• Narasi
  • Keberadaan Ayam Kampung yang Kian Terdesak

Keberadaan Ayam Kampung yang Kian Terdesak

Berbagai ras ayam kampung dibudidayakan penduduk perdesaan secara tradisional dengan pengetahuan lokal yang berkelindan dengan tradisi, seperti kepercayaan.

Johan Iskandar

Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)

Sepasang ayam kampung di pekarangan pedesaan. (Foto: Johan Iskandar)

8 Februari 2026


BandungBergerak.id – Dalam beberapa dasawarsa terakhir, menjelang, dan akhir bulan Ramadan di tanah air kita kerap terjadi krisis pangan, seperti melonjaknya harga daging, sehingga pemerintah perlu mengimpor daging dengan jumlah sangat besar dari negara lain. Hal tersebut antara lain karena permintaan penduduk pada sumber pangan berupa daging meningkat drastis. Sementara pasokan dari dalam negeri sangat terbatas. Dewasa ini, sebagian masyarakat di tanah air termasuk di perdesaan tatar Sunda, kian tergantung pada ketersediaan di pasar untuk memenuhi kebutuhan daging.  Padahal, penduduk perdesaan di tanah air kita di masa-masa lalu, seperti di tatar Sunda, memenuhi berbagai kebutuhan daging ataupun ikan sehari-hari dalam keluarga ataupun untuk keperluan berbagai hajatan, seperti hari raya Idulfitri, biasa mendapatkannya dari hasil usaha keluarga selain membeli dari pasar.  Di masa lalu penduduk perdesaan masih guyub memelihara ikan di kolam pekarangan (Iskandar,2026), ataupun memelihara ternak ayam. Memelihara ayam-ayam lokal (ayam kampung), sangat umum dilakukan oleh penduduk perdesaan di tatar Sunda.

Baca Juga: Cara Masyarakat Jepang Senantiasa Siaga Menghadapi Bencana
Mengapa Pohon Kawung Menjadi Kunci Budaya Penduduk Perdesaan di Tatar Sunda?
Ketika Kolam Pekarangan Urang Sunda Kian Menyusut

Keanekaragaman dan Budidaya Ayam

Suatu keunikan sistem pekarangan Urang Sunda, selain dilengkapi oleh kolam untuk memelihara jenis-jenis ikan, di antaranya juga biasa diintegrasikan dengan memelihara ayam lokal atau ayam kampung.  Pada masa lalu, sejatinya hampir setiap keluarga di perdesaan tatar Sunda memiliki peliharaan anekaragam ayam kampung dengan berbagai ras, variasi, atau galur.

Penduduk perdesaan biasanya mengklasifikasikan (folk classification) anekaragam ayam kampung (hayam kampung atau hayam lembur), di antaranya berdasarkan warna bulu, ukuran tubuh, kekhasan jengger serta bulu, bentuk ekor, keberanian dalam beradu, serta berdasarkan kokokan ayam jantannya.

Ditilik dari warna bulu, misalnya, dikenal anekaragam rasa ayam, seperti ayam bulu hitam (hayam hideung), ayam bulu merah (hayam beureum), ayam bulu putih (hayam bodas), ayam bulu coklat muda atau krem warna bulu jalak (hayam bulu jalak), ayam bulu dengan tiap lembarnya campuran putih dan hitam  (hayam rénggé), ayam warna hitam atau merah dengan bintik-bintik putih (hayam borontok).

Berdasarkan ukuran tubuh ayam,  dikenal ras ayam dengan kukuran tubuh biasa (tubuh normal) dan ayam dengan ukuran pendek (hayam katé). Dikenal pula variasi ayam dengan memiliki kulit dan jengger, serta bulu tubuhnya berwarna hitam legam  (hayam camani). Selain itu, ras ayam  dapat dibedakan atas bentuk ekornya, yaitu ayam yang memiliki bulu ekor normal atau biasa, dan ada ayam yang tidak memiliki bulu atau buntung (hayam tukung). Tidak hanya itu, ayam  jantannya dapat dibedakan atas kekhasan keberanian dalam beradu (hayam adu) dan ayam jantan yang kurang berani beradu, serta ayam yang lebih kerap ditemukan di saung lesung biasa disebut hayam lisung. Sementara berdasarkan kokokan ayam jantannya, dapat dibedakan ada ayam jantan kokokan biasa, dan ayam yang memiliki suara kokokan khas, merdu, melengking, dan keras terdiri dari dua nada serta sangat panjang (hayam pelung, hayam beskisar).

Berdasarkan hasil studi tentang pengetahuan lokal penduduk mengenai ayam (ethnozoology) di Desa Karangwangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,  telah dapat didokumentasikan sekurangnya 8 ras ayam, yaitu hayam aduan, hayam Bangkok, ayam camani, hayam lisung, hayam ketawa, hayam katé, hayam tukung, dan hayam pelung  (Tabel).

