• Berita
  • Riwayat Cetakan Bawah Tanah, dari Zaman Kolonial hingga Algoritma

Riwayat Cetakan Bawah Tanah, dari Zaman Kolonial hingga Algoritma

Zine bukan sekadar estetika. Sejarah cetakan membentang dari zaman Tirto Adhi Soerjo hingga zine hari ini.

Zen RS menyampaikan orasi Kebuayaan di Bandung Zine Fest 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah13 Februari 2026


BandungBergerak – Di panggung Bandung Zine Fest (BZF) 2026, Zen RS membawa penonton menyusuri sejarah penerbitan independen di Indonesia dalam pidato berjudul Cetak, Edar, Sita: Genealogi Penerbitan Bawah Tanah. Acara yang dipenuhi pecinta zine dan komunitas kreatif ini bukan sekadar perayaan subkultur, tetapi juga refleksi tradisi perlawanan melalui media cetak.

Zen menekankan bahwa penerbitan independen di Indonesia lahir dari tekanan politik. Ia mencontohkan awal abad ke-20, ketika Tirto Adhi Soerjo menerbitkan Medan Prijaji dengan oplah besar dan distribusi luas. Namun, langkah itu dibatasi oleh pemerintah kolonial melalui penangkapan dan penyitaan. Tekanan itu kemudian melahirkan model penerbitan baru: terbit situasional, tanpa jadwal tetap, tanpa target oplah besar, dan tanpa jaminan keberlanjutan. 

Mas Marco Kartodikromo menjadi figur penting dalam tradisi ini. Ia berkali-kali ditangkap, tetapi tetap menerbitkan karya seperti Pemimpin (1921), Hidup, dan Hadro Markota.

Terbitan-terbitan tersebut tidak mati karena kehilangan pembaca. Yang menghentikannya, kata Zen, adalah saat mesin cetak dihancurkan.

Zen juga menyoroti praktik Haji Misbah di Solo. Melalui toko kebutuhan sehari-hari, ia menyubsidi Medan Moeslimin, yang didistribusikan dari toko ke tangan pembaca saat jalur pos diawasi. Terbitan itu dibaca bersama, ditafsirkan, dan bahkan digunakan untuk menentukan langkah politik komunitas. Satu lembar cetakan bisa memicu reorganisasi strategi.

Periode pendudukan Jepang menambah tantangan. Samoen dan kawan-kawan menerbitkan Menara Merah, koran bawah tanah yang bergerak dari tangan ke tangan, dibaca kolektif, lalu dimusnahkan demi keamanan. Di saat yang sama, jaringan radio klandestin menjadi sumber informasi penting menjelang Proklamasi.

Zen menutup pidatonya dengan menekankan relevansi sejarah zine bagi era digital saat ini. Menurutnya, zine bukan sekadar produk estetika "Do It Yourself". Ini metode penyebaran pengetahuan di bawah tekanan. Saat jejak daring bisa dipantau, cetak independen kembali menjadi strategi untuk bertahan dan menjaga otonomi informasi.

Sejumlah peserta menyimak dengan seksama, beberapa mencatat nama tokoh dan terbitan yang disebutkan Zen. BZF kali ini tidak hanya merayakan kreativitas, tetapi juga mengajak komunitas memahami sejarah dan konteks sosial di balik praktik zine.

Pameran Karya Amenkcoy dan Array dalam helatan Bandung Zine Fest 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)
Pameran Karya Amenkcoy dan Array dalam helatan Bandung Zine Fest 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Ruang Alternatif untuk Zine, Politik, dan Kenangan

Bandung Zine Fest ibarat lebaran para penikmat zine dan zinemaker. Tahun ini Bandung Zine Fest (BZF) digelar di bangunan tua Tjap Sahabat, Cibadak, Kota Bandung, Sabtu-Minggu, 7-8 Februari 2026. Festival ini menjadi titik temu bagi penikmat zine dan zinemaker dari berbagai generasi, dari anak-anak hingga orang tua, untuk merawat arsip dan menampilkan karya cetak independen, mulai dari booklet personal maupun kolektif, poster, hingga stiker.

