• Cerita
  • Harapan Nina di Lorong Rumah Deret Tamansari

Harapan Nina di Lorong Rumah Deret Tamansari

Nina, anak 9 tahun, terbiasa berteman dengan sepi di lorong Rumah Deret Taman Sari. Menata harapan di lingkungan baru setelah sebelumnya lama tinggal di rumah tapak.

Struktur bangunan Rumah Deret Tamansari (RDTS), Bandung, Selasa, 24 Februari 2026. (Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi13 Maret 2026


BandungBergerak - Aku tinggal di bangunan tinggi, lebih tinggi dari Jalan Layang Pasupati, orang-orang dewasa biasa menyebutnya Rumah Deret Tamansari, Bandung. Meskipun aku tinggal di unit dengan tipe 39 yang berukuran 5x6 meter, kamar yang lebih luas dari unit biasanya, namun rasanya cukup sumpek untuk dihuni empat orang. Di sudut ruangan berdiri sebuah mezanin dengan tinggi tak lebih dari satu meter.

Plafonnya rendah, dan tepat di atasnya terpasang pipa pemadam api yang jaraknya begitu dekat seolah mengawasi setiap gerak. Tak ada ruang untuk berdiri tegak, hanya cukup untuk duduk, membungkuk, atau rebahan sambil menahan punggung agar tak menyentuh langit-langit. Hanya menggunakan sekat sederhana sebagai pembatas untuk berbagi tempat bersama saudara laki-lakiku.

Panggil saja aku Nina, kini menginjak usia sembilan tahun, anak kedua dari dua bersaudara. Ketika pertama kali datang, unit ini masih polos, dinding dan lantainya hanya berlapis plester semen yang kasar dan berdebu, serta tak ada warna. Ayah dan ibu bilang ini akan jadi rumah baru kami, tapi mengubah ruang kosong menjadi rumah ternyata tidak sederhana.

Cat, keramik, lemari yang perlu disesuaikan dengan ukuran ruangan, semuanya butuh biaya. Sedikit demi sedikit menambal, mengecat, mengisi. Namun tetap saja, rasanya apa yang diucapkan untuk “memfasilitasi” warga berpenghasilan rendah tak sepenuhnya sejalan dengan kenyataan yang kami jalani.

Dulu kami tinggal di rumah setapak. Ada halaman kecil dan tetangga yang menyapa tanpa perlu mengetuk. Kini aku tinggal di lantai empat Rumah Deret Taman Sari unit-unit saling berdempetan, lorong-lorong panjang yang sunyi, pintu-pintu tertutup rapat seperti menyimpan cerita masing-masing.

Rumah deret ini terasa sunyi sangat sulit menemukan orang yang berlalu-lalang. Momen sosialisasi rumah deret yang dulu biasa kulihat di balik pagar rumah kini sirna. Saat ibu-ibu mengobrol, anak-anak berlarian tanpa rasa takut, bapak-bapak yang sedang duduk santai menjelang magrib, kini seperti kenangan yang tertinggal di rumah setapak kami dulu.

Sebagai anak kecil, bermain adalah duniaku. Tapi di sini, untuk sekadar bermain dengan teman seusiaku yang tinggal di lantai enam, perlu menaiki lift. Awalnya aku takut, suara pintu yang menutup sendiri, ruang yang tidak luas namun mampu naik tanpa bisa kulihat jalannya. Aku memilih tangga darurat jalur yang memakan waktu lama, dengan minim penerangan serta setiap langkah yang menggema di penjuru lantai. Sampai beberapa bulan terakhir, aku memberanikan diri menggunakan lift, tentu pelajaran yang baru kupelajari baru-baru ini.

Sering kali saat di dalam lift aku bertemu anak-anak yang usianya jauh lebih kecil dariku. Mereka masuk dengan lincah, menekan tombol tanpa ragu. Mengapa ia bisa begitu lancar menaiki lift, sementara aku perlu waktu begitu lama untuk berani?

Seorang anak kecil bermain di atas motor mainan, di sepanjang lorong yang sepi, hanya ia seorang diri. Roda plastiknya berdecit pelan, suaranya memantul di tembok. Rasanya ia belum berkenalan dengan teman seusianya, atau mungkin tak ada yang keluar rumah pada  hari itu.

