MAHASISWA BERSUARA: Ketika Negara Membiarkan Perempuan Menjadi Tumbal Judi Online
Judi online bekerja dengan logika yang nyaris identik dengan colonial extractive economy: tubuh rakyat dijadikan sumber daya yang harus diperas tanpa henti.

Berlian Putri Maharani
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta
3 Februari 2026
BandungBergerak.id – “Hampura Mamah nya jalana kudu kieu, Mamah lewih rido ka Naraka daripada ninggal Aa Dede sangsara (Maafkan Mama ya jalannya harus begini, Mama lebih rela ke Neraka daripada melihat Aa dan Dede sengsara).” – Potongan surat wasiat EN (34 tahun), ditemukan di kamar kontrakannya di Kabupaten Bandung, 5 September 2025.
Bayangkan, Anda baru pulang dari kerja pada pukul 04.00 dini hari, lalu ketika sampai di rumah, Anda mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci dan saat diketuk pun tidak ada tanggapan. Lantas Anda mengintip ke dalam rumah untuk memeriksa kondisi, tetapi Anda malah menemukan tubuh istri Anda dalam keadaan menggantung kaku dengan leher terikat tali yang ditambatkan pada kusen pintu.
Hal itulah yang dialami oleh YS. Dalam kondisi histeris, ia berteriak minta tolong, dan berusaha mendobrak pintu rumah kontrakan yang baru dihuninya kurang dari satu tahun. Begitu pintu terbuka, pandangannya dikejutkan dengan tubuh dua putranya, AA (9 tahun) dan AAP (11 bulan), yang terbujur kaku tak bernyawa. Tidak hanya kehilangan istrinya, YS juga kehilangan anak-anaknya di hari yang sama.
Namun, sang istri pergi bukan tanpa pamit. EN meninggalkan sebuah surat wasiat bagi suaminya, bagi anak-anaknya, bagi ibunya, bagi ayahnya, bagi saudara-saudaranya; seluruh keluarganya. Dalam secarik kertas itulah EN mencurahkan seluruh perasaannya: lelah, kesal, malu, kecewa, penyesalan, serta sisa-sisa harapan yang saling beradu. Melalui pesannya, terungkaplah alasan mengapa EN memutuskan untuk mengakhiri hidup bersama anak-anaknya.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Pentingnya Pendidikan Literasi Keuangan untuk Membentengi Anak Muda dari Godaan Judi Online
MAHASISWA BERSUARA: Salah Menafsir Kodrat Perempuan
MAHASISWA BERSUARA: Selaput Dara dan Kuasa Sosial, Bagaimana Keperawanan Menjadi Instrumen Disiplin Tubuh Perempuan
Terjebak dalam Logika yang Terdistorsi
Apa yang tampak sebagai tragedi personal ini sebenarnya adalah puncak dari kegagalan sistemik yang lebih besar. Dalam surat wasiatnya, EN menulis bahwa ia merasa tertekan berkat kondisi ekonomi yang buruk: utang yang semakin hari semakin bertambah, terlebih ia tidak mengetahui utangnya kepada siapa saja, berapa jumlahnya, dan untuk keperluan apa. Ia juga mengalami kelelahan mental akibat suaminya memiliki banyak utang, sementara ia yang harus menanggung pengucilan, gunjingan, bahkan menjadi sasaran kebencian dari orang-orang yang ia tidak tahu pernah berbuat salah apa pada mereka.
Dalam suratnya, terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa EN merasa malu karena terus merepotkan orang tua dan kakak-kakaknya; seolah ia menganggap dirinya sebagai benalu, dan layaknya parasit pada umumnya, ia haruslah dibasmi. Selain itu, ia juga merasa bersalah lantaran memiliki anak-anak, yang sebab dirinya mengalami kesulitan finansial, anak-anaknya pun turut menderita karenanya. Kefrustrasian EN tercermin dalam surat terakhir yang ditinggalkannya.
Berita soal EN dan surat wasiatnya tersebar ke media sosial, memancing ratusan bahkan ribuan komentar yang beragam, dan banyak pula yang melemparkan curhatan spontan mengenai kondisi mereka yang ternyata tidak jauh berbeda dari EN. Dari sebuah postingan di Facebook yang turut menyebarkan berita EN, terdapat sebuah komentar: “Aku pernah berada di posisi ini …. Kadang orang-orang menyepelekan mental dan trauma, memang tidak terlihat, tetapi membunuh secara perlahan.” Sedangkan komentar lain:: “Ya Allah, semua terjadi karena pemimpin negara serakah, rakyat sampai bunuh diri bunuh anak karena hidup kekurangan.”
