Keracunan Massal MBG Terulang, 46 Siswa dan Guru di Kota Cimahi Jadi Korban
Kasus pertama di Cimahi ini memperpanjang daftar insiden serupa di Jawa Barat. Kejadian bermula setelah menyantap menu dari SPPG Karangmekar 02.
Penulis Awla Rajul28 Februari 2026
BandungBergerak - Program yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi kembali menyisakan ironi. Sebanyak 46 siswa dan guru di Kota Cimahi diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan Rabu, 26 Februari 2026. Peristiwa pertama di Cimahi ini menambah deret panjang kasus keracunan MBG di Jawa Barat.
Sejumlah siswa sekolah dari tingkat TK PGRI, TK Kartika, SDN Cimahi Mandiri 4, SDN Karangmekar 5, dan SMPN 6 melaporkan mengalami gejala keracunan makanan seperti muntah-muntal, mual, dan pusing. Para siswa dan guru menyantap menu MBG di antaranya, onigiri atau nasi kepal, telur rebus, kurma, dan susu murni.
Korban yang mengalami keracunan ditangani ke RSUD Cibabat, Rumah Sakit Mitra Kasih, dan Rumah Sakit Dustira. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat menerima pasien yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu makanan MBG pertama kali sekitar pukul 14.58 WIB, Rabu 26 Februari 2026.
“Sampai dengan hari ini, RSUD Cibabat telah menerima dan menangani sebanyak 41 pasien yang datang dengan keluhan terkait dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG. Dari total tersebut, 38 pasien telah diperbolehkan pulang dalam kondisi membaik, sementara tiga pasien masih menjalani perawatan di RSUD Cibabat dan dalam pemantauan petugas kesehatan,” kata Agustiningsih, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Cibabat kepada BandungBergerak, Jumat, 27 Februari 2026.
Agustiningsih membeberkan, pasien yang masih dirawat dalam kondisi stabil. Namun masih memerlukan observasi karena baru masuk dan ditangani per Kamis, 26 Februari 2026. Ia mengimbau kepada masyarakat yang mengalami gejala seperti mual, muntah, nyeri perut, atau keluhan lainnya setelah mengonsumsi makanan, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.
SPPG Ditutup
Pada hari pertama kejadian, para korban mendapatkan menu MBG Ramadan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangmekar 02. Santapan MBG dibagikan pagi hari. Para korban menyantapnya di waktu yang berbeda-beda.
“Jadi ada yang dimakan pada jam 11 siang, ada yang jam tiga sore, serta paling sore jam lima. Sample sudah dibawa dan sedang diuji,” kata Adithia Yudistira, Wakil Wali Kota Cimahi, Rabu malam, 25 Februari 2026.
Adithia mengatakan, Pemkot Cimahi mendirikan posko di RSUD Cibabat untuk menangani pasien yang mengalami gejala keracunan.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana menutup sementara SPPG Karangmekar 02 selama proses investigasi berlangsung. Sampel makanan telah dibawa ke laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) Jawa Barat untuk diuji.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati mengungkapkan, SPPG Karangmekar 02 diketahui belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun demikian, SPPG ini sudah melakukan uji laboratorium dan mengantongi hasil uji sampel air, makanan, dan minuman, hingga alat usap makan sebagai syarat penerbitan SLHS.
Mulyati menerangkan, SPPG itu belum mengantongi SLHS karena belum melengkapi syarat pendukung lainnya, seperti surat permohonan penerbitan SLHS, denah, serta dokumen penetapan SPPG dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Hasil labnya sudah keluar, sudah negatif, bagus hasilnya untuk penerbitan SLHS. Tapi belum diterbitkan (SLHS),” kata Mulyati, Jumat, 27 Februari 2026, dikutip dari dari Republika.
Baca Juga: MBG dan Harga yang Harus Dibayar
MBG Memicu Kekhawatiran Orang Tua, Negera Didesak Melindungi dan Memulihkan Korban Keracunan Massal
Pertama di Cimahi, Ribuan Korban di Bandung Raya
Puluhan korban siswa dari jenjang TK hingga SMP beserta guru di Cimahi ini menambah jumlah korban keracunan MBG di Bandung Raya. Sebelumnya, kasus keracunan massal MBG terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Sepanjang September-Desember 2025, Kabupaten Bandung Barat menjadi daerah dengan jumlah korban keracunan massal terbanyak, mencapai 2.000 orang korban. Di antaranya, 1.300 orang korban di Kecamatan Cipongkor dan Kecamatan Cihampelas, 236 orang di Kecamatan Lembang, dan 345 orang di kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Berulangnya kasus keracunan massal ini terus menuai kecaman, bersamaan dengan kritik atas anggaran MBG yang naik drastis di tahun 2026. Anggaran untuk MBG di tahun 2025 sebesar 71 triliun rupiah. Angkanya naik fantastis menjadi 268 triliun di tahun 2026 dan diduga bersumber dari anggaran pendidikan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

