Hilangnya Burung Jalak Suren di Ekosistem Perdesaan
Burung Jalak Suren masih bisa ditemukan di pasar-pasar burung dan penggemar burung. Namun, jenis burung tersebut diduga telah punah di alam.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
9 Maret 2026
BandungBergerak – Burung Jalak Suren, biasa disebut pula dengan nama, Jalak Uren, atau nama lainnya dikenal sebagai Kerak Omas, merupakan salah satu jenis burung dari famili jalak-jalakan atau jenis-jenis kerak, Famili Sturnidae. Burung tersebut dalam bahasa Inggris biasa dinamakan sebagai Asian Pied Starling. Nama ilmiah burung Jalak Suren dahulu dinamakan Sturnus contra. Tetapi, nama burung tersebut, kini diganti dengan nama baru, yaitu Gracupica jalla, dikenal dalam bahasa Inggrisnya dengan sebutan Javan Pied Straling.
Burung Jalak Suren memiliki tanda-tanda morfologi cukup menarik. Ukuran tubuhnya termasuk ukuran sedang, yakni sekitar 22 cm. Warna umum bulunya hitam dan putih. Bulu putih ada pada bagian dahi, pipi, garis sayap, tunggir, dan perut. Sementara bulu pada bagian dada, tenggorokan, dan tubuh bagian atas berwarna hitam, namun pada burung yang masih muda atau remaja memiliki warna kecoklatan. Bagian iris abu-abu, bagian kulit tidak berbulu di sekitar mata berwarna jingga. Paruh warna merah dengan bagian ujungnya putih. Kakinya berwarna kuning. Burung jantan dan burung betina memiliki warna umum yang tidak berbeda (monotipik).
Penyebaran burung Jalak Suren di Indonesia tercatat di Jawa, Bali, dan Sumatra. Burung tersebut mempunyai kebiasaan hidup berkelompok, baik dalam kelompok kecil atau kadang berpasangan. Di kawasan perdesaan, burung Jalak Suren biasa di temukan pada habitat sawah, hanya kadang-kadang terbang dan hinggap di pepohonan kebun atau pepohonan pekarangan di pinggir sawah. Makanan burung ini aneka ragam serangga ataupun berbagai organisme tanah, seperti cacing dan lainnya di kawasan sawah. Sarang-sarang burung tersebut pernah ditemukan di masa lalu di pohon kelapa di kawasan sawah di wilayah Purwakarta. Sarangnya cukup besar, panjangnya sekitar 25 cm dengan lebar 30. Sarang dibuat dari rumput-rumput, jerami, tangkai padi, dan daun-daun kering. Sarang diletakan di pangkal pelepah kelapa.
Mengingat makanan burung Jalak Suren berupa aneka ragam jenis serangga hama, seperti belalang, dan serangga lainnya di kawasan sawah. Maka, tidaklah heran bahwa menurut seorang ahli zoologi pertanian, K. W. Dammerman, dalam bukunya yang berjudul “The Agricultual Zoology of the Malay Archipelago”, diterbitkan di Amesterdam, 1929, mengungkapkan bahwa burung Jalak Suren termasuk salah satu jenis burung yang dikategorikan sebagai burung yang menguntungkan secara ekologi (useful animal) di alam. Menurut Dammerman, walaupun burung Jalak Suren kadang-kadang memakan buah-buahan, tetapi sesungguhnya makanan utamanya di ekosistem sawah adalah aneka ragam serangga yang hidup di tanah, seperti belalang, cacing, ulat permukaan tanah. Maka, menurut ahli Zoologi Pertanian Belanda tersebut, burung Jalak Suren, dianggap menguntungkan secara ekologi. Bahkan berbagai jenis burung lainnya–yang biasa memangsa serangga, memangsa binatang hama seperti tikus, penyerbuk tumbuhan, dan penyebar biji buah-buahan di alam–dikategorikan sebagai jenis-jenis burung menguntungkan secara ekologi di alam. Misalnya, anekaragam jenis burung Famili Zosteropidae, Corvidae, Oiolidae, Paridae, Laniidae, Artamidae, Dicruridae, dan lain-lainnya (lihat Tabel).
