• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Merawat Gagasan Kritis di Tengah Otoritas yang Mabuk Dividen Tambang

MAHASISWA BERSUARA: Merawat Gagasan Kritis di Tengah Otoritas yang Mabuk Dividen Tambang

Jangan biarkan imanmu dijinakkan menjadi sekadar pelumas mesin keruk konsesi tambang atau mantra penenang yang diputar saat air bah menyapu masa depanmu.

Khairul Fadli Rambe

Mahasiswa Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Surau Konstitusi.

Ilustrasi. Eksploitasi alam berlebihan akan memperbesar potensi terjadinya bencana. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

4 Februari 2026


BandungBergerak.id Dosa yang paling mematikan di zaman kita adalah ketidakpedulian terhadap penderitaan bumi, yang seringkali disembunyikan di balik jubah kesalehan ritual — Paus Fransiskus

Tak terasa, perlahan-lahan ada sesuatu yang luruhkan duka, bukan sekadar tanah di lereng Bukit Barisan yang longsor menyapu harapan, melainkan sebuah kepercayaan yang kian retak. Di balik riuh doa-doa yang melambung ke langit, terselip sebuah tanya yang sengaja dibungkam oleh wibawa jubah-jubah suci.

Kita menanti tangan yang terulur untuk membasuh luka bumi, namun yang kita temukan hanyalah punggung yang berbalik arah menuju ruang-ruang rapat tertutup. Seolah-olah, ada kesepakatan gelap antara mereka yang memegang kunci surga dengan mereka yang menggali lubang di perut bumi. Mengapa ketika alam berteriak kesakitan, suara dari mimbar justru terdengar begitu asing dan menjauh? Apakah Tuhan memang sedang menguji kita dengan bencana, ataukah kita sedang menyaksikan kematian empati di balik benteng otoritas yang kian mengeras?

Sungguh sebuah pencapaian luar biasa bagi peradaban kita, di mana langit kini tak lagi biru melainkan abu-abu pekat hasil kolaborasi maut antara asap industri dan napas bumi yang kian sesak. Di tengah carut-marut itu, kita hidup di zaman yang katanya demokratis, yang katanya transparansi adalah panglima, dan yang katanya suara rakyat adalah titah keramat, namun nyatanya suara itu tenggelam oleh deru mesin ekskavator yang merobek jantung hutan Sumatra.

Riset Auriga Nusantara dan Earthsight dari citra satelit menunjukkan pembabatan hutan merupakan pemicu dari kerusakan ekologis sampai petaka banjir gelondongan tersebut. Mengutip Kompas.id, 3 Desember 2025, bahwa tanah longsor dan banjir bandang yang melanda sebagian Sumatra menjadi peringatan tentang perlunya pembenahan sejumlah kegiatan ekonomi ekstraktif di wilayah tersebut. Sebab, kemajuan yang terus-menerus bertumpu pada eksploitasi alam memiliki kecenderungan mendegradasi kualitas lingkungan. Alih-alih menyejahterakan, tak jarang kemajuan itu justru harus mengancam keselamatan masyarakat sekitarnya.

Pertunjukan nyata ini menggambarkan bahwa krisis iklim telah berubah menjadi sekadar latar belakang estetik bagi foto-foto bencana, sementara ketimpangan sosial dirayakan sebagai seni bertahan hidup bagi mereka yang dipaksa kenyang hanya dengan menelan janji. Di Sumatra, lumpur dan air bah hanyalah tamu tahunan yang datang tanpa diundang, namun anehnya, kita masih saja terkejut seolah-olah alam sedang melakukan aksi sulap yang tidak kita duga sebelumnya.

