MAHASISWA BERSUARA: Aksesibilitas yang Terpinggirkan di Stasiun Kiaracondong Bandung
Ramp yang curam dan sempit menjadi satu-satunya akses menuju Skybridge Stasiun Kiaracondong. Menyulitkan penumpang lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas.

Fauziansyah Hartadi
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Aktif di komunitas Kertas Pulih dan Kembang Kata.
23 Februari 2026
BandungBergerak.id – Sejak November 2024, Stasiun Kiaracondong mengalami perubahan besar melalui pembangunan skybridge yang menghubungkan empat peron utama. Fasilitas ini hadir sebagai solusi atas persoalan lama di stasiun tersebut, yakni kebiasaan penumpang menyeberang langsung di jalur rel. Praktik itu jelas berbahaya, terlebih ketika kereta datang silih berganti atau saat hujan turun dan membuat permukaan rel licin. Dari sisi keselamatan, skybridge patut diapresiasi sebagai langkah maju untuk menjawab kebutuhan dasar penumpang.
Namun, infrastruktur publik tidak berhenti pada soal aman atau tidak aman. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa ramah fasilitas tersebut bagi seluruh pengguna. Di sinilah skybridge Kiaracondong mulai menyisakan persoalan. Bagi penumpang yang muda, sehat, dan tidak membawa banyak barang, skybridge mungkin terasa biasa saja. Tetapi bagi lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penumpang dengan anak kecil atau barang bawaan berat, pengalaman yang dirasakan bisa sangat berbeda.
Fahmi, pegiat disiplin perlintasan dari komunitas Edan Sepur di Bandung, menyebutkan bahwa kehadiran skybridge jelas membantu mengurangi risiko kecelakaan. Sebelum ada skybridge, penumpang harus menyeberang rel tanpa perlindungan yang memadai. Tidak ada kanopi yang cukup, dan ketika hujan turun, kondisi menjadi jauh dari ideal. Kini, perpindahan antarperon terasa lebih tertib dan aman, setidaknya dari ancaman kereta yang melintas.
Namun, Fahmi juga menyoroti bahwa rasa aman itu dibayar dengan tenaga ekstra. Tidak adanya eskalator atau travelator membuat penumpang harus mengandalkan ramp yang panjang untuk naik ke skybridge. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal berjalan sedikit lebih jauh. Tetapi bagi kelompok rentan, jarak dan kemiringan ramp bisa menjadi beban tersendiri.
Abdullah, Koordinator Daerah komunitas Edan Sepur di Bandung, menambahkan bahwa lebar ramp yang hanya sekitar dua hingga tiga meter membuat pergerakan penumpang sering tersendat. Saat jam sibuk, antrean tak terhindarkan. Penumpang harus berjalan perlahan bukan karena ingin tertib, melainkan karena ruangnya memang sempit. Kondisi ini terasa semakin berat saat arus penumpang sedang padat, seperti pada akhir pekan atau musim libur.
Pengalaman Ibu Mia, penumpang asal Tasikmalaya, menggambarkan sisi lain dari skybridge ini. Menurutnya, keberadaan skybridge justru membuat perjalanan terasa lebih melelahkan. Sebelum ada skybridge, menyeberang bisa dilakukan dengan cepat. Sekarang, ia harus naik dan turun melalui ramp yang panjang. Bagi penumpang yang membawa barang atau anak kecil, energi yang dikeluarkan menjadi jauh lebih besar.
Ibu Mia juga menyoroti kondisi ramp yang sempit, di mana penumpang sering kali harus berbagi ruang dengan orang lain yang sama-sama membawa barang. Situasi ini menimbulkan rasa tidak nyaman, apalagi ketika harus berjalan cukup lama. Ia berpendapat bahwa keberadaan eskalator atau tambahan elevator akan sangat membantu dan membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Mencari Akar Kemacetan, Melihat Kembali Arah Pembangunan Transportasi Umum Kota Bandung
MAHASISWA BERSUARA: Bagaimana Akses Transportasi Umum yang Terbatas Membebani Mahasiswa Bandung
MAHASISWA BERSUARA: Mencari Solusi untuk Kemacetan Abadi Cibiru-Cileunyi
Aksesibilitas yang Masih Setengah Jalan
Persoalan aksesibilitas menjadi isu utama yang paling terasa. Fahmi menjelaskan bahwa memang tersedia elevator di peron 1 dan 6, tetapi jumlahnya sangat terbatas dan hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu. Bagi penumpang yang tidak bisa menggunakannya, ramp menjadi satu-satunya pilihan. Jarak antara skybridge dan area naik kereta yang cukup jauh membuat tenaga yang dibutuhkan menjadi berlipat ganda.
Ironisnya, di dalam skybridge sendiri ruangnya cukup luas dan nyaman. Abdullah menilai bahwa desain jembatan atas tidak menjadi masalah utama. Kendala terbesar justru terletak pada akses menuju skybridge. Ramp yang curam dan sempit membuat fasilitas ini terasa kurang ramah bagi penumpang dengan keterbatasan fisik. Pada jam sibuk, kondisi ini bisa memicu antrean panjang dan memperlambat arus penumpang secara keseluruhan.
