• Opini
  • Bandung: Antara Kreativitas dan Intrik Politik

Bandung: Antara Kreativitas dan Intrik Politik

Bandung adalah contoh nyata bagaimana budaya populer dan politik saling berhubungan, namun secara rumit.

Kiki Esa Perdana

Urang Sunda asli, lahir di Bandung, KTP Cimahi, menaruh perhatian pada budaya populer dan komunikasi politik.

Ilustrasi. Orang muda dan kotanya. (Ilustrator: Arctic Pinangsia Paramban/BandungBergerak)

19 Februari 2026


BandungBergerak.id – Terlintas playlist random yang sedang saya putar memainkan lagu “Langkah Peri” dari Cherry Bombshell, akhir 90-an, saat musik indie Bandung sedang terbang tinggi. Seketika saya teringat masa itu, ketika musik indie pop memberi gambaran bagaimana budaya populer selalu berkelindan dengan dinamika politik kota. Lagu itu bagi saya, bukan sekadar nostalgia, melainkan pintu masuk untuk memahami bagaimana Bandung tumbuh sebagai ruang kreatif sekaligus arena politik yang penuh intrik, kombinasi yang seru.

Musik indie di Bandung tumbuh sangat erat bersama kultur distro, kafe kampus, dan majalah alternatif, menciptakan ekosistem kreatif yang khas ala bandung. Fenomena ini bukan sekadar hiburan, melainkan ekspresi sosial anak muda Bandung yang ingin menunjukkan identitas mandiri di luar arus industri besar, tidak heran jika kemudian Bandung dijuluki Creative City oleh UNESCO pada 2015. Dalam konteks akademis, seperti yang dikatakan Hesmondhalgh, musik indie pop sebagai salah satu produk kreatifnya bisa dibaca sebagai bentuk counter-culture yang menegaskan bahwa kota bukan hanya ruang politik formal dan kaku, tetapi juga arena di mana warga muda bernegosiasi dengan realitas sosial melalui seni dan gaya hidup, dan tentunya di bandung, musik. Semangat mandiri dan ekspresi bebas yang lahir dari band-band seperti Pure Saturday, Cherry Bombshell, atau para “gerombolan” Saparua menjadi simbol bagaimana anak muda Bandung membangun bahasa alternatif yang cair, kreatif, dan penuh kritik sosial pada keseharian.

Memasuki tahun 2026, wajah politik Bandung justru penuh dinamika. Di balik citra kota kreatif tadi, publik dikejutkan oleh isu-isu serius yang menyangkut kota Bandung: mantan wali kota sekaligus mantan gubernur dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi terkait Bank BJB, lalu ada penetapan tersangka pada wakil wali kota dalam kasus jual beli jabatan, tuduhan keterlibatan wali kota Bandung sebagai terduga kasus jual beli jabatan, kasus korupsi dan mantan wali kota Bandung, hingga berbagai polemik lain yang mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan lokal, apakah Bandung terlalu seksi untuk para pelaku kejahatan?   Politik Bandung ini tak lagi sekadar wacana di ruang akademik, gedung dewan, atau obrolan warung kopi, melainkan realitas keras yang menuntut transparansi, akuntabilitas, dan keberanian warga untuk bersuara. Tahun 2026 pun menjadi panggung penting bagi Bandung untuk membuktikan bahwa kota kreatif ini mampu menghadapi politik yang serius, penuh intrik, sekaligus penuh harapan dengan menjadi lebih baik.

Bandung sebagai kota kreatif sering kali dipandang melalui lensa budaya populer: dari geliat musik indie di Dago, mural di sudut Braga, hingga komunitas kopi yang menjamur di setiap gang. Semua ini memberi kesan bahwa Bandung adalah tetap menjadi ruang yang penuh energi muda dan imajinasi tanpa batas. Namun, di balik atmosfer kreatif itu, politik kota tadi tetap berjalan dengan ritme yang keras. Kasus penangkapan pejabat, tuduhan terhadap wali kota, korupsi dan tarik-menarik kepentingan elit menunjukkan bahwa kreativitas tidak otomatis menyingkirkan praktik politik yang penuh intrik, mereka berjalan masing-masing. Kontras ini memperlihatkan bagaimana kota bisa menjadi panggung ganda: satu sisi merayakan budaya populer, sisi lain bergulat dengan politik murni yang penuh risiko.

