologi terjadi dalam ranah perubahan kurikulum pendidikan perguruan tinggi. Realitas itu hadir dalam penetapan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai program yang mengedepankan teknologi sebagai sarana penunjang kehidupan mahasiswa. Nugroho dalam Chrismastitanto menjelaskan Kurikulum MBKM sebagai program yang memfasilitasi perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia dengan memperlengkapi para mahasiswa (peserta didik) menjadi sarjana yang mahir dan profesional di bidang ilmu dan teknologi, berkarakter serta mampu menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.

Meskipun demikian, penanaman teknologi tanpa sebuah filsafat pendidikan yang mumpuni adalah suatu situasi keterlemparan manusia dari akar kehidupan manusia. Filsafat pendidikan hadir sebagai proses yang mengkritisi dunia pendidikan, termasuk pendidikan teknologi digital itu sendiri. Dalam filsafat pendidikan, tugas utama manusia adalah merefleksikan tatanan nilai sistem pendidikan, baik yang ditampilkan pada ruang publik atau pun pada setiap program output dari kajian teknik sistem pendidikan itu sendiri. Keduanya menjawabi berbagai praktik dehumanisasi atau alienasi dalam proses modernisasi dan memberikan kritik konstruktif terhadap ilmu pengetahuan dan sistem sosial yang dominan pada konteks pendidikan kontemporer, seperti pemberdayaan kurikulum MBKM.

Baca Juga: Penafsir, Filsafat, dan Pendidikan
Jika Pendidikan adalah Proses, Mengapa Kita Mengizinkan AI Melompati Proses itu?
Drama Dunia Pendidikan: Wibawa Tenaga Pendidik versus Strawberry Generation

Kuasa Teknologi Era Disrupsi dan Problem Penerapan Kurikulum MBKM

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2008–2014, secara keseluruhan jumlah perguruan tinggi di Indonesia tumbuh 3,41 persen per tahun. Dalam perbandingannya, pertumbuhan perguruan tinggi negeri (PTN) hanya mencapai 2,1 persen, lebih rendah dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta (PTS) yang tumbuh mencapai 3,46 persen. Data ini menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan perguruan tinggi bergantung pada kuantitas dan kualitas mahasiswa itu sendiri.

Data ini berbanding terbalik dengan kemacetan transformasi teknologi digital dalam diri mahasiswa yang notabene masih berpegang pada pola pendidikan tradisional dan perubahan masif relasi pendidikan dari konvensional menuju pendidikan digital. Hal ini dikarenakan sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia belum mampu menerapkan pendidikan kurikulum MBKM. Beberapa alasan mendasar yang ditemukan adalah; pertama, mahasiswa tidak memiliki kecakapan teknologi yang mampu melihat dan mengkaji sistem pendidikan digital secara komprehensif. Kurangnya edukasi konsep pendidikan digital dan penerapan kurikulum MBKM dalam diri mahasiswa turut memperlambat proses belajar mahasiswa baik dari segi pengetahuan maupun kajian praktis penggunaan teknologi itu sendiri.

Kedua, mahasiswa terperangkap dalam situasi kesenjangan dan kesetaraan dalam akses dan kualitas perguruan tinggi dengan pemberlakuan kurikulum MBKM. Di satu sisi, perguruan tinggi yang memiliki sumber daya yang cukup kuat dapat melaksanakan MBKM dengan lebih baik, sedangkan pada sisi yang lain perguruan tinggi yang kurang mendapatkan sumber daya menjadi tertinggal dan sangsi untuk melangkah maju menanggapi perubahan pola pendidikan. Ketiga, adanya kebebasan yang diberikan dalam MBKM juga menyebabkan kurangnya bimbingan dan arahan yang diperlukan oleh peserta didik. Dalam problem ini, mahasiswa mengalami kesulitan dalam membuat keputusan tentang pemilihan mata kuliah, jadwal pembelajaran, atau pengaturan tujuan pembelajaran mereka sendiri. Mahasiswa yang nota bene masih dalam tahap dan usia berkembang belum mampu memutuskan pilihannya secara rasional, akurat dan dengan pertimbangan yang matang.

Salah satu media digital yang digunakan dalam penerapan MBKM adalah media sosial. Media sosial adalah alat komunikasi yang paling update dalam memberikan informasi dan gambaran realitas pendidikan mahasiswa serta jangkauannya yang menyebar ke seluruh pelosok negeri ini. Namun, keberadaan media sosial sebagai penunjang pendidikan digital ini dinilai tak berjalan berimbang dengan penerapan literasi digital dalam diri mahasiswa. Data pengukuran indeks literasi digital Indonesia pada tahun 2021 menemukan bahwa penerapan budaya digital (digital culture) berada pada skor 3.90, etika digital (digital etics)  berada pada skor 3.53, kecakapan digital (digital skill) barada pada skor 3.44 dan keamanan digital (digital safety) terpaut rendah pada skor 3.10. Data ini menunjukkan bahwa antara faktor kehadiran teknologi serta sistem yang bekerja di dalamnya berbanding terbalik dengan pengetahuan terbatas yang dimiliki oleh mahasiswa.  