Berbeda dengan anak itu, ibuku justru melarangku bermain sendiri, bahkan di lorong sekalipun. Ibuku berkata orang-orang yang juga tinggal di lantai 3 bandel atau ‘badung’, sebutan yang sering dikatakan ibuku untuk anak-anak yang sering mengucapkan kata-kata kasar. Oleh karenanya, aku hanya bermain dengan 1 orang dewasa, sepupuku yang sudah berkuliah.

Sekarang, bermain hanya berarti berpindah dari unit ke unit tempat temanku tinggal. Duduk di lantai, mengobrol, dan tertawa dengan pelan karena tembok yang tidak tebal mampu menembus ke unit sebelah. Sebagian orang mungkin melihat kami seperti berada di dalam kerangkeng sempit, lorong sunyi, pintu tertutup. Tapi bagiku, inilah satu-satunya ruang aman yang ku punya.

Baca Juga: Pemkot Bandung Menggusur Satu-satunya Rumah Warga Tamansari yang Bertahan dari Proyek Rumah Deret
Tentang Rumah Deret yang Vertikal Itu

Bagian dalam salah satu Unit RDTS yang di huni oleh warga Tamansari, Selasa, 24 Februari 2026. (Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak))
Bagian dalam salah satu Unit RDTS yang di huni oleh warga Tamansari, Selasa, 24 Februari 2026. (Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak))

Dari Rumah 3 Lantai, ke Unit 5x6 Meter

Sebut saja Nara, satu-satunya temanku yang tinggal di lantai 6. Usianya sangat jauh dariku, aku masih di sekolah dasar sedangkan dia sudah menginjak perguruan tinggi. Mungkin terdengar aneh aku biasa bermain dengan orang dewasa, namun ibuku hanya akan merasa tenang jika aku bermain dengan Nara, teman sekaligus sepupuku.

Pada satu waktu, Nara pernah menceritakan kehidupannya dulu pada saat tinggal di rumah setapak yang kini berubah menjadi bangunan tinggi. Saat masih tinggal di rumah setapak, Nara masih berusia 14 tahun, aku hanya mendengarkan Nara bercerita.

Nara tinggal bersama dua saudaranya, 1 adik laki-laki, dan 1 kakak perempuan, dan kedua orangtuanya di rumah turun temurun dari kakek neneknya. Rumahnya terbilang salah satu rumah besar di wilayah kami, rumah 3 lantai dengan 5 orang tinggal di dalamnya, besar bukan?

Sama sepertiku, ternyata orang tua Nara yang juga uwaku sering melarang Nara bermain di lingkungan kami. Jika bermain pun, Nara harus selalu ditemani ibunya, jika tidak di depan halaman rumah, ya di dalam rumah Nara. Alasannya juga ternyata sama, ibunya Nara bilang kalau orang-orang di lingkungan kami ‘badung’. Selain momen bermain, saat usia Nara masih 5 tahun, ia hanya bertemu teman sebayanya saat jadwal posyandu, itupun bersama ibunya.

Suatu waktu di tahun 2018 saat usianya 14 tahun, ibunya Nara memutuskan pindah sementara ke Dago, menyewa sebuah rumah yang ukurannya tak berbeda jauh dengan rumah tiga tingkat miliknya. Bukan karena lingkungan yang buruk, tapi karena ternyata tanah yang selama ini mereka tinggali milik pemerintah. Bukan hanya karena milik pemerintah, juga karena lingkungan kami dinilai kumuh, tetapi ibu Nara bilang kenyamanan dan kemewahan hanya bisa dinilai oleh kita yang merasakan.

Nara suka tempat tinggalnya di Dago, sepi tak ramai orang lalu-lalang, ia terbiasa dengan kesunyian karena jarang bermain dengan teman. Ia bahkan lebih sering diajak main oleh ibunya ketimbang dibolehkan bermain dengan temannya. Tak ada yang berbeda bahkan sekoahnya tak pindah, hanya saja Nara lebih sibuk dengan tugas sekolah. Selama pembangunan, sekaligus selama gedung tinggi itu kosong tak berpenghuni selama 7 tahun, selama itu juga Nara dan keluarganya tinggal di Dago.

