Marapthon sebagai Realitas yang Disimulasi
Apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang memirsa siaran langsung berjam-jam, lalu suka rela mengirim donasi pada orang yang sedang siaran langsung itu?

Fio F Yussup
Pengajar di salah satu sekolah menengah pertama di provinsi Jawa Timur
3 Maret 2026
BandungBergerak.id – “Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, bisakah tayangan sepak bola kini dianggap lebih sporty dari sepak bola itu sendiri?” Nukilan berikut merupakan paragraf awal dari esai panjang Zen RS yang berjudul Simulakra Sepakbola dari buku kumpulan esai dengan judul yang sama yaitu, Simulakra Sepakbola (2016). Dalam esai tersebut Zen RS membabarkan bagaimana masyarakat lebih merasa mengerti dan merasakan sepakbola dengan hanya memirsanya melalui televisi atau hanya menjadi pemirsa saja dibanding menjadi penonton–Zen RS, membagi pengistilahan pemirsa untuk mereka yang hanya mengalami sepakbola melalui media dan penonton bagi mereka yang mengalami sepak bola secara langsung, dalam artian menjadi penonton di stadion.
Dalam memahami fenomena yang ia dikotomikan sebagai pemirsa dan penonton ini menggunakan teori simulasi cerapan dari Jean Baudrillard yang sepertinya dalam tebakan saya dari bukunya yang berjudul Simulacra and Simulation, mungkin. Hal yang diamati oleh Zen RS bisa dimafhumi memang jika hari ini banyak dari kita terjebak dalam ilusi-ilusi yang diciptakan oleh citra-citra, sehingga sulit untuk membedakan antara realitas nyata dan realitas yang disimulasikan; pendek kata batas antara yang sesuatu yang nyata dengan simulasi menjadi bias. Pun lebih lanjut pemirsa merasa dirinya lebih paham mengenai sepak bola ketimbang mereka yang menjadi penonton sepak bola langsung. Mereka mereduksi sepak bola menjadi semacam angka-angka statistik dibandingkan dengan merasakan langsung bagaimana atmosfer dari kesebelasan di lapangan.
Hal serupa inilah yang coba saya babarkan terkait fenomena donasi atau menyawer pada influencer atau pemengaruh yang sedang melakukan siaran langsung melalui Youtube. Secara khusus yang saya bahas dalam hal ini adalah salah satu pemengaruh yang sedang banyak dibahas khalayak khususnya di media sosial, yaitu Reza Arap dengan konten siaran langsungnya bertajuk Marapthon.
Baca Juga: Digitalisasi, Media Sosial, dan Dampaknya pada Keagamaan
Brain Rot, Algoritma Media Sosial, dan Sistem Ekonomi Kapitalistik
Benarkah Fiksi Mengimitasi Realitas?
Simulasi sebagai Cari Lain Mengada
Dimulai dari pertanyaan sederhana sebetulnya, apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang memirsa siaran langsung selama berjam-jam, lalu secara sukarela mengirimkan donasi kepada orang yang sedang melakukan siaran langsung? Sebagian dari kita mungkin sudah akrab dengan fenomena ini serta menganggapnya sebagai bentuk dukungan bagi pemilik konten secara alami kita menormalisasi hal demikian. Akan tetapi, makin lama diperhatikan rasa-rasanya cara secuil pemirsa yang memirsa siaran langsung tersebut seakan-akan menggambarkan bagaimana mereka mengaburkan batasan antara yang nyata dan simulasi–dalam hal ini mereka merasa tergabung dan merasa yang nyata adalah siaran langsung itu. Pada akhirnya ada kemungkinan-kemungkinan masyarakat kita sedang mengalami perubahan dalam cara mengalami realitas.
