• Opini
  • Tugas Penyair dalam Batas Bahasa

Tugas Penyair dalam Batas Bahasa

Tugas penyair bukanlah meliarkan bahasa sejauh-jauhnya. Penyair harus mampu bertahan dan memunguti bahasa dari horizon kemungkinan yang nyaris tak berujung.

Fio F Yussup

Pengajar di salah satu sekolah menengah pertama di provinsi Jawa Timur

Puisi di dinding Jalan Tamblong, Bandung, 28 Oktober 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

16 Maret 2026


BandungBergerak – Dalam pembicaraan mengenai puisi kita kerap terjebak dalam suatu pola yang biasa diagungkan yaitu bahwa puisi merupakan wilayah yang bebas. Dalam artian jikalau puisi merupakan suatu zona ketika kebebasan merupakan hal yang seharusnya terjadi di sana, entah secara ide, bentuk, bahasa, atau pun yang lainnya. Misal, kebebasan dalam penggunaan bahasa, dalam puisi bahasa dipereteli, dilepaskan dari fungsi sehari-hari, dari tuntutan kejelasan gramatikal maupun leksikal, dan lain sebagainya. Dalam imaji semacam demikian puisi dianggap merupakan wilayah di mana bahasa bisa berkelana sejauh-jauhnya, melampaui batas-batas kemungkinan. Sebetulnya anggapan-anggapan demikian tidaklah keliru karena memang fungsi bahasa sendiri salah satunya sebagai bentuk ekspresi, pun itulah yang terjadi di dalam puisi. Akan tetapi, persoalan muncul ketika kebebasan ini dipahami secara ugal-ugalan, seolah bahasa dapat sepenuhnya bebas dari keterbatasannya. Sehingga dalam hal ini bukan lagi puisi memungkinkan kebebasan, tapi sejauh mana bahasa sanggup menanggung beban kebebasan tanpa ia menghancur leburkan dirinya sendiri?

Puisi dalam hal ini dapat dimafhumi sebagai media kebebasan bagi bahasa. Namun, pemahaman semacam demikian dalam hemat saya justru menjadi problematis ketika bahasa mampu ditelaah secara lebih jauh, yang dalam hal ini bukan hanya sebatas medium ekspresi bagi penyair, tetapi sebagai materi yang tunduk pada kemungkinan-kemungkinan. Bahasa jika diperhatikan lebih dekat ia tidaklah luput dari kemungkinan-kemungkinan. Setiap kata mampu membawa peluang dan ditempatkan pada sembarang konteks yang tak terhingga. Bahkan setiap huruf dalam sebuah kata dapat disusun ulang menjadi bentuk atau rangkaian lain. Akan tetapi, keberlimpahan sumber daya kemungkinan bahasa yang dapat ditempatkan pada sembarang konteks tidak serta merta bahwa bahasa mampu membangun suatu makna atau gagasan yang kokoh. Sebaliknya, justru bahasa malah menimbulkan konflik pada dirinya sendiri karena terlalu banyak kemungkinan yang saling berdesakan dari sembarang konteks itu untuk mampu dipahami sekaligus oleh penuturnya. Dalam kondisi demikian bahasa kehilangan pijakannya guna menanggung beban makna.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan Hasan Aspahani (2025) mengenai tugas dari seorang penyair. Dalam pengertiannya seorang penyair bukanlah pencipta bahasa dan bukan pula sosok yang sepenuhnya bebas memainkan kata. Penyair justru adalah sosok yang menyadari bahwa bahasa selalu bekerja dalam keterbatasan. Bahasa tidak sepenuhnya memadai untuk pengalaman, sementara pengalaman selalu melampaui bahasa. Oleh sebab itu, tugas penyair bukanlah meniadakan batas-batas melainkan menghayati dan bekerja dalam batas tersebut. Hal tersebut ditunjukkan Hasan Aspahani dengan mengambil argumen Sapardi, “...menyadarkan tentang adanya batas kemampuan puisi dan bahasa.” (Hlm. 98). Pun pada kalimat berikutnya Aspahani hanya mengatakan jika kerja seorang penyair mengolah potensi dan kegigihan dalam menguji batas-batas bukan melampauinya.

