Perubahan Iklim dan Erosi Varietas Padi Lokal
Berbagai varietas padi lokal di Tatar Sunda sudah banyak yang punah terdesak oleh varietas padi unggul.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
22 Februari 2026
BandungBergerak.id – Perubahan iklim (climate change) kini telah melanda dunia dan dirasakan secara global oleh berbagai kelompok komunitas lokal di berbagai kawasan dunia secara lintas budaya (Lovejoy dan Hannah, 2019). Tidak terkecuali, perubahan iklim tersebut telah dirasakan pula di Indonesia. Misalnya, sejak tahun 1990-an di berbagai kawasan Indonesia kian sering dilanda kekeringan akibat anomali cuaca dan iklim. Akibatnya, tiap terjadi kekeringan telah mengakibatkan ratusan hektar sawah di Pulau Jawa mengalami gagal panen (puso). Bahkan, diperkirakan di masa-masa mendatang gejala perubahan iklim global tersebut akan kian terus melanda berbagai kawasan dunia. Pasalnya, gas rumah kaca, gas pencemar, seperti CO2 ke atmosfer secara global tidak/belum dapat dikendali secara seksama. Oleh karena itu, pengetahuan ekologi tradisional dari berbagai komunitas lokal di Indonesia untuk upaya adaptasi terhadap perubahan iklim, perlu dikaji dan diberdayakan secara seksama, untuk dapat dipadukan dengan saintifik.
Baca Juga: Mengamati Keanekaragaman Burung di Perkebunan Teh Sukamanah di Pangalengan
Ketika Kolam Pekarangan Urang Sunda Kian Menyusut
Keberadaan Ayam Kampung yang Kian Terdesak
Pengetahuan Iklim
Pada masa lalu, para petani di Tatar Sunda bercocok tanam padi di ladang (huma) atau pun di sawah biasanya dilandasi kuat oleh pengetahuan ekologi tradisional, seperti pengetahuan tentang iklim. Pada umumnya, mereka mengenal iklim dalam tiga tingkatan, yaitu, iklim tahunan, bulanan dan iklim harian. Iklim tahunan biasanya dibedakan menjadi dua kategori utama, yakni musim hujan (usum hujan atau usum ngijih) dan musim kemarau (usum halodo). Sementara itu, siklus iklim dalam setahun disusun dalam 12 mangsa, yaitu kasa, karo, katiga, kapat (sapar), kalima, kanem, kapitu, kadalapan, kasanga (kasalapan), kadasa (kasapupuluh), desta (hapit lemah), dan sada (hapit kayu). Selain itu, dikenal pula variasi iklim harian, pada waktu siang (beurang) atau pun malam hari (peuting).
Dalam pranata mangsa, tiap mangsa menggambarkan pengetahuan penduduk tentang karakteristik kondisi variasi iklim, seperti keadaan angin, temperatur udara, kelembaban, curah hujan, dengan berbagai indikator di alam. Misalnya, mangsa kasa berupa musim kemarau, ditandai oleh kondisi iklim harian, seperti suhu udara siang hari sangat panas dan malam hari sangat dingin, dan beberapa tumbuhan daunnya berguguran. Pada masyarakat Baduy, bulan kasa biasanya panen huma serang dan biasa dilakukan upacara kawalu kahiji. Sementara bagi para petani sawah, bulan kasa biasanya panen padi musim garapan utama.
Para petani di Tatar Sunda juga sangat menyadari bahwa keberhasilan bercocok tanam padi di huma atau pun sawah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti variasi iklim. Oleh karena itu, untuk tanam padi biasanya dipilih waktu yang sangat tepat oleh para petani. Mengingat gagalnya mereka menentukan waktu yang tepat untuk tanam padi, dapat menyebabkan kegagalan panen. Bisanya untuk menentukan masa yang tepat untuk tanam padi tersebut, digunakan berbagai indikator di alam, seperti konstelasi bintang di langit. Misalnya, bintang wuluku atau bintang kidang (The Belt of Orion) dan bintang kartika (The Pleiades).
Pada masa lalu, di awal penggarapan sawah di Tatar Sunda senantiasa diadakan suatu upacara mitembeyan oleh segenap warga desa. Upacara tersebut sebagai pertanda telah disepakati bersama oleh warga desa bahwa waktu yang sesuai untuk bercocok tanam padi telah tiba, dengan didasarkan antara lain dari hasil indikasi pertanda di alam, seperti dari posisi rasi bintang wuluku di angkasa. Maka, dengan adanya kekompakan petani dalam menentukan waktu tanam padi secara serempak dan kompak, telah memberikan berbagai keuntungan ekologis, seperti dapat mengendalikan hama dan dapat mengatur kecukupan air irigasi dari kawasan hulu hingga hilir.

