• Narasi
  • Harimau dan Jati Diri Sunda

Harimau dan Jati Diri Sunda

Kisah-kisah tentang harimau di tanah Sunda tumbuh dan menjadi bagian dari jati diri masyarakat Sunda.

Firall Ar Dunda

Desainer grafis yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Widyatama

Kujang dengan landéan yang memiliki ukiran maung. (Foto: Dokumentasi Firall Ar Dunda)

27 Februari 2026


BandungBergerak.idLamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung (Kalau saya sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau) Prabu Siliwangi, pepatahnya dalam Uga Wangsit Siliwangi.

Harimau sudah lama tertanam dalam budaya masyarakat Sunda, menjadi sebuah identitas dan simbolisme. Sebuah representasi kekuatan, kebijaksanaan, dan kesucian. Kehadiran harimau sebagai simbol masyarakat Sunda memberikan saya banyak pertanyaan. Mengapa harimau? Dari mana awalnya masyarakat Sunda mengadopsi harimau sebagai jati dirinya? Dengan ini saya akan menjelajah sejarah bagaimana masyarakat Sunda memandang harimau sebagai sosok yang sakral, jelmaan Sang Raja Agung dan identitas masyarakat Sunda.

Baca Juga: Si Paling Nyunda, Absurditas Aksara Sunda Baku dan Jejak Nahas Gerak Politik Orang Sunda
Wastra Sunda Kuna: Jejak Doa dari Gunung, Hutan, dan Tangan Perempuan
Mitos Orang Sunda Pemalas: Stereotipe Budaya, Kabayan, dan Warisan Kapitalisme Kolonial

Sakralisasi Harimau di Tatar Sunda

Awal mula harimau menjadi sakral dalam masyarakat Sunda dapat dilacak dari tradisi lisan masyarakat Sunda sendiri. Banyak cerita rakyat dan mitos tentang maung dan manusia harimau, salah satunya mitos Prabu Siliwangi.

Ketika saya bertanya tentang maung sebagai jati diri masyarakat Sunda kepada Dikdik Hasan Sadikin atau lebih akrab disapa Dik Tanbih, soerang kerabat yang merupakan penggiat dan pakar budaya Sunda, beliau menjawab bahwa ini telah menjadi tradisi lisan turun temurun sedari zaman kerajaan Pakuan Pajajaran.

Konon katanya ketika Prabu (Siliwangi) sedang bertapa, beliau diganggu oleh Raja Siluman Harimau. Dalam cerita ini Raja Siluman Harimau itu ditaklukkan oleh sang Prabu. Setelah ditaklukkan Raja Siluman itu mengabdi ke sang Prabu. Dalam percakapan Raja Siluman berikrar, ‘Baginda prabu ti semet ayena kaula bakal ngabdi ka Baginda, dimana aya anu peryogi ka Baginda kami nu bakal nyingharepannana (Baginda Prabu semenjak saat ini saya akan mengabdi kepada baginda. Di mana baginda ada keperluan kami yang akan menghadapinya)’. Nah semenjak itu konon orang-orang Sunda percaya bahwa Prabu Siliwangi identik dengan harimau. Maka sampai saat ini harimau (maung) masih dipercayai menjadi sosok sakral dan dijadikan simbol di tatar Sunda.”

Ada pula kisah yang menceritakan bahwa maung dipercayai sebagai jelmaan Prabu Siliwangi. Penjelmaan ini tidak lepas dari kisah perseteruan Prabu Siliwangi dengan anaknya, Prabu Kean Santang. Dalam cerita, saat itu Prabu Kean Santang sedang melakukan pengejaran terhadap Prabu Siliwangi dan pasukannya. Pengejaran ini merupakan upaya dari Prabu Kean Santang untuk meng-Islam-kan Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya. Pengejaran yang dilakukan Kean Santang berakhir di Hutan Sancang, Garut Selatan. Di tempat tersebut, Prabu Siliwangi diyakini berubah menjadi seekor harimau putih dan pengikutnya menjadi harimau Sancang. Robert Wessing dalam artikelnya A Change in the Forest: Myth and History in West Java (Journal of Southeast Asian Studies) menjelaskan bahwa narasi perubahan wujud ini mencerminkan ketegangan antara sejarah dan mitos dalam masyarakat Sunda. Inilah asal muasal mengapa orang Sunda menganggap nenek moyangnya merupakan seekor maung.

Transformasi tersebut juga tercatat dalam naskah Wawacan Perbu Kean Santang yang diteliti dan diterbitkan oleh Surliana Marzuki (1992). Dalam naskah itu disebutkan bahwa para raja dan punggawa berubah menjadi maung warna-warni setelah kerajaan berubah menjadi leuweung. Narasi ini memperkuat keyakinan bahwa leluhur Sunda bertransformasi menjadi harimau.