Baca Juga: Perkara Sastra di Ruang Pendidikan Kita
Mari Kita Melawan dengan Puisi
Puisi dan Pop Culture

Menguji Batas dengan Puisi Leviathan

Kesadaran akan batas itulah yang saya uji cobakan terhadap salah satu puisi karya Fadhlan Dzulfikri yang berjudul Leviathan dari kumpulan puisi Ada Dentuman di Tengah Kota yang diterbitkan secara terbatas oleh komunitas Ruang Studi Alternatif dalam bentuk zine. Secara bentuk fisik puisi tersebut tersusun dari 14 larik yang terbagi ke dalam 6 bait. Dalam eksperimen ini saya menggunakan pendekatan kombinatorika atau lebih tepatnya rumus matematika mengenai peluang dengan memanfaatkan rumus permutasi. Saya mendasarkan pada hal serupa yang dilakukan oleh Martin Suryajaya terhadap kemungkinan kombinasi pembacaan terhadap seni dalam bukunya berjudul Meta-Estetika (2024), yang menghasilkan angka 18,4 kuintiliun kombinasi pembacaan terhadap seni, lalu dari karyanya Penyair Sebagai Mesin (2023) yang mendedah bagaimana bentuk penyair lain yang dibantu oleh mesin. Kemudian, dalam hal ini saya berkolaborasi dengan model bahasa, seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini, yang sebelumnya sudah saya latih, khususnya untuk ChatGPT saya menggunakan versi 5.2 dengan berlangganan guna membantu saya dalam penghitugan matematis dari permutasi kata dan huruf dari puisi berjudul Leviathan tersebut. 

Selanjutnya, dari hasil eksperimen menggunakan puisi berjudul Leviathan ini, ditemukan data statistik deskriptif terdiri dari: 100 kata, 558 huruf, 126 vokal A, 41 vokal I, 44 vokal U, 34 vokal E, 4 vokal O, dan 309 konsonan. Setelah data deskriptif ditemukan hal yang selanjutnya dilakukan adalah melakukan perhitungan permutasi guna mengetahui kemungkinan-kemungkinan terbentuknya kombinasi lain dari hubungan antarkatanya serta kemungkinan terbentuknya puisi lain. Dari hasil perhitungan terhadap permutasi kata yang diolah dengan bantuan akal imitasi ChatGPT ditemukan angka 10150 kemungkinan kombinasi susunan kata, lalu 1016 bentuk lain dari puisi Leviathan yang terdiri dari 14 larik, dan 1287 puisi lain dari 14 larik dibuat dalam 6 bait mirip seperti puisi Leviathan–yang mungkin dari 1.287 itu tidak semuanya mampu disebut atau pun dianggap sebagai puisi. Lebih jauh, selain melakukan penghitungan terhadap kata, saya juga melaksanakan perhitungan terhadap huruf guna mengetahui kemungkinan-kemungkinan kombinasi lain dari susunan huruf-huruf dari puisi Leviathan. Hasil permutasi huruf dari puisi Leviathan sangat besar yaitu 10633, suatu angka yang sangat sulit dibayangkan bahkan mungkin jika kita menulis per detik satu kombinasinya mungkin tidak akan pernah selesai sampai ke anak-cucu kita melanjutkannya pun. Selanjutnya, seperti kemungkinan puisi lain dari hasil kombinasi kata, dari kemungkinan terciptanya puisi lain dari kombinasi huruf ini adalah 10344 yang hampir seluruhnya pun tidak bisa disebut atau pun dianggap sebagai puisi.

