• Kolom
  • CERITA GURU: Pendidikan Karakter yang Teruji di Ruang Nyata

CERITA GURU: Pendidikan Karakter yang Teruji di Ruang Nyata

Pendidikan karakter sering kali berhenti pada teks dan teori, tanpa keteladanan yang nyata.

Insan Faisal Ibrahim

Guru di salah satu Madrasah Swasta di Kabupaten Garut Jawa Barat

Ilustrasi guru. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

4 Februari 2026


BandungBergerak.id – Viralnya pemberitaan tentang dugaan pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah siswa terhadap seorang guru telah mengguncang ruang publik. Media sosial dipenuhi potongan video, narasi sepihak, dan opini yang saling berseberangan. Dalam waktu singkat, peristiwa tersebut tidak lagi sekadar menjadi kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, tetapi berubah menjadi ajang saling menyalahkan. Ada yang berdiri di barisan membela guru dan mengecam lunturnya adab peserta didik, namun tak sedikit pula yang justru menyoroti sikap pendidik yang dianggap memicu konflik. Di tengah simpang siurnya informasi, satu hal yang tak bisa dibantah adalah bahwa kejadian ini menjadi cermin buram kondisi pendidikan kita hari ini.

Peristiwa kekerasan di sekolah, apalagi yang melibatkan guru sebagai korban, sejatinya bukan hanya persoalan individu. Ia adalah puncak dari akumulasi berbagai persoalan yang selama ini mungkin diabaikan. Relasi antara guru dan siswa yang semestinya dibangun atas dasar saling menghormati, kepercayaan, dan keteladanan, perlahan mengalami pergeseran. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan bertumbuh, justru kerap berubah menjadi tempat terjadinya ketegangan emosional, bahkan kekerasan.

Di satu sisi, guru adalah sosok yang memikul tanggung jawab besar dalam mendidik dan membentuk karakter generasi muda. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai, etika, dan adab. Ketika seorang guru mengalami kekerasan dari siswanya, publik wajar merasa prihatin dan marah. Banyak yang menilai kejadian tersebut sebagai bukti merosotnya moral peserta didik dan hilangnya rasa hormat terhadap guru. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, sebab adab terhadap pendidik adalah fondasi penting dalam tradisi pendidikan bangsa ini.

Namun di sisi lain, ada pula suara yang mengingatkan bahwa guru juga manusia. Guru tidak luput dari kesalahan, kelelahan emosional, atau pendekatan yang mungkin kurang tepat. Dalam beberapa kasus, relasi yang tidak sehat antara guru dan siswa dapat berakar dari komunikasi yang buruk, metode disiplin yang keliru, atau minimnya empati terhadap kondisi psikologis peserta didik. Membenarkan kekerasan tentu tidak bisa diterima, tetapi menutup mata terhadap kemungkinan adanya masalah dalam pola pengasuhan dan pendidikan juga bukan sikap bijak.

Inilah titik penting yang sering luput dalam perdebatan publik. Fokus kita terlalu cepat tertuju pada siapa yang salah dan siapa yang benar, padahal persoalan sesungguhnya jauh lebih kompleks. Kasus ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi bersama, bukan hanya bagi siswa dan guru, tetapi juga bagi orang tua, sekolah, dan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Baca Juga: CERITA GURU: Anak Bukan Investasi Orang Tua
CERITA GURU: Dari Katanya ke Berdasarkan Sumber, Menerapkan Metode Jurnalistik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
CERITA GURU: Cara Bell Hooks Menggugat Mekanisasi Pendidikan

Pendidikan Karakter

Nilai-nilai moral dan adab yang selama ini digaungkan dalam slogan dan kurikulum, tampaknya belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian. Pendidikan karakter sering kali berhenti pada teks dan teori, tanpa keteladanan yang nyata. Siswa dituntut bersikap sopan dan beretika, tetapi di saat yang sama mereka menyaksikan contoh kekerasan verbal di lingkungan sekitar, baik di rumah, media sosial, maupun ruang publik. Ketidaksinkronan ini menimbulkan kebingungan nilai yang pada akhirnya bermuara pada perilaku menyimpang.

Begitu pula dengan guru. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut pendidik untuk terus beradaptasi. Pendekatan otoriter yang dahulu dianggap wajar, kini sering kali justru memicu perlawanan. Guru dituntut tidak hanya tegas, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang humanis dan dialogis. Keteladanan sikap, pengendalian emosi, serta kepekaan terhadap kondisi siswa menjadi kunci penting dalam menjaga iklim belajar yang sehat.

Peristiwa pengeroyokan yang melibatkan siswa dan guru tersebut, seberat apa pun dampaknya, semestinya dipahami sebagai sinyal kuat bahwa ada ketidakseimbangan yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan. Bukan hanya pada perilaku individu, tetapi pada cara sistem membentuk karakter, mengelola emosi, dan membangun relasi antarmanusia di ruang belajar. Sekolah perlu menghadirkan pendidikan nilai yang hidup dalam keseharian, tercermin dalam budaya, keteladanan, dan cara menyelesaikan konflik. Di saat yang sama, keluarga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab pembentukan adab kepada sekolah, karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Dukungan negara pun menjadi krusial, tidak hanya dalam bentuk regulasi, tetapi juga pendampingan berkelanjutan agar guru mampu menjalankan perannya secara aman, bermartabat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar soal transfer ilmu, tetapi tentang membangun manusia seutuhnya. Guru dan siswa bukanlah dua kutub yang saling berhadapan, melainkan mitra dalam proses belajar. Ketika kekerasan terjadi, itu menandakan ada nilai yang hilang dan hubungan yang retak. Maka, alih-alih larut dalam perdebatan dan penghakiman, sudah saatnya kita bersama-sama mengembalikan ruh pendidikan yang beradab, berempati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//