Bagi lansia dan penyandang disabilitas, kondisi ini bukan sekadar soal tidak nyaman, tetapi juga soal keadilan akses. Infrastruktur publik seharusnya memudahkan semua orang, bukan hanya mereka yang kuat berjalan jauh dan menaiki ramp panjang tanpa bantuan.
Dari sudut pandang railfan, skybridge Kiaracondong masih tertinggal dibandingkan stasiun besar lain. Fahmi menilai bahwa sebagai salah satu stasiun penting di Bandung, Kiaracondong seharusnya memiliki standar aksesibilitas yang lebih baik. Di stasiun lain, eskalator atau travelator sudah menjadi fasilitas umum, bukan barang mewah.
Abdullah menambahkan bahwa setiap hari ribuan penumpang menggunakan stasiun ini, terutama penumpang kereta lokal dan ekonomi. Satu rangkaian kereta bisa membawa sekitar 900 penumpang. Dengan jumlah sebesar itu, desain ramp yang panjang dan sempit jelas menjadi hambatan serius. Jika tujuan skybridge adalah efisiensi dan kenyamanan, maka desain yang memperlambat arus penumpang patut dipertanyakan.
Selain persoalan kenyamanan, aspek keselamatan juga perlu mendapat perhatian lebih. Fahmi mencatat bahwa ramp skybridge di Kiaracondong sudah dilengkapi pembatas kaca akrilik, yang setidaknya memberi perlindungan tambahan. Namun, ia mengingatkan bahwa di beberapa stasiun lain, ramp skybridge bahkan tidak memiliki penghalang sama sekali.
Abdullah menyoroti potensi bahaya saat musim hujan. Jika sistem pembuangan air tidak optimal, lantai ramp bisa menjadi licin. Bagi lansia atau penumpang dengan keterbatasan fisik, risiko terpeleset bukan hal sepele. Infrastruktur yang baik seharusnya mengantisipasi kondisi terburuk, bukan hanya ideal.

Mengabaikan Penumpang Prioritas
Skybridge Kiaracondong dibangun menggunakan anggaran negara, tetapi ironisnya justru menghadirkan desain yang terasa jauh dari prinsip keberpihakan. Ketika sebuah fasilitas publik dibuat tanpa eskalator atau travelator, sementara ramp panjang dan curam dijadikan satu-satunya akses utama, maka sulit untuk mengatakan bahwa penumpang prioritas benar-benar diperhitungkan sejak awal perencanaan. Lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, hingga penumpang dengan barang bawaan berat seolah dipaksa menyesuaikan diri dengan desain, bukan sebaliknya.
Fakta bahwa elevator hanya tersedia di peron tertentu dan jumlahnya sangat terbatas semakin menegaskan bahwa aksesibilitas bukanlah prioritas utama. Dalam konteks stasiun sebesar Kiaracondong yang melayani ribuan penumpang setiap hari, kondisi ini bukan sekadar kekurangan fasilitas, melainkan cerminan dari cara pandang perancang infrastruktur yang masih melihat aksesibilitas sebagai tambahan, bukan kebutuhan dasar.
Skybridge ini memang tampak rapi dan modern dari kejauhan. Namun, di lapangan, ia justru memindahkan beban dari risiko keselamatan ke beban fisik penumpang. Penyeberangan di atas rel dihilangkan, tetapi digantikan dengan kewajiban berjalan jauh menaiki ramp yang panjang dan melelahkan. Bagi penumpang muda dan sehat, ini mungkin hanya soal sedikit berkeringat. Bagi penumpang prioritas, ini adalah hambatan nyata yang setiap hari harus mereka hadapi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, desain ramp yang sempit menunjukkan bahwa arus penumpang besar tidak benar-benar menjadi pertimbangan utama. Saat satu rangkaian kereta bisa membawa ratusan penumpang, akses yang sempit dan panjang jelas akan memperlambat pergerakan dan meningkatkan kepadatan. Dalam kondisi seperti ini, penumpang prioritas justru berada di posisi paling rentan, terjepit di antara arus manusia yang bergerak perlahan tanpa ruang yang memadai.
Jika skybridge ini memang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan, maka absennya fasilitas bantu vertikal menjadi kontradiksi yang sulit dibantah. Infrastruktur yang baik seharusnya tidak hanya aman, tetapi juga adil. Aman bagi siapa, dan adil untuk siapa, menjadi pertanyaan yang tidak bisa dihindari ketika melihat skybridge Kiaracondong hari ini.
Tulisan ini tidak berdiri untuk berharap pada perbaikan di masa depan, melainkan untuk menegaskan bahwa sejak awal, skybridge ini dibangun dengan cara pandang yang kurang sensitif terhadap kebutuhan penumpang prioritas. Ketika fasilitas publik tidak berpihak pada mereka yang paling membutuhkan, maka yang terjadi bukan sekadar kekurangan teknis, tetapi kegagalan memahami esensi pelayanan publik itu sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

