• Cerita
  • Karaoke di Yogyakarta, Menuntut Negara

Karaoke di Yogyakarta, Menuntut Negara

Karaoke WNI Mumet bukan demonstrasi biasa. Bisa dilakukan kapan pun di mana pun sambil tetap berisik menuntut pada negara.

Unjuk rasa Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Penulis Virliya Putricantika21 Februari 2026


BandungBergerak - Poster dengan latar hitam dengan aksen merah muda muncul di beranda media sosial saya. Informasi dalam unggahan itu saya baca baik-baik: “Karaoke WNI Mumet” di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

Demonstrasi ala “Karaoke WNI Mumet” diinisiasi akun media sosial ibu.berisik di Instagram. Acara ini mengajak kawan-kawan yang ingin ikut bernyanyi bersama. Satu alasan sederhana yang barangkali bisa ditiru di berbagai upaya pertemuan di jalan. Menariknya, kebanyakan yang hadir di sana mengenakan baju merah muda, seperti slogan yang tertulis dalam unggahan “pink is the new black”. Lucu melihatnya.

Unjuk rasa Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Unjuk rasa Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Tentu yang hadir tidak hanya ibu-ibu, mahasiswa dan bapak-bapak yang mengacungkan jempol saat berfoto turut melingkar dan mendengarkan orasi yang disampaikan di sana. Meski begitu, aparat polisi tetap berjaga, barangkali hati kecilnya ingin ikut berorasi. Tapi menurut keyakinan saya hati besar mereka tidak sanggup melakukan itu.

Daftar orator pun tidak seperti biasanya yang sering saya lihat di Bandung. Orator di sini tidak hanya dari kawan mahasiswa tapi juga ahli hingga guru besar. Satu yang saya yakin untuk hal ini, mereka sadar bahwa pada dasarnya semua setara, sama-sama warga sipil yang dilihat sebelah mata oleh penyelenggara negara.

Aisyah Hilal di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aisyah Hilal di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Saya hadir ketika lagu “Bongkar” dimulai. Kami semua bernyanyi, beberapa orang membawa alat dapur, untuk dibunyikan. Selanjutnya lagu “Bento” yang meramaikan sore dengan awan sedikit mendung. Sedikit tarian ke kanan-kiri dipandu ibu-ibu di tengah lingkaran. Senyum di bibir ini tidak bisa saya tutupi, bisa-bisanya warga sipil ini tetap menari di tengah kondisi negara yang mumet.

Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) hadir di tengah forum. Mengenakan kaos hitam yang desainnya disukai kawan-kawan yang hadir. Tiyo memegang microphone bukan karena dia seorang yang memiliki pengaruh untuk kawan-kawan mahasiswa di UGM. Dia hadir di sana karena teror yang datang setelah surat yang disampaikannya pada UNICEF.

Kawan-kawan yang datang ke Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Kawan-kawan yang datang ke Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Help us to tell Prabowo Subianto. How stupid he is as a president,” ucap Tiyo Ardianto, mengulang poin utama dalam suratnya itu.

Pernyataan tersebut dikeluarkan olehnya bukan sebagai respons reaktif atas keputusan seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang memilih pergi selamanya. Surat yang ditulis YBS untuk ibunya menyisakan luka untuk banyak warga sipil dan Tiyo salah satunya. Namun kenyataannya, penyelenggara dan perpanjangan tangan mereka (buzzer) tidak dapat melihat realita dengan baik. Teror ancaman seketika mendatangi Tiyo. Per hari ini, 16 Februari 2026, ketika saya menulis cerita ini, teror pun turut dirasakan ibunya yang diberitakan beberapa portal berita.

“Itu pasti berasal dari hati nurani yang tulus dan ini bagian dari kebebasan berekspresi seorang mahasiswa,” respons Masduki atas pernyataan Tiyo yang menyampaikan kritik pada situasi negara yang memilih memprioritaskan program makan bergizi gratis (MBG) daripada pemenuhan hak pendidikan.

Baca Juga: Duka di Lereng Burangrang
Bandung Ameng Mengajak Kembali ke Masa Kecil dengan Permainan Tradisional

Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Siapa yang Kenyang?

Pertanyaan ini hadir bukan hanya di benak ibu yang melihat satu porsi MBG yang diterima siswa-siswi di sekolah. Di forum itu unboxing MBG yang dikemas di totebag warna biru dilakukan bersama. Satu totebag berisi roti, susu kemasan kecil, apel, dan kacang untuk dana 10 ribu rupiah per porsi MBG.

Tahun 2026 dana yang digelontorkan untuk program MBG sebesar 335 triliun rupiah. Jika dihitung dengan matematika sederhana, program unggulan rezim Prabowo-Gibran menghabiskan 1,2 triliun rupiah per harinya untuk MBG.

Review MBG di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Review MBG di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

“Maka kita layak untuk menuntut hak sipil kita untuk mengontrol MBG yang sudah keterlaluan itu. Anggaran itu (mestinya) dialokasikan untuk layanan sosial dasar, pendidikan, dan kesehatan,” tegas Widyanta, sosiolog dari UGM, yang memimpin yel-yel “Stop MBG” dengan irama “Nona Manis Siapa yang Punya”.

Sayangnya sudah menjadi rahasia umum pula jika pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah pemerintah bisa mendapat revenue 100 sampai 125 juta rupiah per bulan. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dalam laporannya “Who Goes Hungry? Who Gets Full?” sudah menjelaskan bahwa memproyeksikan potensi kebocoran anggaran sebesar 8,5 triliun (12 persen dari total anggaran) jika menggunakan model terpusat.

Review MBG di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Review MBG di Karaoke WNI Mumet di Bundaran UGM, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Indonesia di bawah kepemimpinan rezim hari ini perlahan membawa luka pada rezim Suharto, mantan mertua presiden hari ini. Ketidakhadiran rasa peka atas kebutuhan mendasar warganya tidak dapat dilihat dengan jelas.

“Apakah itu persoalannya ketika kita dipimpin oleh kebanyakan laki-laki yang memimpin negara ini jadi mereka tidak punya sensibilitas?” satu pertanyaan refleksi yang dilontarkan Aisyah Hilal, pendiri iklimku.org.

Karaoke yang diinisiasi Ibu Berisik saya rasa akan terus menjaga berisiknya warga sipil selama penyelenggara negara masih menutup mata atas realita warga negara Indonesia.

Pertemuan singkat itu kami akhiri dengan menyanyikan “Di Udara” dari Efek Rumah Kaca.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//