• Kolom
  • DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #2: Buku Terbitan Pertama

DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #2: Buku Terbitan Pertama

Roman Orang Buangan (1971) karya Harijadi S. Hartowardojo adalah buku pertama yang diterbitkan Pustaka Jaya.

Hafidz Azhar

Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung

Buku pertama terbitan Pustaka Jaya berjudul Orang Buangan karya Harijadi S. Hartowardojo. (Foto: Hafidz Azhar)

16 Februari 2026


BandungBergerak.id – Nama Harijadi S. Hartowardojo mungkin tidak sebeken Mochtar Lubis yang karyanya beberapa kali diterbitkan Pustaka Jaya. Sejauh yang dicetak menjadi buku, karyanya hanya berupa satu kumpulan puisi dengan judul Luka Bayang, lalu dua karya lainnya berbentuk roman. Roman pertama berjudul, Orang Buangan (1971), yang kedua, Perjanjian dengan Maut (1976). 

Orang Buangan adalah buku pertama yang diterbitkan Pustaka Jaya. Hal ini tercatat pada lembar kolofon dengan nomor seri PJ 001. Sampulnya dengan visual sederhana ala terbitan klasik Pustaka Jaya, dirancang oleh seniman Oesman Effendi. 

Semula naskah buku ini berjudul Munafik. Kemudian diikutsertakan dalam perhelatan Sayembara IKAPI Jawa Barat tahun 1967. Alhasil, karya ini terpilih sebagai pemenang. Empat tahun kemudian Pustaka Jaya menerbitkannya menjadi Orang Buangan

Saya kira, pertimbangan Pustaka Jaya menerbitkan roman ini adalah langkah yang baik. Soal kualitas, sangat layak sekali. Sebab ada yang menarik dari karya ini, yaitu gambaran pola pikir masyarakat di tengah kejadian yang tidak jelas. Pada roman ini Harijadi menautkan yang riil dengan aspek magis seolah-olah keduanya benar-benar terjadi. Aspek riil dan magis ini dikemas dengan gaya khas masyarakat Indonesia yang tradisional yang dipadukan dengan pola pikir modern bahkan juga dengan intrik politik. Dimulai dengan upacara sirih-pinang, lalu menimbulkan berbagai kecurigaan dan asumsi dari kejadian aneh yang dialami oleh masyarakat. 

Orang Buangan bercerita tentang keganjilan yang menimpa warga dukuh Kedungjero dan Karangbening di lereng Pegunungan Kendeng. Djolodang, tokoh pria yang akan menikahi Idjah, terhuyung seketika saat prosesi upacara adat melempar sirih-pinang. Djolodang tiba-tiba muntah, lalu ia tergeletak pingsan di hadapan orang-orang yang menghadiri prosesi tersebut. 

Suasana gelisah muncul setelah kejadian itu. Dipanggillah dukun untuk meredakan suasana. Kiai Kasan Djamil, sosok yang menjadi dukun itu, langsung membaca mantra dengan mencabut satu butir tasbih lalu mendekati Djolodang dan juga Idjah. Idjah sendiri merintih kesakitan pada bagian ulu hati, sampai ia pun mengalami muntah-muntah. 

Tidak hanya Idjah, banyak orang mengalami hal serupa. Satu per satu mati setelah membantu upacara pernikahan Djolodang. Idjah masih hidup, namun Djolodang sendiri bernasib naas. Kejadian ini menimbulkan beragam pandangan. Ada yang menganggap ini karena wabah, ada juga yang meyakini sebagai ilmu sihir alias guna-guna, sehingga hal ini menimbulkan sikap waspada bagi kalangan tokoh setempat. 

Kecurigaan itu kian mencuat pada satu orang bernama Tantri. Semula Tantri berprofesi sebagai guru. Ia disegani, tetapi kala bencana itu datang, Tantri dianggap menjadi agen ganda untuk menginfiltrasi Partai Darul Makmur. Djendol, petinggi Partai Darul Makmur, menuduh Tantri berselisih dengan Djolodang. Desas-desus semakin meluas, sampai akhirnya Tantri pun diboikot dan terusir bersama pacarnya, Hiang Nio. 