Tabel aneka ragam jenis burung yang dianggap menguntungkan secara ekologi di alam (Dammerman, 1929).
|
No |
Nama famili & contoh jenis |
Nama lokal |
Peranan ekologi menguntungkan |
|
1 |
Sturnidae, Gracupica jalla (Sturnus contra) |
Jalak suren, Kerak omas |
Memangsa serangga yang hidup di tanah, seperti belalang, dan ulat permukaan tanah, dapat membantu mengendalikan hama |
|
2 |
Zosteropidae, Zosterops spp |
Burung kaca mata, Pleci |
Pemakan serangga, biji-bijian dan buah-buahan, pemangsa serangga hama dan membantu penyerbukan tumbuhan |
|
3 |
Corvidae, Corvus enca, C.macrorhynchus |
Gagak, Gaok |
Makan segala macam, termasuk anak-anak tikus, sehingga dapat membantu mengendalikan hama pertanian. |
|
4 |
Oriolidae, Oriolus chniemsis |
Kepodang |
Biasa memakan serangga, dan buah-buahan, seperti buah beringin, dapat berperan mengendalikan serangga hama, dan membantu menyebarkan biji buah-buahan. |
|
5 |
Paridae, Parus major |
Gelatik batu |
Memangsa serangga, ulat-ulat, semut-semut pohon kayu, ikut mengendalikan hama. |
|
6 |
Laniidae, Lanius schach |
Toed |
Gemar memakan serangga termasuk serangga hama |
|
7 |
Artamidae, Artamus leucorhynchus |
Manuk buah, Kekep babi |
Gemar memakan serangga, termasuk serangga hama |
|
8 |
Dicruridae, Dicrurus macrcerceus |
Saeran, Srigunting |
Burung pemakan serangga dapat menguntungkan memangsa serangga hama |
|
9 |
Campephagidae, Lalage nigra |
Manuk muncang, Kapasan |
Pemakan serangga dan ulat dapat membantu mengendalikan hama |
|
10 |
Hirundinidae, Hirundo tahitica |
Kapanis, Layang-layang |
Burung pemakan serangga sambil terbang melayang-layang di udara dapat membantu mengendalikan serangga hama |
|
11 |
Muscicapidae, Rhipidura javan ica |
Manuk sapu, Burung kipas |
Pemakan serangga dapat membantu memangsa serangga hama |
|
12 |
Turdidae, Copsychus saularis |
Manuk haur |
Pemakan serangga dapat membantu memngsa serangga hama |
|
13 |
Sylviidae, Cisticola juncides, Orthotomus spp, Prinia spp |
Cici, Pacikrak, Ciblek |
Pemakan serangga dapat membantu memangsa serangga hama |
|
14 |
Pycnonotidae, Pycnonotus aurigaster |
Cangkurileung, Kutilang |
Pemakan buah-buahan dan serangga hama, dapat memangsa serangga hama |
|
15 |
Aegithinidae, Aegithina tiphia |
Cipeuw, Cipo |
Pemakan ulat-ulat daun, serangga, membantu mengendalikan hama |
|
16 |
Cuculidae, Cacomantus merulinus |
Sirit uncuing |
Burung pemakan serangga, dapat mengendalikan serangga hama |
|
17 |
Capitonidae, Psilopogon haemacephalus (Megalama haemacephala) |
Unkut-ungkut |
Pemakan buah-buahan dapat membntu menyebarkan biji buah-buahan di ekosistem |
|
18 |
Picidae, Picus macei |
Caladi |
Pemakan telur semut, serangga di kulit pohon kayu, membantu mengendalikan hama |
|
19 |
Meropidae, Merops leschenaulti |
Kirik-kirik |
Biasa menyambar-nyambar serangga di udara, membantu mengendalikan serangga hama |
|
20 |
Alcedinidae, Todirampus (Halcyon) choloris |
Cekahkeh |
Burung pemakan organisme air, sebagai indikator kualitas air dari pencemaran pestisida. |
|
21 |
Falconidae, Falco moluncensis |
Alap-alap sapi |
Burung buas pemakan jenis-jenis bintang hama pertanian |
|
22 |
Accipitridae, Spilornis cheela |
Heulang ruyuk |
Burung buas pemakan pemakan jenis-jenis binatang hama |
Burung Jalak Suren, selain memberi manfaat secara ekologi di alam, burung tersebut juga biasa menjadi burung peliharaan bagi penduduk, baik di desa maupun di kota. Pasalnya, burung tersebut bulunya cukup indah, perilaku cukup menarik dan mudah dipelihara. Oleh karena itu, tidaklah heran bahwa burung Jalak Suren marak diperdagangkan di pasar-pasar burung di berbagai kota di Indonesia.
