DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #3: Jejak Awal Sastra Anak Modern Indonesia
Menyelami peran Orang-orang jang Tertjinta karya Soekanto SA dalam sejarah penerbitan Pustaka Jaya dan pembentukan imajinasi anak era 1970-an.

Hafidz Azhar
Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung
26 Februari 2026
BandungBergerak - Orang-orang jang Tertjinta (1971) karya Soekanto SA adalah bacaan anak pertama yang diterbitkan Pustaka Jaya. Buku itu bernomor seri PJ 002 sekaligus menandakan buku kedua setelah Orang Buangan karya Harijadi S Hartowardojo. Berbeda dengan terbitan sebelumnya, buku ini dikemas dengan sampul bergambar. Sampul sendiri dirancang oleh Oesman Effendi dengan corak kuning yang dipadukan dengan warna hijau dan putih sebagai latar.
Sejak buku itu terbit, desain sampul selanjutnya dibuat dengan gaya yang hampir serupa. Hal ini terutama untuk buku anak dan saduran. Corak dan gambar pada sampul dirancang dengan nuansa klasik, meski warnanya bisa berbeda. Seperti pada Sahabat dan Kembang (1971) karya ketiga Soekanto SA. Tata letak dan desain sampul buku ini rupanya hampir sama sebagaimana buku sebelumnya. Yang berbeda hanya warna dan gambar ilustrasi.
Ada juga Berburu Kuda di Timor (1971) karya Ris Therik. Dengan desain yang mirip, sampul buku ini hanya menampilkan gaya berbeda dari segi gambar ilustrasi. Gambar sampul ini disesuaikan dengan judul yang memperlihatkan sekawanan orang sedang menangkap kuda. Lalu ada juga buku dongeng berjudul Burung Api (1971) karya Pak Ojik. Nuansa klasik dan corak yang sama tampak pada buku ini seperti pada Orang-orang jang Tertjinta. Lagi-lagi yang berbeda hanyalah warna dan gambar ilustrasi.
Orang-orang jang Tertjinta memuat 17 cerita pendek. Beberapa cerita diberi ilustrasi karya seniman Nana Banna. Cerita pertama dimulai dengan kisah seorang kakek bersama cucunya. Sang kakek menangis di hadapan cucunya usai membaca surat kabar tentang kunjungan Presiden ke Jepang. Cerita ini diberi judul Air Mata Kakek dengan ilustrasi yang memperlihatkan gambar lelaki tua berpeci sedang duduk di kursi bersama seorang anak berseragam yang duduk di bawah.
Dari ketujuh belas cerita masing-masing memuat beragam pesan moral. Seperti kisah Pak Kebun, Gorengkan Sukun. Cerita ini menampakkan amanat agar menghormati orang yang telah berjasa laiknya tokoh Pak Kebun. Pak Kebun adalah penjaga sekolah. Selain bertugas untuk membersihkan dan mengamankan sekolah, Pak Kebun selalu memberi gorengan sukun saat anak-anak tiba di sekolah. Sifat saling berbagi ditunjukkan juga pada diri anak-anak yang memberi hadiah kepada Pak Kebun.
Dalam cerita Ibu Djambi, Soekanto SA menyuguhkan nuansa kasih sayang dari sosok ibu. Semula Ibu Djambi jengkel dengan anak-anaknya yang tidak menyahut. Kemudian anak-anak tersebut diberi cerita oleh ayahnya, Pak Djambi, tentang kerja keras seorang ibu menerobos kebakaran demi anaknya yang terjebak. Anak-anak yang mendengarkan terpantik hatinya, sampai mereka menangis karena terharu.
Ada juga cerita yang berkait dengan kenangan seorang guru. Kisah Pak Suratman memuat suatu pesan tentang guru yang telah tiada. Guru itu bernama Pak Suratman. Ia dikenang karena sosok guru yang tidak biasa. Pak Suratman mengajar pertanian. Ia selalu membawa anak didiknya untuk mempraktikkan langsung caranya bertani. Anak-anak dibiarkan bermain lumpur dan diajarkan untuk menabur pupuk. Selain itu, anak-anak juga dididik untuk menyukai tanah, tumbuhan, dan kotoran hewan untuk dijadikan pupuk.
