• Opini
  • Mitos Orang Sunda Pemalas: Stereotipe Budaya, Kabayan, dan Warisan Kapitalisme Kolonial

Mitos Orang Sunda Pemalas: Stereotipe Budaya, Kabayan, dan Warisan Kapitalisme Kolonial

Stigma “orang Sunda Pemalas” tidak lahir secara alamiah. Ia dikonstruksi melalui relasi kuasa yang timpang dan berlangsung dalam proses sejarah yang panjang.

Hilman

Mahasiswa data sains paruh waktu

Tafsiran visual grafis orang Sunda. (Ilustrasi: Hilman)

16 Februari 2026


BandungBergerak.id – Ungkapan “orang Sunda pemalas” kerap muncul dalam candaan sehari-hari, obrolan santai, bahkan dalam penilaian serius di ruang kerja dan pendidikan. Sekilas ia terdengar ringan dan seolah tidak berbahaya. Namun di balik kelakar tersebut tersimpan sejarah panjang tentang relasi kuasa, cara pandang budaya, serta penilaian moral atas suatu cara hidup. Label “pemalas” tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dibentuk melalui proses historis yang erat kaitannya dengan kolonialisme dan logika kapitalisme modern.

Stereotipe bahwa orang Sunda itu pemalas, lelet, dan kurang disiplin masih sering terdengar dan bahkan dianggap sebagai “ciri khas” etnis tertentu. Anggapan ini seolah menempatkan kemalasan sebagai sifat bawaan yang alamiah. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam melalui konteks budaya lokal Sunda dan sejarah kolonial, stereotipe tersebut bukanlah cerminan realitas sosial, melainkan hasil dari stigma budaya yang dibentuk, dipelihara, dan diwariskan secara sistematis oleh ideologi kapitalisme kolonial.

Stigma ini tidak lahir secara alamiah. Ia dikonstruksi melalui relasi kuasa yang timpang dan berlangsung dalam proses sejarah yang panjang. Pada masa kolonial, standar kerja, disiplin waktu, dan ukuran produktivitas ditentukan sepihak oleh kepentingan ekonomi penjajah. Cara hidup lokal yang tidak selaras dengan kebutuhan produksi kolonial kemudian dinilai sebagai tidak efisien, tidak modern, dan bermasalah. Penilaian tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui kebijakan, sistem pendidikan, serta wacana sosial yang tampak netral, tetapi sarat kepentingan.

Dalam perkembangannya, sistem ekonomi kapitalis modern melanjutkan logika yang sama dengan menetapkan satu model kerja sebagai tolok ukur universal, yakni kerja yang cepat, terukur, disiplin waktu ketat, dan berorientasi pada akumulasi. Cara hidup yang menekankan keseimbangan, kecukupan, dan keberlanjutan, seperti yang hidup dalam budaya Sunda, justru diposisikan sebagai deviasi. Budaya populer yang tidak kritis kemudian memperkuat stigma ini melalui humor, karakter stereotipe, dan narasi ringan, hingga akhirnya diterima sebagai kebenaran umum tanpa lagi dipertanyakan asal-usul serta kepentingan yang melatarbelakanginya.

Baca Juga: Refleksi atas Kebudayaan Sunda dalam Era Digital
Si Paling Nyunda, Absurditas Aksara Sunda Baku dan Jejak Nahas Gerak Politik Orang Sunda
Cerita Sunda dalam Layar Perak Hindia Belanda

Masyarakat Sunda Tradisional

Secara geografis dan historis, masyarakat Sunda tradisional hidup di wilayah agraris Jawa Barat yang subur dan beriklim sejuk. Dalam konteks seperti ini, kebutuhan hidup relatif tercukupi tanpa harus memaksakan ritme kerja yang ekstrem. Kerja keras tidak diukur melalui target produksi massal atau percepatan tanpa henti, melainkan melalui pemenuhan kebutuhan komunitas, keberlanjutan lahan, serta keselarasan dengan siklus alam. Bekerja berarti menjaga kesinambungan hidup, bukan mengejar akumulasi tanpa batas.

Dalam budaya agraris, ritme kerja yang tenang dan tidak tergesa-gesa merupakan bentuk adaptasi ekologis sekaligus sosial. Pola tanam, masa panen, dan waktu istirahat mengikuti irama alam, bukan jam industri. Namun dari sudut pandang logika industrial dan urban, ritme semacam ini kerap ditafsirkan sebagai “lelet” atau “malas”. Padahal yang terjadi bukanlah ketiadaan etos kerja, melainkan perbedaan mendasar dalam cara memahami kerja, waktu, dan produktivitas.