Baca Juga: Ketika Kolam Pekarangan Urang Sunda Kian Menyusut
Keberadaan Ayam Kampung yang Kian Terdesak
Perubahan Iklim dan Erosi Varietas Padi Lokal
Punah di Alam
Berdasarkan literatur burung Jalak Suren saat ini telah punah di alam. Walaupun burung tersebut masih ditemukan di alam, mungkin merupakan burung peliharaan yang lepas ke alam. Nasib menimpa burung Jalak Suren di alam sungguh tragis dan menyedihkan. Pasalnya. sekitar empat puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1977/1978, penulis masih sangat mudah untuk menyaksikan burung Jalak Suren marak di kawasan sawah-sawah di DAS Citarum.
Misalnya, berdasarkan pengalaman pribadi penulis, ketika masih menjadi mahasiswa Biologi, FMIPA di Universitas Padjadajaran (Unpad), bersama rekan (waktu itu juga masih mahasiswa), Bas van Helvoort, dari Department of Nature Conservation, Wageningen University Belanda, yang melakukan penelitian ekologi burung di Desa Cilangkap bagian hilir dari Danau Jatiluhur, dan Desa Cikidang Lembang, Bandung, pada tahun 1977-1978 masih sangat mudah untuk menemukan Jalak Suren di desa tempat kami melakukan penelitian ekologi burung. Burung-burung Jalak Suren sering dapat diamati di habitat sawah di pagi hari maupun sore hari (Iskandar, 1980; Van Helvoort, 1981).
Selain itu, berdasarkan pengalaman kami, di era tahun 1977-1978, yang sering mencatat aneka ragam jenis burung yang di perdagangkan di beberapa tempat di Kota Bandung, seperti pinggiran terminal bis Kebun Kelapa, Jalan Waringin, Andir, dan Jalan Kebon Kawung di bagian utara Stasiun Bandung, dan beberapa tempat lainnya di Kota Bandung, biasa menyaksikan maraknya anekaragam jenis burung, termasuk Jalak Suren yang diperdagangkan di tempat-tempat tersebut.
Berdasarkan obrolan kami dengan para pemasok burung-burung liar dari daerah-daerah yang biasa datang ke pasar burung di Kota Bandung, kami dapat mendokumentasikan bahwa para pemasok burung-burung liar tersebut berasal dari berbagai daerah. Misalnya, dari kawasan Bandung dan sekitarnya, termasuk dari Ujungberung, Ciwidey, Banjaran, Pangalengan, Majalaya, dll. Sementara dari wilayah lainnya, termasuk dari Cianjur, Purwakarta, Garut, Ciamis, Sumedang, Majalengka, dll. Mereka biasanya datang ke pasar burung Kota Bandung, membawa burung-burung liar dagangannya bervariasi, seperti seminggu sekali, seminggu dua kali, ataupun hanya kadang-kadang saja.
Mereka membawa burung-burung liar dari daerahnya masing-masing dan menjualnya secara langsung pada para konsumen pembeli burung di pasar burung ataupun menjual burung ke pada para pedagang burung yang memiliki kios-kios jualan burung dan jualan aneka ragam pakannya. Pada era tahun 1977-1978-an, dapat didokumentasikan tak kurang dari 117 jenis burung yang biasa diperdagangkan di pasar burung Kota Bandung (Iskandar, 1980). Di antara berbagai jenis-jenis burung yang diperdagangkan tersebut, termasuk burung Jalak Suren yang populasinya cukup banyak.
