Ketika Debat Kehilangan Makna
Ketika debat telah berpindah dari ruang intelektual ke panggung layar kaca, logika yang bekerja terkadang telah mengalami perubahan.

Salman A Ridwan
Pengajar Sejarah dan Pegiat Literasi di Komunitas Membaca "Mantra Buku"
18 Maret 2026
BandungBergerak – Perdebatan yang melibatkan Permadi Arya, Feri Amsari, dan Ikrar Nusa Bhakti dalam acara Rakyat Bersuara (10 Maret 2026) di iNews TV memancing perhatian publik. Acara yang awalnya membicarakan tentang geopolitik, khususnya tentang Palestina dan relasi Indonesia-Amerika Serikat, menampilkan ketegangan verbal di dalam studio. Potongan videonya pun segera menyebar luas di jagat media sosial.
Rekaman video yang viral itu menunjukkan Permadi Arya beradu argumen dengan nada tajam, bahkan beberapa kali memotong penjelasan Feri Amsari dan Ikrar Nusa Bhakti dan memancing reaksi serta peringatan dari Aiman Wicaksono sebagai moderator. Ketika ketegangan tak mereda, moderator akhirnya meminta dia keluar, demi menjaga siaran tetap terkendali.
Di ruang studio itu, suara semakin meninggi, interupsi berulang, dan jeda terpaksa dipaksakan, namun masih terekam kamera.
Ada yang menganggap hal itu sebagai keberanian berbicara yang lantang. Ada juga yang menganggap itu sebagai tanda merosotnya kualitas diskusi publik. Terlepas dari itu, peristiwa ketegangan itu memunculkan pertanyaan yang mendasar: apakah diskusi yang kita saksikan itu masih pantas untuk disebut sebagai debat, atau sekadar konflik yang menyerupai debat?
Baca Juga: Jalan Tikus Demokrasi, Peran Besar Media Sosial dalam Membentuk Opini Publik
Menguji Batas Sabar Rakyat, dari Aksi Sipil Menuju Demokrasi yang Hidup
Jangan Biarkan Demokrasi Indonesia di Tepi Jurang
Usaha Menggali Kebenaran
Dalam sejarah intelektual yang sangat tua, debat bukanlah sekadar pertunjukkan adu bicara. Ia adalah sebuah cara manusia untuk menguji suatu gagasan. Filsuf Yunani kuno seperti Socrates menggunakan debat sebagai metode untuk menggali kebenaran melalui berbagai pertanyaan yang menelusuri sebuah asumsi dan menimbang logis tidaknya sebuah pernyataan.
Debat, dalam hal ini bukan bermaksud untuk mempermalukan lawan bicara. Ia bertolak dari keyakinan yang sederhana namun sangat mendalam, yaitu mencari kebenaran yang lebih mungkin ditemukan melalui pertukaran gagasan yang sabar dan rasional. Jika ada perbedaan sudut pandang, bukan berarti hal itu menjadi ancaman, namun justru dapat menjadi bahan yang memperkaya gagasan.
Dalam arti ini, debat bukanlah suatu pencapaian kemenangan retoris. Ia adalah proses bersama untuk memperjelas setiap kerancuan dalam suatu pemahaman dan realitas.
Masalahnya, ketika debat telah berpindah dari ruang intelektual ke panggung layar kaca, logika yang bekerja terkadang telah mengalami perubahan. Kita perlu curiga, bahwa hadirnya televisi tidak semata-mata berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi, tetapi ia juga berfungsi sebagai media yang mereproduksi perhatian publik. Dalam logika ekonomi media, konflik yang hadir secara dramatis selalu menjadi daya tarik untuk meningkatkan rating.
Bagi sebagian pihak yang menonton, munculnya ketegangan, interupsi, dan emosi kerap dianggap lebih menarik daripada tontonan yang menampilkan penjelasan-penjelasan yang jernih dan rasional. Adanya ketegangan adalah sesuatu yang lebih sensasional.
Namun munculnya ketegangan seperti itu, secara perlahan, sadar atau tidak sadar akan menggeser makna debat itu sendiri. Para narasumber sering terbawa arus yang menempatkan posisinya tidak lagi sebagai subjek yang menyampaikan gagasan, tetapi lebih terlihat tampil sebagai aktor yang harus terlihat tegas dan paling benar di hadapan kamera. Debat, pada akhirnya dimaknai hanya sebatas ajang untuk menunjukkan suatu performa.
