• Kolom
  • DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #1: Pertemuan Awal

DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #1: Pertemuan Awal

Satu dari sekian banyak penerbit, Pustaka Jaya adalah industri penerbitan yang terbilang sepuh. Usianya sudah lebih setengah abad.

Hafidz Azhar

Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung

Beberapa karya klasik yang diterbitkan Pustaka Jaya. (Foto: Dokumentasi Hafidz Azhar)

8 Februari 2026


BandungBergerak.id – Saya bukan pekerja Pustaka Jaya dan tidak pernah menulis untuk penerbit Pustaka Jaya. Saya hanya pembaca buku Pustaka Jaya sejak sekian tahun yang lalu. Jujur saja, buku-buku klasik terbitan Pustaka Jaya tampak menggoda. Kovernya khas. Genrenya juga beragam. Dari sastra hingga agama. Dari filsafat sampai sejarah.

Kalau tidak keliru mengingat, buku pertama yang saya baca, yaitu karangan A. Teuuw berjudul Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra (2003). Kebetulan, buku ini digunakan sebagai penopang mata kuliah kritik sastra semasa saya kuliah. Yang saya baca versi cetakan ketiga, sedangkan cetakan pertama terbit tahun 1984. Isinya terbagi ke dalam dua belas bab. Ihwal pengertian sastra dan ruang lingkupnya, hingga mengenai teori sastra kontemporer yang kerap diterangkan di kelas.

Ada juga pembahasan sejarah sastra dan juga estetika. Meski terjemahan, gaya bahasa yang disajikan cenderung mudah dipahami dan menjadi salah satu rujukan saya dalam menulis skripsi. Kala itu, penelitian saya menitikberatkan pada analisis tanda kebudayaan dalam novel Mudzakarat At-Thabibah, karya Nawal El Saadawi. Sementara teori yang digunakan berkutat pada pemikiran semiotika Charles Sanders Pierce, dan karya A. Teuuw ini menjadi rujukan sekunder mengenai semiotika.

Dari buku ini pula, saya dipertemukan pertama kali dengan istilah mimesis yang bersandar pada karya sastra sebagai model tiruan realitas. Teori ini diambil dari Aristoteles melalui karyanya Poetics. Tidak juga ketinggalan tokoh Lucien Goldmann yang kelak teorinya saya gunakan untuk penelitian tesis, yakni strukturalisme genetik.

Buku kedua, yakni Polemik Kebudayaan. Buku tersebut merupakan kumpulan perdebatan antartokoh, yang terbit pada tahun 1986 dengan versi cetakan keempat. Sementara cetakan pertama diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1948. Sastrawan Sunda, Yus Rusamsi, turut merancang kover buku ini. Sedangkan penulis novel Atheis, Achdiat K. Mihardja, sekaligus penyusun, menyajikan kata pengantar pada halaman pembuka.

Dari judulnya saja, mungkin, para pembaca sudah bisa menangkap kesan. Buku ini berfokus pada bahasan kebudayaan. Lebih tepatnya, berisi permenungan sekaligus pernyataan dari tokoh-tokoh kebudayaan zaman heubeul. Tulisan pertama, misalnya, muncul dari seorang Sutan Takdir Alisjahbana dengan judul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru. Disusul oleh Sanusi Pane melalui tulisannya, Persatuan Indonesia, sebagai tanggapan dari tulisan sebelumnya. Perdebatan ini sempat dimuat dalam majalah Pujangga Baru dan Suara Umum pada dasawarsa 1930-an. 

Menariknya, dari polemik ini tergambar dua kubu kebudayaan. Kubu yang pro terhadap pengaruh barat, dan kubu yang lain masih mengakui kebudayaan tradisional sebagai identitas kebudayaan Indonesia. Semuanya terbagi dalam tiga bagian. Polemik pertama berisi tulisan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Sanusi Pane, dan Poerbatjaraka. Polemik kedua berisi tulisan Sutan Takdir Alisjahbana, Dr. Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Mr. Amir dan Ki Hajar Dewantara. Lalu polemik ketiga berisi perdebatan Sutan Takdir Alisjahbana dengan Mr. Amir.

