Dinamika Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Pemikiran Alan Chalmers
Alan Chalmers menempatkan dirinya di posisi yang unik: ia menolak otoritarianisme metode universal sekaligus menolak nihilisme relativisme.

Taufik Hidayat
CPNS Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Prov. Jawa Barat yang bertugas sebagai Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama.
18 Februari 2026
BandungBergerak.id – Alan Chalmers, salah satu figur sentral dalam filsafat ilmu kontemporer, yang dikenal melalui upayanya mendestabilisasi pandangan ortodoks mengenai bagaimana sains bekerja. Melalui karya monumentalnya, What is this thing called Science?, serta serangkaian artikel akademisnya, Chalmers tidak hanya mengkritik dogma lama seperti induktivisme dan falsifikasionisme, tetapi juga menawarkan jalan tengah yang mengakui dimensi sosial sains tanpa terjebak ke dalam relativisme radikal. Pandangannya bergerak dari penolakan terhadap metode universal menuju apresiasi terhadap praktik eksperimental yang historis dan spesifik.
Titik tolak pemikiran Chalmers adalah skeptisisme terhadap gagasan bahwa ada satu Metode Ilmiah yang tunggal, abadi, dan universal untuk menjamin kebenaran sains. Dalam tradisi filsafat ilmu klasik, sains dipahami bekerja melalui mekanisme induksi (menarik kesimpulan umum dari observasi partikular) atau falsifikasi (menguji teori untuk membuktikannya salah). Namun, Chalmers berargumen, kedua pendekatan ini cacat. Induktivisme dinilai naif, karena observasi tidak pernah bebas nilai; setiap pengamatan selalu bermuatan teori (theory-laden). Artinya, kita tidak melihat dunia dengan mata telanjang, melainkan melalui lensa konsep yang sudah dimiliki sebelumnya (Chalmers, 1999: 1-10).
Lebih jauh, Chalmers juga mengkritik falsifikasionisme Karl Popper yang dianggapnya kaku dan tidak mencerminkan sejarah sains yang sebenarnya. Dalam praktiknya, ilmuwan tidak langsung membuang teori besar hanya karena ada satu data yang bertentangan. Jika falsifikasionisme diterapkan secara ketat, banyak teori besar seperti mekanika Newton mungkin sudah ditolak sejak awal, karena adanya anomali yang belum terjelaskan. Oleh karena itu, Chalmers menegaskan, gagasan mengenai aturan metodologis yang universal dan ahistoris, yang dapat diterapkan untuk menilai sains di masa lalu, sekarang, dan masa depan, adalah suatu absurditas (Chalmers, 1985: 555). Ia menekankan, standar dan metode dalam sains berubah seiring dengan perkembangan sains. Apa yang dianggap sebagai bukti yang baik pada zaman Aristoteles berbeda dengan apa yang diterima di laboratorium fisika modern.
Baca Juga: Aku Tahu maka Aku Bergerak, sebuah Usulan untuk Mematahkan Keterputusan Pengetahuan dalam Gerakan Mahasiswa
Paradigma Seni dan Aksi Pengetahuan, Membaca Buku Mukadimah Gelagat Liar
Ketika Pengetahuan Turun dari Menara Gading: Pelajaran dari The Conversation Indonesia untuk Ruang Publik Kita
Melawan Relativisme Sosiologis
Meskipun menolak metode universal, Chalmers tidak lantas setuju dengan pandangan kaum konstruktivis sosial atau sosiolog ilmu pengetahuan yang menganggap kebenaran sains merupakan hasil kesepakatan sosial semata. Melalui artikelnya yang menanggapi sosiologi pengetahuan, Chalmers menyerang pandangan Program Kuat (Strong Programme) dalam sosiologi yang dipelopori oleh tokoh seperti David Bloor dan Harry Collins. Para sosiolog ini berargumen, bahwa karena tidak ada metode logis untuk menentukan pilihan teori, maka faktor sosial (seperti kepentingan politik atau negosiasi antar ilmuwan) yang menjadi penentu utama (Chalmers, 1988: 84).
Chalmers menolak kesimpulan ini dengan tegas. Ia mengakui, sains adalah aktivitas sosial dan dipengaruhi oleh kepentingan di luar sains, namun ia bersikeras bahwa sains memiliki status epistemologis yang istimewa karena interaksinya dengan dunia fisik. Dunia alam memiliki hak veto terhadap teori. Chalmers memberikan ilustrasi mengenai eksperimen Joseph Weber dalam mendeteksi gelombang gravitasi. Meskipun Weber mungkin memiliki kepentingan pribadi atau sosial untuk mendeteksi gelombang tersebut, dunia tidak bekerja sama dan eksperimen tersebut gagal memberikan hasil yang diharapkan. Hal ini menunjukkan, terlepas dari dimensi sosialnya, hasil sains pada akhirnya dikendalikan oleh realitas materi, bukan sekadar negosiasi sosial (Chalmers, 1988: 92). Dengan demikian, objektivitas sains dipertahankan bukan melalui metode formal, melainkan melalui praktik eksperimental yang memungkinkan alam untuk menolak dugaan-dugaan.