Ada 75 pelapak menjajakan karya cetak independen mereka. Selain itu, BZF menghadirkan diskusi, lokakarya, serta pameran arsip dan manuskrip dua seniman yang berpulang, Komikus Mata Merah Array dan seniman Sleborz Amenkcoy, dengan tajuk “Bagi Siapapun Itu, I Say I FUKIN’ LOVE YOU”.

BZF tidak sekadar menjadi ajang jual-beli karya, tetapi ruang produksi dan distribusi narasi yang kerap luput dari kanal media dominan.

Panitia BZF, Hilmy Fadiansyah, menegaskan festival tetap mempertahankan spirit awalnya: menjadi ruang alternatif untuk narasi yang tak tersalurkan oleh media arus utama dan algoritma digital.

Sejak awal, BZF berpihak pada kreator terhadap seluruh isu yang mereka angkat, mulai persoalan sosial kota, keresahan anak muda, hingga kritik kebijakan.

Menurut Hilmy, zine adalah medium sederhana—kertas dilipat, dijilid manual—namun berfungsi sebagai jembatan gagasan, pemantik diskusi, dan ruang untuk menjaga diskursus alternatif. Festival ini menjaga kemandirian dari politik praktis maupun sponsor korporat, dengan “aturan tak tertulis” yang dipahami bersama untuk melindungi otonomi narasi.

“Kami ingin menciptakan budaya dan ekosistem kami sendiri, dengan cara yang sudah dibangun sejak awal,” kata Hilmy.

Pameran Kenangan Amenkcoy dan Array

Di lantai dua Tjap Sahabat, ruang pamer menampilkan arsip Amenkcoy dan Array dalam pameran “Bagi Siapapun Itu, I Say I FUKIN’ LOVE YOU”. Karya Amenkcoy, alias Mufti Priyanka, termasuk poster BZF sejak 2016 dan zine Sleborz, menunjukkan visual absurd dan satir yang kerap melekat pada musik underground. Ia juga aktif menggarap artwork band indie seperti Seringai, Milisi Kecoa, dan White Shoes and The Couples Company. Amenkcoy meninggal 7 Juni 2024.

Array, atau Heri Herdiansyah Suhandi, lahir sekitar 1992, dikenal sebagai komikus dan pegiat zine melalui Mata Merah Komix. Ia berpulang 25 Maret 2024. Kedua seniman ini meninggalkan jejak kuat bagi komunitas BZF, baik lewat karya maupun kontribusi konseptual pada ekosistem zine Bandung.

Hilmy mengatakan pameran ini adalah bentuk penghormatan dan memoar kolektif. Kehadiran karya mereka di BZF 2026 penting untuk mengenang kontribusi besar Amenk dan Array, yang membuat festival ini bertahan hingga 14 tahun.

Baca Juga: Bandung Zine Fest 2026: Tetap Keren, Tetap Melawan
BANDUNG ZINE FEST 2024: Orang-orang Muda Bertemu dalam Isu Konflik dan Penggusuran

Ragam Lapak Zine dan Politik Ruang Alternatif

Di salah satu meja pamer berukuran 120x60 cm, Putri (22), pelapak dari kolektif Pink Petals X KWIR, menekankan pentingnya ruang inklusif. Ruang alternatif tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari sejarah panjang kerja akar rumput, termasuk kerja komunitas queer.

Bagi Putri, keberadaan pelapak queer di BZF adalah bentuk reclaiming ruang dan ekspresi diri yang bersifat politis. Ekspresi diri queer adalah cara tetap hidup dan terlihat. Ruang alternatif harus memperhatikan kelompok yang paling rentan, dan mitigasi keamanan menjadi bagian dari komitmen itu.

Zine, menurut Putri, tidak hanya medium, tetapi juga alat bertahan hidup dan bentuk perlawanan. Keberpihakan di BZF selalu bersifat politis dan menjadi inti dari festival ini.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//