• Narasi
  • Letusan Gunung Ciremai dan Upaya Penanggulangan Bencana di Priangan Timur pada Era Kolonial (1937-1938)

Letusan Gunung Ciremai dan Upaya Penanggulangan Bencana di Priangan Timur pada Era Kolonial (1937-1938)

Gunung Ciremai masih menjadi salah satu gunung yang mempunyai status gunung api aktif setelah letusan terbesarnya terakhir kali terjadi pada tahun 1937-1938.

Chelsa Ornela Pakpahan

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad)

Letusan Gunung Ciremai dilihat dari Linggajati tahun 1937 yang difoto oleh Marhassan (Foto Sumber: Tjiremai: De uitbarsting van Juni en Juli 1937)

13 Maret 2026


BandungBergerak – Di tengah meningkatnya minat masyarakat, terutama anak muda dalam aktivitas alam, Gunung Ciremai menjadi salah satu tujuan pendakian. Gunung tertinggi di Jawa Barat ini menawarkan lanskap indah dan jalur menantang, tak heran jika gunung ini menjadi salah satu target pertualangan. Namun, di tengah kepopuleran Gunung Ciremai, gunung ini memiliki sejarah letusan yang panjang dan kerap luput dari perhatian masyarakat, terutama bagi para pendaki. Aktivitas vulkanik menjadi penanda bahwa Gunung Ciremai merupakan alam yang diam, melainkan terus memiliki aktivitas.

Baca Juga: Mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang
Seberapa Dahsyat Letusan Gunung Tambora?
Gunung Guntur, antara Warga yang Peduli dan Bebalnya Institusi

Sejarah Letusan Gunung Ciremai

Indonesia berada pada posisi geografis antara tiga lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Akibatnya, Indonesia berada di jalur Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang merupakan jalur pegunungan aktif. Kondisi tersebut mengakibatkan sejumlah wilayah di Indonesia, terutama Pulau Jawa, mengalami kerentanan terhadap bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi (Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2017). Salah satu sejarah kebencanaan letusan gunung berapi yang terjadi di Jawa Barat adalah letusan Gunung Ciremai yang terjadi beberapa kali dari abad ke-17 hingga abad ke-20 yang menyebabkan kerusakan lingkungan sekitarnya, terutama di Priangan Timur yang jaraknya dekat dengan wilayah gunung.

Gunung Ciremai memiliki sejarah letusan yang panjang, tercatat dimulai tahun 1698 hingga letusan terakhir pada tahun 1937. Selang waktu istirahat antarletusan dengan periode terpendek selama tiga tahun dan terpanjang selama 112 tahun. Tiga letusan yang terjadi pada tahun 1772, 1775, dan 1805 berada di kawah pusat dan tidak menyebabkan kerusakan signifikan. Aktivitas lainnya berupa letusan uap belerang dan hembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi pada tahun 1917 dan 1924. Selanjutnya, letusan freatik di kawah pusat dan celah radial terjadi pada tanggal 24 Juni 1937 hingga 7 Januari 1938 dan menyebabkan sebaran abu yang mencapai daerah luas sekitar 52.500 km². (Kusumadinata, 1971 dalam Rustendi, et. al, 2002:2).

Selang waktu letusan Gunung Ciremai. (Foto Sumber: Laporan Pengamatan Visual dan Kegempaan Gunung Ciremai, 2002:3)
Selang waktu letusan Gunung Ciremai. (Foto Sumber: Laporan Pengamatan Visual dan Kegempaan Gunung Ciremai, 2002:3)

Menurut data dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), dalam periode empat abad terakhir, Gunung Ciremai telah mengalami letusan sebanyak tujuh kali. Namun demikian, tidak ada data yang jelas mengenai jumlah korban yang disebabkan oleh setiap letusan tersebut. Meskipun Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung yang dianggap kalem dan ramah, erupsi yang dahsyat justru dapat menimbulkan dampak yang besar dan menyebabkan adanya korban jiwa akibat bencana. Selain itu, letusan Gunung Ciremai juga menyebabkan terhambatnya kegiatan perekonomian, terutama banyak material yang dialirkan oleh Sungai Ciremai dan mengakibatkan kesulitan para pekerja untuk mengangkut barang hasil perdagangan.