Komentar-komentar itu menyingkap bahwa EN bukan meninggal karena kelemahan individual, melainkan karena tubuh dan mentalnya sudah tidak sanggup menahan beban sistem yang dihasilkan dari keputusan politik. Michel Foucault (1926-1984) dalam teori tentang kuasa dan wacana menjelaskan bahwa kekuasaan modern tidak bekerja melalui penindasan fisik, tetapi melalui pembentukan “kebenaran” yang mengatur bagaimana kita hidup, berpikir, dan bahkan mati.
EN terjebak dalam setidaknya tiga wacana yang mematikan: pertama, wacana ibu ideal yang mendikte bahwa seorang ibu yang baik harus mengorbankan diri demi anak, apa pun harganya; kedua, wacana malu ekonomi yang membuat kemiskinan dipandang sebagai kegagalan moral individu alih-alih kegagalan negara; ketiga, wacana maskulinitas kepala keluarga yang meromantisasi kegagalan laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab akhir dari kehancuran rumah tangga. Ketika semua wacana ini bertemu, bunuh diri bukan lagi tindakan nekat, melainkan, dalam logika yang terdistorsi, menjadi pilihan paling rasional. Bukti paling kuat yang menunjukkan bahwa EN terimpit beban tanggung jawab yang diproduksi dari wacana-wacana tersebut terdapat dalam kalimat yang ditulis EN sendiri: “Mama lebih rela ke Neraka daripada melihat Aa dan Dede sengsara.”
Judi Online: Predator yang Dibiarkan Berkeliaran
Beban tanggung jawab moral yang dipikul EN tidak muncul tiba-tiba; bukanlah kesalahan individu semata. Dalam surat wasiatnya, segala amarah dan rasa muak EN tercurah pada utang yang dibawa oleh suaminya. Ia juga menulis bahwa suaminya terus-menerus menyakiti hatinya, membohonginya, dan tidak memiliki kesadaran untuk menarik EN keluar dari tekanan yang membuatnya kelelahan mental tersebut. “Punya suami malah terus-terusan berbohong dan berutang. SAYA SANGAT LELAH. Saya harap, jika saya dan anak-anak sudah meninggal, dia akan sadar. Jika tidak sadar pun tidak apa-apa, yang penting tidak menyengsarakan anak-anak saya,” tulis EN.
YS, suami EN, seakan menjadi penjahat dalam kasus ini. Terlebih, setelah adanya dugaan bahwa utang yang mengikat EN itu disebabkan oleh YS yang diterkam judi online. Namun, persoalannya menjadi tidak sesederhana itu ketika mengintip struktur yang berdiri di baliknya; bahwa YS sendiri bukan aktor yang lahir dengan kebiasaan berjudi. Ia hanyalah target pertama dari sistem ekonomi digital predatoris yang menancapkan taring-taringnya pada laki-laki kelas pekerja dengan iming-iming “rezeki instan” dan “kesempatan memperbaiki nasib”.
Judi online bekerja dengan logika yang nyaris identik dengan colonial extractive economy: tubuh rakyat dijadikan sumber daya yang harus diperas tanpa henti. Platformnya dirancang untuk mendorong kekalahan, iklannya dirancang untuk mengeksploitasi keputusasaan, algoritmanya dirancang untuk mempersonalisasi godaan. Hasilnya, PPATK mencatat ada 1.066.000 pemain judi online di Indonesia pada Januari-Maret 2025, dengan 71 persen pemain judi tersebut berasal dari golongan dengan penghasilan di bawah 5 juta per bulan, yang mana seharusnya uang penghasilan tersebut digunakan untuk kebutuhan lain-lain.
Dalam kasus ini, negara tidak hadir untuk menanganinya. Mereka membiarkan situs-situs judi online itu menebarkan jaring sampai ke sudut-sudut terkecil negara. Bahkan, situs jurnal ilmiah salah satu kampus di Jawa Tengah sempat beralih fungsi menjadi situs pengiklan judi online menjadi bukti jika predator digital itu telah menembus benteng yang seharusnya steril: institusi pendidikan. Inilah wujud nyata dari apa yang Foucault sebut sebagai kuasa produktif: negara tidak perlu melarang, cukup biarkan mekanisme pasar mengatur hidup-mati warganya.