Di tengah kepungan air bah dan tanah yang rontok itu, terdapat kejadian yang lebih fenomenal lagi, yaitu para pemegang kunci surga tampak sedang sangat sibuk–bukan untuk menambal tanggul yang jebol, melainkan sibuk menghitung berapa banyak kaveling di akhirat yang bisa ditukar dengan konsesi tambang di dunia. Pasal 28 ayat (1) Peraturan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2025 tanggal 14 November 2025 menyebutkan bahwa organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan dapat mengajukan WIUP mineral logam dengan luasan maksimal 25.000 hektare dan WIUP batu bara maksimal 15.000 hektare. Sungguh sebuah mukjizat modern; otoritas keagamaan kita telah berhasil mengubah mimbar yang suci menjadi kantor pemasaran properti surgawi, sambil memastikan tangan mereka tetap bersih dari lumpur bencana namun kotor oleh debu batu bara. Alih-alih menjadi kompas moral yang menunjuk arah keadilan, mereka lebih mirip makelar yang menawarkan paket eskapisme: abaikanlah penderitaan di bumi, sebab investasi di langit jauh lebih menjanjikan. Agama kini tidak lagi menjadi obat bagi luka sosial, melainkan parfum yang digunakan untuk mengharumkan bau amis keserakahan kekuasaan yang mereka peluk erat di balik jubah-jubah megah.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Penanggulangan Bencana Berperspektif Gender dan HAM
MAHASISWA BERSUARA: Bencana Alam dan Logika Busuk yang Tampak Waras
MAHASISWA BERSUARA: Ekologi yang Dikorbankan Atas Nama Pembangunan dan Demokrasi yang Ditinggalkan

Kontradiksi Iman dan Realitas

Ketika Sumatra tenggelam dalam lumpur dan air mata, otoritas kita justru sibuk mementaskan pertunjukan spiritual yang sangat praktis: menunjuk langit. Adalah sebuah kemudahan yang luar biasa untuk melabeli gundulnya hutan dan rakusnya korporasi sebagai “ujian Tuhan”, sebuah narasi yang kian diperparah oleh pernyataan seorang politikus yang terafiliasi dengan organisasi masyarakat sebesar Nahdlatul Ulama (NU). Alih-alih menunjuk hidung para perusak lingkungan, ia justru menyerukan taubatan nasuha massal atas bencana yang melanda Sumatra–sebuah pernyataan yang dikutip dari Detiknews.com, Rabu, 3 Desember 2025. Perangai para pemangku otoritas ini sungguh sebuah komedi gelap; mereka berhasil mengubah kejahatan ekologis yang sistemik menjadi sekadar urusan dosa pribadi antara hamba dengan penciptanya. Dengan memaksa rakyat bersujud meminta ampun atas kerusakan yang tak mereka perbuat, para pemegang otoritas ini memastikan para pelaku eksploitasi alam tetap bisa tidur nyenyak di balik perlindungan doa-doa yang salah alamat.

Agama kini telah bermetamorfosis menjadi biro perjalanan menuju akhirat yang sangat agresif dalam pemasaran, namun buta terhadap realitas di depan mata. Kita dipaksa sibuk menghitung pahala lewat ritual-ritual mekanis yang kering, seolah-olah Tuhan adalah akuntan yang hanya peduli pada angka, bukan pada bagaimana kita memperlakukan bumi. Fokus berlebihan pada "kehidupan setelah mati" ini telah menjadi obat bius yang efektif untuk mengabaikan tanggung jawab etis di dunia; kita diajarkan cara mengetuk pintu surga, tapi dibiarkan tak tahu malu saat membiarkan rumah kita sendiri–bumi–hancur berantakan.

Sungguh sebuah mukjizat modern melihat tangan yang biasa menengadah meminta berkah, kini begitu lihai menggenggam izin konsesi tambang. Bagaimana mungkin sebuah institusi bisa berkhotbah tentang "menjaga titipan Tuhan" sembari ikut memeras isi perut bumi demi keuntungan dividen? Konflik kepentingan ini menciptakan keheningan yang sangat mahal; otoritas agama tak mungkin lagi bisa mengkritik debu dan kerusakan, sebab mulut mereka telah tersumpal oleh emas dan batubara yang mereka gali sendiri. Jubah suci kini tak lagi berfungsi sebagai pelindung kaum tertindas, melainkan sebagai seragam korporasi baru yang kebetulan punya terminologi teologis.

Padahal, doktrin agama adalah bahan bakar massal yang sanggup menggerakkan gunung jika diarahkan dengan benar. Bayangkan jika semangat membela "kemurnian ajaran" dialihkan untuk membela kemurnian mata air, atau jika ketakutan akan neraka disamakan dengan ketakutan akan kehancuran ekologi. Namun sayangnya, kekuatan raksasa ini justru dipasung hanya untuk memoles ego golongan dan mempertajam sekat "kita vs. mereka”. Doktrin yang seharusnya menjadi pisau untuk membedah ketidakadilan, kini tumpul di tangan otoritas yang lebih memilih memanjakan kelompoknya sendiri ketimbang menyelamatkan kemanusiaan yang sedang sekarat.