Nama lokal

Nama Indonesia

Karakteristik

Hayam aduan

Ayam aduan

Ayam jantannya memiliki keahlian khusus untuk beradu. Memiliki otot yang kuat dan leher yang lebih panjang

Hayam Bangkok

Ayam Bangkok

Ayam jantannya memiliki keahlian khusus untuk beradu. Memiliki tubuh yang lebih kuat dan lebih besar daripada Ayam aduan

Hayam Cemani

Ayam Cemani

Memiliki kulit, jengger, darah, daging, tulang serta bulu berwarna hitam

Hayam Kampung/Hayam Lisung

Ayam Kampung/Ayam Lisung

Hidup dan berkeliaran di kampung/perdesaan. Kegemarannya mencari makan berupa beras-beras yang tercecer di tempat menumbuk padi di lesung (lisung)

Hayam Ketawa

Ayam Ketawa

Suara kokokannya tedengar seperti orang tertawa

Hayam Katé

Ayam Katé

Memiliki ukuran tubuh lebih kecil dan pendek dibandingkan dengan ras yam lain

Hayam tukung

Ayam Tukung

Tidak memiliki ekor. Dalam bahasa Sunda, tukung artinya buntung atau pendek

Hayam pelung

Ayam pelung

Suara kokokannya sangat keras dan panjang

Tabel Berbagai rasa ayam di Desa Karangwangi, Cianjur, Jawa Barat.

Pada umumnya, berbagai ras atau galur ayam kampung dibudidayakan oleh penduduk perdesaan secara tradisional dengan dilandasi oleh  pengetahuan lokal (Local Knowledge) yang berkelindan dengan tradisi, seperti kepercayaan. Anekaragam pakan ayam, biasanya jagung, gabah, beras, butir-butir kecil beras (beunyeur), dan sekam halus (huut), serta huut dicampur dengan air panas (bakatul), umumnya tersedia di tempat,  tidak sampai harus membeli dari luar atau pasar. Berbagai jenis pakan tersebut merupakan hasil usaha tani penduduk dengan penggarapan berbagai tipe agroekosistem.   Hal tersebut sungguh memiliki dampak positif, karena berbagai pakan tidak usah didatangkan dari luar/dari kota, serta tidak perlu membeli dengan harga mahal. Pengaruh lebih jauh, apabila terjadi kelangkaan pakan ayam di  pasar, tidak menyebabkan gangguan serius pada usaha peternakan tradisional penduduk. Dengan kata lain, bahwa sistem usaha tersebut memiliki stabilitas tinggi terhadap pengaruh dari luar atau eksternal.    

Dengan demikian,  pengelolaan ayam oleh penduduk perdesaan pada umumnya tidak intensif dan padat modal. Misalnya,  banyak kasus bahwa ayam-ayam kampung pada siang hari biasa dibiarkan hidup bebas berkeliaran mencari anekaragam pakan di pekarangan. Oleh karena itu, ayam-ayam kampung tersebut memiliki peranan penting dalam sistem pekarangan, seperti dapat membantu memangsa ulat-ulat hama tanaman. Selain itu,  kotorannya dapat berguna untuk menyuburkan tanah pekarangan. Sementara pada sore hari, ayam-ayam biasanya dimasukkan ke kandang-kandang. Tetapi, sebagian dari ayam-ayam tersebut biasa pula di malam hari, tidak dimasukkan ke kadang. Namun, mereka biasa bertengger di cabang-cabang pepohonan tanaman  pekarangan.

Secara tradisi, bagi ayam-ayam betina yang sudah mulai ingin bertelur biasanya disediakan sarang-sarang, berupa carangka, aseupan atau boboko yang diisi oleh batang-batang padi kering, serta disimpan dikaitkan di dinding bambu (bilik) rumah.

Lalu, apabila telur-telur telah menetas, anak-anak ayam dan induknya biasa diturunkan dari sarangnya dan dimasukkan ke dalam kurungan. Induk dan anak-anak ayam tersebut setiap pagi dan sore diberi pakan berupa bakatul dan beunyeur. Selanjutnya, ketika anaknya sudah mulai kuat berjalan, anak-anak ayam tersebut biasa dilepaskan dengan dibiarkan hidup bebas mencari pakan di pekarangan. Secara alami, pada umumnya ayam lokal jarang terserang virus flu burung (virus AI) yang menyebabkan kematian ayam secara massal.  Menurut sejarah ekologi, flu burung banyak menyerang unggas tercatat pada tahun 2003. Pada umumnya  penduduk, menyebut penyakit ayam tersebut, dengan istilah  penyakit cekak atau tétélo (Newcastle Disease-ND). Kalau ada ayam yang sakit  terjangkit oleh tétélo, biasanya diobati oleh ramuan berupa anekaragam tanaman obat, seperti bawang merah, bawang putih, kunir, pepaya dan pisang yang dipungut dari pekarangan. Kebiasaan penduduk terebut cukup rasional. Pasalnya,  secara saintifik, berbagai tanaman tersebut mengandung metabolit sekunder atau bioaktif yang dapat berkhasiat obat. Bawang merah, misalnya,  mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, terpenoid, tannin, dan senyawa sulfur, seperti alliin yang menjadi alisin, yang biasa memberikan efek farmakologis seperti antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi. Sementara  bawang putih mengandung allicin, flavonoid, saponin, dan senyawa organosulfur lainnya, yang memberikan manfaat kesehatan, seperti sifat antibakteri, antioksidan, dan anti-hipertensi.