Dengan keadaan seperti itu, diskusi publik sangat berisiko untuk menjadi simulasi dialog. Suatu perbincangan yang akan kehilangan arah dari tujuan utamanya: untuk saling memahami. Perdebatan akan lebih fokus pada upaya untuk membangun citra dan perhatian publik.
Dampaknya, argumentasi yang harusnya didasarkan oleh fakta, data, dan pemikiran logis telah berubah menjadi senjata retorika yang membabi buta. Dan lawan bicara, ditempatkan sebagai pihak antagonis yang harus dimusnahkan.
Hilangnya Tradisi Mendengar
Di balik ketegangan itu semua, ada persoalan yang tersembunyi lebih dalam, yakni semakin langkanya tentang kemampuan untuk mendengar dalam ruang publik kita.
Dalam debat, mendengar bukanlah semata-mata diam menunggu giliran untuk berbicara. Mendengar berarti membuka kemungkinan bahwa argumen lawan bicara telah mengandung sesuatu yang layak untuk digugat dan dipertimbangkan. Mendengar adalah sikap yang menuntut kerendahan hati intelektual. Sikap untuk bersedia menangguhkan keyakinan sendiri, sebagai jeda, agar memahami kembali apa yang diungkapkan dan bertemunya sudut pandang yang berbeda.
Sikap semacam itu kini semakin jarang muncul dalam budaya debat yang sangat kompetitif. Ketika kemampuan mendengar menghilang, maka percakapan dalam panggung debat pun berubah menjadi rangkaian monolog yang saling bertabrakan. Akibatnya, ia tidak lagi menghasilkan pemahaman baru. Ia hanya dijadikan sebagai tameng untuk memperkuat keyakinan yang sudah ada.
Fenomena seperti itu secara tidak langsung telah mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam budaya komunikasi kita. Yakni, ruang sosial yang penuh kebisingan. Di mana, pernyataan-pernyataan setiap orang yang lebih dominan dibangun oleh emosi ketimbang argumentasi.
Mungkin cara itu dilakukan agar lebih mudah menarik perhatian daripada penjelasan yang tenang dan sistematis. Karena dalam ruang publik yang dipenuhi oleh suara, kecepatan untuk memotong percakapan dianggap harus lebih cepat daripada lesatan peluru–ia lebih penting daripada kedalaman sebuah refleksi.
Paradoks itu telah menunjukkan suatu hal: semakin banyak orang berbicara, semakin sedikit ruang untuk berpikir. Padahal, cara sebuah masyarakat berdebat sering tercermin dari kualitas ruang publiknya.
Jika setiap perbedaan pandangan selalu disambut oleh kemarahan atau ejekan, makna ruang dialog perlahan menyempit. Sebaliknya, ketika perbedaan diperlakukan sebagai kesempatan untuk memperkaya perspektif, maka debat pun dapat menjadi sarana pembelajaran bersama.
Debat yang sehat sebenarnya membutuhkan sesuatu yang sederhana tetapi semakin langka, yaitu ruang refleksi. Dalam percakapan yang baik, terkadang seseorang membutuhkan waktu untuk jeda–sejenak untuk mempertimbangkan argumen, menimbang fakta, dan memahami sudut pandang yang berbeda.
Refleksi seperti itu mungkin tidak memiliki makna yang dramatis bagi televisi. Namun justru di sanalah pemahaman sebenarnya itu berkembang. Tanpa ruang refleksi, percakapan dalam perdebatan akan mudah berubah sekadar menjadi kebisingan yang tidak produktif.
Peristiwa di sebuah studio televisi mungkin hanya berlangsung beberapa menit saja. Tetapi, di balik tayangan itu, ada pantulan persoalan yang lebih luas, tentang bagaimana masyarakat dapat mengambil makna dari hasil percakapan itu.
Pada akhirnya, dalam kultur demokrasi, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh adanya kebebasan berbicara. Ia juga ditentukan oleh kemampuan untuk menunda respons, berpikir dengan nalar, dan mendengarkan dengan cara yang sungguh-sungguh.
Sebab tanpa kemampuan itu, debat mungkin akan terus berlangsung, namun pemahaman untuk merefleksikan masalah yang dibicarakan tidak pernah benar-benar bertambah. Sebuah paradoks yang mencerminkan hilangnya makna debat itu sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