Pandangan Chalmers semakin menjauh dari perdebatan filosofis abstrak menuju apa yang disebut sebagai Eksperimentalisme Baru (New Experimentalism). Ia berargumen, filsafat tidak bisa mendikte bagaimana dunia ini tersusun melalui argumen a priori atau metafisika, melainkan harus melalui kerja keras eksperimental. Hal ini terlihat jelas dalam analisis historisnya mengenai atomisme.
Dalam studinya mengenai Robert Boyle dan sejarah atomisme, Chalmers membedakan antara atomisme filosofis (seperti Filsafat Mekanis abad ke-17) dan atomisme ilmiah. Atomisme filosofis mencoba menjelaskan realitas sebagai partikel materi yang bergerak, namun gagal menghasilkan pengetahuan baru yang produktif, karena bersifat spekulatif dan tidak dapat diuji secara rinci. Sebaliknya, pengetahuan tentang atom yang dimiliki sekarang adalah hasil dari perkembangan eksperimental yang spesifik pada abad ke-19 dan ke-20, seperti karya Dalton di bidang kimia dan eksperimen Jean Perrin, didukung oleh teori mekanika kuantum (Chalmers, 2009: 1-4; Chalmers, 2016: 1-2).
Kritik Chalmers terhadap Boyle nampak tajam. Ia menilai, Filsafat Mekanis Boyle sebenarnya tidak memiliki keunggulan (excellency) yang diklaimnya, karena gagal memberikan bukti eksperimental konkret untuk mendukung klaim ontologisnya tentang atom (Newman, 2010: 203). Sementara, bagi Chalmers, kesuksesan sains terletak pada kemampuannya untuk memisahkan pertanyaan metafisika (seperti apa hakikat terdalam materi?) dari pertanyaan eksperimental yang bisa dijawab. Sains menjadi sukses ketika ia berhenti menjadi filsafat alam dan mulai menjadi praktik eksperimental teruji.
Batas-batas Metode Ilmiah
Konsistensi pandangan Chalmers tentang spesifisitas metode juga terlihat saat ia membahas ilmu sosial, khususnya epidemiologi. Ia mengkritik kecenderungan ilmu sosial untuk meniru metode fisika (fisika-envy) dengan harapan akan mencapai kesuksesan yang sama. Chalmers berpendapat, menerapkan metode ilmiah (dalam artian positivistik yang mencari hukum universal) ke dalam epidemiologi dan kesehatan masyarakat justru menjadi kekuatan konservatif (Chalmers, 1982: 3760).
Alasannya adalah karena objek kajian ilmu sosial berbeda secara fundamental dengan ilmu alam. Dalam fisika, atom tidak memiliki kepentingan politik atau kesadaran kelas. Namun, dalam epidemiologi, kesehatan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial, ekonomi, dan politik. Pendekatan yang hanya berfokus pada data kuantitatif dan mengabaikan analisis kelas atau struktur sosial hanya akan menghasilkan deskripsi permukaan yang tidak mampu menyentuh akar masalah. Oleh karena itu, Chalmers menyarankan, metode penelitian harus disesuaikan dengan objeknya; ilmu sosial membutuhkan metodologi yang mampu mengakomodasi kompleksitas struktur sosial, bukan sekadar menjiplak metode reduksionis dari ilmu alam (Chalmers, 1982: 3764).
Secara holistik, Alan Chalmers mengajukan pandangan, bahwa sains ialah aktivitas praktis yang bertujuan memperluas dan menguji pengetahuan tentang dunia melalui interaksi eksperimental, bukan melalui kepatuhan pada satu set aturan metodologis kaku. Status istimewa sains (otoritas epistemologisnya) tidak datang dari logika induksi atau falsifikasi yang sempurna, melainkan dari kemampuannya untuk belajar dari kesalahan melalui eksperimen yang ketat dan terkontrol. Sains itu objektif bukan karena ilmuwannya bebas dari bias, tetapi karena praktik kolektif sains memungkinkan bias tersebut diuji dan dikoreksi oleh resistensi dari dunia nyata.
Dengan demikian, Chalmers menempatkan dirinya di posisi yang unik: ia menolak otoritarianisme metode universal sekaligus menolak nihilisme relativisme. Bagi masyarakat umum, pesan Chalmers dimaksudkan agar bersikap kritis, namun apresiatif terhadap sains. Kita tidak perlu memuja sains sebagai kebenaran mutlak yang dihasilkan oleh mesin atau logika sempurna, namun juga tidak boleh meremehkannya sebagai sekadar konstruksi sosial tanpa dasar. Sebab sains, adalah usaha manusiawi yang bertahap dan sarat sejarah untuk memahami realitas yang ada di luar diri kita.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