Menurut laporan lurah Gunung Deukeut dekat Linggajati, menyatakan bahwa pada 24 Juni 1937 terlihat kepulan asap di atas kawah dari jam 10 pagi hingga jam 7 malam dengan ketinggian sekitar 250 meter. Kepulan asap besar juga terlihat di sekitar Linggajati dan Kuningan pada pagi hari. Menurut pengelola Argalingga, C. F. H. Chaulan dan de Gruyter menyatakan bahwa abu mulai jatuh pada pukul 11.15 hingga pukul 12.15 dan awan letusan terlihat pada pukul 11.30. Seorang pengamat survei vulkanologi, dalam kondisi cuaca cerah, melihat munculnya awan abu tebal yang terbawa angin ke arah barat laut dan terlihat hujan abu berwarna gelap dari pukul 12.00 hingga 12.30. Kepala distrik Tionghoa Majalengka (bagian barat gunung) menerima laporan dari Kuningan bahwa pada pukul 15.00 telah terjadi letusan Gunung Ciremai. Menurutnya, tidak ada abu yang jatuh di kawasan Majalengka, abu hanya terdapat pada bagian Tenggara dan tidak adanya aktivitas yang teramati. Kemudian, Kewedanaan Majalengka melaporkan dalam suratnya nomor 197/23 bahwa terdapat abu letusan Gunung Ciremai di Argamukti pada pukul 14.00. Menurut surat Asisten Wedana Majalengka pada 26 Juni 1937 No. A 197/23, sekitar pukul 12.00 banyak saksi masyarakat yang mendengar suara gemuruh di Argamukti. Terakhir, laporan dari Jalaksana menyebutkan terjadinya letusan secara berkala yang menyebabkan terbentuknya kepulan awan di atas puncak (van Padang, 1937:2).

Hutan mati dan tutupan abu tebal di sisi timur pada 26 Juli 1937 yang difoto oleh Neumann van Padang (Foto Sumber: Tjiremai: De uitbarsting van Juni en Juli 1937)
Hutan mati dan tutupan abu tebal di sisi timur pada 26 Juli 1937 yang difoto oleh Neumann van Padang (Foto Sumber: Tjiremai: De uitbarsting van Juni en Juli 1937)

Letusan Gunung Ciremai menyebabkan gempa yang dirasakan di beberapa wilayah sekitar. Dalam laporan Residen Cirebon pada 24 Juni 1937 menyatakan bahwa gempa dirasakan di Linggajati, Gunung Deukeut, dan Jalaksana dengan arah barat-timur. Di Argalingga, de Gruyter mencatat terjadinya gempa pada pukul 15.55, sedangkan di Argamukti tercatat pada pukul 11.00 dan 16.00. Kedua gempa tersebut berlangsung sekitar tiga menit dari arah barat-timur. Gempa yang berdurasi 16 jam itu terekam pada seismograf di Bandung sebagai gempa sedang dan bersumber dari tektonik sekitar 225 km dari Bandung sehingga bukan berasal dari Gunung Ciremai. Akan tetapi, dua gempa lainnya yang terjadi pada pukul 10.00 dan 15.00 kemungkinan berasal dari aktivitas Gunung Ciremai sekaligus menandai gempa awal sebagai letusan pertama (van Padang, 1937:3).

Letusan tersebut berlangsung selama kurang dari 10 jam berturut-turut dan terjadi di kawah besar bagian timur gunung, yang sebelumnya terdapat hutan pohon beri dan edelweis. Pada 24 Juni 1937, letusan Gunung Ciremai menyebabkan terbentuknya dua lubang kecil yang memanjang dan sejajar dengan kawah ganda, yakni di Oost-Rest atau kawah sisi timur. Hal tersebut menyebabkan sistem patahan yang sama menjadi asal perpindahan kawah besar dan berdampak pada ledakan-ledakan. Pada letusan 27 Juni 1937, lubang mulai melebar menjadi dua kali lipat dan menunjukkan intensitas letusan lebih dahsyat dibandingkan letusan sebelumnya (van Padang, 1937: 15).

Letusan gunung berapi dapat menimbulkan berbagai kerusakan pada lingkungan sekitar, termasuk pelepasan gas volkanik, ledakan kuat (explosive blasts), longsoran gunung berapi (sector failure), aliran piroklastik (piroclastic flows), lahar (mudflows), aliran lava, dan jatuhan material piroklastik seperti abu vulkanik (tephra). Dampak yang ditimbulkan oleh gunung berapi sangat bergantung pada sifat fisik dan kimia dari material yang dikeluarkan selama erupsi, lama waktu erupsi, serta kondisi lingkungan setempat, termasuk vegetasi dan satwa liar (Pratomo, 2008: 271).

Berbagai dampak lingkungan yang disebabkan oleh letusan Gunung Ciremai terhadap kawasan di Priangan Timur adalah hutan mengalami kerusakan total dan pepohonan berada di titik ledakan roboh seluruhnya, sehingga hanya tersisa tunggul pohon pada tanah yang tertutup abu. Banyak kulit pohon yang terkelupas meski tidak adanya pembakaran yang disebabkan letusan Gunung Ciremai. Beberapa kawasan di Priangan Timur telah dikelilingi batang pohon gundul, serta efek letusan mengeluarkan gas berbentuk kembang kol dalam jumlah besar dan memicu polusi udara. Letusan Gunung Ciremai juga menyebabkan terjadinya gejala longsoran retakan, nendatan, dan aliran bahan rombakan (van Padang, 1937: 5).

