• Opini
  • Di 93 Tahun Persib Bandung Hari Ini: Thank God I’m Bobotoh!

Di 93 Tahun Persib Bandung Hari Ini: Thank God I’m Bobotoh!

Dan mungkin jika bukan karena Persib, banyak hal tidak akan pernah dipahami: tentang pertemanan, pengkhianatan, dan kerasnya kehidupan sosial.

Ilham Gunawan

Mahasiswa Prodi Agribisnis Universitas Galuh Ciamis, bekerja sebagai videografer freelance

Bobotoh menyatakan sikap atas kasus-kasus penggusuran dalam laga di Stadion GBLA, Bandung, 9 Mei 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

14 Maret 2026


BandungBergerak – Bagi Bobotoh, 14 Maret 1933 selalu diperingati sebagai hari lahir Persib Bandung karena klub ini hidup bukan hanya di lapangan hijau, tetapi juga di jalanan, perkampungan, televisi, dan bahkan media sosial. Sejarah bukan sekadar deretan dokumen yang disusun rapi di atas meja penelitian; ia hidup di kepala, di percakapan-percakapan kecil, dan di cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Secara akademik, kita tahu ada upaya untuk menata ulang jejak sejarah klub ini berdasarkan temuan arsip dan penelitian ilmiah. Dua tahun lalu sebuah penelitian sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran (Unpad) merekomendasikan perubahan hari lahir Persib Bandung menjadi 5 Januari 1919. Kunto Sofianto memimpin tim yang beranggotakan di antaranya Miftahul Falah dan Budi Gustaman Sunarya.

Hingga hari ini, perdebatan tentang hari lahir Persib belum benar-benar menemukan ujungnya. Manajemen Persib sendiri belum mengeluarkan pernyataan yang benar-benar tegas mengenai perubahan tersebut. Situasi ini mengingatkan saya pada sebuah tulisan Zen RS yang menyebut bahwa sejarah kadang diperlakukan seperti dokumen akta palsu: sesuatu yang bisa diubah, diperbaiki, bahkan ditulis ulang. Seperti seseorang yang berusaha mengatur kembali riwayat hidupnya sendiri agar tampak lebih tua, lebih penting, atau mungkin lebih layak untuk dicintai.

Harapan kami sebagai Bobotoh tentu saja angka 1933 akan selalu diperingati setiap tahunnya sebagai hari lahir Persib Bandung. Sejarah yang sudah melekat, bahkan sejak kakek saya masih menonton Persib 30 tahun yang lalu.

Pilihan Menjadi Bobotoh

Memilih menjadi pendukung Persib adalah salah satu hal yang tak pernah saya sesali. Meski lahir di generasi awal 2000-an dan tidak tumbuh di Kota Bandung, nyala itu tidak pernah benar-benar padam.

Ingatan tentang Persib mulai terasa utuh ketika lini serang Maung Bandung diisi oleh Hilton Moreira dan Cristian Gonzales di masa-masa ketika klub kesayangan masih sering berkutat di papan tengah klasemen. Satu musim sebelum gol spektakuler Suchao Nutnum ke gawang Persik Kediri yang kala itu dijaga Herman Batak, selalu menjadi salah satu cerita masa kecil yang saya ingat sampai sekarang bersama jersey Cristian Bekamenga pemberian Bapak.

Kian beranjak dewasa, saya tumbuh bersama berbagai rangkaian cerita tentang Persib: dari musim 2013/2014 yang berjalan biasa-biasa saja di bawah komando Djajang Nurjaman hingga malam bersejarah di Jakabaring ketika Persib menaklukkan Arema Cronus di semifinal dan Persipura Jayapura di final untuk membawa pulang gelar liga setelah 19 tahun penantian. Dari gol Ahmad Jufriyanto dan Makan Konaté di Senayan yang mengantar Persib menjuarai Piala Presiden edisi pertama 2015 silam hingga golden era dengan jersey emas dan Carlton Cole yang ikonik. Dari satu musim penuh penyesalan di era Mario Gomez ketika Jonathan Bauman menjadi pemain Persib pertama yang benar-benar saya idolakan hingga, di saat yang sama, berbagai keputusan federasi yang menambah panjang daftar kekecewaan. Dari Robert Rene Alberts yang selama empat musim menyediakan fondasi bagi Persib hari ini meski pada akhirnya ia tetap dikenang sebagai sosok yang cukup menyebalkan di penghujung masa kepelatihan, Luis Milla yang sempat datang membawa harapan, hampir membawa trofi, sebelum akhirnya pergi secara tiba-tiba, hingga Bojan Hodak yang datang dengan pengalaman dan menorehkan sejarah baru bagi klub ini: dua gelar liga berturut-turut pada musim 2023/2024 dan 2024/2025.

