CERITA GURU: Ketika Sekolah Dituntut Mempertahankan Praktik Membaca di Bawah Rezim Citra
Sekolah menghadapi tantangan yang kompleks untuk mempertahankan praktik membaca di tengah-tengah dominasi citra dan teknologi pengolah pengetahuan instan.

Fio F Yussup
Pengajar di salah satu sekolah menengah pertama di provinsi Jawa Timur
18 Maret 2026
BandungBergerak – Kegiatan membaca di sekolah masih kurang diminati oleh peserta didik kondisi ini ditandai dengan sering munculnya persoalan yang berulang terkait kegiatan tersebut di sekolah. Peserta didik dinilai enggan membaca buku atau pun mereka cepat teralihkan ketika dihadapkan dengan sebuah bacaan yang panjang. Anggapan semacam itu sebetulnya sah-sah saja untuk diungkapkan khususnya kepada individu, tetapi ada yang perlu dipahami dalam hemat saya jikalau kegiatan membaca bukanlah sebuah hal yang berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan kondisi kebudayaan yang membentuk cara kelompok atau individu dalam berhubungan dengan pengetahuan. Ketika kegiatan membaca melemah di lingkungan sekolah, hal tersebut berhubungan dengan perubahan struktur pengalaman yang ada di masyarakat. Singkatnya kegiatan membaca merupakan kegiatan yang dicerminkan oleh masyarakatnya. Oleh karena itu, membaca bukanlah sebuah kegiatan yang terpisah dari masyarakat, sebaliknya ia merupakan bagian daripada masyarakat itu sendiri.
Dalam proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, membaca merupakan salah satu jalan yang mampu mengarahkan peserta didik dalam membentuk pemahaman konseptual suatu materi. Melalui membaca, peserta didik diarahkan secara bertahap mengikuti alur suatu pemikiran, menghubungkan gagasan satu dengan gagasan lainnya, serta membantu membangun nalar kritis mereka secara bertahap–setidaknya itulah manfaat yang saya rasakan dari membaca. Keberlangsungan dan ketercapaian tujuan pembelajaran dalam suatu proses belajar di sekolah sebetulnya sangat dipengaruhi juga oleh sejauh mana praktik membaca masih memiliki tempat dalam kehidupan peserta didik. Minimnya praktik membaca ini menyebabkan lompatan-lompatan pengetahuan bagi peserta didik, sehingga hal tersebut mengakibatkan mereka tidak memiliki pengetahuan prasyarat guna masuk ke materi selanjutnya. Contoh saja dalam pembelajaran menulis laporan hasil observasi di kelas VIII, peserta didik setidak-tidaknya harus sudah mengetahui dan memahami mengenai teks deskripsi agar ketika mereka dihadapkan dengan pembelajaran pada materi itu tidak terlalu terseok-seok di dalamnya.
Baca Juga: CERITA GURU: Pendidikan Karakter yang Teruji di Ruang Nyata
CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra
CERITA GURU: Kompetensi Digital Guru Bukan Sekadar bisa Pakai Aplikasi
Konsumsi Citra
Dalam memahami fenomena budaya ini saya mengamini argumen yang diberikan oleh Yasraf Amir Piliang dan Jejen Jaelani dari karya mereka yang berjudul Teori Budaya Kontemporer: Penjelajahan Tanda dan Makna (2025). Piliang dan Jaelani menyatakan jikalau kehidupan masyarakat saat ini semakin ditentukan oleh teknologi pencitraan. Citra menurut mereka memiliki peran penting dan bahkan sentral dalam membentuk keseharian, termasuk dalam membentuk cara masyarakat memahami realitas, membangun identitas, dan mengambil keputusan. Kondisi ini berkaitan dengan posisi masyarakat yang berada pada persimpangan antara budaya lisan dan budaya lisan tingkat kedua (p. 80). Dalam situasi kehidupan yang ditengarai budaya lisan primer dan budaya lisan sekunder dalam bahasa yang digunakan oleh Walter J. Ong, masyarakat di lain sisi masih membawa pola-pola budaya lisan, sementara itu di sisi lain teknologi dan media digital hadir secara intens memenuhi kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, konsumsi citra memiliki daya tarik yang jauh lebih besar dibandingkan kegiatan membaca teks. Berhadapan dengan media visual tidak menuntut waktu dan daya kognitif yang besar sebagaimana berhadapan dengan teks tertulis. Konsumsi citra dapat dilakukan dalam waktu senggang, dikemas dalam format hiburan, dan skala penyebaran yang masif (p.81). Internet, khususnya media sosial seperti Tiktok atau pun Instagram, mempercepat dan memperluas konsumsi citra bagi masyarakat. Konten-konten visual yang ringkas sudah menjadi bagian dari rutinitas harian masyarakat, sehingga mampu membentuk cara melihat, cara menilai, dan cara memahami realitas.
