• Opini
  • CERITA GURU: Kesejahteraan Guru dalam Siklus Janji Politik

CERITA GURU: Kesejahteraan Guru dalam Siklus Janji Politik

Sudah saatnya persoalan kesejahteraan guru dilepaskan dari kepentingan politik jangka pendek. Guru tidak seharusnya menjadi objek janji politik lima tahun sekali.

Insan Faisal Ibrahim

Guru di salah satu Madrasah Swasta di Kabupaten Garut Jawa Barat

Ilustrasi guru. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

11 Maret 2026


BandungBergerak – Masalah kesejahteraan guru di Indonesia merupakan persoalan lama yang terus berulang dari masa ke masa. Isu ini tidak pernah benar-benar hilang dari pembahasan publik, tetapi juga tidak pernah tuntas diselesaikan. Setiap menjelang pemilihan umum, kesejahteraan guru selalu kembali menjadi topik utama yang diangkat dalam berbagai kampanye politik. Janji peningkatan gaji, pemerataan tunjangan, pengangkatan guru honorer, hingga perlindungan profesi disampaikan dengan penuh keyakinan. Namun setelah proses demokrasi selesai dan para pemimpin terpilih mulai menjalankan tugasnya, persoalan kesejahteraan guru sering kali kembali tenggelam dalam daftar panjang program yang belum terealisasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesejahteraan guru bukan hanya persoalan pendidikan, melainkan telah berubah menjadi komoditas politik yang terus dimanfaatkan.

Guru merupakan kelompok masyarakat yang besar jumlahnya dan memiliki pengaruh sosial yang luas. Keberadaan guru di tengah masyarakat membuat mereka memiliki posisi yang strategis, baik sebagai tokoh pendidikan maupun tokoh sosial. Tidak mengherankan jika perhatian terhadap guru sering meningkat secara drastis ketika masa kampanye tiba. Sayangnya, perhatian tersebut sering kali tidak diikuti dengan langkah nyata yang berkelanjutan.

Janji kesejahteraan guru selalu terdengar indah dalam berbagai pidato dan program kerja yang ditawarkan. Berbagai konsep perbaikan kesejahteraan disampaikan seolah-olah dapat segera diwujudkan dalam waktu singkat. Harapan para guru pun kembali tumbuh setiap kali janji tersebut disampaikan. Namun realitas di lapangan masih menunjukkan bahwa banyak guru, terutama guru honorer, yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Sebagian di antaranya menerima penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan tidak sedikit guru yang harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Kondisi ini menciptakan ironi yang sulit dipahami. Di satu sisi, guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan dianggap sebagai ujung tombak pembangunan sumber daya manusia. Di sisi lain, kesejahteraan mereka masih belum sepenuhnya terjamin.

Penghargaan terhadap guru sering kali lebih banyak diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan simbol, sementara perhatian terhadap kesejahteraan nyata belum sepenuhnya merata. Akibatnya, profesi guru yang seharusnya menjadi kebanggaan justru sering dipandang sebagai pekerjaan yang penuh pengabdian tetapi minim penghargaan material.

Di ranah sosial, isu kesejahteraan guru juga menjadi pembahasan yang tidak pernah sepi. Media massa dan media sosial sering menampilkan kisah perjuangan guru yang mengajar dengan fasilitas terbatas atau menerima penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Kisah-kisah tersebut sering menimbulkan simpati masyarakat dan memunculkan gelombang perhatian sesaat. Namun perhatian tersebut jarang berujung pada perubahan kebijakan yang nyata. Setelah beberapa waktu, isu kesejahteraan guru kembali meredup dan digantikan oleh isu sosial lainnya yang dianggap lebih aktual.

Baca Juga: CERITA GURU: Pendidikan Karakter yang Teruji di Ruang Nyata
CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra
CERITA GURU: Kompetensi Digital Guru Bukan Sekadar bisa Pakai Aplikasi

Seharusnya Dirancang sebagai Visi Jangka Panjang

Persoalan kesejahteraan guru sebenarnya tidak bisa dipandang sebagai masalah individu semata. Kesejahteraan guru memiliki hubungan yang erat dengan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang memiliki kehidupan ekonomi yang stabil akan lebih mampu berkonsentrasi pada tugasnya sebagai pendidik. Mereka dapat mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik, mengembangkan kompetensi diri, serta memberikan perhatian yang maksimal kepada peserta didik. Sebaliknya, guru yang terus dihantui persoalan ekonomi akan sulit untuk memberikan kinerja terbaiknya, bukan karena kurangnya dedikasi, tetapi karena keterbatasan yang mereka hadapi.

Lebih jauh lagi, kesejahteraan guru merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa. Pendidikan yang berkualitas tidak mungkin tercapai tanpa adanya guru yang profesional dan sejahtera. Negara yang maju selalu menempatkan guru sebagai profesi yang dihargai secara layak, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Oleh karena itu, peningkatan kesejahteraan guru seharusnya menjadi agenda nasional yang dilaksanakan secara konsisten, bukan program yang muncul hanya ketika momentum politik tiba.

Sudah saatnya persoalan kesejahteraan guru dilepaskan dari kepentingan politik jangka pendek. Kebijakan tentang kesejahteraan guru seharusnya dirancang dengan visi jangka panjang dan dilaksanakan secara berkesinambungan tanpa dipengaruhi oleh pergantian kepemimpinan. Guru tidak seharusnya terus menjadi objek janji yang berulang setiap lima tahun sekali. Mereka seharusnya menjadi subjek utama dalam kebijakan pendidikan yang benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan profesi.

Selain peran pemerintah, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan guru. Dukungan masyarakat sangat penting agar isu ini tidak hanya menjadi perbincangan sesaat. Kesadaran kolektif perlu dibangun bahwa memperjuangkan kesejahteraan guru berarti memperjuangkan masa depan generasi bangsa. Tanpa adanya tekanan dan perhatian dari masyarakat, kebijakan yang berpihak kepada guru akan lebih mudah terabaikan. Jika kondisi ini terus berlangsung, kesejahteraan guru akan tetap menjadi isu yang tidak pernah selesai. Setiap pemilu akan kembali menghadirkan janji-janji baru dengan kemasan yang berbeda, tetapi dengan isi yang hampir sama. Guru akan terus disebut sebagai prioritas, tetapi kenyataan yang mereka hadapi tidak banyak berubah. Siklus janji dan harapan yang berulang ini berisiko menimbulkan kelelahan dan kekecewaan di kalangan guru yang selama ini tetap setia menjalankan tugasnya.

Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh bagaimana bangsa tersebut menghargai para pendidiknya. Guru adalah fondasi yang membentuk karakter dan kecerdasan generasi penerus. Selama kesejahteraan guru masih dijadikan sebagai alat politik dan bahan wacana yang tidak kunjung selesai, maka upaya meningkatkan kualitas pendidikan akan selalu berjalan setengah hati. Kesejahteraan guru seharusnya tidak lagi menjadi janji lama yang terus diulang, melainkan komitmen nyata yang benar-benar diwujudkan demi masa depan bangsa yang lebih baik.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//