Namun, bukan berapa banyak kemungkinan kombinasi yang bisa terbentuk dari hasil perhitungan terhadap puisi Leviathan tersebut, tapi apa yang terjadi pada bahasa ketika kemungkinan itu diperlihatkan. Setelah itu apa yang bisa diambil dari angka yang bahkan melebihi jutaan triliun tersebut? Seperti yang di awal saya paparkan jikalau akan menjadi sebuah masalah ketika bahasa ditelaah lebih jauh dan menimbulkan konflik pada dirinya sendiri karena kemungkinan-kemungkinan kombinasi yang saling berdesakan sehingga sukar dipahami oleh penuturnya. Hal tersebut semisal saya ambil contoh dari bait pertama puisi Leviathan:

akulah iblis, sekali lagi, yang diturunkan bumi semenjak nabi
telah punah dimakan zaman. akulah yang badai menurunkan
dan menghancurkan kota dengan lantang ucapan takbir.

Di atas merupakan bait pertama dari puisi Leviathan yang terdiri dari 24 kata dengan formasi kata unik sebanyak 22. Dan berikut merupakan beberapa kemungkinan kombinasi kata dari penggalan bait pertama puisi tersebut.

takbir bumi menghancurkan lagi akulah yang nabi lantang punah
dimakan badai ucapan akulah kota semenjak yang dan iblis
yang zaman menurunkan akulah punah takbir bumi sekali
lantang nabi menghancurkan yang akulah dimakan kota lagi
iblis dan semenjak menurunkan bumi ucapan yang punah
sekali kota badai yang akulah zaman menghancurkan nabi
takbir dimakan bumi lagi yang akulah menurunkan lantang
yang nabi akulah menghancurkan semenjak iblis dan kota
badai punah ucapan zaman yang lagi akulah bumi
menurunkan iblis kota takbir yang akulah dimakan

Dari penggalan bait pertama puisi Leviathan menghasilkan 144 huruf. Dan berikut merupakan kemungkinan kombinasi dari huruf penggalan bait pertama puisi Leviathan dalam bentuk paling kacaunya.

aikbnmtuaarhgnlduoykzmalnuaab
ndraaaikuobglthnkycmnnmuae
uabgtmnarahklydnnuaoimz
klnuaabdmrntyaoahgnuki
auybnmradgkhnltaiuam
mrauknldgtaaynhbiu
dkuanmtahrglnyaubai
hnaltdgukayraimnub
aungrltdmkbayhaiu
tgnraaylubdkmnaih

Dari hasil permutasi bait pertama puisi Leviathan ditemukan kemungkinan kombinasi kata sebanyak 1023 dan kemungkinan kombinasi huruf sebanyak 10240, lalu dari jutaan triliun hasilnya saya ambil masing-masing sepuluh hasil kombinasinya. Dengan demikian, kebebasan yang didambakan puisi kepada bahasa malah akhirnya mengakibatkan konflik pada dirinya sendiri; meruntuhkan pijakan bahasa terhadap beban makna; alhasil bahasa hadir secara anumerta dalam puisi. Hasil dari permutasi kata dan huruf tersebut menunjukkan runtuhnya bangunan morfologis, sintaksis, atau pun relasi semantik, dari tataran kecil yaitu huruf ke tataran yang besar yaitu kata sampai ke kalimat terjadi kekacaubalauan dan saling desaknya dari setiap kemungkinan kombinasi.

Bekerja dalam Keterbatasan Bahasa

Dari sinilah konflik dalam diri bahasa terjadi, kebebasan yang ditafsirkan secara ugal-ugalan tidak serta merta menghasilkan sebuah puisi, yang ada malah hanya derau latar; cericauan; atau babibu semata. Makna tidaklah lahir dari keterbukaan kemungkinan yang dimiliki oleh bahasa, dari jutaan triliun kemungkinan hanya sedikit yang mampu dijadikan pilihan, sedang yang lainnya ditinggalkan, dan bahkan diasingkan ke sisi terjauh. Oleh karena itu, bukan karena luasnya suatu kata atau bahasa, tapi bagaimana penyempitan dilakukan pada kemungkinan yang luas itu.

