• Berita
  • Bagaimana Merawat Perdamaian di Tengah Ruang Sipil yang Menyempit?

Bagaimana Merawat Perdamaian di Tengah Ruang Sipil yang Menyempit?

Komunitas di Bandung merespons tekanan kebebasan berekspresi dan konflik global dengan membangun ruang dialog, advokasi, dan narasi alternatif dari akar rumput.

Agama sepatutnya menjadi rumah hangat bagi keberagaman. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang18 Maret 2026


BandungBergerak - Di tengah menyempitnya ruang kebebasan berekspresi dan meningkatnya represi terhadap masyarakat sipil, sejumlah komunitas di Bandung memilih tetap merawat narasi perdamaian. Upaya ini mereka refleksikan dalam diskusi “Masa Depan Perdamaian: Kini dan Nanti” yang digelar di Ruang Dini, Cihapit, Bandung, Jumat, 13 Maret 2026.

Diskusi yang diinisiasi PeaceGen ini menghadirkan berbagai komunitas, seperti Jakatarub, Sekolah Damai Indonesia (Sekodi), dan BandungBergerak. Mereka membagikan pengalaman sekaligus strategi menjaga ruang damai di tengah situasi yang kian kompleks.

Ruang Sipil Menyempit, Kekerasan Makin Dekat

Dalam konteks lokal, tantangan perdamaian terlihat jelas dari meningkatnya pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB). Risdo Simanungsong, pegiat keberagaman dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) menyebut Jawa Barat masih menjadi wilayah dengan kasus KBB tertinggi sepanjang 2025.

Ia menyoroti perubahan pola pelaku kekerasan. Jika sebelumnya didominasi organisasi atau pembiaran negara, kini justru datang dari masyarakat sekitar. Dampaknya pun meluas, tidak hanya menyasar kelompok dewasa, tetapi juga anak-anak.

Di sisi lain, regulasi baru seperti KUHP dinilai memberi celah perlindungan. Pelanggaran terhadap kebebasan beragama kini bisa diproses hukum. Namun, menurut Risdo, aturan saja tidak cukup tanpa ruang sipil yang sehat.

Karena itu, ia menekankan pentingnya konsistensi gerakan, sekecil apa pun.

"Jadi, buat teman-teman yang sudah melakukan apa pun, sekecil apa pun pekerjaan damai, ya, itu baik. Tapi tentu ini bukan kata-kata penghiburan supaya kita enggak melakukan hal yang lain," ujarnya.

Jakatarub sendiri membuka ruang advokasi yang aman dan inklusif, sekaligus aktif mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok minoritas.

Dampak Global: Konflik, Ekonomi, dan Otoritarianisme

Situasi lokal ini tidak berdiri sendiri. Tekanan terhadap perdamaian juga dipengaruhi dinamika global.

Sidik Permana dari Sekolah Damai Indonesia (Sekodi) menilai dunia saat ini berada dalam fase yang tidak stabil. Konflik geopolitik, ketegangan kawasan, seperti serangan Amerika-Israel terhadap Iran, hingga krisis ekonomi saling berkelindan dan berdampak hingga ke tingkat lokal.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang melemah turut memperbesar potensi konflik sosial.

"Kita melihat bahwa (permasalahan) mulai dari ekonomi, kemudian berkelindan dengan masalah sosial dan ini diamplifikasi dengan persoalan politik juga," ujarnya.

Sidik juga menyoroti gejala menguatnya otoritarianisme. Secara formal, negara tetap terlihat demokratis, tetapi praktiknya ditandai dengan kontrol media, pembatasan oposisi, dan tekanan terhadap kebebasan sipil.

Kondisi ini membuat ruang damai semakin sempit. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran publik melalui literasi dan diskusi.

"Tujuannya cuma satu, biar sadar dan aware dengan persoalan yang sebenarnya ada masalah apa di sekitar kita, 'kan minimal sadar dulu aja," ungkap Sidik.

Sebagai upaya konkret, Sekodi rutin menggelar diskusi lintas isu dan mengunjungi berbagai rumah ibadah untuk memperkuat pemahaman keberagaman.

Media dan Narasi Alternatif Perdamaian

Di tengah situasi tersebut, media dinilai memiliki peran penting dalam membentuk narasi perdamaian.

Reporter BandungBergerak Awla Rajul mengatakan media tidak cukup hanya bersikap netral. Media perlu berpihak pada kelompok yang rentan dan mampu menjelaskan persoalan secara utuh.

Menurutnya, tantangan media saat ini semakin besar. Mulai dari tekanan politik dan ekonomi, dominasi konten digital, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan.

Kondisi ini mendorong lahirnya media alternatif yang lebih dekat dengan komunitas.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah jurnalisme konstruktif. Pendekatan ini tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga menyoroti solusi dan praktik baik di masyarakat. 

"Media itu perlu (jadi) beyond journalism. Jadi, dia perlu bergerak keluar dari redaksi, enggak hanya memberitakan," ujarnya, "Gimana nih cara agar orang engage dengan berita ini, dengan komunitas ini, lalu mereka mau ikut kegiatan, lalu mereka terlibat dalam perubahan. Jadi mereka enggak hanya well-informed, tapi juga bergerak gitu."

Baca Juga: Literasi untuk Perdamaian Dunia
Komunitas Narasi Jawa Barat Mengajak Orang-orang Muda Bandung Berkreasi untuk Perdamaian

Merawat Perdamaian dari Komunitas

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa merawat perdamaian tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Bandung, komunitas justru mengambil peran penting melalui langkah-langkah kecil yang konsisten—dari advokasi, diskusi, hingga produksi pengetahuan.

Di tengah tekanan terhadap ruang sipil dan dinamika global yang tidak menentu, komunitas menjadi ruang alternatif untuk menjaga dialog tetap hidup.

Terlepas dari kebijakan atau regulasi, perdamaian erat kaitannya dengan bagaimana masyarakat terus menciptakan ruang aman untuk berbicara, berbeda, dan saling memahami. Di Bandung, upaya itu masih terus dirawat oleh komunitas di akar tumput.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//