Fenomena ini membuat Bandung terasa seperti “dua kota dalam satu ruang”. Di satu sisi, kita melihat festival musik, fashion street, dan komunitas kreatif yang membangun citra Bandung sebagai kota yang ramah dan penuh inovasi. Di sisi lain, publik disuguhi drama politik yang menyerupai serial drama televisi penuh konflik, dengan isu jual beli jabatan, krisis kepercayaan, dan fragmentasi elite. Akademisnya, ini menunjukkan bahwa budaya populer tidak bisa atau bahkan tidak mungkin dilepaskan dari politik: keduanya saling berhubungan (secara kompleks), membentuk narasi kota yang kompleks, saya teringat Remy Sylado, pernah menyebut Bandung sebagai “kota yang selalu muda, tapi tak pernah benar-benar dewasa.” Saya sih setuju.

Baca Juga: Mengkritik Politisi Populer di Indonesia, antara Fanatisme dan Demokrasi
Kampung Pelangi 200: Antara Pariwisata, Politik Wali Kota, dan Kerentanan Warga
Retorika Antek Asing, Politik Simbol, dan Ilusi Kedaulatan

Dua Wajah Kota

Melihat dinamika yang sudah muncul, Bandung memang akan penuh dengan intrik politik. Kota ini punya dua wajah yang kontras: di satu sisi citra creative city dengan energi budaya populer yang kuat, di sisi lain realitas politik yang keras dengan kasus hukum, tarik-menarik kepentingan elite, dan krisis kepercayaan publik. Intrik politik ini sekaligus memperlihatkan paradoks Bandung: kota yang di satu sisi penuh peluang dan kreativitas, namun di sisi lain dibayangi oleh krisis kepercayaan publik. Branding kreatif yang selama ini menjadi kebanggaan warga harus berhadapan dengan isu politik dan ketidakpercayaan pada pemerintah yang cukup besar yang seakan tidak pernah berhenti. Bandung 2026 ini akhirnya menjadi panggung besar di mana budaya populer dan politik murni saling beradu, membentuk narasi kota yang kompleks dan menguji apakah citra kreatif mampu bertahan di tengah badai politik.

Dalam perspektif akademis, Bandung adalah contoh nyata bagaimana budaya populer dan politik saling berhubungan, namun secara rumit. Kota ini tidak bisa hanya dilihat sebagai ruang kreatif yang steril dari intrik politik, atau sebaliknya sebagai arena politik yang kering dari imajinasi. Justru, kekuatan Bandung ada pada kemampuannya merangkul keduanya: menjadikan kreativitas sebagai energi sosial, sekaligus menghadapi politik dengan keberanian warga, intinya saya masih percaya Bandung masih bisa melihat Bandung positif esok ke depan.

Kesimpulannya, Bandung adalah kota dengan wajah ganda: di satu sisi ia tumbuh sebagai creative city dengan energi budaya populer yang kuat, dari musik independent, mural, hingga komunitas kreatif; di sisi lain, ia harus menghadapi intrik politik yang keras, kasus hukum dan krisis kepercayaan publik. Kontras ini menjadikan Bandung panggung besar di mana kreativitas warga beradu dengan kepentingan elite, membentuk narasi kota yang kompleks sekaligus penuh tantangan, tapi Bandung tetap besar.  

Sebagai penutup, kita bisa mengingat lirik lagu “ini abadi” milik Perunggu

“Bandung kan selalu memelukmu, Dinginnya hangatkanmu selalu
Dilengkapi lapisan selimut”.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//