Hasil budidaya ayam kampung umumnya dimanfaatkan penduduk desa, seperti sisa-sisa kotorannya untuk pupuk organik, telur dan dagingnya untuk di konsumsi sumber protein hewani. Sementara pada waktu acara hajatan atau lebaran, ayam-ayam tersebut biasa banyak disembelih. Pasalnya, kebutuhan daging saat itu meningkat.

Sarang ayam di dalam carangka yang dikaitkan di dinding rumah penduduk. (Foto: Johan Iskandar)
Sarang ayam di dalam carangka yang dikaitkan di dinding rumah penduduk. (Foto: Johan Iskandar)

Tradisi yang Kian Terdesak

Dewasa ini, dalam perkembangannya keanekaragaman ayam kampung cenderung kian menyusut secara drastis. Faktor penyebabnya antara lain karena makin banyak penduduk yang lebih tertarik membudidayakan ayam nagari atau ayam broiler daripada membudidayakan ayam kampung  (hayam kampung). Perubahan budidaya ayam lokal menjadi budidaya ayam nagari telah menyebabkan berbagai perubahan ekologi, sosial ekonomi, dan budaya. Misalnya, secara ekologi, adanya penurunan berbagai rasa ayam lokal karena penduduk tidak memeliharanya lagi. Padahal, anekaragam rasa ayam lokal, walaupun produksinya rendah, memiliki daya tahan tinggi, dan  sudah adaptasi baik dengan lingkungan lokalnya. Maka, sesungguhnya ayam lokal memiliki  potensi guna sumber penyilangan di masa depan untuk menghasilkan ayam turunan baru dengan keunggulan tinggi.

Sementara secara sosial ekonomi budaya,  mengusahakan sistem usaha ternak ayam negeri,  menjadi lebih komersial memerlukan biaya mahal dan memiliki ketergantungan dari luar. Pasalnya, hampir semua asupan terhadap produksi, seperti  benih anak ayam umur satu hari (Day Old Chick/DOC), pakan, dan obat-obatan sangat tergantung dari luar. Bahkan perlu impor dengan harga mahal dan rawan terjadi kelangkaan serta guncangan harga. Hasil-hasil produksi usaha ternak ayam tersebut hampir sepenuhnya untuk dijual secara komersial. Maka, apabila harga jual produksi anjlok, namun harga berbagai asupan terus naik. Maka, usaha peternakan ayam komersial tersebut sangat rentan terhadap berbagai perubahan sistem ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, bagi petani perdesaan yang memiliki modal  terbatas, kurang menguntungkan. Padahal, dengan usaha pertanian termasuk usaha ternak ayam secara tradisional, dapat dikategorikan sebagai penerapan usaha tani dengan paradigma baru pasca Revolusi Hijau. Sistem usaha tani dewasa ini yang sangat dianjurkan dan digalakkan oleh negara maju atau modern. Pasalnya, usaha tani tersebut bersifat meminimalkan berbagai asupan dari luar dan pro-lingkungan, dan  dapat berkelanjutan (Low-External Input-and Sustainble-LEISA). Sebaliknya, sistem usaha tani yang mengandalkan  berbagai asupan dai luar sangat tinggi dan mahal (High-External-Input Agriculture-HEIA), tidak prolingkungan dan sangat rentan terhadap berbagai perubahan lingkungan yang kini kian tak menentu. Misalnya, terjadinya perubahan musim, ledakan, hama/penyakit dll., serta perubahan sistem ekonomi pasar (Reijntjes et. al., 1992). 

Dengan kata lain, bahwa imbas dari kian maraknya homogenisasi industri budidaya ayam negeri masuk deras ke kawasan perdesaan membawa konsekuensi pada pelestarian anekaragam ayam kampung yang dilakukan penduduk perdesaan yang menghadapi tantangan berat. Padahal, pelestarian anekaragam ayam kampung sangat penting dilakukan, antara lain karena keberadaan anekaragam ayam kampung sangat penting bagi sumber penyilangan, guna menghasilkan ayam unggulan di masa depan. Selain itu,  usaha tersebut memiliki manfaat sosial ekonomi budaya pada masyarakat perdesaan. Sesungguhnya masyarakat pedesaan memiliki peranan penting dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati berlandaskan pada pengetahuan lokal dan tradisi. Sayangnya, upaya budidaya pemeliharaan ayam dan konservasi sumber daya hayati ayam kampung yang prolingkungan oleh masyarakat perdesaan, cenderung kurang mendapat perhatian dan dukungan dari pihak pemerintah serta para pemangku kepentingan lainnya.  Padahal, seyogianya pengetahuan lokal penduduk tersebut dapat dipadukan dengan saintifik, guna memperoleh gunalaksana lebih maksimal dan memiliki sistem keberlanjutan yang lebih tinggi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//