Baca Juga: Yang Hilang Ditelan Tembok di Gedebage #1: Bermula dari Rumah
Jatukrami di Kasepuhan Gelaralam
Yang Istimewa dari Kampung Naga

Penerbit Pustaka Jaya

Satu dari sekian banyak penerbit, Pustaka Jaya adalah industri penerbitan yang terbilang sepuh. Usianya sudah lebih setengah abad. Bila dihitung, kira-kira 55 tahun. Kata sastrawan Ajip Rosidi yang juga sang inisiator, ikhtiar mendirikan Pustaka Jaya disokong oleh Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, yang mula-mula mempertanyakan minat anak-anak terhadap buku bacaan. Terjadilah obrolan waktu itu, sehingga Ajip langsung ditawari pinjaman uang sebagai modal awal untuk membuat industri penerbitan. 

"Beliau bertanya, berapa modal yang diperlukan. Secara kasar berdasarkan dugaan saja aku menjawab bahwa paling tidak harus ada Rp20 juta", tulis Ajip dalam Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (2008). 

Jalan penerbitan ini memang tidak terlepas dari kiprah Ajip Rosidi selaku bagian dalam Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Setelah menerima tawaran dari Ali Sadikin, Ajip kemudian menyampaikan kabar tersebut kepada beberapa pengurus lain DKJ, termasuk Asrul Sani dan Ramadhan KH. Akhirnya penerbit Pustaka Jaya dapat beroperasi atas pinjaman modal dari Yayasan Jaya Raya di bawah Ir. Ciputra. Kantor sementara masih berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki bersama markas Dewan Kesenian Jakarta dan juga bersebelahan dengan kantor Sinematek Indonesia pimpinan H. Misbach Yusa Biran. Sementara Aoh K. Hamidjaja menjadi pemimpin redaksi dengan dibantu oleh Yus Rusamsi bersama Ahmad Rivai (Rosidi, 2008). 

Pada prinsipnya, penerbit Pustaka Jaya lebih mengutamakan buku-buku anak dan karya sastra klasik maupun baru. Karya tersebut bisa berupa terjemahan atau karya saduran yang diambil dari karya-karya para penulis dunia. Di tengah minimnya buku-buku sastra berkualitas setelah masa gemilang Balai Pustaka mulai meredup, redaksi Pustaka Jaya tentu tidak main-main soal isi dan kover buku.

Buku pertama yang diterbitkan berjudul Orang Buangan (1971) karya Harijadi S. Hartowardojo. Pada buku ini pula pembaca bisa menyimak rancangan kover yang khas sebagai bagian perjalanan awal penerbit Pustaka Jaya. Corak sederhana dengan garis berwarna. Tentu saja ada buku yang lain dengan corak kover serupa meskipun berbeda warna. Sebut saja Laki-laki dan Mesiu (1971) karya Trisnoyuwono. Rancangan kover dibuat sama dengan buku sebelumnya, dengan tampilan bergaris kuning. Lalu karya Putu Wijaya berjudul Bila Malam Bertambah Malam (1971) dengan corak kover yang sama, tetapi garisnya berwarna merah muda.

Buku-buku klasik karya para penulis dunia baru saya baca sekitar dekade 2010-an. Dari banyak karya klasik terbitan Pustaka Jaya, roman Noli Me Tangere (Jangan Sentuh Aku) (1975) bersama sekuelnya, El Filibusterismo (Merajarelanya Keserakahan) (1994) karya Jose Rizal, menjadi buku yang paling asyik untuk dibaca. Kedua buku ini saya kenal secara tidak sengaja pada deretan rak yang terpampang di rumah seorang kolega. Soal isi, laiknya sejarah. Dari kedua buku tersebut, pembaca akan dibawa pada petualangan seorang pejuang Filipina sekaligus menggambarkan perlawanan terhadap penjajahan Spanyol dan ketidakadilan yang ditunjukkan oleh otoritas gereja pada abad ke-19.

Sebetulnya, cukup banyak buku klasik yang saya baca dari beranda Pustaka Jaya. Tentu akan saya catat satu per satu di luar tulisan ini sebagai rangkuman perjumpaan awal dengan buku Pustaka Jaya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//