Pada tahun 2002-an, pasar burung Kota Bandung dipindahkan ke Pasar Burung Sukahaji, Jalan Peta, Sukasih, Kecamatan Bojong Kaler, Bandung. Di lokasi baru tersebut, perdagangan aneka ragam burung tetap meriah. Pada tahun 2013, misalnya, penulis telah dapat mendokumentasikan, sekurangnya 128 jenis burung dari 37 famili burung yang diperdagangkan di Pasar Burung Sukahaji (Iskandar, 2017). Pada saat itu, tercatat pula burung Jalak Suren, sangat marak diperdagangkan. Harga jenis burung tersebut tidak terlalu mahal, dan relatif mudah dipelihara. Maka, tak heran burung-burung Jalak Suren banyak dipelihara oleh para penggemar burung di perkotaan.
Pada tahun 2013-an, aneka ragam jenis burung kicau marak dikonteskan pada acara kontes burung kicau tingkat lokal, regional, maupun nasional. Oleh karena itu, bagi sebagian para pencinta pemelihara burung, mereka memelihara aneka ragam jenis burung bukan hanya untuk dinikmati suara, keindahan bulu, dan tingkah lakunya, tetapi juga untuk dikonteskan pada kontes burung berkicau.
Khususnya bagi burung Jalak Suren, walaupun kadang-kadang burung tersebut ikut lomba dalam kontes burung tingkat lokal, namun burung tersebut bukan termasuk kategori burung utama yang biasa dikonteskan. Burung Jalan Suren biasanya digunakan untuk “pemasteran”, yaitu untuk mengisi suara burung utama kontes, supaya memiliki suara bervariasi, menirukan suara jenis burung lain. Biasanya burung utama kontes, seperti Murai Batu, sangkarnya biasa didekatkan dengan burung jenis lainnya, termasuk burung Jalak Suren di rumah pemiliknya. Hal tersebut dimaksudkan agar burung Murai Batu dapat menirukan suara burung lainnya, seperti burung Jalak Suren.
Namun dewasa ini burung Jalak Suren agak kurang populer bagi para kicau mania. Pasalnya, harga jual burung Jalak Suren relatif murah. Misalnya, pada burung masih anak biasa laku dijual sekitar Rp250.000-Rp300.00, sementara burung sudah dewasanya dapat dijual Rp.400.000-Rp600.000. Sementara kalau burung tersebut menjadi juara dalam kontes dapat laku meningkat menjadi Rp2,5 juta. Kini secara umum, burung Jalak Suren, jarang dikonteskan untuk burung berkicau di tingkat lokal. Jenis burung tersebut jauh sekali populernya, dibandingkan dengan jenis utama burung kontes, seperti murai batu atau kucica hutan Copsychus malabaricus, yang harga jualnya kalau menjadi juara kontes burung kicau, dapat laku dijual puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah.
Dewasa ini, nasib menimpa burung Jalak Suren sungguh ironis, di kota, seperti di pasar-pasar burung dan penduduk penggemar pemelihara burung, masih sangat marak. Tetapi, sebaliknya jenis burung tersebut di habitat aslinya di kawasan sawah, di berbagai kawasan perdesaan telah sunyi, tidak bisa lagi dinikmati suaranya, tingkah lakunya, dan peran ekologinya di ekosistem perdesaan DAS Citarum. Pasalnya, diduga jenis burung tersebut telah punah di alam. Walaupun kadang-kadang jenis burung tersebut masih dapat dicatat beberapa individu di alam. Tetapi, diduga populasi burung tersebut, hanyalah burung yang lepas dari burung piaraan penduduk.
Berbagai faktor telah menyebabkan kian langka bahkan punahnya burung Jalak Suren di alam. Misalnya, akibat maraknya perburuan liar dan perdagangan terhadap burung tersebut. Di samping itu, imbas dari maraknya pencemaran pestisida di ekosistem sawah, dampak dari program memodernkan usaha tani sawah, lewat program Revolusi Hijau, sejak era awal 1970-an. Burung Jalak Suren bisa mati secara langsung ataupun mati tidak langsung keracunan pestisida melalui rantai makanan. Maka, tidak diragukan lagi, bahwa perilaku manusia yang tidak bijaksana dalam memanfaatkan dan mengelola lingkungan, dapat menyebabkan kepunahan berbagai kepunahan aneka ragam hayati di alam, seperti menimpa burung Jalan Suren. Sungguh menyedihkan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

