Menggali dan Menghadirkan Kembali Toponimi Gunung Burangrang untuk Kebutuhan Mitigasi Bencana
Toponimi Gunung Burangrang bukan soal mitologis semata, tapi juga terkait erat dengan peristiwa vulkanik dan tektonik ribuan tahun lalu. Penanda risiko bencana.

Anna Joestiana
Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang
20 Maret 2026
BandungBergerak – Burangrang adalah nama sebuah gunung yang memiliki asal usul yang erat kaitannya dengan mitos Sangkuriang. Dalam mitos tersebut, Sangkuriang menebang pohon Lametang untuk dijadikan perahu. Pohon yang ditebang tersebut kemudian roboh membujur dari timur ke barat mengakibatkan suara yang keras serta tanah sekitarnya bergetar kencang. Pohon yang sudah roboh tersebut kemudian di potong-potong dan dibelah. Kemudian sisa-sisa ranting pohonnya menjelma menjadi Gunung Burangrang.
Secara etimologis (asal usul kata), nama “Burangrang” berasal dari kata rangrang yang dalam bahasa Sunda berarti “ranting pohon yang jarang”. Istilah tersebut bisa merujuk pada topografinya yang terjal, berlekuk dalam, berlembah sangat dalam, kemiringan lereng mencapai 55 persen dengan punggungan yang jarang tidak beraturan serta retak-retak.
Menurut Prof. Dr. Nana Sulaksana, (2022), sisa-sisa ranting pohon dalam bahasa Sunda disebut Ngarangrangan yang kemudian dijadikan nama Gunung Burangrang. Sedangkan terkait posisi robohnya pohon Lametang, Mudrik Daryono (2019), mengatakan adanya kesesuaian dengan hasil pemetaan jalur sesar aktif yang melintang barat-timur. Bagian timur berupa jalur sesar tunggal (batang) dan bagian barat adalah cabang-cabang sesar (ranting) akibat pembelokan jalur Sesar Lembang.
Baca Juga: Jejak Lembang yang Pernah Menjadi Nama Desa, Kecamatan, Kewedanaan, dan Distrik
Lagu Goong Renteng Embah Bandong dan Sejarah Sesar Lembang
Menakar Bahaya Potensi Pergerakan Tanah dan Penurunan Muka Tanah di Kawasan Lembang
Gunung Burangrang
Secara geologi, mitos Sangkuriang tersebut menceritakan peristiwa gempa besar yang menyebabkan terbentuknya Sesar Lembang bagian barat atau meminjam istilah dari Kusumadinata (1981) yaitu ‘penyesaran kedua’. Dan menurut PVMBG (2026), secara regional, Gunung Burangrang dipengaruhi oleh sistem struktur geologi berupa patahan dan rekahan yang berarah dominan barat laut–tenggara dan barat daya–timur laut yang ditemukan sepanjang lereng bagian atas (PVMBG, 2026).
Sehingga dari sudut pandang geomorfologis, kawasan Gunung Burangrang merupakan bagian dari bentang alam Gunung Sunda purba, yang kawasannya memiliki karakter pelapukan batuan vulkanik stadium tua dengan faktor kelerengan yang curam, kondisi tanah yang relatif tebal dan labil. Kondisi ini secara alami menjadikan wilayah tersebut memiliki potensi longsor tinggi (Hendro Murtianto, 2026).
Peristiwa Sangkuriang menebang pohon yang sesuai dengan peristiwa terbentuknya Sesar Lembang bagian Barat, digambarkan juga oleh salah satu lagu dari gamelan Goong Rengteng Embah Bandong di Kabuyutan Lebakwangi-Batukarut yang berjudul Galumpit. Gambarannya menurut H. Uko Rukanda (1997) :“Lemah di kiduleun Gunung Sunda (Gunung Burangrang) rarengat, barejad, malah anu neundeut ngajadi jurang anu jarero ngagarupit, malah ambles jadi gawir-gawir nu lungkawing. Kaayaan lirih…, simpe… sabada bituna Gunung Sunda” .