Hal tersebut mempertegas apa yang coba dijelaskan oleh Hasan Aspahani, jikalau tugas penyair adalah bekerja di dalam keterbatasan bahasa dengan kesadaran penuh akan tubuh bahasa. Sehingga penyair bukanlah sosok yang menghapus batas, melainkan merupakan sosok yang paham akan batas beban bahasa dalam menghadirkan dirinya dengan cara seperti yang ia uraikan, kegigihan penyair dalam menguji potensi bahasa. Dengan demikian, puisi hadir dari kerja seleksi; dari kerja eksklusi terhadap bahasa; dari menolak, menghilangkan, atau pun mengasingkan segala kemungkinan yang tersedia. Sehingga, dalam artian ini kebebasan yang didambakan oleh puisi tidaklah bersifat inklusi; tidaklah kebebasan yang menyeluruh; apalagi kebebasan yang dipandang secara ugal-ugalan.

Pun bahasa dalam hal ini bukan hanya terkait keterbatasan bahasa pada dirinya sendiri. Keterbatasan lain hadir dan muncul pada penutur bahasa itu sendiri. Keterbatasan pada alat artikulasi menjadikan kebebasan bahasa tersebut gugur sejak dalam pikiran. Misal, dalam puisi Shang Hai karya Sutardji Calzoum Bachri, meskipun secara bentuk puisi termasuk ke dalam eksperimental, dalam hal ini eksperimen terhadap bunyi, tapi ia masih bertahan pada batas bunyi-bunyian yang mampu ditangkap dan diartikulasikan oleh pembacanya. Atau barangkali puisi dari Hamzah Muhammad dalam kumpulan puisinya Seberapa Indie (2025), meskipun ia meyimpang dalam kelaziman keindahan bahasa puisi, ia masih bertahan dalam batasan potensi bahasa dari sudut kerterbacaan dan keterlafalan dengan mengambil lokalitas bahasa di Jakarta dan Rawamangun khususnya.

Kesadaran akan keterbatasan itulah yang membedakan puisi dari sekadar barisan kata. Puisi memang merupakan salah satu bentuk ekspresi karena mediumnya merupakan bahasa, tetapi kebebasan tersebut memiliki suatu keterbatasan pada dirinya. Sehingga pada akhirnya bahasa tidaklah inklusif melainkan eksklusif guna mampu menghadirkan makna serta gagasan yang kokoh dan ajek. Mungkin ini pula yang ingin dikatakan Katrin Bandel dalam blurb buku teranyarnya Seks, Teks, Konteks (2025), yang menuliskan jikalau “Bahasa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal genus/gender, tapi itu tidak berarti bahwa di Indonesia seksisme tidak hubungannya dengan bahasa”. Dalam hal ini, apa yang dikatakan Katrin Bandel dapat dibaca dalam kerangka yang nyaris serupa yaitu: bahasa tidaklah netral dan bahasa tidak sepenuhnya terbuka, ia selalu hadir melalui struktur keterbatasan tentang apa yang dapat dikatakan dan dipahami.

Dengan demikian, puisi tidak lagi dipahami sebagai wilayah kebebasan yang ditafsirkan secara ugal-ugalan. Puisi justru menjadi laboratorium tempat bahasa diuji dan dapat diperlakukan sebagai objek. Tugas penyair, dalam pengertian ini, pada akhirnya bukanlah meliarkan bahasa sejauh-jauhnya, sebebas-bebasnya; penyair harus mampu bertahan dan memunguti bahasa dari horizon kemungkinan yang nyaris tak berujung. Seperti apa yang disebutkan oleh Heidegger yang dikutip Bambang Sugiharto (1996), seseorang bisa sekali banyak bicara tapi tidak mengatakan apa pun, sebaliknya bisa saja seseorang tanpa bicara tapi ia mengatakan segala hal, sama halnya seperti penyair dalam menghadirkan puisi melalui apa yang penting secara sadar ia munculkan, bukan apa saja yang penting bisa muncul.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//