Ingatan-ingatan singkat tentang musim-musim itu kini terasa seperti potongan waktu yang berjalan beriringan dengan proses kedewasaan.

Di dunia yang mulai terasa pelik setelah benar-benar menginjak kehidupan dewasa–fase yang dulu begitu didamba-dambakan saat masih kecil–, Persib masih tetap menjadi tempat pulang. Ketika banyak hal berubah, ketika hidup tak selalu berjalan seperti yang dibayangkan, ada sesuatu yang tetap tinggal di tempatnya. Dalam perjalanan mendukung klub ini, ada banyak hal kecil yang terasa menyenangkan. Salah satunya adalah pergi ke kota-kota yang belum pernah dikunjungi dan bertemu dengan orang-orang baru.

Tanpa menjadi bobotoh Persib, tak akan pernah ada malam ketika tubuh terlelap di pinggir jalan Stasiun Kroya setelah menyaksikan awal kisah Bojan Hodak bersama Maung Bandung yang berakhir dengan kekalahan di Stadion Manahan. Tanpa menjadi bobotoh Persib, Yogyakarta pun barangkali hanya akan menjadi kota yang ramai seperti biasanya, bukan tempat di mana Aa-aa Warmindo menyapa dengan hangat setiap kali Persib berlaga.

Tanpa menjadi bobotoh Persib, saya tidak akan pernah memiliki percakapan panjang dengan seorang bapak asal Bandung yang bekerja di Indralaya, sebuah kabupaten kecil di Sumatera Selatan. Atau malam di Banjarbaru, ketika seorang pendukung Barito Putera tiba-tiba menyapa hanya karena melihat kaos bertema Persib yang saya pakai.

Saya mengingat satu percakapan kecil yang sampai hari ini masih terlintas di kepala dengan seorang teman yang berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Kami bertemu justru bukan di Bandung, melainkan di Palembang. Saat itu saya melontarkan pertanyaan sederhana: “Klub apa yang kamu dukung ketika di kotamu tidak ada klub yang benar-benar mewakili?” Dalam bayangan saya, jawabannya mungkin PSM Makassar, klub besar yang secara geografis masih satu pulau dengan tempat tinggalnya, dan barangkali yang paling dekat secara jarak. Namun ia justru menjawab dengan tenang: “Persib Bandung!”.

Malam-malam seperti itu mungkin tak akan pernah terjadi jika jalan yang saya pilih berbeda. Sebab bagi sebagian orang, Persib mungkin hanya sebuah klub sepak bola. Namun bagi kami yang tumbuh bersama, ia seringkali menjelma menjadi alasan untuk berjalan lebih jauh, bertemu lebih banyak manusia, dan menyimpan lebih banyak cerita di sepanjang perjalanan hidup.

Dan mungkin jika bukan karena Persib, banyak hal tidak akan pernah dipahami: tentang pertemanan, pengkhianatan, dan kerasnya kehidupan sosial. Bahkan tentang perlawanan serta pelajaran-pelajaran kecil yang perlahan mengajarkan bagaimana cara bertahan hidup di negeri yang tidak sehat ini.

Thank God, I’m Bobotoh Persib!

Baca Juga: Dari Tegallega ke Sukahaji dan Persib sebagai Belati
Kontroversi Sponsor Persib Bandung

Generasi Baru Bobotoh

Zaman terus bergerak, dan cara mendukung sebuah klub pun ikut berubah. Ada hal-hal yang dahulu begitu digemari, kini perlahan ditinggalkan karena tak lagi relevan. Sebaliknya, ada pula kebiasaan yang dulu sering dipandang asing, bahkan tidak diterima, tapi waktu akhirnya memberikan ruang pembenarannya.

