• Kolom
  • CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra

CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra

Buku sejarah formal barangkali hanya mencatat apa yang terjadi di tahun 1965 dan 1998. Lebih dari itu, sastra mencatat bagaimana rasanya hal itu terjadi.

Nurul Maria Sisilia

pegiat literasi di Rumah Baca Kali Atas yang tergabung dalam komunitas Lingkar Literasi Cicalengka, bisa dihubungi di [email protected]

Suasana kelas 11 Farmasi SMK Guna Dharma Nusantara saat materi cerpen berlatar sejarah 1965 dan 1998. (Foto: Dokumentasi Nurul Maria Sisilia)

11 Februari 2026


BandungBergerak.id – Pada pelajaran Bahasa Indonesia kelas 11 SMA semester 1, terdapat materi cerita pendek berlatar sejarah. Cerpen yang dipilihkan Kemendikbud dalam buku paket kelas 11 adalah cerpen karya Martin Aleida berjudul Tanah Air. Sebuah cerpen yang menarik tentang kehidupan para eksil dalam latar sejarah 1965. Hal ini memantik saya untuk memperkenalkan cerpen-cerpen lain dengan latar sejarah Indonesia terutama sejarah yang sensitif. Saya kemudian memilih beberapa cerpen dengan tema serupa yaitu Clara; Setiap Hari Ia melihat Penculik Anaknya dan Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma, Cara Mati karya Puspa Seruni dan Ruang Hampa di Bola Mata karya Yuditeha. Cerpen-cerpen tersebut saya pilih karena dua alasan. Pertama, isu yang melatarbelakanginya adalah isu sejarah sensitif yakni periode sejarah 1965 (Orde Lama) dan 1998 (Orde Baru). Kedua, cerpen-cerpen yang saya pilih adalah cerpen yang dapat dengan mudah diakses siswa di internet seperti sukab.wordpress.com (asuhan Seno Gumira Ajidarma) dan ruangsastra.com.

Di tengah derasnya upaya “pemutihan” atau penghilangan sejarah sensitif di Indonesia, terutama tragedi 1965 dan 1998, saya memilih untuk memunculkannya di kelas. Saya tidak ingin murid-murid saya sekadar mengetahui struktur cerpen. Lebih jauh, saya ingin mereka tahu denyut sejarah bangsa mereka, khususnya di masa yang paling kelam. Saya memahami bahwa tugas fungsional saya sebagai guru Bahasa Indonesia telah selesai pada poin membimbing siswa agar mampu membaca dan memahami bacaan. Namun, pada akhirnya saya pun menyadari bahwa ada tanggung jawab lain yang sering terabaikan: mengajarkan apa yang seharusnya mereka baca dan ketahui. Inilah kiranya alasan saya memutuskan untuk menyuguhkan beberapa cerpen berlatar Orde Lama dan Orde Baru sebagai bahan ajar pada materi cerpen. Tujuannya sederhana, jika narasi sejarah resmi terasa hambar dan dingin, saya berharap sastra yang memanusiakannya.

Baca Juga: CERITA GURU: Dari Katanya ke Berdasarkan Sumber, Menerapkan Metode Jurnalistik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
CERITA GURU: Cara Bell Hooks Menggugat Mekanisasi Pendidikan
CERITA GURU: Pendidikan Karakter yang Teruji di Ruang Nyata

Menghindari Ceramah, Memilih Empati

Metode pembelajaran yang saya gunakan di kelas 11 jurusan Farmasi di SMK Guna Dharma Nusantara ini sesungguhnya sederhana: siswa dibagi dalam kelompok, membaca satu cerpen yang dikurasi, dan menganalisisnya. Namun, lembar kerjanya dirancang untuk mendorong pemikiran kritis, bukan sekadar nilai intrinsik. Saya menanyakan: "Latar peristiwa sejarah apa yang menjadi latar cerpen?" dan "Apa pesan atau kritik penulis yang ingin disampaikan?". Saya berkeliling ke setiap kelompok untuk mengetahui pemahaman mereka. Tak jarang, saya membimbing diskusi menarik terkait latar sejarah dalam cerpen yang tengah mereka baca. Setelah diskusi kelompok selesai, saya meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi. Saya memandu siswa dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik untuk membangkitkan rasa penasaran siswa. Siswa dari kelompok lain kemudian mengemukakan pandangan mereka. Diskusi terus berjalan sampai semua kelompok selesai tampil.

Hasilnya sungguh tak terduga. Diskusi di kelas jadi tidak lagi tentang alur atau tokoh antagonis semata, melainkan tentang rasa takut yang dialami korban 1998 dan trauma yang diwariskan keluarga 1965. Siswa berinteraksi dan bertanya lebih dalam mengenai hal yang terjadi di masa itu. Beberapa siswa kemudian mengungkapkan pendapat serta pandangannya terkait unsur ekstrinsik yang melatari cerpen. Hal ini cukup membuktikan bahwa sastra telah berhasil menjadi jembatan empati. Buku sejarah formal barangkali hanya mencatat apa yang terjadi. Lebih dari itu, sastra mencatat bagaimana rasanya hal itu terjadi.

