• Berita
  • Bandung di Ambang Krisis, Mengenal Dampak Betonisasi terhadap Ketersediaan Air Bersih dan Kewaspadaan Gempa Sesar Lembang

Bandung di Ambang Krisis, Mengenal Dampak Betonisasi terhadap Ketersediaan Air Bersih dan Kewaspadaan Gempa Sesar Lembang

Di balik keindahan kota, Bandung menghadapi ancaman serius: krisis air bersih akibat perubahan tata ruang. Sesar Lembang juga perli diwaspadai.

Forum diskusi yang membahas kerja-kerja Kelompok Riset Cekungan Bandung bersama T. Bachtiar di Bale Paragon, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Kamis, 12 Februari 2026. (Foto: Khoirunnisa Febriani Sofwan/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi25 Februari 2026


BandungBergerak - Bandung yang digambarkan sebagai kota dengan gedung-gedung tua yang basah terkena hujan, kenyataan saat ini jauh berbeda. Kota Bandung perlahan menunjukkan wajah aslinya, bahwa keindahan kota ini menyimpan beragam krisis ekologis, terutama soal krisis air dan ancaman gempa Sesar Lembang.

T Bachtiar menjelaskan, Bandung berbentuk mangkok raksasa yang dikelilingi pegunungan, dengan sejarah geologi yang terbentuk ribuan tahun lalu. Namun, pembangunan besar-besaran yang melibatkan betonisasi telah mengubah struktur alamnya.

Dulu, cekungan ini menyimpan air dengan baik melalui resapan tanah, namun sekarang tanah itu tertutup beton dan aspal. Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap dan hanya mengalir di permukaan, memperburuk masalah banjir.

“Airnya bom waktu, kebakarannya bom waktu, dan panas udaranya pun menjadi bom waktu,” ujar T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia sekaligus anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, di sela-sela diskusi “Hidup Harmoni di Cekungan Bandung” di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Kamis, 12 Februari 2026.

Masalahnya, menurut Bachtiar, tidak hanya pada volume air yang berkurang, tetapi pada hilangnya siklus alami yang seharusnya menyimpan air tanah untuk dipakai sepanjang tahun. Ketika tanah tidak lagi dapat menyerap air, Bandung tidak hanya kebanjiran, tetapi juga kekurangan pasokan air bersih.

“Karena lingkungannya sudah rusak. Jadi tidak ada air yang meresap ke dalam tanah untuk ke mata air,” ujar Bachtiar

Hujan yang turun di wilayah Bandung seharusnya menjadi cadangan air tanah, tapi justru berakhir sebagai limpahan yang memperburuk banjir. Sementara itu, pembangunan yang lebih mengutamakan estetika, bukan keberlanjutan lingkungan, terus memperburuk kondisi.

Ditambah lagi, udara panas dan polusi yang semakin meningkat, membuat dampak perubahan iklim semakin sulit dihindari. Betonisasi yang merusak ekosistem, serta laju urbanisasi yang semakin cepat, memperburuk keadaan ini.

Bachtiar menegaskan, fenomena ini bukan hanya soal cuaca buruk atau kekeringan, tapi soal ketidakseimbangan yang sudah terlanjur diciptakan oleh pembangunan yang tidak berkelanjutan. 

Di tengah ancaman ini, solusi sederhana yang bisa diambil adalah menanam pohon. “Yang paling sederhana adalah menanam pohon,” tegas Bachtiar.

Walaupun perubahan besar dalam cara kota ini dibangun membutuhkan waktu, langkah kecil seperti menanam pohon bisa menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki siklus air yang rusak.

Sayangnya, selama warga merasa aman karena belum pernah mengalami bencana besar secara langsung, dan pembangunan kota hanya fokus pada keuntungan jangka pendek, maka perubahan yang lebih luas akan sulit terwujud. Perhatian terhadap masalah ini tidak cukup hanya dengan reaksi sesaat, melainkan harus diikuti dengan upaya jangka panjang untuk mengembalikan keseimbangan ekologi Bandung.

Warga Terdampak Sesar Lembang

Selai kerisis air bersih, Bandung dilintasi Sesar Lembang. Di acara yang sama, Sutejo Setyo berbagi pengalaman sebagai warga yang tinggal di zona Sesar Lembang, tepatnya di kawasan Pakuhaji.

Menurut Sutejo, salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat saat ini adalah anggapan bahwa seluruh segmen Sesar Lembang sepanjang sekitar 29 kilometer bisa bergerak secara bersamaan dan memicu gempa besar. Kekhawatiran itu muncul setelah beberapa kejadian gempa lokal, termasuk peristiwa di Kampung Muril dan di wilayah seperti Cimanggu.