Hiang Nio merupakan gadis keturunan Cina. Saat terjadi pemboikotan, Hiang terkena umpatan rasial seraya dilindungi Tantri. Umpatan itu dilontarkan oleh warga laiknya paduan suara. 

"Tjina! Tjina! Tjina! Munafik! Munafik! Munafik", tulis Harijadi. 

Baca Juga: Yang Hilang Ditelan Tembok di Gedebage #1: Bermula dari Rumah
Jatukrami di Kasepuhan Gelaralam
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #1: Pertemuan Awal

Harijadi dan kehidupannya

Sebagai pengarang Harijadi Hartowardojo mempunyai nama lengkap Harijadi Sulaeman Hartowardojo. Ia dilahirkan di Prambanan pada 18 Maret 1930. Menurut A. Teuuw (1980) Harijadi banyak menulis untuk majalah Zenith dan Siasat pada tahun 1950-an. Lalu bersama Abdul Hadi WM dan Ramadhan KH, Harijadi menjadi dewan redaksi majalah Budaja Djaja di bawah nahkoda Ajip Rosidi (Teuuw, 1989). 

Riwayat hidup singkat Harijadi juga disematkan pada kover belakang Orang Buangan. Di situ tercatat bahwa Harijadi lulus dari jurusan Publisistik Fakultas Hukum dan Ilmu Kemasyarakatan, Universitas Indonesia (UI) tahun 1966. Di samping itu, Harijadi pernah mengikuti kuliah pada jurusan Psikologi UI sejak tahun 1965. Kiprahnya sebagai wartawan ia mulai pada majalah Pujangga Baru, majalah Siasat, majalah Garuda, Harian Kami, dan Pedoman Minggu dari tahun 1954-1961.

Ia juga pernah menjadi guru pada SMA JP IPPI dari tahun 1952-1963. Pada saat bersamaan Harijadi menjadi sekretaris Badan Kerjasama Badan-badan Sosial Seluruh Indonesia sampai tahun 1961 dan sempat mendapat pelatihan selama setahun di Manila, Filipina tahun 1968.

Dalam Hidup tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (2008), Ajip Rosidi menceritakan bagaimana nama Harijadi muncul secara terbalik. Semula Harijadi S. Hartowardojo. Tetapi pada suatu saat, ia jatuh cinta pada perempuan keturunan Tionghoa, kemudian memindahkan nama depannya ke belakang menjadi Hartowardojo S. Harijadi. Hal ini dilakukan karena mengikuti penulisan nama orang Cina yang memasang she pada posisi depan nama pribadi. Begitulah yang dilakukan Harijadi. Ia sengaja mengubah posisi namanya hanya untuk menyamakan dengan perempuan Tionghoa itu sebagai pujaan hatinya. 

Ajip juga menggambarkan Harijadi dari segi fisik dan perilaku. Dalam amatan Ajip, Harijadi memiliki perilaku yang santun dengan bentuk wajah klasik dan rambut setengah ikal. Tidak hanya itu. Ajip juga bilang bahwa Harijadi tipikal laki-laki yang cakap. 

Di tengah keluarga, Harijadi hidup dalam perbedaan agama. Ada yang memeluk Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan pemeluk Kejawen. Tetapi Harijadi hidup secara damai tanpa ada pertikaian. Menurut Ajip, Harijadi lebih cenderung meyakini Kejawen, tetapi tidak mengurangi pemahamannya ihwal Islam dan Kristen. Ia juga meyakini ramalan. Bahkan pernah menjadi pengasuh rubrik astrologi dalam salah satu surat kabar. Kata Ajip, Harijadi sempat beberapa kali meramalkan jodohnya sendiri, namun tidak pernah berhasil. Sampai wafat Harijadi tidak pernah menikah. 

Roman Orang Buangan yang ditulisnya pada tahun 1967, adalah gerbang yang seharusnya bisa melambungkan nama Harijadi dalam khazanah sastra Indonesia. Meski pernah disejajarkan dengan penulis besar pada masanya, sayangnya, tidak banyak orang yang tahu bahwa ia menulis roman menarik sekaligus buku pertama yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Roman ini ia persembahkan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-34, bertepatan pada 18 Maret 1934.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//