RESENSI BUKU: Menjaga Nyala Api Perlawanan Agar Tak Padam
Kumpulan esai Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan karya Herry Sutresna (Ucok Homicide) cocok dibaca oleh siapa pun yang merasa lelah dengan retorika besar perubahan.
Penulis Muhamad Akbaruddin Ramadhani21 Maret 2026
BandungBergerak – Di tengah dunia yang dipenuhi retorika perubahan, optimisme instan, dan janji-janji besar yang terus berulang, kumpulan esai Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan justru hadir dari arah yang berlawanan. Buku ini bukanlah buku yang menawarkan jawaban besar atas dunia yang sudah retak. Ia justru bergerak dari arah sebaliknya: dari kegagalan, kerapuhan, kehilangan, dan pengalaman-pengalaman kecil yang sering luput dari perhatian kita sehari-hari. Melalui kumpulan esai ini, Herry Sutresna atau yang akrab dikenal sebagai Ucok, vokalis Homicide dan Bars of Death mengajak pembaca untuk menyadari bahwa api perlawanan, solidaritas, dan kemanusiaan sering kali hadir dalam bentuk yang rapuh, nyaris padam, dan justru karena itu membutuhkan “sedikit bantuan” agar tetap hidup. Bantuan yang dimaksud dalam buku ini berakar pada musik. Seperti karya-karyanya sebelumnya, Ucok menempatkan musik bukan sekedar sebagai latar atau referensi semata, melainkan sebagai semacam bahasa hidup: sesuatu yang membentuk cara berpikir, cara bertahan, dan cara mengingat. Musik menjadi medium arsip sosial-politik sekaligus sebagai refleksi personal.
Selain itu, dalam buku ini juga, musik diperlakukan bukan hanya sebagai daftar band atau nostalgia saja, tetapi sebagai cara membaca kehidupan, Ucok menulis tentang berbagai lanskap musik lintas genre, mulai dari Hardcore, Punk, Folk, Hiphop, hingga Jazz, namun ia tidak memperlakukan semua itu sebagai kategori estetika semata. Band, album, dan lagu hadir sebagai penanda perjalanan, serupa arsip emosi sekaligus peta politik keseharian. Ada bab-bab yang terasa seperti ziarah terhadap musik-musik tertentu, misalnya ketika ia menengok kembali fragmen skena yang pernah membentuk generasinya, atau saat ia menulis tentang sosok-sosok dalam komunitas musik yang telah mendahului, namun tetap hidup dalam ingatan kolektif. Lalu ia juga menghadirkan musik sebagai cara membaca waktu. Musik tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu terhubung dengan situasi sosial dan politik: bagaimana album dapat menjadi penanda masa tertentu, bagaimana sebuah band menyimpan semangat perlawanan atau ideologinya yang relevan setiap zaman, atau bagaimana skena independen menyisakan luka sekaligus kemungkinan.
Namun buku ini tidak berhenti pada musik sebagai medan perlawanan atau media refleksi. Ia menjalar ke politik keseharian, ruang publik, hingga relasi antar manusia yang dibentuk oleh kerapuhan dan kehilangan. Musik dalam esai-esainya ini seperti sebuah pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang lebih luas, seperti bagaimana suatu gerakan bertahan, bagaimana solidaritas dibangun, dan bagaimana ingatan dijaga di tengah dunia yang bergerak serba cepat. Ia menulis dari berbagai pengalaman kegagalan dan ingatan bersama. Salah satu bab yang paling membekas bagi saya adalah “Malam di RW 11 Tamansari”, sebuah peristiwa yang turut membentuk arah elan politik pribadi saya hingga hari ini. Ucok menuliskan momen tersebut dengan detail yang jernih, seperti menghadirkan kembali situasi saat itu secara nyata, yang disisi lain harus memaksa saya mengingat kembali rasa kesal dan sesak akibat kekalahan yang langsung terlihat di depan mata. Membacanya seperti membuka luka lama yang tak kunjung kering, namun juga menyadarkan bahwa setiap luka itu adalah bagian dari sejarah yang tidak boleh hilang dalam ingatan.