Baudrillard berpendapat seperti yang dinukil oleh Zen RS, jikalau masyarakat kiwari hidup dalam tatanan simulasi atau sebuah kondisi ketika representasi tidak lagi sebatas gambaran, melainkan turut memengaruhi sebagai apa yang nyata. Dalam situasi demikian batas antara pengalaman langsung serta pengalaman yang telah termediasi oleh teknologi menjadi semakin sulit untuk dirasakan. Dalam hal ini, menyangkut bagaimana Reza Arap dalam konten Marapthon-nya mampu menghadirkan semacam percakapan tongkrongan, misal, makan, bercerita, mengomentari, atau pun sekadar duduk-duduk tanpa arah yang jelas. Kemudian, pemirsa datang, bertahan memirsa, lalu berinteraksi melalui kolom komentar; atau lebih jauh pemirsa mengirimkan donasi atau menyawer pemengaruh tersebut–mungkin merasakan kepuasan atau mampu memenuhi nafsu dari dianggap ada atau dilirik oleh pemengaruh yang dikirimkan donasi olehnya, dan lebih jauh dimesiahkan olehnya.
Siaran langsung yang dilakukan oleh Reza Arap tampaknya mampu menyediakan semacam format atau kondisi kehadiran yang terasa meyakinkan. Waktu berjalan sebanding lurus; kemunculan respons spontan; atau pun interaksi yang bisa dirasakan oleh pemirsa dari mana saja, sehingga menimbulkan perasaan memiliki, mengenali, dan terasa kebersamaannya. Oleh karena itu, keterlibatan yang dialami pemirsa melalui interaksi di kolom komentar atau pun melalui donasi menjadi terasa lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.
Ketika kebersamaan ini mampu dimediasi oleh media, keadaan pemirsa yang memberikan donasi mampu dipahami serupa tindakan partisipasi dalam ruang fisik–dalam artian serupa ketika kita nongkrong, lalu urun dana guna membeli kopi, minuman, atau makanan ringan. Memberikan donasi atau menyawer bukan hanya berkaitan dengan streamer sebagai individu, ia juga berhubungan dengan keberlanjutan situasi interaksi yang sedang berlangsung. Donasi berpotensi sebagai tanda keterlibatan, semacam cara bagi pemirsa mengenkripsi darinya ke dalam arus komunikasi yang terus bergerak.
Selanjutnya, lebih jauh Baudrillard menegaskan dalam bukunya yang berjudul Masyarakat Konsumsi (2011) atau dalam judul aslinya Le societe de consommation, jikalau masyarakat sekarang telah terjatuh pada sistem tanda ketika mitos kebutuhan diciptakan melalui persuasi yang mana masyarakat diarahkan pada kesadaran jikalau mereka memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Akan tetapi, kebutuhan tersebut tidaklah pernah mampu terpenuhi karena apa yang mereka konsumsi bukanlah nilai gunanya melainkan nilai tandanya dalam hal ini yang mereka konsumsi adalah status dari apa yang mereka anggap kebutuhan. Kemudian, donasi atau saweran yang diberikan oleh pemirsa terhadap streamer ketika siaran langsung–khususnya di sini terhadap konten Marapthon–lebih kurangnya guna mengonsumsi tanda. Pemirsa konten Marapthon melalui perspektif Baudrillard memiliki etika baru yang disebut sebagai fun-morality, ketika pemirsa dipaksa untuk merasa bahagia ketika dia melakukan konsumsi dengan dilirik atau disebut namanya dalam siaran langsung oleh streamer.
Dengan demikian, donasi atau saweran yang diberikan pemirsa ketika memirsa siaran langsung Marapthon bukanlah sepenuhnya bentuk dukungan terhadap streamer, melainkan semacam pemuasan akan kenikmatan; semacam pemuasan akan nafsu dalam mengonsumsi tanda; atau pendek kata donasi yang diberikan merupakan praktik simbolik semata. Ia menandakan kehadiran, kedekatan, atau bahkan mengenkripsikan diri sebagai bagian dari komunitas atau ruang yang dibangun oleh streamer tersebut; sehingga pemirsa merasa memiliki, mengenali, dan berbaur dengannya.