Dengan struktur yang demikian, YS adalah korban yang dipasangi bom ekonomi, dan bom itu meledak di pangkuan istrinya. Ketika judi online menggerogoti psikologinya, merampas gajinya, merusak kapasitasnya untuk bertanggung jawab, beban sosial dan finansial yang dihasilkan tidak kembali kepada YS, melainkan kepada EN. Secara simbolik, ekonomi kriminal ini meminjam tangan laki-laki untuk menghukum perempuan. EN-lah yang harus berhadapan dengan debt collector, keluarga, tetangga, gunjingan, rasa malu, dan rasa bersalah. YS yang berjudi; EN yang disalahkan. YS yang kalah; EN yang harus mati.
Alih-alih menggunakan teknologi dan regulasi yang semestinya mampu menutup akses judi online, negara justru terkesan membiarkan judi tersebut tumbuh secara masif. Di sini, dalam kasus EN, ia tahu betul siapa pelaku langsungnya: suaminya. Namun, luapan emosinya bukan hanya diarahkan pada sang suami, melainkan pada beban yang lebih struktural, yang ia lampiaskan dengan kata-kata: “Saya sangat lelah.” Melalui suratnya, dapat dibaca secara tersirat bahwa EN sedang menjerit kepada negara tanpa menyebut nama negara.
Kematian yang Gagal Menjadi Pelajaran
Sayang beribu-ribu sayang, masih banyak orang gagal menangkap kebusukan struktural yang menjadi penyebab pengambilan keputusan EN untuk bunuh diri dan membawa kedua anaknya. Dari sebuah postingan Facebook yang membagikan berita kematian EN, tidak sedikit pula ditemukan komentar-komentar negatif yang justru menyalahkan EN alih-alih bersimpati apalagi berempati, menjadi bukti bahwa wacana dominan telah bekerja. Bukan karena masyarakat bodoh, tetapi karena wacana tersebut sudah dianggap sebagai kebenaran.
Antonio Gramsci (1891-1937) mengemukakan bahwa hegemoni merupakan cara kelas penguasa mempertahankan dominasi bukan melalui paksaan, tetapi melalui pembentukan “konsensus”, yang di sini merupakan persetujuan dari masyarakat terhadap apa yang dianggap “wajar” dan “benar”. Komentar-komentar yang menyalahkan EN tersebut mengukuhkan konsensus beracun bahwa masalah struktural harus diselesaikan dengan solusi individual dan bahwa perempuan harus sempurna dalam menanggung beban. Setiap kali kita menyalahkan EN. kita sedang menjadi ujung tombak dari wacana-wacana yang sama seperti wacana yang telah membunuhnya.
Lebih ironis lagi, komentar yang menyarankan EN untuk meninggalkan suaminya justru mengabaikan realitas bahwa EN telah menulis perasaannya dengan jelas: “Saya malu dan kasihan selalu menyusahkan kakak-kakak dan orang tua.” EN telah terjebak dalam wacana bahwa menjadi “benalu” adalah aib yang lebih besar daripada mati. Di sinilah kuasa wacana Foucault memperlihatkan aksinya yang paling kejam: tidak hanya membuat masyarakat membiarkan sistem yang mematikan itu hidup dan mereka aktif mengukuhkan sistem tersebut dengan menyalahkan korban, tetapi kepala korban pun turut menyalahkan dirinya berkali-kali.
Di sini dapat ditemukan bahwa masih banyak yang tidak melihat kematian EN sebagai alarm sosial, tetapi sebagai pelajaran moral untuk menertibkan perempuan lain: “ibu tidak boleh gagal”, “ibu tidak boleh lemah”, “ibu harus menanggung semuanya”, “ibu yang menyerah pantas dihukum”. EN mati dan masyarakat menggunakan tubuhnya sebagai papan peringatan agar perempuan lain tetap patuh pada penderitaan.
Padahal tragedi EN seharusnya menjadi pemantik untuk bertanya: mengapa seorang ibu bisa merasa lebih “rida ke Neraka” daripada hidup di negara ini? Mengapa utang digital bisa menjelma kejahatan domestik tanpa campur tangan aparat? Mengapa garis patahan ekonomi selalu berujung pada tubuh perempuan?
Namun, pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam oleh moralitas instan yang menuntut empati nol dan penghakiman maksimal. Padahal, selama kita masih sibuk menghakimi korban, negara akan terus terbebas dari tanggung jawab, dan judi online akan tetap tumbuh; utang digital akan tetap menjebak; perempuan akan tetap dihantui rasa malu, dan tragedi EN akan berulang dengan nama yang berbeda. Lantas, sebelum ada “mama” lain yang menulis surat wasiat, sudah sejauh mana kita meminta pertanggungjawaban negara? Sudah sejauh apa kita menolak wacana bahwa perempuan harus jadi tumbal?
Karena jika kita diam hari ini, kita mungkin sedang menyiapkan kuburan untuk “mama” lainnya di kemudian hari.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