Selain bab Tamansari, sebenarnya sulit bagi saya untuk menentukan atau memilih bagian mana yang paling saya sukai, karena setiap bab menghadirkan kedekatan emosional yang serupa. Dalam setiap tulisannya, ia seperti membawa pembaca masuk jauh ke dalam kehidupannya, ibarat mendengar kaset usang yang tidak hanya memutar lagu, tetapi juga memutar ulang setiap kerapuhan sekaligus amarah yang melintasi antar zaman. Bagi saya, gaya tulisannya sangat personal, cair, dan reflektif. Ucok sering memulai dari fragmen kecil seperti sebuah lagu atau album, percakapan singkat, pristiwa sehari-haari, atau ingatan yang mulai samar. Fragmen-fragmen kecil itu dirangkainya menjadi seperti perjalanan lintas waktu. Ia bisa bergerak dari “Quicksand dan puncak migrasi Hardcore yang mengubah lanskap”, menuju “letupan singkat Milisi Kecoa”, atau melompat dari “Jazz; Bahasa Pembangkangan yang Dilupakan” hingga ke “merayakan 3 dekade Anarki Pop Chumbawamba”. Kumpulan fragmen-fragmen ini juga tidak disusun untuk membangun narasi heroic, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan dan perjuangan sering kali hadir dalam bentuk yang tak utuh. Dari sana, pembaca diajak bergerak menembus waktu dan zaman secara perlahan, untuk melihat retrorika kehidupan yang pada akhirnya bermuara pada pertanyaan yang lebih besar tentang makna hidup, musik, perlawanan, solidaritas dan keberlanjutan suatu gerakan.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Bisri Muhamad dan Mawar Tanpa Mengapa
RESENSI BUKU: Student Hidjo, Seruan Kesetaraan di Balik Alur yang Datar
RESENSI BUKU: David Van Reybrouck dan Orang-orang Biasa di Panggung Sejarah Indonesia
Membaca Rentetan Perlawanan
Bagi saya membaca buku ini seperti dibawa jauh untuk menyaksikan rentetan perlawanan sekaligus kekalahan. Ia membuat saya merasa gelisah sekaligus bergairah, dan dipaksa untuk berpikir ulang tentang peristiwa-peristiwa yang mungkin sudah bias dalam ingatan karena terlalu banyak dijejali kabar buruk yang dikirim oleh negara. Namun pada saat yang sama, buku ini juga memberi “bensin” agar “api” itu sedikit tetap menyala. Pada bab awal Ucok menuliskan bahwa melankolia dapat menjadi politik waktu: “Ia menawarkan jeda, mengajarkan nilai untuk berhenti, dan merawat kehilangan. Melalui sikap ini melankolia membongkar mitos waktu linear: ia menunjukkan bahwa sejarah bukanlah garis lurus menuju masa depan, melainkan spiral luka dan kemungkinan.” Dititik ini, buku ini terasa bukan hanya sebagai kumpulan esai musik atau catatan aktivisme, tetapi sebagai upaya merawat kegelisahan agar tidak hilang ditelan percepatan zaman. Ia dapat menjadi pengingat bahwa bertahan dan saling mengingatkan adalah sebuah bentuk kecil dari perlawanan.
Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan mungkin akan cocok dibaca oleh mereka yang bergulat dengan dunia seni, musik independen, atau aktivisme kultural, tetapi juga sangat cocok oleh siapa pun yang merasa lelah dengan retorika besar perubahan. Pada akhirnya, buku ini adalah tentang merawat ingatan, kerapuhan dan kegelisahan, baik yang senang maupun yang hilang. Sebagaimana yang dituliskan Ucok pada bab ke 9 “Kegelisahan yang bukan untuk diredakan, melainkan dijaga sebagai penolak lupa. Sebagai tanda bahwa kita mampu merasa, marah dan berempati. Merawat kegelisahan itu agar tidak terkubur oleh algoritma, berita yang berganti, atau jeda disrupsi para pendengung dilayar gadget.” Mungkin buku ini akan membuat lelah karena harus mengingat dan merefleksikan ulang berbagai rentetan pristiwa heroik yang sudah akrab dengan kegagalan. Tetapi tulisan-tulisannya dapat menetap lama di kepala dan dada pembacanya.
Segala hal di bawah terik matahari, dari Guattari, tukang parkir Deni, hingga Tamansari, “Nothing ever burns down by itself, Every fire needs a little bit of help.”
Informasi Buku
Judul Buku: Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan
Penulis: Herry Sutresna
Halaman: 367
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Consumed Media
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