Implikasi penting yang terjadi dalam hal ini adalah bergesernya pemahaman tentang bagaimana cara kita mengada dalam realitas. Jika kebersamaan dapat dialami, dirasakan, dan dinikmati, tanpa perlunya kehadiran dalam ruang fisik, maka dalam hal ini makna kedekatan atau kebersamaan mengalami perluasan. Media dalam hal ini menghadirkan kondisi di mana pengalaman sosial diorganisasikan oleh teknologi jaringan. Dalam konteks ini, memberikan donasi pada streamer menjadi memperkuat bagaimana bentuk atau cara lain mengada atau rasa berada-di-sana, meskipun kondisi tersebut hanyalah sebatas representasi belaka. Situasi demikianlah yang mungkin menjadi alasan atau bahan pertimbangan bahwa memirsa merupakan bentuk kehadiran yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri yang terjadi dalam satu ruang yang sama, sehingga kehadiran sudah tidak lagi ditandai dan bergantung pada koeksistensi tubuh.
Mencari Realitas dalam Keterasingan
Melalui fenomena memberikan donasi terhadap pemengaruh yang melakukan siaran langsung memberikan gambaran mengenai bagaimana realitas kiwari ini semakin sulit untuk dipisahkan dari sistem representasi yang memproduksinya. Kebersamaan dapat dialami melalui layar, partisipasi dapat dinyatakan melalui donasi, serta kehadiran mampu dirasakan tanpa pertemuan fisik.
Baudrillard sebetulnya tidak mengajak kita untuk skeptis terhadap realitas yang dimediasi. Ia mencoba untuk mendorong kesadaran kepada para pemirsa, jikalau apa yang kita anggap alami sering kali merupakan hasil konstruksi tanda-tanda. Dengan kesadaran tersebut, pemirsa berpeluang untuk melihat donasi dalam siaran langsung merupakan bagian dari transformasi yang lebih luas yaitu pergeseran dari mengada dalam ruang fisik menuju ke mengada berbasis tanda.
Pun pada akhirnya, fenomena ini mungkin menjawab sesuatu tentang bagaimana kita selalu terasing dari kehidupan itu sendiri; dari diri sendiri; selalu merasa terasing dari kondisi sosial; yang menjadikan sebagian dari pemirsa merupakan individu yang kesepian; merupakan individu yang merasa sunyi di keramaian; merupakan kesendirian yang secara sadar terciptakan, sehingga terus-menerus melakukan pencarian terhadap keterhubungan entah dalam bentuk apa pun. Keterhubungan yang dimaksud pun bukan hanya antarindividu belaka, melainkan dengan segala hal, salah satu contoh dengan realitas simulasi melalui siaran langsung. Dalam hal ini, dapat dipahami jikalau realitas digital atau realitas citra yang disimulasikan menjadi dunia tempat kehidupan dijalani.
Hal tersebut pun seperti apa yang dibabarkan oleh Heidegger, jikalau teknologi bukan hanya sekadar alat melainkan sekaligus cara manusia memahami dan mengorganisasi dunia–pun teknologi mampu mengubah bagaimana cara manusia berhubungan dengan sesama dan alamnya yang pada akhirnya menyebabkan terasing terhadap dirinya sendiri. Seperti yang disintesiskan oleh Fakhrurrozi dan Wawaysadhya (2024); Wibowo (2021); serta Mukmin dan Putri (2025), melalui konsep Gestell atau pembingkaian, Heidegger menunjukkan mengenai bagaimana teknologi mendorong manusia melihat segala sesuatu sebagai objek yang dapat dimanfaatkan. Cara pandang demikian memiliki potensi mereduksi keberadaan manusia menjadi bagian dari sistem yang berorientasi pada efisiensi dan produktivitas. Dalam hal memandang bagaimana siaran langsung dipahami melalui perspektif ini, relasi antara pemirsa dan streamer dapat dipahami bukan sebagai hubungan interpersonal, tetapi sebagai relasi yang telah dibingkai oleh logika teknologi–interaksi, perhatian, dan bahkan kehadiran, yang dijebak dan dimanifestasikan melalui apa yang disebut dengan calculative thinking.