Transformasi Pendidikan Mahasiswa dan Urgensi Filsafat Pendidikan

Pendidikan adalah akses menuju ruang publik. Pendidikan dilihat sebagai proses yang membebaskan manusia dari kurungan ketidaktahuan dengan membawa semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Keberagaman ilmu yang diperoleh oleh mahasiswa dalam suatu satuan pendidikan tinggi yang dibarengi oleh transformasi pendidikan dari perubahan pola pengajaran tatap muka (konvensional) ke pengajaran berbasis teknologi digital (online) sebenarnya memberi peluang bagi mahasiswa dalam membangun ide-ide konstruktif dan edukatif bagi pendidikan Bangsa Indonesia.

Menurut Agent of Change, mahasiswa adalah penggerak perguruan tinggi yang mampu mengubah arah, mengubah gagasan tertinggal menjadi maju, mengubah yang tidak berilmu menjadi berilmu dan perubahan-perubahan ideal lainnya. Dalam konteks ini, mahasiswa adalah mereka yang secara sadar memahami konteks dasar idealisme pendidikan serta sungguh-sungguh mengayomi sejarah dan tradisi filsafat pendidikan dari para bapa pendiri bangsa Indonesia.

Transformasi pendidikan mahasiswa dengan berpatokan pada filsafat pendidikan menarik suatu proses pendidikan konstruktif dengan pembelajaran yang bertumpu pada daya kritis, kreatif dan inovatif mahasiswa. Transformasi sikap kritis dan kreatif dalam diri mahasiswa terlihat dalam tulisan-tulisan bernada kritis yang membangun, sosialisasi massa yang inklusif terhadap perkembangan yang selalu dinamis. Selain itu, kajian filsafat pendidikan dalam penggunaan teknologi digital seperti media sosial menciptakan ruang bergerak proporsional dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, mahasiswa tidak hanya membaca konsep pendidikan hanya pada sebatas pengetahuan yang dihasilkan, tetapi lebih dari itu mengkaji sistem-sistem digital dengan efektivitas produksi dan konsumsi yang transparan dan akuntabel.

Kehadiran filsafat pendidikan dalam penerapan kurikulum MBKM menjadi akar dari suatu pembangunan pendidikan dengan membawa suatu transformasi cara pandang dan tindakan praktis yang diperbarui dan dievaluasi secara terus menerus. Bahwasanya transformasi pendidikan mahasiswa itu akan berjalan bersamaan dengan proses penyerapan teknologi digital dalam diri mahasiswa dengan situasi dan kondisi yang memungkinkan suatu perubahan terjadi. Transformasi pendidikan itu menjadi usaha kritis sekaligus adaptif mahasiswa dalam waktu dan ruang jangka panjang pendidikan kolektif suatu bangsa dan negara.

Transformasi pendidikan mahasiswa dengan kajian filsafat pendidikan mendorong daya pengolahan data mahasiswa dalam mengaplikasikan argumen-argumen yang membangun dan menopang kehidupan manusia Indonesia di setiap dimensi kehidupan. Filsafat pendidikan memberikan suatu informasi-informasi kritis dan filosofis yang mampu meningkatkan daya rangsang mahasiswa dalam melawan isu-isu sosial budaya, politik, ekonomi dan bidang pendidikan itu sendiri, khususnya yang mencederai program pembangunan yang sedang berjalan.

Lebih lanjut, kajian itu juga memberdayakan sistem literasi yang kritis, inovatif dan kreatif dalam memecahkan setiap persoalan kehidupan. Dalam konteks ini, literasi digital tidak hanya membuka ruang untuk menemukan beragam informasi tetapi juga menjadi media penyadaran mahasiswa dalam mengemukakan kebebasan ekspresi yang berpangkal pada realitas kehidupan teknologi itu sendiri. Mahasiswa mesti selalu berpikir dua langkah ke depan dibandingkan masyarakat umum agar kualitas pembangunan tidak berorientasi hanya pada kaum elite kekuasaan tetapi selalu berpihak pada kebijakan pendidikan yang mengedepankan keadilan dan hak-hak masyarakat lemah dan miskin.

Keberadaan mahasiswa dalam suatu kajian filsafat pendidikan menunjukkan dua opsi penentuan jalannya suatu penerapan kurikulum MBKM yang berlandaskan keadilan dan kebenaran obyektif. Mahasiswa yang lahir dan dibesarkan dalam kubangan situasi yang berbeda-beda mesti terintegrasi dalam suatu pembangunan pendidikan kolektif di perguruan tinggi. Kedisiplinan untuk berfilsafat akan mencapai klimaks bila persoalan-persoalan itu dipecahkan dalam suatu konsep pendidikan yang mengintegrasikan sekaligus memegang keteguhan atau kedisiplinan diri mahasiswa terhadap setiap program dalam MBKM. Satu permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam kurikulum MBKM mesti didekati, dianalisis, dan diselesaikan dari berbagai perspektif pendidikan secara terpadu-terintegrasi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//