Pengetahuan Varietas Padi
Para petani di Tatar Sunda di masa lalu, selain memiliki pengetahuan lokal tentang iklim, juga memiliki pengetahuan tentang varietas padi lokal. Misalnya, berdasarkan klasifikasi petani (folk classification), varietas padi dibedakan menjadi pare ketan dan non-ketan. Lantas, berbagai varietas padi tersebut dapat dibedakan pula menurut sifat ekologis, bentuk morfologi dan cita rasa (kuliner). Menurut sifat ekologis, dikenal berbagai varietas padi lokal, seperti padi tahan kering (pare huma atau gogo), padi tahan genangan air (pare ranca), padi dataran tinggi dengan umur panjang (pare leuir), dan padi dataran rendah dengan umur pendek (pare hawara). Menurut morfologinya dikenal varietas padi berbulu (pare bulu), padi tidak berbulu (pare leger atau gundil), biji padi gede, sedengan, leutik, buleud, pondok, panjang, sedengan, dengan warna beras (beas) bodas, beureum, hideung, dan lainnya. Ditilik gabahnya dikenal sebagai gabah padi mudah rontok (segon) dan tidak mudah rontok (ranggeuyan). Sementara berdasarkan kuliner, dikenal nasi liket rasa lezat dan beraroma (pulen) dan nasi tidak liket (bear) dengan rasa kurang lezat.
Ditilik dari keanekaragaman varietas padi lokal. Misalnya, di Rancakalong, Sumedang, sebelum Revolusi Hijau telah dapat didokumentasikan sekurangnya 60 varietas padi. Sebagian besar yakni 51 varietas merupakan pare biasa atau non-ketan, serta sisanya 9 varietas merupakan varietas pare ketan. Menurut sifat ekologisnya yakni tercatat 25 varietas sebagai paré leuir dan 35 varietas paré génjah. Sementara dari bentuk gabahnya, terdapat 50 varietas merupakan paré ranggeuyan, dan 10 varietas paré segon.
Sebelum diintroduksi varietas padi unggul berumur pendek (genjah) melalui program Revolusi Hijau, para petani di Tatar Sunda memiliki kemampuan dalam bercocok tanam padi secara mandiri, dengan daya lenting tinggi dan berkelanjutan. Pada umumnya sistem pertanian tersebut berbasiskan pengetahuan ekologi tradisional mendalam, serta berkelindan dengan sistem sosial ekonomi budaya. Misalnya, di dalam upaya mengadaptasikan terhadap faktor-faktor lingkungan lokal yang beragam dan kompleks, seperti variasi iklim, para petani biasanya menanam aneka ragam varietas padi yang memiliki sifat fotosensitif dengan masa berbunganya menurut panjang hari (musim). Penentuan waktu tanam biasanya dengan pedoman pranata mangsa, yaitu pada mangsa kapat dan kalima. Pada saat tersebut bisanya air berkecukupan dan populasi hama padi rendah. Sementara ketika populasi hama padi meningkat padi telah dipanen. Jadi, keterlambatan panen dapat menyebabkan kegagalan panen akibat hama atau pengaruh iklim.
Selain itu, usai panen padi, untuk menunggu saat yang tepat untuk bertanam padi pada periode penanaman padi berikutnya. Para petani biasanya menunggu hujan turun kembali. Pada saat itu petani biasanya mengistirahatkan lahan sehingga dapat memberi kesempatan pulihnya kembali kesuburan tanah karena terjadi penguraian unsur-unsur hara dari sisa jerami dan adanya aktivitas berbagai jasad renik yang dapat pengikat nitrogen (N). Maka, karena panen padi dilakukan secara serempak, maka populasi hama padi biasanya turun secara drastis karena tidak ada makanannya.
Pada umumnya produksi berbagai varietas padi lokal relatif lebih rendah dibandingkan varietas padi unggul genjah. Tetapi, anekaragam varietas padi lokal memiliki berbagai keunggulan lain, seperti memiliki adaptasi baik terhadap variasi lingkungan lokal, sifat kuliner enak lezat, serta penyediaan benih dan konservasi benih dapat diupayakan oleh petani sendiri secara mandiri.
Sayangnya, setelah Revolusi Hijau, kecuali varietas pare huma Baduy, di Desa Kanekes, Banten, berbagai varietas padi di lokal Tatar Sunda sudah banyak yang punah terdesak oleh varietas padi unggul. Misalnya, varietas padi lokal di Rancakalong sebelum Revolusi Hijau tercatat 60 varietas. Namun, setelah Revolusi Hijau tercatat hanya tinggal 20 varietas dan terus menurun. Bahkan, kini yang tersisa tinggal beberapa varietas padi lokal saja. Kasus serupa, di Kampung Naga, Tasikmalaya, sebelum program Revolusi Hijau, varietas padi lokal masih tercatat 24 varietas. Tetapi, setelah Revolusi Hijau hanya tersisa 15 varietas dan tarsus berkurang. Sementara di Kasepuhan Gunung Halimun, Cosolok, Sukabumi, sebelum Revolusi Hijau tercatat memiliki 146 varietas padi huma dan sawah. Tetapi, setelah program Revolusi Hijau, varietas padi lokal menyusut drastis tinggal 78 varietas padi lokal.
Oleh karena, anekaragam varietas padi lokal dan berbagai pengetahuan ekologi tradisional penduduk perdesaan tentang adaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan yang sangat baik tersebut jangan dibiarkan punah. Tetapi, seyogianya dapat diberdayakan dalam upaya sawasembada pangan dan menghadapi perubahan iklim global yang kian tidak menentu di tanah air kita.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