Sehingga kondisi tersebut membawa konsekuensi eksistensial. Heidegger berpendapat bahwa dominasi teknologi dapat menimbulkan keterasingan, bukan hanya secara sosial tetapi juga secara metafisik. Media digital bahkan dapat menciptakan ilusi keterhubungan sekaligus meningkatkan rasa keterasingan ketika relasi yang terbentuk tidak cukup mendalam. Sampai di sini, fenomena siaran langsung, lalu pemirsa memberikan donasi dapat dibaca sebagai paradoks; di sisi lain ia mampu menghadirkan kebersamaan, tetapi sekaligus memungkinkan keterpisahan. Pemirsa merasa berada-di-sana tetapi kehadiran itu berlangsung dalam kerangka yang telah ditentukan oleh teknologi. Maka, dalam perspektif Heidegger, teknologi mampu mengubah secara mendasar bagaimana cara pemirsa memahami keberadaannya atau pendek kata bagaimana cara pemirsa mengada di realitas. Dengan demikian, teknologi bukan sekadar menciptakan citra; menciptakan realitas; menciptakan simulasi; pun akhirnya mengondisikan bagaimana manusia merasa hadir di dunia.
Fenomena ini pun mengingatkan saya pada novel The Stranger karya Albert Camus, ketika Meursault merasa jikalau dirinya tidak pernah mengada pada realitas dalam artian dia menganggap keterhubungannya dengan Marie atau Raymond bukanlah yang patut dirayakan semuanya sama saja. Pun menurutnya bagaimanapun keadaanya bahwa hidup bukanlah kehidupan yang pantas dijalani, “...dapat kupahami cuma ada perbedaan kecil apakah seseorang akan mati pada umur 30, 60, atau 100 tahun…. Apakah aku akan mati sekarang atau 40 tahun yang akan datang…” pada akhirnya kematian akan terjadi juga. Apa yang dirasakan Meursault dalam hal ini semacam kesepian dan kesunyian dalam realitasnya ketika ia merasa jikalau apa pun yang terjadi akan sama saja pada akhirnya kita hidup hanya untuk mati–meskipun dalam konteks ini Meursault tidaklah kehilangan realitas nyata yang digantikan oleh realitas yang disimulasikan, tetapi rasa-rasanya apa yang dialami Meursault seperti apa yang rerata pemirsa rasakan yaitu rasa kehilangan makna dalam hidup sehingga pada akhirnya pemirsa barangkali mencari makna itu pada realitas mana pun meskipun itu hanya sebatas representasi.
Lalu apa yang tersisa bagi pemirsa? Yang tersisa bagi pemirsa barangkali bukanlah keputusan untuk menerima atau pun menolak praktik mengada pada realitas simulasi. Melainkan kesiapan untuk menyadari bagaimana pengalaman sehari-hari semakin sering berlangsung dalam tatanan simulasi–karena kondisi yang memaksa pemirsa menjadi terasing dengan realitas nyatanya. Dari kesadaran tersebut keterhubungan atau keterlibatan dapat tetap dijalani dengan jarak reflektif yang memungkinkan kita memahami struktur yang sedang membentuk cara kita hadir di dunia. Dan pada akhirnya kita adalah individu yang kesepian dan terasing dari kenyataan tersebab teknologi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan nukilan puisi Hamzah Muhammad dari kumpulan puisinya, Puisi Baru (2026), “dan akhirnya lu tau kan / … lu tuh butuh temen / sebanyak mungkin. // bukan untuk lu manfaatin, / tapi supaya lu nggak ngerasa… / … sendiri.” dari puisi berjudul sori, nggak ada yang gratis, dan, “di saat bersamaan, lu tuh cuma hidup. / ngelupain laper dan nggak mikirin satu pun orang / yang peduli,” dari puisi berjudul workshop nulis puisi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