Konsep hidup cekapan atau hidup secukupnya, selaras dengan alam, serta menghindari sikap berlebihan merupakan nilai penting dalam budaya Sunda. Nilai ini menempatkan keseimbangan batin, harmoni sosial, dan kelestarian alam sebagai ukuran keberhasilan hidup. Sebaliknya, kapitalisme modern menjadikan percepatan, efisiensi ekstrem, dan pertumbuhan tanpa henti sebagai standar utama. Dari benturan dua logika inilah kesalahpahaman lahir: cara hidup yang memilih kecukupan dibaca sebagai kemalasan, ketenangan dianggap sebagai kurangnya ambisi, dan penolakan terhadap eksploitasi diri dipersepsikan sebagai kegagalan etos kerja.

Stereotipe “malas” terhadap orang Sunda juga merupakan bagian dari mitos kolonial yang lebih luas tentang “pribumi malas”. Syed Hussein Alatas, dalam bukunya The Myth of the Lazy Native, menjelaskan bahwa citra ini merupakan konstruksi ideologis kolonial yang digunakan untuk membenarkan eksploitasi. Pada masa awal kedatangan bangsa Eropa, masyarakat lokal justru dipuji karena keterampilan mereka dalam bertani, berdagang, dan berkarya. Namun sejak abad ke-18, narasi tersebut berubah. Ketika masyarakat pribumi menolak kerja paksa, target produksi kolonial, dan sistem ekonomi yang merugikan mereka, penolakan itu kemudian dibingkai sebagai kemalasan.

Label “malas” berfungsi sebagai pembenaran moral bagi kolonialisme. Dengan menyebut pribumi malas, sistem kerja paksa seperti cultuurstelsel dapat dianggap perlu, bahkan “mendidik”. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah penghancuran struktur ekonomi lokal serta pemaksaan logika kapital kolonial yang hanya mengakui kerja sebagai sesuatu yang bernilai jika menguntungkan pasar Eropa.

Stigma dan Figur Kabayan

Stigma terhadap orang Sunda semakin menguat ketika budaya populer mereproduksinya melalui figur Kabayan. Dalam banyak adaptasi modern, terutama film dan sinetron, Kabayan kerap direduksi menjadi sosok malas, licik, dan lugu. Representasi ini mengubah Kabayan menjadi sekadar objek humor, sekaligus menghapus makna filosofis dan kritik sosial yang melekat pada tokoh tersebut.

Padahal, dalam tradisi budaya Sunda, Kabayan adalah simbol kritik sosial yang halus namun tajam. Ia bukan figur yang tidak mampu bekerja, melainkan pribadi yang hidupnya telah “beres”, cukup secara materi, tenang secara batin, dan tidak terjebak ambisi berlebihan (geus teu nanaon ku nanaon). Sikap santainya bukan kemalasan, melainkan kebijaksanaan yang menolak kegelisahan hidup akibat ambisi berlebihan dan logika produktivitas semu.

Dalam kerangka teori kritis Theodor Adorno, reduksi ini dapat dibaca sebagai praktik industri budaya: karya dan tokoh yang sejatinya bersifat reflektif dan kritis diproduksi ulang menjadi hiburan standar yang aman, mudah dikonsumsi, dan kehilangan daya subversifnya. Seni tidak lagi menggugat realitas, melainkan menyesuaikan diri dengan logika pasar

Akibatnya, bukan hanya Kabayan yang kehilangan makna filosofisnya, tetapi masyarakat Sunda pun terus diposisikan secara tidak adil dalam narasi nasional. Membaca ulang Kabayan berarti sekaligus membongkar cara kita memahami kerja, kecerdasan, dan nilai hidup, bukan dari kacamata industri budaya dan warisan kolonial, melainkan dari kebijaksanaan budaya lokal.

Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan apakah orang Sunda malas atau tidak, melainkan siapa yang berhak menentukan standar “rajin” dan “produktif”. Ketika kehidupan hanya diukur dari kecepatan dan akumulasi, segala bentuk ketenangan akan selalu dicurigai. Kabayan dan budaya Sunda menawarkan alternatif: bekerja secukupnya, hidup sewajarnya, dan berpikir jernih. Di tengah dunia yang semakin lelah oleh tuntutan produktivitas tanpa henti, kebijaksanaan ini justru terasa semakin relevan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//