Orang-orang jang Tertjinta memang memuat kisah yang menghubungkan dunia anak dengan beragam aspek kehidupan sehari-hari. Anak-anak diperkenalkan dengan peran manusia dewasa tanpa mengurangi tugasnya sebagai anak-anak. Terkadang, anak-anak hanya digambarkan sepintas saja, dan mencermati peran manusia dewasa. Gambaran ini seperti tertuang pada cerita Mamang Sajur. Seorang ibu membeli sayuran dari penjual keliling. Penjual itu dikerubuni pembeli. Setelah memilah lauk pauk, para pembeli lalu menanyakan harga hingga terjadi tawar menawar. Kisah ini, sebetulnya, tidak menggambarkan dunia anak, namun sang anak dilibatkan dalam cerita itu dengan menggunakan sudut pandang orang keempat. Anak-anak digambarkan melalui tokoh adik yang ikut memilih sayuran.
Ada juga kisah kehidupan di tanah metropolitan Jakarta. Cerita ini diberi judul Tukang Becak. Seorang anak baru tiba di Jakarta menuju rumah pamannya. Saat turun dari Stasiun Gambir, anak tersebut merasa kebingungan. Banyak angkutan umum menawarkan jasanya, termasuk beberapa tukang becak menawarkan angkutan dengan ongkos yang mahal. Namun, seketika anak itu melihat tukang becak yang berlainan. Dia datang menghampiri tukang becak itu dan langsung diangkut tanpa terjadi tawar-menawar. Dalam perjalanan, tukang becak itu bercerita tentang sifat tengil teman-temannya. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, tak jarang teman-temannya meminta ongkos yang tinggi. Namun, berbeda dengan tukang becak itu. Tanpa mematok ongkos yang mahal, ia mau mengantar penumpang asal dapat mencukupi makan keluarganya.
Dari kisah tersebut dunia manusia dewasa lebih mendominasi dari si anak sebagai tokoh utama. Tidak ada pemilahan antara dunia dewasa dan anak-anak. Sekalipun pada cerita itu ditekankan bahwa si anak punya rasa empati yang tinggi melihat kebaikan tukang becak.
Baca Juga: DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #1: Pertemuan Awal
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #2: Buku Terbitan Pertama
Menjadi objek penelitian
Tampaknya, buku Orang-orang jang Tertjinta menjadi perhatian serius bagi peneliti. Tahun 1976, Pustaka Jaya juga menerbitkan Bacaan Anak-anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakekat, Sifat dan Corak Bacaan Anak-anak serta Minat Anak pada Bacaannya. Buku ini diambil dari penelitian skripsi Riris K Sarumpaet pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
Dalam buku ini Riris mengambil tiga bacaan anak sebagai objek penelitiannya. Buku pertama, yakni Si Mulus karya Surtiningsih W.T. Sementara dua buku lainnya ditulis oleh Soekanto SA, yaitu Suka dan Duka dan Orang-orang jang Tertjinta. Ketiga buku itu terbit pada tahun yang sama, tahun 1971.
Salah satu yang menjadi perhatian dalam penelitian Riris ialah mencari kesan yang timbul setelah membaca ketiga bacaan itu. Sejauh mana gambaran tokohnya bisa ditiru, atau, sejauh mana alur ceritanya menarik untuk disimak. Dari sini Riris melakukan klasifikasi yang dirumuskan ke dalam tiga kategori: menarik, lucu dan sedih. Berdasarkan kesimpulannya, maka ketiga buku tersebut menarik bagi anak-anak.
Orang-orang jang Tertjinta karya Soekanto SA seakan relevan dengan setiap zaman. Pada tahun 2006, penerbit Kompas menerbitkan ulang buku itu menjadi Orang-orang Tercinta. Semula, buku tersebut memuat 17 cerita pendek anak. Tetapi pada cetakan Kompas berisi 38 cerita pendek. Lima belas cerita pendek diambil dari Orang-orang jang Tertjinta, kendati ada dua cerita yang tidak terhimpun, yakni Krawu Pisang Pak Ali dan kisah Bu Asti. Selain itu sisanya diambil dari Anak-anak yang Bahagia yang sempat diterbitkan juga oleh Pustaka Jaya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