Mencari Tuhan dalam Jernih Mata Air, Bukan Dividen Batu Bara

Sungguh sebuah kedermawanan yang mengharukan dari generasi tua: mereka dengan rajin mewariskan kita sertifikat kaveling di surga, sembari meninggalkan lubang tambang dan hutan gundul di bumi untuk kita huni. Anak muda hari ini dipaksa menjadi kurator atas "museum kehancuran" yang mereka labeli sebagai pembangunan ekonomi. Jika hari ini orang muda tidak berani menggugat kursi-kursi empuk otoritas yang sedang asyik bertransaksi masa depan, maka besok kita hanya akan mewarisi doa-doa tanpa air bersih dan kitab suci di tengah kepungan banjir. Sebab pada akhirnya, yang akan tenggelam dalam lumpur Sumatra bukanlah mereka yang hari ini membuat kebijakan, melainkan kita yang dipaksa memanen badainya.

Sudah saatnya kita berhenti memelihara agama yang hanya pandai berdandan di depan cermin ritual, namun mendadak bisu saat melihat alat berat mencabik paru-paru bumi. Kita membutuhkan sebuah "Eko-teologi"–keberagamaan yang tidak hanya sibuk mewangikan mayat, tapi juga berani menghalau tangan-tangan serakah yang sedang membunuh kehidupan. Tuhan tidak butuh dibela dengan demonstrasi di jalanan, tapi bumi yang Ia titipkan butuh dibela dari otoritas yang lebih mencintai dividen tambang daripada ayat-ayat tentang kelestarian. Jika sebuah keyakinan tidak mampu membuat penganutnya marah melihat ketidakadilan ekologi, mungkin itu bukan lagi agama, melainkan sekadar aksesori politik yang kebetulan berbau dupa.

Kini pilihannya ada di tangan kita: tetap menjadi penonton setia di barisan depan "teater kesalehan" yang dipentaskan para otoritas, atau mulai membakar rasa nyaman di kursi-kursi doktrin yang membuat kita tumpul. Sungguh naif jika kita terus menadahkan tangan meminta hujan keberkahan, sementara di saat yang sama kita membiarkan para pemegang otoritas menjabat erat tangan para perusak hutan demi segepok dividen. Jangan biarkan imanmu dijinakkan menjadi sekadar pelumas mesin keruk konsesi tambang atau mantra penenang yang diputar saat air bah menyapu masa depanmu. Sebab, kesalehan sejati tidak diukur dari seberapa fasih lidahmu merapal doa di dalam rumah ibadah yang megah, melainkan dari seberapa berani engkau berdiri tegak menghalau ekskavator yang sedang merobek paru-paru bumi titipan Tuhan ini.

Sudah saatnya kita berhenti mengamini narasi "takdir" yang sengaja dikonstruksi untuk mencuci tangan para pendosa sosiopolitik. Mari kita bangun sebuah keberagamaan yang tidak hanya sibuk mewangikan mayat, tetapi sebuah agama yang bernapas, yang marah melihat ketidakadilan, dan yang berani menukar aroma dupa dengan bau keringat perjuangan di garis depan pelestarian. Jika para pemegang otoritas lebih memilih menjadi makelar kaveling surga, maka biarlah orang muda menjadi “nabi-nabi baru” bagi kelestarian alam; mereka yang menemukan Tuhan bukan dalam angka-angka saham batu bara, melainkan dalam jernihnya mata air dan rimbunnya hutan yang terjaga. Sebab pada akhirnya, Tuhan jauh lebih mudah ditemukan dalam jeritan alam yang meminta tolong dan dalam gugatan anak muda yang gelisah, daripada dalam retorika manis para pengurus otoritas yang sedang sibuk menghitung dividen di atas penderitaan rakyatnya sendiri. Sudah saatnya kita berhenti mengamini kehancuran demi label kesalehan yang palsu.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//