• Kolom
  • CERITA GURU: Cara Bell Hooks Menggugat Mekanisasi Pendidikan

CERITA GURU: Cara Bell Hooks Menggugat Mekanisasi Pendidikan

Bell Hooks menggugat berbagai macam teknik mengajar mekanistis yang menjadikan guru sebagai sebuah mesin pengolah data kurikulum.

Laila Nursaliha

Desainer Kurikulum. Berminat pada Kajian Curriculum Studies, Sains dan Teknologi pendidikan, serta Pendidikan Guru.

Ilustrasi guru. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

28 Januari 2026


BandungBergerak.id – Hampir satu bulan semester genap dilalui. Belum ada tanda-tanda ketenangan pikiran untuk menemani anak-anak belajar. Pikiran-pikiran ini masih bercabang dengan setumpuk laporan keuangan sekolah kepada dinas. Tak kunjung selesai, karena menyesuaikan dengan selera pejabat. Hari ini begini, esok berganti lagi begitu. Kalau begini caranya, sepertinya pekerjaannya tak akan selesai.

Tak kalah mengejutkan, pembukaan semester genap ini disibukkan dengan persiapan-persiapan lomba. Sebenarnya, cukup mengganggu proses pembelajaran. Hanya saja, kita tetap perlu berpartisipasi dalam lomba-lomba itu. Kemudian kita akan disibukkan dengan berbagai macam kegiatan persiapan yang menyatu dengan ambisi guru dan orang tua.

Ada sesuatu yang lelap sekaligus hilang dalam deru mesin pendidikan kita yang kian mekanis. Ruh. Meskipun mesin dan berbagai macam peraturan teknis bisa memproduksi informasi secara presisi, namun hanya manusia yang mampu menghadirkan perjumpaan bermakna sekaligus menyentuh hati. Keresahan inilah yang membawa saya

Akhir tahun kemarin, saya menantang diri sendiri untuk ikut terlibat dalam kegiatan Henry Giroux Studies. Sebuah pembahasan buku per chapter berjudul Teaching to Transgress yang ditulis oleh Bell Hooks. Saya bersama Dimas Wira membahas bagian Eros erotisme, dan proses pedagogis.

Melalui bagian tersebut, Bell Hooks mencoba untuk menggugat berbagai macam teknik mengajar yang mekanistis itu. Ia juga merasakan banyak profesornya yang jarang membahas tentang kedirian alih-alih membahas tentang pengetahuan yang membahas tentang berbagai macam. Namun mengabaikan tentang hasrat dan berbagai kecurigaan tentang emosi yang dirasa mengganggu. Membaca kegelisahan Hooks beberapa dasawarsa lalu, saya seperti masih berhubungan dan relate dengan kondisi pendidikan di saat ini.

Baca Juga: CERITA GURU: Educationalization, Catatan Pendidikan Tahun 2025
CERITA GURU: Anak Bukan Investasi Orang Tua
CERITA GURU: Dari Katanya ke Berdasarkan Sumber, Menerapkan Metode Jurnalistik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Tubuh Guru yang Terasing

Dalam tradisi Cartesian, yang bersumber dari falsafah Barat, ada semacam pemisahan antara pikiran dan tubuh. Hooks memberikan analisis ini sebagai masalah yang mengakar dalam hubungan guru dan murid. Pemisahan ini menjelma menjadi dinding kaca yang tebal. Seolah-olah guru sudah merasakan keberadaan dirinya, namun yang terjadi adalah sebuah pemisahan.

Cara pandang ini adalah warisan dari tradisi Barat yang selalu melihat semesta dengan kacamata hitam dan putih. Dalam logika ini, selalu ada hierarki di mana satu kutub lebih superior daripada yang lain: maskulin di atas feminin, rasio di atas emosi. Logika inilah yang melahirkan sebuah diskursus mind and body problem. Barat juga memandang bahwa pikiran jauh lebih mulia daripada tubuh. Akibatnya, segala sesuatu yang dibangun di atas landasan rasio murni, termasuk dalam mendefinisikan bagaimana pengetahuan yang dianggap “absah” itu didapatkan.

Selama ini, kita dipaksa percaya bahwa pengetahuan hanya bisa lahir dari sesuatu yang dinilai objektif menurut ukuran Barat, yakni yang murni berdasarkan pikiran. Bahkan standar objektif menafikan unsur-unsur manusia yang menjadi subjek di mana pikiran itu lahir. Implikasinya di ruang kelas menjadi dingin. Objektivitas selalu dinisbahkan dengan adanya jarak, yang sengaja meniadakan unsur manusia atau subjek. Guru dituntut menjadi sosok yang netral, berjarak, dan mekanis.