Terjemahannya : “Terjadi gempa besar akibat letusan Gunung Sunda Purba di bagian selatan (Gunung Burangrang). Letusannya menyebabkan permukaan tanah menjadi retak dan terbelah membentuk celah-celah lembah yang curam, tebing-tebing yang terjal, bahkan terjadi penurunan tanah sehingga tercipta jurang-jurang yang dalam. Sesaat setelah meletus, situasi menjadi sunyi senyap dan sepi.”
Ibarat ranting-ranting pohon yang sudah lama mengering, rapuh dianggap tidak berguna, itulah gambaran kondisi di bagian selatan Gunung Burangrang. Retakannya terpotong-potong pendek tidak beraturan, turun naik dan rapuh mudah patah. Lanskapnya menjadi penanda bahwa ribuan tahun yang lalu telah terjadi peristiwa vulkanik dan tektonik.
Asal usul nama Burangrang lainnya yaitu berasal dari kata “Ambu Rarang” kemudian menjadi “Burangrang”. Kata “Bu” berasal dari kata “Ambu” yang berarti Ibu/Wanita Suci, sedangkan “Rangrang” berasal dari kata “Rarang” yang berarti tanah sakral. Di dalam kosmologi Sunda, istilah Ambu Rarang mengandung arti “Tanah terlarang yang dihuni oleh anasir/roh-roh jahat serta makhluk halus”.
Menurut Jakob Sumardjo (2011), terdapat tiga “Ka-Ambuan” yaitu Ambu Luhur, Ambu Tengah, dan Ambu Rarang/Ambu Handap. Mengenai tugas-tugasnya, Rena Rahmawati (2013) mengatakan bahwa Ambu Luhur tidak hanya mengurus kekuatan dan kesaktian tetapi juga dapat menyelesaikan setiap masalah kehidupan dengan membaca mantra-mantra. Ambu Tengah sebagai pemelihara kehidupan di bumi yang harus dihormati dengan kesungguhan melakukan pikukuh. Sedangkan Ambu Rarang adalah ambu yang menerima jasad dan ruh yang mati untuk diurus selama tujuh hari dan melepaskannya setelah 40 hari ke tempat akhir.
Pengertian lain menurut Rusnandar (2013), menyebutkan bahwa Ambu Rarang/Ambu Handap artinya bumi atau tanah yang memiliki makna kematian atau “kabinasaan” dan hal ini dapat diartikan sebagai alam baka atau akhirat. Orang Baduy menyebutnya “dunia bawah tanah”, dan mereka “teu wasa” (tak bisa menjelaskan) kecuali hanya oleh para puun.
Sebenarnya kosmologi Ambu Rarang tergambarkan dalam konsep “Imah Panggung” masyarakat Sunda. Bagian paling bawah disebut Buana Rarang atau Ambu Rarang yang terdiri dari : lelemahan (tanah dasar) dan umpak/tatapakan (alas batu sebagai fondasi). Hal ini melambangkan dunia terlarang yang dihuni oleh anasir/roh-roh jahat serta makhluk halus lainnya (Intani, 2013).
Berdasarkan catatan sejarah, Noorduyns peneliti naskah kuno dari Belanda, pernah mengidentifikasi bahwa di lereng Burangrang (daerah Wanayasa sekarang) terdapat sebuah kerajaan yang bernama Saung Agung dengan rajanya Ratu Hyang Banaspati. Penelitiannya berdasarkan naskah Bujangga Manik pada abad ke-15, kutipannya sebagai berikut:
… Itu ta bukit Burangrang, ta(ng)eran na Saung Agung …
Menurut para ahli sejarah, kutipan naskah tersebut menceritakan bahwa di kaki Gunung Burangrang pernah ada tanggeran atau tapal batas sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Saung Agung (1400-an Masehi). Kemudian berdasarkan naskah Carita Parahyangan, diketahui bahwa kerajaan Saung Agung tersebut termasuk salah satu bagian dari wilayah Kerajaan Sunda, ketika rajanya Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi.