Sebagian budaya tribun ke ruang media sosial–sebuah medan yang mungkin asing di mata pendahulu. Di sana, eksistensi, pengakuan, hingga pertikaian ikut tumbuh bersamaan.

Generasi baru Bobotoh terus lahir dengan cara dan ruangnya sendiri dalam mengekspresikan dukungan. Namun seperti halnya setiap warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi, perubahan selalu membawa satu pertanyaan yang sama: sejauh mana nilai dan budaya yang dulu dijaga tetap ikut diwariskan di tengah zaman yang terus berubah?

Budaya mendukung yang lazim dikenal sebagai casual culture tumbuh cepat. Mereka yang sebagian besar lahir pada medio 2000-an datang sebagai gelombang yang tak terhindarkan. Bagi sebagian dari mereka, gaya hidup dalam mendukung klub ini mungkin berawal dari ketidaktahuan, baik tentang nilai, sejarah, maupun kultur yang selama puluhan tahun membentuk cara Bobotoh berdiri di belakang Persib. Di Bandung, komunitas Flowers City Casuals (FCC) menjadi salah satu contoh cara generasi muda mendukung Persib yang perlahan menjadi rujukan bagi banyak anak muda hari ini.

Bagi saya yang masih awam dalam memahami kultur ini, ada banyak hal yang bisa menjadi pembahasan penting. Mulai dari cara berpakaian, cara mendukung, cara bersosialisasi, hingga cara menghargai mereka yang lebih dahulu berada di dalamnya. Ada pula nilai untuk menghormati setiap keputusan yang diambil demi menjaga kehormatan organisasi dan budaya ini, agar tidak melenceng dari jalurnya.

Perdebatan hari ini tidak lagi berkisar pada sejarah, statistik, atau jalannya pertandingan. Ia sering melebar ke hal-hal yang jauh dari sepak bola itu sendiri: dari ujaran kebencian, penghakiman, hingga rasisme yang seolah tak pernah benar-benar selesai. Memalukan! Pemain dihujat dengan kata-kata yang tak pernah mereka pilih untuk diwarisi, manusia lain direndahkan atas identitasnya.

Dalam kajian sosiologi, rasisme dipahami sebagai keyakinan atau praktik yang menganggap kelompok tertentu lebih rendah atau lebih tinggi berdasarkan ras atau identitas biologis maupun kultural. Robert Miles menyebutnya sebagai proses sosial yang mengonstruksi perbedaan untuk membenarkan ketimpangan kekuasaan. Artinya, ketika kita melontarkan hinaan berbasis ras, kita tidak sekadar “ikut-ikutan bercanda”; kita sedang mereproduksi cara pandang yang merendahkan manusia lain.

Tulisan ini bukanlah akhir dari percakapan. Ia hanya sebuah pengingat untuk saya, dan mungkin juga untuk teman-teman: jika perjalanan ini mengajarkan satu hal, mungkin itu adalah bahwa kita semua masih belajar. Belajar dari masa lalu, dari kesalahan, dari siapa pun yang pernah berjalan lebih dulu agar di tengah riuhnya dunia yang semakin bising ini, kita tetap mampu berdiri sebagai manusia yang utuh.

Di usia 93 tahun, semoga Persib terus berjalan di jalurnya, membawa kebanggaan bagi kami yang mencintainya. Dan jangan pernah melupakan mereka yang selalu berdiri di belakang, yang telah memberikan begitu banyak hal: materi, tenaga, waktu, bahkan tubuh yang terluka di tribun. Sebagian dari mereka bahkan harus pulang lebih dulu, meninggalkan kita selamanya saat sedang menyaksikan dan menjaga kehormatanmu.

Terima kasih karena selama ini selalu menjadi tempat pulang! Ketika dunia tidak selalu berpihak dalam berbagai hal, selalu ada ruang yang terasa hangat ketika berkumpul bersama kawan saat menyaksikan Persib berlaga: sebuah ruang yang membuat saya merasa tidak sendirian, di mana pun berada.

 

 

 

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//