Penanggulangan Ancaman Letusan Gunung Ciremai

Bencana Letusan Gunung Ciremai pada tahun 1937-1938 menimbulkan dampak lingkungan di kawasan Priangan Timur sehingga diperlukan upaya penanggulangan untuk meminimalisir terjadi dampak lainnya yang mungkin lebih merugikan masyarakat sekitar. Hal yang pertama kali dilakukan sebagai upaya penanggulangan adalah didirikannya pos pengamanan Bukit Gegerbeas di Paniis dengan jarak 9 km dari puncak gunung. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan dengan beberapa pertimbangan, antara lain, pertama, letusan gunung diperkirakan akan terjadi di utara, sehingga apabila terjadi keruntuhan yang diakibatkan letusan maupun longsoran dapat langsung diamati dari pos tersebut. Kedua, setiap fenomena yang terjadi harus segera dilaporkan kepada pejabat berwenang dalam negeri, sehingga adanya komunikasi antara pihak berwenang dengan pengamat. Gegerbeas dipilih karena mudah mendapatkan sinyal melalui telepon genggam (van Padang, 1937: 7).

Melalui pos pengamatan ini, petugas yang bertugas harus memantau aktivitas Gunung Ciremai siang dan malam, kecuali ada instruksi khusus. Semua aktivitas yang terjadi harus dicatat dan dikirimkan kepada Kepala Pusat Penelitian Vulkanologi. Selama Gunung Ciremai aktif, laporan harus dikirimkan sebanyak tiga kali dalam seminggu, serta seminggu sekali atau empat kali sebulan selama aktivitas gunung relatif tenang (van Padang, 1937: 9).

Pos pengamatan Gegerbeas pada 21 Juli 1937 yang difoto oleh Neumann van Padang (Foto Sumber: Tjiremai: De uitbarsting van Juni en Juli 1937)
Pos pengamatan Gegerbeas pada 21 Juli 1937 yang difoto oleh Neumann van Padang (Foto Sumber: Tjiremai: De uitbarsting van Juni en Juli 1937)

Upaya selanjutnya yang digunakan untuk menanggulangi dan mengurangi dampak berbahaya terhadap masyarakat pada bencana letusan Gunung Ciremai adalah dengan melakukan pengungsian masyarakat atau proses evakuasi, terutama di Kawasan Rawan Bencana I, II, dan III yang berpotensi dilanda awan panas, aliran lava, dan lahar. Kemudian, dibangun sebuah bangunan fisik pengendali lahar pada daerah kawasan yang berpotensi dilanda peluapan lahar. Fungsi bangunan pengendali lahar tersebut adalah untuk mengarahkan aliran sungai, menampung aliran material, dan menahan peluapan sehingga dapat mengurangi atau mencegah terjadinya penyimpangan aliran lahar yang disebabkan oleh letusan Gunung Ciremai. Dilakukan juga upaya deformasi yang merupakan metode mentoring kepada masyarakat untuk mengetahui perubahan tubuh gunung api agar memperoleh data dasar sehingga dapat digunakan sebagai referensi pada saat krisis. Serta dilakukan pemulihan berbagai lahan pertanian dan perkebunan yang menyebabkan kerugian secara sosial dan ekonomi terhadap masyarakat yang ada di Priangan Timur (Suhadi, 2009: 10).

Gunung Ciremai hingga saat ini masih menjadi salah satu gunung api yang mempunyai status masih aktif setelah letusan terbesarnya terakhir kali terjadi pada tahun 1937-1938. Tidak dapat dipungkiri bahwa nantinya Gunung Ciremai kembali menimbulkan bencana letusan. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapsiagaan dan upaya mitigasi oleh pemerintah dan masyarakat yang ada di Priangan Timur untuk mengurangi risiko bahaya bencana letusan gunung.

Berdasarkan siklusnya, upaya penanggulangan dan penanganan bencana terbagi menjadi enam kelompok, di antaranya yaitu: Pada saat terjadinya bencana atau tahap tanggap darurat (disaster impact — quick response) yang dilakukan petugas SAR (Search and Resque); Rehabilitasi (recovery) yang dilakukan untuk pemulihan fasilitas; Rekonstruksi (development) yang dilakukan untuk meningkatkan fasilitas guna memperkuat mitigasi; Pencegahan (prevention) yang dilakukan agar bencana serupa tidak menimbulkan kerugian besar seperti sebelumnya; Mitigasi yang dilakukan untuk mengurangi risiko dampak bencana terhadap masyarakat; Kesiapsiagaan yang dilakukan untuk merespons terhadap kondisi yang akan terjadi di masa mendatang secara efektif (Puturuhu, 2015: 128).

Bencana letusan Gunung Ciremai 1937-1938 berdampak banyak terhadap lingkungan di kawasan Priangan Timur, terutama hutan dan lahan. Pemerintah menggunakan pos pengamatan Gegerbeas sebagai upaya awal dalam penanggulangan bencana melalui pemantauan aktivitas gunung. Selain itu, tetap perlu dilakukannya mitigasi dan kesiapsiagaan karena Gunung Ciremai masih berstatus aktif dan berpotensi menimbulkan bencana letusan kembali.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//