Hooks bercerita tentang kenangannya dalam menghadiri berbagai macam kelas profesor. Tak ada ingatan yang ada yang mengaitkan dengan keberadaan dirinya. Bisa dikatakan, guru dipaksa untuk hadir hanya sebagai “pikiran yang berjalan” atau juga disebut sebagai sebuah mesin pengolah data kurikulum. Semuanya adalah urusan teknis. Sementara tubuh dan jiwanya dianggap sebagai gangguan bagi objektivitas pendidikan.

Masalah utama dari pemisahan ini adalah alienasi atau keterasingan. Ketika sistem pendidikan menuntut guru untuk tampil “profesional” dengan cara menanggalkan emosi, kelelahan, dan kegelisahan pribadinya. Bahkan, Freire sebenarnya sudah menyinggung dalam bukunya Pendidik sebagai Pekerja Budaya, guru sudah semestinya mengajarkan mengenai kerentanan dirinya kepada murid-muridnya.

Penyangkalan terhadap tubuh ini pada akhirnya menciptakan alienasi. Bahkan semacam terasing dari tubuhnya sendiri. Ia terjebak dan berjarak dari siswa dan intelektual. Guru terjebak menjadi operator kurikulum dan berbagai tugas tambahan yang menjerat bahkan tak memiliki hubungan dengan tupoksi sebagai guru.

Menghadirkan Kedirian di dalam Kelas

Jika tembok alienasi telah membuat guru merasa asing dari tubuhnya sendiri, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita menghadirkan lagi diri di dalam ruang kelas?

Semenjak pendidikan dijadikan sebuah profesi yang mensyaratkan objektivitas, diri dianggap tidak memiliki sesuatu hal yang berharga. Dalam kerangka ini, yang berharga di dalam kelas adalah pengetahuan itu sendiri. Disampaikan oleh guru di dalam kelas dan diterima secara pasif oleh murid. Namun, Hooks membongkar bahwa di balik kedok objektivitas itu, terdapat konstruksi gender yang timpang.

Sistem yang mengagungkan akal dan pikiran sebagai satu-satunya cara belajar adalah produk dari konstruksi maskulinitas yang dominan. Sebaliknya, perspektif feminin melihat belajar sebagai proses yang menyeluruh melalui tubuh. Bagi Hooks, belajar adalah pengalaman yang dialami, bukan sekadar teori yang dihafal. Maka, berdasarkan pengalaman yang ia alami dalam kelas dan konteks universitas, ia menawarkan satu pendekatan baru bernama pedagogi feminis.

Pendekatan ini tidak lagi memisahkan antara tubuh dan pikiran. Sebaliknya, ia mengajak pengajar untuk mulai merasakan kembali berbagai macam kehendak tubuh dan emosi. Di sinilah Eros–gairah hidup dan energi kreatif–bisa hadir di dalam kelas tanpa perlu lagi disangkal. Menghadirkan Eros berarti mengizinkan gairah untuk menyulut api dialog, membuat kelas menjadi ruang yang berdenyut, di mana guru dan murid hadir sebagai manusia yang utuh.

Pendidikan feminis untuk kesadaran kritis, sebagaimana ditegaskan Hooks, berakar pada asumsi bahwa pengetahuan dan pemikiran kritis yang dilakukan di kelas harus membentuk kebiasaan dan cara hidup kita di luar kelas. Artinya, kehadiran diri guru bukan hanya soal kenyamanan pribadi, melainkan sebuah tindakan politis untuk menunjukkan pada murid bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah terpisah dari realitas hidup dan perjuangan manusia.

Membedah pemikiran Hooks di akhir tahun 2025 adalah upaya untuk menemukan oase. Di tengah kering kerontangnya padang gurun pendidikan dan mengawal rutinitas yang cukup melelahkan. Menghadirkan kedirian dan koneksi terhadap diri sendiri di ruang kelas adalah salah satu bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus nyaring.

Kita perlu menyadari menjadi guru profesional bukan berarti harus memisahkan antara urusan pengetahuan dan urusan tubuh. Menjadi guru adalah membawa gairah jiwa dan menyebarkannya di ruang kelas. Setelah guru memiliki keutuhan, ia mampu memerdekakan pikiran muridnya. Seperti pesan Hooks, ruang kelas adalah tempat paling radikal untuk melakukan perubahan.

Malam itu, diskusi kami tutup dengan kesadaran dan terlebih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Tugas guru bukan hanya melakukan transfer pengetahuan namun juga menghadirkan jiwa, memahami dirinya sendiri, hingga memberikan pelajaran tanpa kehilangan diri.

 

***

*Kawan-kawan dapat menikmati tulisan-tulisan lain Laila Nursaliha, atau membaca artikel-artikel lain tentang Cerita Guru

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//