Siswa sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. (Foto: Dokumentasi Nurul Maria Sisilia)
Siswa sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. (Foto: Dokumentasi Nurul Maria Sisilia)

Data Bicara

Setelah sesi pembelajaran berakhir, saya membuat kuesioner singkat lewat Google Form untuk mengukur efektivitas metode ini. Kuesioner itu berisi pertanyaan reflektif mengenai materi pembelajaran. Siswa diminta menjawab pilihan sangat tidak setuju, setuju, dan netral terhadap pertanyaan kuesioner. Di akhir, saya meminta siswa menuliskan catatan terhadap pembelajaran. Saya lalu menghimpun data dari 104 siswa di tiga kelas jurusan Farmasi yang saya ajar itu.

Data yang terkumpul dari para siswa Gen Z ini rupanya memberikan konfirmasi yang kuat. Sebanyak 96,7 persen siswa menyatakan setuju bahwa membaca cerpen membuat mereka lebih tertarik pada sejarah periode 1965 dan 1998. Selanjutnya, saya menanyakan apakah membaca cerpen membantu mereka memahami perasaan orang-orang yang hidup pada periode Orde Lama dan Orde Baru? Hasilnya, 98 persen menyatakan setuju dengan hal tersebut. Kemudian, sebanyak 86,4 persen siswa menyatakan setuju bahwa cerpen menyajikan perspektif kemanusiaan yang tidak ditemukan dalam buku sejarah biasa. Terakhir, sebanyak 78,6 persen setuju bahwa metode ini dinilai lebih efektif mengenalkan sejarah sensitif dibandingkan hanya ceramah.

Angka-angka ini adalah bukti bahwa siswa tidak hanya setuju, tetapi hampir seluruhnya (lebih dari 90 persen) menunjukkan ketertarikan yang meningkat tajam pada isu-isu sensitif. Dari kuesioner sederhana ini, dapat diperoleh data bahwa sastra rupanya memberikan dimensi yang tidak mampu dijangkau oleh fakta kering. Dalam catatan pembelajaran, beberapa siswa memberikan respons yang menegaskan hal ini. Seorang siswa berkata bahwa melalui cerpen, ia lebih mudah merasakan suasana zamannya. Lalu, siswa lain berpendapat bahwa, "Cerpen melibatkan emosi dan memori yang lebih baik.". Tak hanya itu, terdapat siswa yang menerangkan bahwa, "Saya bisa berpikir kritis dan melihat sejarah dari berbagai sudut pandang”.

Berdasarkan pengalaman mengajarkan sastra ini, saya menyimpulkan bahwa sastra dengan fokus pada pengalaman mikro berhasil memanusiakan tragedi yang ada dalam sejarah. Cerpen-cerpen tersebut pada akhirnya memaksa siswa untuk menjadi saksi mata secara imajinatif, bukan sekadar penonton pasif.

Suasana kelas saat menyimpulkan materi pembelajaran mengenai sastra berlatar sejarah Orde Lama dan Orde Baru. (Foto: Dokumentasi Nurul Maria Sisilia)
Suasana kelas saat menyimpulkan materi pembelajaran mengenai sastra berlatar sejarah Orde Lama dan Orde Baru. (Foto: Dokumentasi Nurul Maria Sisilia)

Tugas Ganda Guru Bahasa Indonesia

Temuan yang saya dapatkan dari pengalaman sederhana ini membawa saya pada kesimpulan penting bahwa pengajaran Bahasa Indonesia tidak boleh hanya berkutat pada struktur dan teori. Guru Bahasa Indonesia memiliki tugas ganda untuk menjadi agen pendidikan kritis. Intinya memang juga terletak pada guru Bahasa Indonesia yang bersedia terus membaca dan mengasah nalar kritis serta kepekaan terhadap zaman.

Ketika narasi sejarah formal diragukan keandalannya, sastra mampu menjadi sumber sejarah tandingan yang legal dan etis. Fiksi yang kuat dapat mengisi ruang hampa yang ditinggalkan oleh buku pelajaran. Sastra pun mampu memberikan empati yang diperlukan untuk memahami kompleksitas sejarah bangsa. Saya kira, jika kita memimpikan generasi muda kita kritis, berempati, dan tidak mudah dicuci otaknya, maka kita harus berani memperkuat daya baca dan memilih teks yang berani. Teks tersebutlah yang kemudian bisa kita suguhkan ke hadapan siswa sambil terus membimbing mereka menelaah maknanya. Melalui teks seperti cerpen berlatar  Orde Lama dan Orde Baru itu, kita memastikan bahwa memori peristiwa 1965 dan 1998 tidak akan pernah hilang dihapus zaman dan kepentingan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//