Pola konsumsi citra tersebut memiliki efek yang signifikan terhadap kebiasaan membaca. Teks tertulis semakin jarang dihadapi dan bahkan cenderung dihindari sebagai fondasi struktur pengetahuan yang utuh. Konsumsi informasi yang dimediasi citra ini sering kali dihadirkan melalui keterangan singkat atau potongan informasi yang disertai video serta gambar yang kesahihan informasinya pun dipertanyakan. Sehingga pada akhirnya mengakibatkan kegiatan membaca tidak lagi berlangsung sebagai proses penelusuran makna, sebaliknya kegiatan membaca hanya berlangsung sambil lalu saja mengikuti derasnya informasi yang dibawa citra.
Sekolah hari ini sedang berada di tengah kondisi kebudayaan yang segalanya disajikan dan dimediasi oleh citra. Peserta didik masuk dan hadir ke dalam kelas dengan membawa kebiasaan menerima informasi dari video singkat, narasi visual, dan penjelasan lisan yang dikemas secara ringkas. Pola ini membentuk mereka dalam memproses pengetahuan, khususnya kecenderungan mengikuti alur informasi yang cepat dan segera selesai. Dalam situasi demikian, kegiatan membaca entah itu buku pelajaran atau pun teks yang lebih kompleks menuntut penyesuaian kognitif yang tidak sederhana, karena membaca mengharuskan peserta didik berhadapan dengan teks yang bergerak lambat, berlapis, dan menuntut keterlibatan kognitif secara berkelanjutan. Akibatnya, kegiatan membaca menjadi semakin terasa terpisah dari pengalaman belajar sehari-hari peserta didik yang lebih banyak dibentuk oleh konsumsi citra.
Persoalan selanjutnya terkait membaca di sekolah berhubungan juga dengan cara peserta didik memandang pengetahuan. Pengetahuan hadir dan dipahami sebagai sesuatu yang tersedia secara instan, siap akses, dan siap pakai. Sehingga pengalaman memahami pengetahuan melalui kegiatan membaca semakin jarang terjadi karena informasi lebih sering diterima dalam bentuk yang sudah dipadatkan dan disederhanakan. Proses pemerolehan pengetahuan cenderung berlangsung sebagai penerimaan atas informasi yang telah diolah dan dikemas secara instan tanpa keterlibatan aktif dalam menelusuri, memahami, dan menafsirkan teks. Dalam kondisi semacam ini, membaca tidak lagi dijalani sebagai proses dalam membangun pemahaman secara bertahap, sebaliknya membaca hadir sebagai kegiatan tambahan yang dirasa tidak menentukan arah pembelajaran.
Perkembangan praktik produksi pengetahuan yang dimediasi oleh citra serta hari ini ditambah pula oleh kemunculan akal imitasi yang memperkuat kecenderungan akan hal tersebut. Arthur Asa Berger seorang pemikir budaya populer, media, dan semiotika asal Amerika, menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul Once Upon a Time and Research (2025), jikalau teknologi akal imitasi telah mengubah cara bagaimana pengetahuan disusun dan disajikan–dalam artikelnya Berger membandingkan ketika dia menyusun disertasi harus mencari referensi di perpustakaan, sedangkan sekarang hanya tinggal meminta bantuan pada akal imitasi untuk mencarikan referensi yang relevan, bahkan menuliskannya. Berger melakukan riset terhadap bagaimana akal imitasi seperti ChatGPT dan Claude membantu menyajikan sebuah informasi bagi penelitian atau pun dalam kegiatan jurnalistik. Ia berkesimpulan meskipun akal imitasi itu mampu memberikan segudang informasi dan berbagai fasilitas dalam menyajikan pengetahuan. Akan tetapi, mereka tidak mampu memberikan penilaian secara kritis atau refleksi terhadap objek pengetahuan yang sedang mereka berikan; yang menurut Berger itu merupakan hal yang sangat penting ketika memahami posisi moral dan kesadaran akan sosio-politik yang melingkupi objek pengetahuan tersebut.