Ari sakabeh para raja jeung ieu punggawa Mantri kabeh kudu mindah rupa jadi macan warna warni. Piunjuk ponggawa Mantri kabeh kudu ngiring ratu enggalna ratu Pakuan nyandak tukem ki lagondi diguratkeun kana tanah padaleman. Istijadna tinekanan karaton geus salin rupi jadi leuweung jujumplukan kitu deui. Perbupati diteunggeul ku kilagoni sakabeh geus jadi maung ari nu jadi ratuna, Ratu Batulajang aji, enggeus budal kabeh maruru Sancang.(Adapun semua para raja dan lagi punggawa Mantri semua harus berganti wujud menjadi harimau berwarna-warni. Beritahu ponggawa mantri semua harus turut raja, singkatnya raja Pakuan mengambil tongkat lagondi (nama pohon kecil) digariskan pada tanah bumi. Istijadnya terkabul keraton sudah berganti rupa menjadi hutan rimba begitu pula para bupati dipukul memakai kilagoni, semuanya sudah menjadi harimau yang menjadi rajanya, Raja Batulajang, sudah keluar semua menuju Sancang.)”

Kisah-kisah ini memiliki banyak perbedaan di tradisi lisan masyarakat Sunda. Seperti contohnya di dalam kisah yang diceritakan Dikdik kepada saya, Prabu Siliwangi tidak berubah menjadi maung namun sosok maung bermunculan untuk membantu Pajajaran setelah pertemuan Prabu Siliwangi dan Siluman maung. Walaupun banyak perbedaan versi, semua cerita tetap memiliki dua figur sentral yang sama yaitu Prabu Siliwangi dan maung. Sulit untuk mencari sumber awal dari cerita-cerita ini, namun seiring dengan perkembangannya cerita-cerita Prabu Siliwangi dan maung ini semakin melekat di dalam budaya masyarakat Sunda.

Dalam buku, Gebruiken en Goddienst der Soendaneezen (1935) Dr. K. A. H. Hidding menulis bahwa sakralisasi masyarakat Sunda terhadap harimau juga dapat ditemukan di tradisi masyarakat Sunda dalam mengkeramatkan sebuah tempat. Masyarakat Sunda kerap mencari wangsit di beberapa tempat-tempat seperti kuburan, hutan, dan mata air. Lalu wangsit ini akan hadir melalui mimpi. “Biasanya orang-orang akan melihat (ketika) hampir tertidur, mula-mula seekor ular atau harimau, yang merupakan pembawa jawaban dan sekaligus penguji kebenaran mimpi”. Fenomena ini berlanjut hingga kini dalam praktik yang disebut “ngamaung”, yaitu pesugihan yang berkaitan dengan harimau. Budi Gustaman dalam artikelnya Antara Mitos dan Realitas: Historisitas Maung di Tatar Sunda (2019) melihat praktik ini sebagai residu kepercayaan lama yang bertransformasi dalam konteks modern.

Dengan demikian, sakralisasi maung tumbuh dari persilangan antara mitologi kerajaan, praktik spiritual rakyat, dan pengalaman ekologis masyarakat.

Jati Diri Sunda

Pengadopsian harimau sebagai suatu simbol budaya tidak lepas dengan “kedekatan” masyarakat Sunda terhadap sosok maung. Kedekatan tersebut diterjemahkan sebagai faktor ekologis, di mana harimau banyak mendiami hutan-hutan yang ada di wilayah Tatar Sunda.

Peter Boomgaard dalam Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World 1600–1950 (2001) mencatat bahwa wilayah Priangan dan Banten termasuk dalam kawasan tiger-nest (sarang harimau). Di Jawa, tiger nest mencakup hutan-hutan di Keresidenan Banten, Priangan, hutan Waleri (antara Pekalongan dan Semarang), wilayah Easthook (Kereseidenan Pasuruan, Probolinggo, Besuki, dan Banyuwangi), wilayah Klakah (di antara Probolinggo & Lumajang), pedalaman Ngawi dan Madiun, hutan Blitar, serta hutan wilayah Baluran.

Simbolisasi harimau “maung” sebagai identitas jati diri Sunda juga tidak lepas dari faktor sejarah Kerajaan Pajajaran. Kekuatan dan kehebatan kerajaan Pajajaran terekam dalam memori masyarakat Sunda sehingga kebesaran Prabu Siliwangi juga tertanam melalui budaya lisan masyarakat Sunda. Dari segi mitologis juga pengorbanan Prabu Siliwangi dan pasukannya yang menjadi maung menjadi bukti keberanian dan keteguhan hati seorang Sunda. Kisah ini menjadi sebuah catatan bahwa orang Sunda seharusnya memiliki sifat pahlawan yang suci, murni, jujur, dan adil sebagaimana Sang Raja Agung Prabu Siliwangi.

Lalaki getih siliwangi pantang ragrag tunggara (laki-laki berdarah siliwangi pantang terjatuh dalam keterpurukan)”

Seiring perkembangannya, kisah-kisah tentang harimau di tanah Sunda tumbuh dan menjadi bagian dari jati diri masyarakat Sunda. Simbolisasi ini sangat melekat dalam berbagai aspek kehidupan di tanah Sunda, contohnya saja “Maung” menjadi julukan bagi klub sepak bola Persib Bandung. Nama Prabu Siliwangi juga diadopsi oleh divisi militer di Jawa Barat yaitu Kodam III/Siliwangi lengkap dengan maung sebagai lambangnya. Di sisi lain harimau juga kerap menjadi ukiran di ganja/landéan (pegangan) pada Kujang (senjata tradisional Jawa Barat).

Maka dari itu bagi orang Sunda harimau “maung” merupakan karuhun (nenek moyang) yang menjadi panutan. Hal inilah yang kemudian diadopsi dan dijadikan panutan “jati diri” bagi masyarakat Sunda.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//