Tak hanya Nara, ibunya juga merasa nyaman dengan tempat tinggalnya di Dago, meskipun menyewa. Ibunya berencana tinggal permanen di Dago, membeli rumah sewaannya di Dago dan menyewakan lagi unit yang menjadi haknya kepada orang lain.

Namun, rencana itu sirna ketika ibunya Nara mengetahui unitnya tidak boleh disewa, bahkan dijual. Ibunya kemudian memutuskan untuk tinggal di bangunan tinggi itu (RDTS), selain karena itu haknya, ibunya Nara merasa kasihan dengan warga Tamansari, ibunya merasa bisa membantu menggerakkan warga di RDTS.

Respon Nara geram, ia merasa sudah nyaman di tempat tinggalnya di Dago, belum lagi dia merasa malu jika harus tinggal di rumah bertumpuk seperti di RDTS.

“Mamah yang keukeuh nggak mau tinggal di sana karena lingkungannya, tapi sekarang mamah juga yang keukeuh mau tinggal di sana,” kata Nara mengungkapkan kekesalannya.

Kini, walau sudah tidak tinggal berlima karena kakak perempuannya sudah menikah, Nara juga merasa sumpek dengan unitnya yang katanya besar. Dari rumah 3 lantai, ke unit berukuran 5x6 meter, Nara masih berusaha menyesuaikan diri.

Lorong rumah deret Tamansari yang sekaligus menjadi halaman depan tempat tinggal warga, Selasa, 24 Februari 2026. (Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)
Lorong rumah deret Tamansari yang sekaligus menjadi halaman depan tempat tinggal warga, Selasa, 24 Februari 2026. (Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Secercah Harapanku dari Kisah Nara

Wilayahku tinggal, dulu dan sekarang, karena penghuni bangunan tinggi ini masih orang yang sama, orang-orang tidak terlalu mementingkan pendidikan. Tak sedikit yang putus sekolah, bisa sampai lulus SMA saja sudah syukur. Kondisi ini masih sama, bahkan setelah kami mendapatkan tempat tinggal yang katanya lebih layak. Mungkin ini juga yang membuat ibuku dan ibunya Nara melarang kami bermain dengan tetangga.

Nara dan keluarganya berbeda dari kebanyakan orang, ibunya memiliki prinsip pendidikan di atas uang, artinya ibunya akan mengusahakan apapun demi anaknya bisa sekolah, bahkan berhutang sekalipun. Ibunya Nara sengaja menyekolahkan Nara di tempat yang jauh dari lingkungan kami, katanya lebih baik bersosialisasi di luar daripada di lingkungan kami tinggal. Ternyata ibunya bukan kaku, hanya saja takut Nara terbawa hal buruk dari lingkungan kami.

Nara dan kedua saudaranya diberikan pendidikan terbaik dari ibunya. Ibunya selalu mengusahakan anak-anaknya bisa bersekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Kini, Nara berkuliah dengan jurusan Pekerja Sosial setelah lulus dari SMAN 1 Bandung, salah satu sekolah favorit di Bandung. Kakak sulungnya sekarang bahkan sudah bekerja sebagai PNS di Kementerian Sosial.

Terbukti, walaupun Nara tidak suka bermain, tetapi Nara mengganti waktu bermainnya dengan belajar, hingga kini ia berada di tingkat perguruan tinggi. Dari rumah petakan Tamansari, kontrakan di Dago, sampai kembali ke tanah yang sama, Nara giat belajar. Walaupun awalnya sempat sedikit mengoceh, ternyata tempat tinggal tidak menjadi penghalang bagi Nara, dan aku harap juga bagi diriku.

Meskipun aku jarang berbaur, aku harap nanti ketika dewasa aku memiliki harapan yang sama seperti Nara. Aku harap aku tidak kehilangan harapan. Aku harap aku bisa tumbuh menjadi anak berpendidikan, dan membanggakan keluargaku. Aku harap, tempat tinggal bukan penghalang bagiku untuk bisa membangun masa depan.

 

***

*Reportase ini ditulis reporter BandungBergerak Malika Shafa Nur Fadiya dan Khoirunnisa Febriani Sofwan

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//