“Banyak masyarakat mengira kalau ada gempa kecil, itu langsung tanda megathrust. Bahkan ada juga yang menganggap megathrust bisa terjadi tanpa didahului gempa lokal. Padahal tidak sesederhana itu,” ujarnya.

Berangkat dari keresahan tersebut, Sutejo mulai mengunjungi berbagai titik atau kilometer di sepanjang jalur Sesar Lembang. Tujuannya adalah membangun kesadaran dan mitigasi mandiri. Ia mengemas aktivitasnya dengan konten di media sosial. Konten-konten ini menjelaskan kondisi lapangan dan menjawab pertanyaan warganet mengenai zona tempat tinggal mereka.

Di media sosial Sutejo menampilkan aktivitas sehari-harinya, seperti mengantar anak ke sekolah dan beraktivitas seperti biasa. Ia berharap, ketenangan yang ia tampilkan dapat menular kepada warga di zona sesar Lembang.

“Saya ingin jadi cermin. Kalau kami di zona satu bisa tetap beraktivitas dengan sadar risiko, semoga yang lain juga ikut tenang,” katanya.

Dalam pengamatannya, banyak warga yang tinggal di jalur sesar, termasuk di wilayah Cisarua, sebenarnya sudah lama sadar akan potensi bencana. Ia mengaku sering bertanya langsung kepada petani, orang tua murid, tetangga, dan warga sekitar. Hasilnya, hampir semuanya sudah mengetahui keberadaan sesar dan tidak merasa terlalu khawatir karena sejak kecil sudah mendengar cerita tentang kondisi wilayah mereka.

Sutejo juga melihat bahwa masyarakat kini semakin cerdas dalam memilih dan menilai konten edukasi bencana. Banyak penikmat kontennya yang menghubunginya secara pribadi untuk mengonfirmasi informasi. Ia menilai hal ini sebagai tanda positif, karena masyarakat mulai melakukan pengecekan ulang.

Sutejo menyadari bahwa dirinya bukan praktisi geologi. Posisi yang ia ambil adalah sebagai sesama warga terdampak zona satu yang menyampaikan sudut pandang dari dalam. Ia berbagi kekhawatiran yang sama dengan masyarakat, sekaligus menunjukkan bagaimana warga sekitar bisa bertahan dan tetap tangguh.

Lembah Kota Bandung sekitar Dago terlihat dari gawir Sesar Lembang di kawasan wisata Tebing Keraton, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, 11 September 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Lembah Kota Bandung sekitar Dago terlihat dari gawir Sesar Lembang di kawasan wisata Tebing Keraton, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, 11 September 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Baca Juga: Krisis Air Bersih Melanda Kota Bandung
Memetakan Sesar Aktif Jawa Barat setelah Guncangan Gempa dari Bandung hingga Bekasi

Tentang Sesar Lembang

Sesar Lembang, patahan aktif sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Padalarang hingga Sumedang, terus menjadi perhatian serius terkait potensi gempa. Dalam beberapa tahun terakhir, sesar ini tercatat beberapa kali melepaskan energi berupa gempa kecil, yang menunjukkan aktivitas tektonik yang aktif di kawasan ini. Terbaru, gempa-gempa kecil mengguncang sepanjang jalur sesar, dengan kekuatan mencapai magnitudo 3,3 pada 28 Agustus 2011 yang merusak lebih dari 300 rumah di Kampung Muril Rahayu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Namun, meskipun potensi gempa besar masih menjadi perdebatan di kalangan ahli, ada kekhawatiran bahwa jika seluruh segmen sesar bergerak serempak, gempa dengan magnitudo antara 6,5 hingga 7 bisa terjadi. Meski begitu, para ahli geologi seperti Awang Harun Satyana dan Iyan Haryanto menilai gempa besar sangat kecil kemungkinannya karena sambungan antarsegmen sesar justru bisa melemahkan gaya geser tersebut.

Untuk mengurangi dampak potensial, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung rutin mengadakan simulasi gempa dan sosialisasi tentang pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi gempa. Sementara itu, masyarakat di sekitar jalur sesar, seperti di Kampung Muril, sudah mulai terbiasa dengan getaran gempa kecil, meski banyak yang belum mendapatkan informasi yang cukup tentang bahaya sesar Lembang.

Selain gempa, BPBD Kota Bandung juga menggencarkan upaya mitigasi bencana terkait dampak gempa sesar Lembang. Para ahli dan relawan kebencanaan mengingatkan bahwa potensi ancaman ini perlu dipahami dengan lebih baik oleh warga, agar dapat mengurangi risiko kerusakan dan korban jiwa di masa depan.

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Andika Putra Nugraha & Insan Radhiyan Nurrahim

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//