Secara etimologis, kata “Saung” mengandung arti “pondok, gubuk, atau tempat istirahat sederhana”. Sedangkan kata “Agung” mengandung arti “besar, mulia, luhur”. Jadi “Saung Agung” mengandung arti bahwa meskipun keberadaannya terpencil di kaki gunung, dikelilingi hutan lebat namun pengaruhnya sangat besar sekali.
Kemudian kata “banaspati” mengandung arti “pohon” atau “ratu siluman di hutan”. Sedangkan kata “hyang” mengandung arti “sesuatu yang gaib” atau “dewa”. “Ratu Hyang” atau “Rahyang” adalah tingkatan gelar dalam tatanan konsep kehidupan kepercayaan Sunda lama, yang setingkat di atas “Datu Hyang” atau “Dahyang” dan setingkat di bawah “Sanghyang”. Berdasarkan hal tersebut, diduga kuat, Ratu Hyang Banaspati merupakan seorang yang terhormat karena ketinggian ilmunya. Kerajaannya dikelilingi oleh hutan yang berada di kawasan Gunung Burangrang (Budi Tahayu Tamsah, 2018).
Konon, area ini memiliki kekuatan gaib atau fenomena medan magnet yang sangat kuat, mirip seperti Segitiga Bermuda di Samudra Atlantik. Karena itu, banyak orang menyebutnya dengan Segitiga Gedogan. Penamaannya tidak terlepas dari keberadaan Gunung Gedogan (kandang kuda) yang terletak di lereng bagian barat Gunung Burangrang. Area ini membentuk sebuah segitiga imajiner, sehingga disebutlah Segitiga Gedogan.
Konteks Kebencanaan
Di Kawasan tersebut, keberadaan Gunung Sunda Purba secara gaib masih dipercaya menjulang tak kasat mata di antara Gunung Burangrang dan di barat Gunung Tangkuban Parahu. Mitos ini kerap dikaitkan dengan banyaknya peristiwa pendaki yang hilang dan pesawat yang jatuh di sekitar gunung ini.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, ternyata toponimi Burangrang tidak hanya terkait dengan mitologis saja, tetapi juga sangat terkait erat dengan geologis dan historis. Pada akhirnya, berdasarkan geomorfologis, Gunung Burangrang merupakan lanskap sisa-sisa letusan Gunung Sunda Purba yang memiliki lereng curam, lembah yang dalam, serta kontur tanah yang labil. Hal tersebut menjadi sebuah karakteristik bahwa ribuan tahun yang lalu telah terjadi peristiwa vulkanik dan tektonik.
Dalam konteks kebencanaan, toponimi “Burangrang” memiliki peranan penting dan dapat dijadikan penanda karakteristik wilayah yang mempunyai risiko bencana. Seperti nama-nama lainnya, seperti “Cieunder” (artinya bergetar) pada gempa Cianjur tahun 2022, dan “Pasir Munjul” (artinya bukit yang terangkat) pada pergerakan tanah Purwakarta tahun 2025.
Perlu diingat kembali bahwa toponimi (ngaran petempatan) merupakan sebuah memori kolektif masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur kepada generasi selanjutnya agar terus mengingat sebuah peristiwa. Menurut Prof. Cece Sobarna (2015), toponimi bukan sekadar penanda suatu wilayah. Namun di balik itu ada rekaman peristiwa, sejarah, lingkungan, dinamika budaya, geologi, hingga magis yang pernah terjadi. Jadi, toponimi “Burangrang” bukan sekadar lanskap mitologis, geologis, hidrologis dan historis, namun yang lebih penting yaitu sebagai pengingat bahwa wilayah ini menyimpan potensi risiko bencana.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