Apa yang dijelaskan oleh Berger di sini membantu bagaimana perubahan relasi antara peserta didik dan teks dapat dipahami. Ketika pengetahuan dirangkum, disintesis, dan disusun oleh akal imitasi, maka sejauh mana peran kognitif peserta didik dapat dianggap sebagai proses belajar? Sehingga, dari hal tersebut menyebabkan peserta didik semakin terbiasa berhadapan dengan barang instan dibandingkan mereka berhadapan atau pun berdialog langsung dengan buku dan sumber bacaan yang menuntut pembacaan secara mendalam. Kegiatan membaca bergeser dari pengalaman memahami teks ke konsumsi pengetahuan hasil olahan akal imitasi–dalam hal ini seharusnya akal imitasi itu dijadikan sebagai alat bantu dalam memahami suatu permasalahan bukan menjadikannya sebagai satu-satunya pintu dalam mendapatkan pengetahuan. Oleh karena itu, proses belajar menjadi proses cepat dan terfragmentasi–meminjam konsep milik Paul Virilio manusia sekarang hidup di dalam logika kecepatan atau yang ia sebut sebagai Dromologi; yang mana menyebabkan manusia lupa akan permenungan atau refleksi akan diri maupun lingkungannya, sehingga pengetahuan yang didapatkan pun tidaklah utuh.
Tantangan yang Dihadapi Sekolah
Sekolah menghadapi tantangan yang kompleks dalam situasi ini. Pembelajaran dituntut untuk mempertahankan praktik membaca, tetapi di sisi lain praktik membaca sedang berada di tengah-tengah dominasi citra dan teknologi pengolah pengetahuan instan. Tantangan ini khususnya berkaitan langsung dengan bagaimana cara pendidik dalam merancang, melaksanakan, dan melakukan asesmen dalam pembelajaran, sehingga mampu membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik; pun membangun pengalaman membaca secara berkelanjutan. Namun, pada akhirnya hal tersebut bukanlah sebuah solusi mutakhir yang mampu ditawarkan karena sebagian besar kehidupan peserta didik ada di lingkungan masyarakat dan keluarganya. Membaca sangat perlu dihadirkan sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran entah itu di kelas maupun di lingkungan keluarga atau pun masyarakat guna membantu penerimaan pengetahuan secara aktif serta mendapatkan pemahaman yang menyeluruh darinya. Kegiatan membaca berperan aktif dalam membentuk kemampuan peserta didik dalam memahami konsep, menghubungkan gagasan satu dengan gagasan lainnya, serta membangun penalaran kritis. Pun praktik membaca ini menjadi sangat penting porsinya dalam menghadapi tsunami informasi dan budaya media yang menekankan kecepatan serta daya tarik. Tanpa penguatan dalam praktik membaca akan berpotensi menghasilkan peserta didik yang terbiasa mengonsumsi informasi dalam bentuk citra dan ringkas dengan keterbatasan pada kemampuan memproduksi dan mengolah pengetahuan secara mandiri.
Dengan demikian, permasalahan membaca di sekolah erat kaitannya dengan perubahan kebudayaan yang melingkupi masyarakat di mana sekolah dan peserta didik berada. Dalam hal ini ia berhubungan dengan dominasi teknologi pencitraan, budaya lisan tingkat kedua, serta praktik produksi pengetahuan instan melalui teknologi. Selama pengalaman belajar peserta didik lebih banyak dibentuk oleh konsumsi citra dan pengetahuan hasil instan, maka pendidikan akan terus menghadapi kesulitan dalam menumbuhkan minat membaca dan kemampuan berpikir kritis peserta didik dan masyarakat pada umumnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

